photo dirumah-nurina-merah-468.gif

Friday, January 07, 2011

220 / 140 Masih Nyetir

Pernah ngerasain ga, disetirin orang yang migren akut dgn tensi 220/140? Saya pernah. Kemaren malam.

Awalnya siang itu Pak Tarmo, supir keluarga kami pegang-pegang pelipis bagian kanan. "Sakit Pak?" saya bertanya. "Migren," katanya singkat. Karena sore nya saya ada janji home meeting dengan salah satu donlen di Bekasi. Saya tidak menyuruh blio pulang. Lagipula menurut pengakuannya sudah minum obat.

Sorenya saat mau berangkat, saya melihat kondisi nya boleh dibilang kurang bagus. Tapi saya sudah telat, dan hanya meminta blio untuk nyetir pelan-pelan aja.

Saat mau pulang, saya sempat liat Pak Tarmo tertidur. Dan terus menerus pegang pelipis nya. "Tambah parah yah Pak?" pertanyaan tolol sebenarnya..

Dalam hati... aduhhh... seandainya saya bisa nyetir, dipastikan mobil akan saya bawa sendiri. Untungnya dari Limus Pratama Bekasi, masuk ke gerbang Kota Wisata tidak jauh. Paling tidak kalau sudah masuk Kota Wisata, ga ada truk gitu.

Saya pun memberitahu suami dan kakak ipar. Kondisi saat itu, Pa Tarmo masih bisa nyetir walau pelan. Dan memang niat utk langsung bawa ke klinik. Curiga tensi nya tinggi.

Smakin lama, mobil jalan semakin pelan. Dan.... Pak Tarmo tertidur - sambil nyetir! Astaghfirullah. Langsung saya meminta blio utk menepi dan berhenti. Pasang lampu hazard, buka jendela.. dan blip pun merem atau tidur .. atau pingsan? Ntah lah.
Saya panik, karena seperti dejavu. Almarhum papa mertua saya meninggal dunia di mobil, dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan saya ada di samping blio saat itu.
Saya ga siap kalo harus menjalani hal yg sama ya Allah :(

Tanpa di suruh Pa Tarmo terus mengucapkan nama Allah, saya melihat blio menitikkan air mata. Bingung.. tapi sok tenang. Hanya berdoa blio diberi kekuatan oleh Allah SWT. Kurang lebih 10 menit, blio "sadar kembali". Dan memindahkan mobil ke lokasi yg lebih aman. Selanjutnya, blio tidur lagi.

Suami dan Uni Anis sudah saya panggil utk segera datang, Uni bilang, "Sekalian jemput dokter. Untung dr. Kees (dokter yg satu ini super duper ramah. dan menenangkan pasien). Saya hanya memastikan, Pak Tarmo bernafas! Iya, hanya itu.

dr. Kees datang, langsung mengukur tensi daaaaaaaaaaaann...hipertensi 220 / 140 saja. Dengan kondisi yang boleh dibilang amat sangat buruk. Pupil mata agak bengkak. dr. Kees menyarankan kami untuk membawa Pak Tarmo ke UGD.

Tidak bisa tidak, walaupun berusaha tenang, terlihat juga dr. Kees sangat khawatir dgn kondisi pa Tarmo ini. Maka saya dan suami, plus Nara meluncur ke rumah sakit. Telpon Permata Cibubur, UGD penuh. Akhirnya ke RS Meilia. Sempat khawatir jalanan akan macet nih. Apalagi di jalan itu Pak Tarmo sempat "ngorok"

Sampailah kami di UGD RS Meilia.

Dan hasilnya, Pak Tarmo harus nginap di rumah sakit. Tensi saat itu 190/100. Masih tinggi. Awalnya ga mau. Mengerti, pasti urusan biaya. Tapi saya bilang ke suami dan kakak ipar, tenaang.. ada kartu kredit :p
Ahh.. mengingat kebaikan hati blio, yang telaten mengurus almarhum papa mama kami dan juga kesetiaan blio, ga ada artinya lah apa yg sudah kami lakukan ini.

Tadi siang setelah jemput Nara, saya bezoek. Hasil tensi masih tinggi. Tapi sore nya, suster rumah sakit telpon, sudah 150/110.

Alhamdulillah semalam waktu di UGD itu, syaraf sensorik semua bagian masih baik. Dan hasil EKG juga bagus. Hanya kolesterol yg tinggi.

Insyaa Allah besok sudah bisa pulang. Dan blio pun ngotot minta pulang!

Sehat-sehat aja ya Pak.

No comments: