Friday, May 15, 2015

Rahasia Shalat Awal Waktu

Saudaraku...
Inilah Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu

Ternyata anjuran tersebut ada hikmahnya.

Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis dan lainnya.

Berikut ini kaitan antara shalat di awal waktu dengan warna alam.


Waktu Subuh

Pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok).

Dalam ilmu Fisiologi (Ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan) tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia.

Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rejeki dan cara berkomunikasi.

Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu Subuh akan menghadapi masalah rejeki dan komunikasi.

Mengapa? Karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad masih tertidur.

Pada saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimal.

Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.


Waktu  Zuhur

Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kepada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati.

Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dengan keceriaan seseorang.

Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.


Waktu Ashar

Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/ indung telur dan testis yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan.

Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang.

Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar akan menurun daya kreativitasnya.

Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.


Waktu Maghrib

Warna alam kembali berubah menjadi merah.
Sering pada waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah.

Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis.

Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu.

Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang bisa mengganggu penglihatan kita.


Waktu   Isya

Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap.

Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak.

Mereka yang sering ketinggalan waktu Isya akan sering merasa gelisah.

Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini.

Dengan tidur pada waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat.

Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan ungu.

Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (badan pineal atau “mata ketiga”, sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitary, thalamus (struktur simetris garis tengah dalam otak yang fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dengan pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yang terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu).

Saturday, April 18, 2015

Kisah Inspiratif Tentang Suami Istri

BAGI PARA SUAMI DAN PARA ISTRI BACA HINGGA TUNTAS!!!! “Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah. Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya. Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya. Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya. Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah. Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya. Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi. Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur.... “Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu. “Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat. Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri. Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, dia bergumam, “Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan. Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku. Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku. Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku. Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku. Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu? Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata. Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat. Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah swt. Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.” Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap. *** Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Aminah, istri Amin, terperanjat “Astaghfirullaah, sudah jam dua?” Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan. “Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati. Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara. “Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu. “Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku. “Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak. “Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu. Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku. Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku. “Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah swt. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..” Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lil .. muttaqiina imaamaa

Friday, April 17, 2015

Cara Mandi Rasulullah SAW

Cara mandi pagi hari yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. 1. Bermula dari segayung siramkan telapak kaki 2. Segayung betis 3. Segayung paha 4. Segayung perut 5. Segayung pundak 6. Berhentilah sejenak 5-10 detik. Kita akan merasakan seperti uap/angin yang keluar dari ubun-ubun. Bahkan merinding. Setelah itu, lanjutkan dengan mandi seperti biasa. Hikmahnya : Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas retak !! Jika tubuh kita .... apa yang retak? Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yg terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau bahkan kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap. Atau yang paling fatal adalah pecahnya pembuluh darah. Maka kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba struk. Bisa jadi kita sering masuk angin karena pola mandi kita yg salah. Bisa jadi kita sering migrain karena pola mandi yang salah. Pola mandi ini baik bagi semua umur terutama yang punya sakit diabetes, hypertensi, kolesterol dan migrain. Silahkan dicoba...

Kisah Merbuat Masjid

(Kisah nyata dari Masjid di Puncak, Bogor) Ada dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yang biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal. Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yang istimewa; yakni koridor wudhu &toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yang cantik, yang memiliki view pegunungan dengan kebun teh yang terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah mempesona. Kala itu Zaenal, sudah menjadi seorang manager perusahaan cukup besar. Selalu necis. Perlente tetapi tetap istiqomah menjaga kesalehannya. Setiap keluar kota, selalu ia sempatkan singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Tujuannya untuk sholat fardhu, sekedar untuk memperbaharui wudhu dan sujud syukur, atau hanya untuk shalat sunnah tambahan. Ketika melihat Masjid indah di daerah Puncak, Bogor, ia pinggirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalamnya. Di sanalah ia menemukan Ahmad sahabatnya dulu. Betapa kaget Zaenal melihat Ahmad yang sekarang. Dulu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi cerdas dan pintarnya minta ampun. Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbuat masjid..! “Maaf,” katanya menegor sang merbuat. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”. Yang ditegor tidak kalah mengenali.  Lalu keduanya berpelukan. Puji Ahmad, “Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Karena Zaenal masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”. Zaenal merendahkan hati. Zaenal merasa iba melihat Ahmad yang sedang memegang kain pel, celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar dan hitam bekas sujud terlhat jelas. “Mad… Ini kartu nama saya…”. Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener2 keren." “Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”. Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yg salah dengan  pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.  Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang2 yang sebenernya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.  Air wudhu membasahi wajahnya… Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yg sedang membersihkan lantai toilet. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbuat. Melainkan “office boy”. Singkat cerita ada yg shalat di belakang Zaenal. Sama2 shalat sunnah agaknya.  Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya.   Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad. “Pak,” tiba2 anak muda yang shalat di belakangnya menegur. Anak ini rupanya tadi sempat memperhatikan obrolannya dengan Ahmad di tempat wudhu. “Iya Mas..?”  “Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”  “Insinyur Haji Ahmad…?”  “Ya, insinyur Haji Ahmad…”  “Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”  “Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”  “Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”  “Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”. Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hati Zaenal… Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang merbuat asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat mall megah di bawah sana? Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau... Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya aneh, yaitu senang menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji dan azan saja…”. Entahlah apa yg ada di hati dan di pikiran Zaenal… ***** Bagaimana menurut kita ? Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yang sebenernya.  Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid,  maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini. Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap cool saja. Tenang saja. Adem. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa2. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya... "Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi"  (Org yg ikhlash itu adl org yg menyembunyikan kebaikan2nya, spt ia menyembunyikan keburukan2nya) (Ya'qub rahimaHullah, dlm kitab Tazkiyatun Nafs)

Thursday, April 16, 2015

Makanan Pencetus Alergi

Nasta (bentar lagi 12 tahun) sejak bayi sudah ketahuan berbakat alergi. Satu - dua bulan sekali batuk :( 
Dulu pernah ke dokter anak spesialis alergi, maaf saya lupa namanya. Antri nyaaa... dan bisa-bisa dapat giliran masuk ruang dokter jam 1 malam! Kasihan deh anak (anak) nya. Udah lah lagi sakit, di bawa jalan ke dokter malam-malam, dulu kami tinggal di Depok. Dokternya di daerah Kebayoran Baru. Kesimpulannya, Nasta ada bakat asma. Karena dari pihak suami, memang ada turunannya. Opa nya Nasta, asma. Salah satu pencetus adalah alergi. Tidak ada obat alergi (saya inget banget omongan pak dokter bagian ini), yang bisa dilakukan adalah menghindari pencetus alergi. Seperti : debu, tungau, coklat, tomat, dan yang lain saya lupa. 

Tindakan pencegahannya : 
  1. Tidak boleh ada buku-buku di dalam kamar, karena tumpukan buku bikin banyak debu. 
  2. Gorden di cuci 2 minggu sekali 
  3. Bersihin AC kamar minimal 1 bulan sekali 
  4. Tidak boleh ada karpet!
  5. Boneka bulu 
Alhamdulillah, Oma Lies pengertian banget... semua karpet di tarik dari tempat nya hehe..
Nasta ulang tahun pertama, dapat banyaaak sekali hadiah boneka berbulu. Langsung di simpan. Kasihaaaan... :)


Singkat cerita perjalanan Nasta selama hampir 12 tahun dengan batuk, sesak nya masih berlanjut. Sigh .... 

Dua bulan lalu di kasih rejeki untuk menginap di hotel Rumah Sakit Permata Cibubur hehehe... karena sudah seminggu sakit (batuk dan sesak), ternyata lanjut kena typhus hikss.. 
dr. Sandra udah mewajibkan opname, karena lihat hasil darah. Karena kalau perawatan di rumah, dr. Sandra khawatir perut Nasta ga kuat (karena obat). 5 hari di rumah sakit, ketinggalan try out 1, badan kurus.. ya dinikmati aja deh. 

Nah.. dua hari lalu, Nasta mulai flu. Pilek. Tanpa batuk. Alhamdulillah, Nasta (sepertinya) nurut untuk tidak makan coklat, apapun bentuknya, minimal ujian akhir selesai. Tapi sayangnya, kami tidak tegas melarang Nasta untuk tidak makan es / minuman dingin, permen, dan mie.
Mulai semalam Nasta menunjukkan gejala batuk... duuh.. ga bisa didiemin kalau batuk, karena bisa berakhir sesak nafas. Jadi tadi pulang les, saya antar ke dr. Sandra.

Daaan... resmi sudah .. keluar list pantangan makanan untuk Nasta. Makanan pencetus alergi, dan kalau sudah muncul alergi jadi batuk dan bikin sesak. 

Sabar ya nak, ikuti aturan tante dokter. Semua demi kebaikan kakak. 



Wednesday, April 15, 2015

Aku Suka nya Banyak

Obrolan sebelum tidur dengan Nasta, sambil mijitin kaki dia :p

Nasta : Bu, Ibu suka nonton film Bones kan? Bones kan tulang-tulang, kenapa di tonton?
Saya : Itu cerita tentang Dr. Temprence Brennan kak, dia dokter khusus tulang. Keren deh.. dia bisa tau dari tulang orang yang udah mati... bla bla bla ...
Kakak nanti jadi dokter forensik aja kak. Keren lho. pasien nya mayat :D
Nasta : Gak. Aku ga mau jadi dokter.
Saya : Ooh... ya udah. Nanti suami nya dokter ya
Nasta : Ya ga tau.. gak lah
Saya : Terus kakak suka nya apa? Kakak mau jadi apa?
Nasta : Belum tau, aku suka nya banyak
Saya : ooh.. belum ketauan ya kak lebih suka apa
Nasta : Iya. Gantian pijitin tangan dong Bu

:p

***************************************************

Saya : Kamu lebih suka Ibu panggil apa? Nas? Ata? Kak?
Nasta : Kakak aja. Eh terserah deh.
Saya : Di panggil Mbak aja ya? Mba Nasta. Atau Uni? Uni Nas?
Nasta : GAK MAUU


Tuesday, March 31, 2015

Cinderella Eh.. Pangeran Kit

Hampir semua anak perempuan di dunia ini  tahu kisah Cinderella. Seorang anak yatim piatu yang hidup dengan ibu tiri dan kedua kakak tiri. Dengan akhir cerita yang membahagiakan, Cinderella menikah dengan sang Pangeran tampan. 

Duluuu... waktu saya kecil, pernah juga kok punya impian bertemu pangeran tampan dan diajak tinggal di istana. Hehehe... tapi ga mau punya ibu tiri dan kakak tiri yang jahat. Tahun 2015 ini Disney membuat film Cinderella, tapi bukan animasi. Versi orang alias manusia! Wow... 
Alhamdulillah saya punya anak-anak perempuan, jadi ada alasan untuk nonton hehehe... 

Kali pertama nonton, nemenin Nara yang sudah janjian dengan teman sekelasnya Karine. Awalnya saya hanya akan nitip Nara ke mama nya Karine. Mengingat masih ada tugas menjemput Nasta dari sekolah dan antar les. Tapi suami memutuskan untuk berangkat kerja setelah Nasta pulang les, maka saya pun akhirnya nemenin Nara nonton. Dan saya menikmatinya :D 

Karena sudah tahu jalan cerita, saya sangat menikmati artistik, wardrobe, dan hal lain yang tidak berhubungan dengan jalan cerita. Kasarnya, ga pake mikir deh. Termasuk saat .... Pangeran Kit muncul dan bikin saya melotot.... kagum. Masyaa Allah... ada ya mahluk Allah ganteng begini... wkwkwkwkw.... 

Kali kedua hari ini, nemenin Nasta yang waktu itu belum  nonton. Alhamdulillah ada rejeki. Dan saya pun tidak menolak hehehe... Kali ini.. saya lebih fokus dengan ... Pangeran Kit atau nama aslinya Richard Madden. Pfewww... maafkan saya suami ku... hihihihi.... 

Bisa ga ya dia diairkerasin lalu kirim ke rumah saya? Wkwkwkwkw....

#postinganiseng 



Sunday, March 29, 2015

Harapan Atau Tuntutan?

Menjadi seorang Ibu dan mengharapkan anak-anak nya menjadi anak yang sholeha, santun, mandiri dan bertanggung jawab dengan diri sendiri tentulah sangat wajar. Baik pula akhlak dan akidah nya. Ahh.. nikmat sekali rasanya. Dan siapa yang dapat nama? Orang tua tentu ;) 

Tapi sudahkah saya sebagai Ibu, dan suami sebagai Ayah memberikan contoh seperti yang diharapkan diatas? Anak-anak mencontoh perilaku orang tua, bukan mendengarkan apa yang seharusnya menjadi harapan orang tua. 

Don't get me wrong, maksudnya gini. Berharap, berdoa, tentu boleh dan bahkan sangat diwajibkan. Hubungan orang tua dengan anak itu mutual simbiolisme dalam hal doa mendoakan kok. Anak mendoakan orang tua, orang tua mendoakan anak. Bahkan doa anak yang sholeh / sholeha menjadi penolong kita sebagai orang tua di akhirat kelak. 

Tetapi terkadang saya sebagai Ibu suka lupa, besar kemungkinan karena telat belajar bahwa anak-anak punya jiwa sendiri. Mereka ingin diakui keberadaannya, tanpa dibanding-bandingkan. Saya suka khilaf. Kalau lagi sadar, ya sadar untuk tidak membebani anak-anak. Tapi... itulah.. perlu banyak berlatih untuk selalu sadar. 

Harapan atau tuntutan? Tipis sekali perbedaannya. Yang membedakan adalah ego. Mengharapkan anak-anak mendapatkan nilai terbaik, tapi saat mereka tidak mendapatkan nilai terbaik (menurut saya), disitulah ego saya berbicara. Padahal mereka sudah berusaha keras. Berusaha keras menurut mereka. Nah tuh kaaaan... ego saya lagi yang bicara. Apakah standard saya yang terlalu tinggi? Apakah saya menuntut lebih? 

Baiklah, saya tuturkan dulu "pembelaan diri" saya ini. 
Saya tahu anak-anak saya anak cerdas. Mereka bisa. Hanya saja mereka terlalu cepat puas dengan apa yang mereka sudah dapatkan. Dan yang saya harapkan adalah, mereka mampu mendapatkan apa yang mereka impikan. Tidak cepat puas. Menjadi yang terbaik dari yang terbaik.