Tuesday, March 31, 2015

Cinderella Eh.. Pangeran Kit

Hampir semua anak perempuan di dunia ini  tahu kisah Cinderella. Seorang anak yatim piatu yang hidup dengan ibu tiri dan kedua kakak tiri. Dengan akhir cerita yang membahagiakan, Cinderella menikah dengan sang Pangeran tampan. 

Duluuu... waktu saya kecil, pernah juga kok punya impian bertemu pangeran tampan dan diajak tinggal di istana. Hehehe... tapi ga mau punya ibu tiri dan kakak tiri yang jahat. Tahun 2015 ini Disney membuat film Cinderella, tapi bukan animasi. Versi orang alias manusia! Wow... 
Alhamdulillah saya punya anak-anak perempuan, jadi ada alasan untuk nonton hehehe... 

Kali pertama nonton, nemenin Nara yang sudah janjian dengan teman sekelasnya Karine. Awalnya saya hanya akan nitip Nara ke mama nya Karine. Mengingat masih ada tugas menjemput Nasta dari sekolah dan antar les. Tapi suami memutuskan untuk berangkat kerja setelah Nasta pulang les, maka saya pun akhirnya nemenin Nara nonton. Dan saya menikmatinya :D 

Karena sudah tahu jalan cerita, saya sangat menikmati artistik, wardrobe, dan hal lain yang tidak berhubungan dengan jalan cerita. Kasarnya, ga pake mikir deh. Termasuk saat .... Pangeran Kit muncul dan bikin saya melotot.... kagum. Masyaa Allah... ada ya mahluk Allah ganteng begini... wkwkwkwkw.... 

Kali kedua hari ini, nemenin Nasta yang waktu itu belum  nonton. Alhamdulillah ada rejeki. Dan saya pun tidak menolak hehehe... Kali ini.. saya lebih fokus dengan ... Pangeran Kit atau nama aslinya Richard Madden. Pfewww... maafkan saya suami ku... hihihihi.... 

Bisa ga ya dia diairkerasin lalu kirim ke rumah saya? Wkwkwkwkw....

#postinganiseng 



Sunday, March 29, 2015

Harapan Atau Tuntutan?

Menjadi seorang Ibu dan mengharapkan anak-anak nya menjadi anak yang sholeha, santun, mandiri dan bertanggung jawab dengan diri sendiri tentulah sangat wajar. Baik pula akhlak dan akidah nya. Ahh.. nikmat sekali rasanya. Dan siapa yang dapat nama? Orang tua tentu ;) 

Tapi sudahkah saya sebagai Ibu, dan suami sebagai Ayah memberikan contoh seperti yang diharapkan diatas? Anak-anak mencontoh perilaku orang tua, bukan mendengarkan apa yang seharusnya menjadi harapan orang tua. 

Don't get me wrong, maksudnya gini. Berharap, berdoa, tentu boleh dan bahkan sangat diwajibkan. Hubungan orang tua dengan anak itu mutual simbiolisme dalam hal doa mendoakan kok. Anak mendoakan orang tua, orang tua mendoakan anak. Bahkan doa anak yang sholeh / sholeha menjadi penolong kita sebagai orang tua di akhirat kelak. 

Tetapi terkadang saya sebagai Ibu suka lupa, besar kemungkinan karena telat belajar bahwa anak-anak punya jiwa sendiri. Mereka ingin diakui keberadaannya, tanpa dibanding-bandingkan. Saya suka khilaf. Kalau lagi sadar, ya sadar untuk tidak membebani anak-anak. Tapi... itulah.. perlu banyak berlatih untuk selalu sadar. 

Harapan atau tuntutan? Tipis sekali perbedaannya. Yang membedakan adalah ego. Mengharapkan anak-anak mendapatkan nilai terbaik, tapi saat mereka tidak mendapatkan nilai terbaik (menurut saya), disitulah ego saya berbicara. Padahal mereka sudah berusaha keras. Berusaha keras menurut mereka. Nah tuh kaaaan... ego saya lagi yang bicara. Apakah standard saya yang terlalu tinggi? Apakah saya menuntut lebih? 

Baiklah, saya tuturkan dulu "pembelaan diri" saya ini. 
Saya tahu anak-anak saya anak cerdas. Mereka bisa. Hanya saja mereka terlalu cepat puas dengan apa yang mereka sudah dapatkan. Dan yang saya harapkan adalah, mereka mampu mendapatkan apa yang mereka impikan. Tidak cepat puas. Menjadi yang terbaik dari yang terbaik. 

 
 

Friday, March 27, 2015

Laporan Pajak 2015



Selesai tugas tahunan, laporan pajak.

Kemaren ke KPP Depok, karena saya dan suami masih juga belum lulus untuk ngisi form pajak nya hehehe... Mengisi berlembar-lembar form, menulis aset dan hutang... Alhamdulillah masih punya aset rumah.. hehehe dan berharap akhir tahun, hutang kartu akan berkurang minimal 60% dari sekarang. Aamiin. Untuk hidup lebih baik, in syaa Allah.

Karena pekerjaan saya sebagai konsultan MLM Oriflame, dikenakan norma khusus MLM. Jadi dari total penghasilan saya pertahun, dikenakan 35% saja untuk setoran pajak. Suasana ruang konsultan KPP Depok di Jalan Pemuda tersebut cukup penuh, tapi teratur. Paling tidak, kami tidak antri lama. Dan pelayanannya sangat memuaskan. Ramah banget.

Tidak bisa langsung diserahkan, karena belum tulis NIK anak-anak yang ada di kartu keluarga.
Jadilah tugas saya lagi untuk cari booth pajak terdekat, Alhamdulillah sudah baca sebelumnya ada di Giant Metland Transyogi. 

Setelah antar anak-anak sekolah, saya mampir ke Fresh Market untuk sarapan dengan beberapa teman. Untungnya nanya lagi arah posisi Metland. Hehehe.. rasanya saya emang pernah lewatin, bertahun-tahun lalu saat ke Mekarsari. Tapi ga inget lagi. Desi, teman saya bilang, lewat pintu Montreal aja nanti ketemu jalan yang ke Bekasi, ambil kanan, lalu ambil kiri arah Metland. Ga sampe Cileungsi. Karena menjelang jembatan Cileungsi macet.
Agak-agak ga kebayang sebenernya, tapi tidak ada salahnya mencoba. Karena saya sudah ngebayangin macetnya jembatan Cileungsi itu duluan :D 

Dan ternyata emang jauuuh lebih enak, dan lebih dekat. Alhasil jam 9 kurang sudah sampai depan Giant, bahkan parkiran Giant pun belum dibuka wkwkwk..
Setelah pintu parkir dibuka, dapat pula parkir VIP persis di depan pintu masuk Giant. Belum terlihat petugas pajak, jadi saya melipir ke toilet dulu. Alhamdulillah... pihak Giant mempersiapkan tempat untuk urusan pajak ini di dalam. Jadi adem deh. Sempet tergoda untuk jalan-jalan ke dalam, tapi mau cari apa? Lagipula, saya harus segera balik ke sekolah, karena dapat SMS dari guru nya Nara, masih belum sehat dia. 

Urusan pajak beres, saya langsung balik ke sekolah. Oh my.... macet menjelang terminal Cileungsi. Jarak 700 meter memakan waktu 30 menit.
Alhamdulillah, sudah selesai sebelum akhir bulan hehehe... (biasanya mepet banget)

Thursday, March 26, 2015

Peranan Suami Istri Dalam Rumah Tangga

Tuhan menciptakan setiap mahlukNya untuk berpasang-pasangan, saling melengkapi. Bukan untuk saling menandingi. 

Dalam sudut pandang ke-ideal-an, tugas seorang suami adalah menafkahi istri dan anak-anaknya. Dan memang sudah menjadi kewajiban. Tapi apa yang terjadi jika posisi suami sebagai pencari nafkah utama tidak maksimal? Dalam arti tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan untuk hal yang mendasar sekalipun? 

Jaman sekarang sudah banyak istri yang ikutan mencari nafkah, suka tidak suka, mau tidak mau. Ya harus kerja, supaya mencukupi kehidupan rumah tangga. Demikian alasannya. 

Contoh soal: suami seorang pegawai negeri misalkan, sedangkan anak-anak memerlukan biaya sekolah yang tidak sedikit, jadi lah istrinya sibuk mencari cara lain mendapatkan penghasilan tambahan. Daripada suami korupsi? :D 

Naudzubillah min dzalik.

Yang sering terjadi adalah, istri berpenghasilan lebih tinggi dari suami. Istri, merasa sudah ikutan cari duit, bahkan penghasilannya lebih banyak dari suami. Tapi sampai di rumah, suami tetap menyerahkan urusan rumah tangga seperti memasak, membereskan rumah, bahkan menemani anak-anak belajar, tetap istri yang kerjain. Suami? Nonton TV. 

Kebayang dong, sama-sama pergi dari rumah pagi hari. Seharian di kantor sibuk ngurusin pekerjaan, sampe rumah, ngurusin rumah tangga juga. Walaupun tau banget, bahwa memang itu adalah tugas utama sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Tapi mana bantuan suami? Begitu mungkin yang ada dipikiran para istri. 

Belum lagi kalau ada keperluan biaya di luar biasanya, suami menyerahkan ke istri. Ya karena suami emang ga punya duit. Tapi, istrinya yang di suruh mikirin. Lah kok ya istri nya mau aja pusing mikirin sendirian. :p 

Sebelum saling menyalahkan niiih... yukk.. mundur dulu ke tahun-tahun masa pacaran. Hehehe....
Apakah suami sekarang pilihan sendiri, atau pilihan orang tua? 
Kalau jawabannya pilih sendiri, sudah tahu belum calon suami tipe giat pencari nafkah atau ................. seadanya? 
Kalau sudah tau bahwa calon suami pilihannya, bukan orang yang giat mencari nafkah, tapi masih mau menikah dengan dia, apa yang jadi kelebihannya? 
Pasti ada dong kelebihannya? 
Ooh.. ternyata calon suami itu rajin shalat, dan tidak pernah berkata kasar. OK. Nah, jadi ketauan kan, mau menikah dengan calon suami ini karena dia rajin shalat dan tidak pernah berkata kasar. 

Ada bagian lain yang harus "di isi" oleh istri, yakni giat cari duit tambahan. Kalau memang memiliki standard hidup yang berbeda dengan suami. 

Paham ya maksudnya? 

Kita nih, saat memilih pasangan hidup... pasti cek dulu dong plus minus calon pasangan kita? Bukan turun dari langit atau seperti membeli kucing dalam karung. Boooo... hari giniiiiiiiii! 

Satu hal yang pasti, kita tidak bisa mengharap : "dia akan berubah seperti yang saya mau" JANGAN! Akan sakit jiwa kalau harapan itu tidak terwujud :) 

Contoh nih, Anda sudah tau bahwa calon suami suka mukul. Hellooo... baru jadi pacar aja sudah suka mukul, apalagi setelah resmi dinikahin??? Berharap dia akan berubah setelah menikah? Ck ck ck .... 

Atau, anda sudah tau calon suami genit, pernah ketauan selingkuh. Jangan bangga kalau Anda dipilih jadi istri. Bukan berarti dia akan berhenti selingkuh. 

Jadi harus gimana dong? 

Pastikan mencari calon suami yang seiman dan beriman. :) 
Yang rajin shalat aja belum tentu paham agama, bagaimana dengan yang tidak rajin shalat? Terus, anak-anak mau diajari apa? 

Sudah terlanjur menikah dengan orang yang salah? 
Tanyakan ke diri sendiri, apakah Anda merasa nyaman dan tentram dengan kondisi rumah tangga Anda? Bukan di-nyaman-nyaman-in yah. Karena kalau di-nyaman-nyaman-in, seperti makan bola api. Suatu waktu akan meledak dan membakar Anda. 

Merasa agak kurang nyaman, tapi tidak ada niat untuk berpisah? Butuh keikhlasan yang luar biasa, butuh pembelajaran juga buat para istri yang memutuskan menjalani hidup seperti ini. Melengkapi kekurangan pasangan dengan ikhlas. Suami kurang taat beribadah, istri wajib belajar agama dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Suami kurang giat mencari nafkah, istri turun tangan membantu perekonomian keluarga. 

Lah enak dong jadi suami nya? 
Gak ada yang enak atau tidak enak... masing-masing peran akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Jadi, kenapa kita tidak memainkan peranan kita menjadi apa yang sudah ditakdirkan Allah dengan baik. Sesuai arahan Allah? 

Dengan begitu, hidup akan menjadi lebih ringan. Karena semua yang dilakukan ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT. 




Sunday, January 18, 2015

Haid Pertama

Alhamdulillah, memasuki tahun 2015 saya masih di percaya Allah SWT untuk memberi pengetahuan tentang haid, kepada putri pertama saya Nasta. Alhamdulillah banget ya Allah, Nasta haid di rumah, dan langsung panggil saya. 

Sependek ingatan saya, Ibu tercinta tidak menjelaskan tentang haid ke saya. Tapi mungkin saya benar-benar lupa. Tapi saya memutuskan untuk memberitahu Nasta, hal-hal yang perlu dia ketahui. 

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencium kepala Nasta. Dan memberitahu hal dasar cara menggunakan pembalut. Wajib mencuci celana yang terkena noda, juga membersihkan pembalut terlebih dulu sebelum membungkus rapi dengan koran bekas untuk dibuang ke tempat sampah. 

Tidak ada keluhan sakit perut, atau badan pegel dari Nasta. Tidak juga menangis. Saat menjelang tidur, kata-kata bijak memberikan pengertian ke Nasta pun terucap. 

Nak, kamu sudah besar sekarang. Shalat 5 waktu jangan di tinggal, karena saat ini dosa-dosa sudah kakak tanggung sendiri. Belajar menutup aurat jika keluar rumah. Jangan malas mandi, karena remaja yang sudah baliq mudah terkena bau badan. Pintar-pintar jaga diri, jaga sikap ya nak. 

Anak bayi Ibu sudah remaja. Menangis haru dan terselip kekhawatiran. 

Ya Allah, lindungi dan jaga anak-anak perempuanku. Mampukan saya dan suami membimbing mereka jadi wanita sholeha, tangguh, mandiri, penyayang. Dan kelak mendapatkan suami sholeh. Mampukan saya dan suami memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka, limpahkan rejeki yang barokah kepada suami, saya, nasta dan nara. 

Satukan kami kembali dalam surga Mu ya Allah. Aamiin allahuma aamiin 

 

Monday, December 15, 2014

Keajaiban Waktu

Training hari pertama tanggal 19 November, akan dimulai jam 08.00 saya ga mau telat. Suami menyarankan untuk ikut tetangga sebelah sampai Sudirman. Tapi lewat dari jam 5.30 belum ada tanda-tanda mereka akan berangkat. Saya memutuskan panggil ojeg dan naik bus. Nanti bus pertama yang ada di depan itu yang saya naiki. Begitu pikiran saya. 

Karena saya mau sampai di AMN Home jam 7.30 
Ga mungkin karena jalanan di Jakarta susah diperkirakan. Saya memilih minta pertolongan Allah, Maha Pemilik Waktu. Ya Allah, saya perlu sampai di AMN Home sebelum jam 8 yah, saya mau sekitar jam 7.30 sudah sampai. Jadi saya punya waktu untuk sarapan. 

Saya meminta, saya percaya dan saya menerima dan merasa bahwa saya sudah sampai disana jam 7.30 seperti yang saya minta.
Saya bayangkan sampai di depan Legenda Wisata akan ada APTB 10. Dan Alhamdulillah, apa yang saya bayangkan, terjadi! 

Tepat saya turun ojeg, bus APTB berhenti. Dengan penuh keyakinan saya naik. Bismillah, saya bisa sampai di Buncit jam 7.30 :) 
Jalanan padat itu biasa, tetap Allah deh yang mengatur waktu. Turun di halte Tegal Parang. Masih ada waktu untuk nunggu metro mini 75, tapi saya memilih naik ojeg. Alhamdulillah, lancaaar dan saya bisa sampe di AMN Home lewat sedikit dari jam 7.30 
Allah memang baik bangeet. Terima kasih 

Dan ternyata, ada teman saya Nurina yang tinggal di Cibubur Country ikutan kelas MBP. Duuh.. kalau tau begitu janjian tadi ya :) Hehehe... 
Ya memang jalan nya saya harus naik kendaraan umum. 

Keajaiban lagi, salah satu teman di MBP ini ada yang tinggal di Picasso. Horee.. saya pulang bareng mba Arni :) 

Hari kedua, suami berangkat lebih dulu. Dan mau tak mau saya kebagian anter anak sekolah. Beruntung mereka mau berangkat lebih pagi. Ga keburu janjian sama Nurina, karena dia berangkat jam 6 kurang. Sedangkan mba Arni belum tau berangkat jam berapa. Awalnya saya kira Uni Anis hanya akan nemenin antar ke sekolah anak-anak, ternyata uni Anis mau bawa mobil ke kantor. Waah.. ya sekalian aja saya minta dianterin dulu ke Buncit. Ga apa-apa deh saya yang nyetir. Membayangkan perjalanan lancar, dan lagi-lagi meminta sebelum jam 8 sudah sampai. 

Alhamdulillah, perjalanan lancar (menurut saya) dan bisa sampai di AMN Home sebelum jam 8. Terima kasih ya Allah 

Cerita diatas tentang perjalanan menuju MBP training yang penuh keajaiban. Tidak perlu dipertanyakan. Karena Allah memberi sesuai permintaan hambaNya. 

Allah Akbar :) I love you 

 

Become a Better Me

Mengenal AMN Home dari sahabat² Oriflame saya. Tidak ingat bagaimana persisnya mereka menceritakan tentang keindahan hidup yang mereka jalani setelah mengikuti 5 tools MBP. Saya pernah ikutan kelas Hypnotherapy. Dan kalau diingat², apa ya tujuan saya pada waktu itu? Selain untuk menghilangkan sifat jutek yang sepertinya sudah mendarah daging, pada saat itu. 

Lebih dari 9 tahun yang lalu, dengan tujuan seperti yang saya ungkapkan diatas. Saat itu saya belum paham tentang Law of Attraction, saya tidak tahu bagaimana cara membayangkan impian, tujuan saya ya hanya menghilangkan kejutekan saya itu. Tapi maaf, mengikuti sesi beberapa kali, saya tidak ingat dan tidak tahu apa yang saya rasakan. Ntah lah, bisa jadi karena selama session saya terlalu banyak berpikir, dan tidak percaya. Bisa jadi karena saya merasa sulit berubah, atau takut berubah? Ntah lah. 
Saat itu saya merasa, meditasi bukan gaya saya. Walaupun ternyata saya menyukainya, hanya saja belum mahir. Saya dulu khawatir, jika saya rajin bermeditasi, indra keenam akan muncul. :) Pikiran yang konyol. 
Padahal dengan rajin bermeditasi, atau dalam Islam ber tafakur, kita akan mudah mendengar kata hati. Mengasah intuisi. 

Kembali ke cerita AMN Home. Akhirnya saya mencoba mengikuti kelas gratis terlebih dulu, yakni LSC. Dan selanjutnya dijelaskan tentang manfaat MBP. Tertarik? Pastinya. Tapi pada saat itu (bulan Oktober) dengan biaya 1.8 juta, saya merasa berat. Saya bilang ke mba Indah dari AMN Home, bahwa saya sangat tertarik. Tapi belum bisa ikutan karena belum ada dana sebesar itu. Menjelang akhir Oktober, ditawari lagi. Tetap dengan jawaban yang sama, saya akan ikut kalau ada uang. 

Mba Indah dan sahabat² alumni mengingatkan saya untuk terus mengawal niat saya. Menepiskan keraguan dalam hati, positive thinking. Karena Allah akan memberikan yang hamba minta, dengan penuh keyakinan. Tidak boleh meragukan atau meng-cancell permintaan. Misalnya gini, "Saya akan ikut, kalau saya ...." 
Dengan memakai tambahan "kalau saya" itu yang biasa disebut meng-cancell. Tugas kita hanya meminta ke Allah, percaya, dan Allah yang akan memberikan jalan keluar. 

Tapi memang kenyataannya, saya akan ikut KALAU SAYA dapat arisan. Tapi baiklah.. saya tidak akan membicarakannya. Apalagi saya juga jadi belajar, terlalu berharap malah menjauhkan dari apa yang kita harapkan. Baca disini deh tulisan saya. 

Masalah saya sebenarnya bukan hanya urusan duit, tapi juga belum ngobrol dengan suami. Biasanya memang kalau ikutan training, saya tidak menjelaskan secara detail. Karena suami saya tau saya sering ikutan training. Tapi kalau training berbayar hingga jutaan begini, masa saya ga ngomong? Kalau kata mba Indah, "Meli harus tenang dulu, dan ceritakan manfaat MBP seperti yang sudah Meli ketahui. Untuk menjadi manusia yang lebih baik."

Keajaiban-keajaiban muncul seiring dengan semakin kuatnya saya mengawal perasaan untuk bisa mengikuti MBP ini. Keajaiban pertama tentu ijin dari suami. Lalu bbm mba Indah yang bilang, ada sponsor yang akan membiayai 50% dari biaya training, jadi saya hanya membayar 900ribu. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah Akbar. Luar biasa sekali. Dan spontan saya meniatkan diri, untuk menjadi sponsor di AMN home kelak. Niat baik akan dikabulkan Allah, Aaamiin :) 

Sebenarnya saat itu saya punya uang 1 juta di rekening, tapi itu untuk keperluan lain yang sudah dialokasikan. Dan saya belum bisa transfer 900ribu di hari itu. Saya menjanjikan 2 hari lagi baru transfer ke mba Indah. Keajaiban berikutnya, saya dapat arisan sebesar 3 juta! Alhamdulillah..... Ah.. emang indah hidup saya. Terima kasih ya Allah. 
Ga perlu dua hari saya transfer terlebih dulu 900ribu ke rekening mba Auk Murat. 

Tenang urusan biaya, tenang urusan ijin suami.. masih ada hal yang belum bisa tenang. Siapa yang jaga anak-anak selama saya training? Sebelumnya sempat minta tolong Ibu tercinta, tapi pada saat itu Ibu lagi sakit. Dan saya ga tega minta Ibu nginep dan nemenin cucu-cucu di rumah. Lupakan minta tolong ibu deh, itu pikiran saya. Saya minta tolong ipar supaya mau menampung anak-anak selama saya training. Tapi beberapa hari kemudian, ipar saya bilang "ga bisa". Baiklah. Pilihan terakhir saya minta tolong Bibik. Beliau menyanggupi untuk "menemani" Nasta Nara dirumah sampai saya atau ayah nya pulang. Segala rencana sudah saya siapkan termasuk mengatur bis jemputan. 

Dan Alhamdulillah, keajaiban kembali datang 2 hari sebelum saya training. Ibu tercinta menelpon dan bertanya, "Kamu jadi training mba? ibu kesana besok yah." 
Ya Allah.................. saat itu saya lagi agak kurang sehat.. perut lagi agak kenceng gitu deh. Dan langsung hilang sakit nya :) 

Saya bilang ke Ibu, nanti saya jemput abis anter anak² sekolah. Dan ternyata Ibu malah di antar Bapak. Allah Akbar. Terima kasih ya Allah :) 

Dan dengan ada Ibu di rumah, saya berangkat pagi pulang malam tidak terlalu khawatir. Terimakasih Ibu. Terima kasih abang. Terima kasih Nasta Nara. 

Banyak keajaiban dalam proses become a better me 


 

Tuesday, December 02, 2014

Tujuh Orang Dua Handuk

Mau cerita pengalaman masa kecil saya, tentang handuk.
Bapak saya seorang pegawai negeri, ntah golongan berapa. Yang saya tahu, Bapak saya seorang pegawai yang rajin dan sederhana. Tidak punya uang berlebih. Oleh karena itu Ibu selalu berusaha mencari uang tambahan.

Saya anak keempat dari 5 bersaudara. Dan dulu, kami bertujuh hanya punya 2 handuk. Iyaaa... serius. Jadi kalau mandi, siapa yang paling pagi mandi, yang beruntung dapat handuk kering. Kalau mandi terakhir? Ya resiko ditanggung sendiri deh. Handuk sudah berubah warna dan menipis, baru ganti yang baru. Bahkan harus nunggu robek sana sini dulu. Seiring jalannya waktu, punya handuk sendiri itu suatu kemewahan. Alhamdulillah

Jadi ga pake handuk yang sudah basah, sampe bingung gimana mau ngeringin badan? :(
Masa kecil, masa hidup prihatin.

Mungkin karena pengalaman masa kecil itulah, sejak punya duit sendiri, saya jadi suka beli handuk :) Biar bisa ganti-ganti setiap saat saya mau ganti.

Dan Alhamdulillah sekarang ini memiliki anak dua, kedua anak saya tidak mengalami masa kecil seperti saya... bergantian pake handuk.