Monday, December 15, 2014

Keajaiban Waktu

Training hari pertama tanggal 19 November, akan dimulai jam 08.00 saya ga mau telat. Suami menyarankan untuk ikut tetangga sebelah sampai Sudirman. Tapi lewat dari jam 5.30 belum ada tanda-tanda mereka akan berangkat. Saya memutuskan panggil ojeg dan naik bus. Nanti bus pertama yang ada di depan itu yang saya naiki. Begitu pikiran saya. 

Karena saya mau sampai di AMN Home jam 7.30 
Ga mungkin karena jalanan di Jakarta susah diperkirakan. Saya memilih minta pertolongan Allah, Maha Pemilik Waktu. Ya Allah, saya perlu sampai di AMN Home sebelum jam 8 yah, saya mau sekitar jam 7.30 sudah sampai. Jadi saya punya waktu untuk sarapan. 

Saya meminta, saya percaya dan saya menerima dan merasa bahwa saya sudah sampai disana jam 7.30 seperti yang saya minta.
Saya bayangkan sampai di depan Legenda Wisata akan ada APTB 10. Dan Alhamdulillah, apa yang saya bayangkan, terjadi! 

Tepat saya turun ojeg, bus APTB berhenti. Dengan penuh keyakinan saya naik. Bismillah, saya bisa sampai di Buncit jam 7.30 :) 
Jalanan padat itu biasa, tetap Allah deh yang mengatur waktu. Turun di halte Tegal Parang. Masih ada waktu untuk nunggu metro mini 75, tapi saya memilih naik ojeg. Alhamdulillah, lancaaar dan saya bisa sampe di AMN Home lewat sedikit dari jam 7.30 
Allah memang baik bangeet. Terima kasih 

Dan ternyata, ada teman saya Nurina yang tinggal di Cibubur Country ikutan kelas MBP. Duuh.. kalau tau begitu janjian tadi ya :) Hehehe... 
Ya memang jalan nya saya harus naik kendaraan umum. 

Keajaiban lagi, salah satu teman di MBP ini ada yang tinggal di Picasso. Horee.. saya pulang bareng mba Arni :) 

Hari kedua, suami berangkat lebih dulu. Dan mau tak mau saya kebagian anter anak sekolah. Beruntung mereka mau berangkat lebih pagi. Ga keburu janjian sama Nurina, karena dia berangkat jam 6 kurang. Sedangkan mba Arni belum tau berangkat jam berapa. Awalnya saya kira Uni Anis hanya akan nemenin antar ke sekolah anak-anak, ternyata uni Anis mau bawa mobil ke kantor. Waah.. ya sekalian aja saya minta dianterin dulu ke Buncit. Ga apa-apa deh saya yang nyetir. Membayangkan perjalanan lancar, dan lagi-lagi meminta sebelum jam 8 sudah sampai. 

Alhamdulillah, perjalanan lancar (menurut saya) dan bisa sampai di AMN Home sebelum jam 8. Terima kasih ya Allah 

Cerita diatas tentang perjalanan menuju MBP training yang penuh keajaiban. Tidak perlu dipertanyakan. Karena Allah memberi sesuai permintaan hambaNya. 

Allah Akbar :) I love you 

 

Become a Better Me

Mengenal AMN Home dari sahabat² Oriflame saya. Tidak ingat bagaimana persisnya mereka menceritakan tentang keindahan hidup yang mereka jalani setelah mengikuti 5 tools MBP. Saya pernah ikutan kelas Hypnotherapy. Dan kalau diingat², apa ya tujuan saya pada waktu itu? Selain untuk menghilangkan sifat jutek yang sepertinya sudah mendarah daging, pada saat itu. 

Lebih dari 9 tahun yang lalu, dengan tujuan seperti yang saya ungkapkan diatas. Saat itu saya belum paham tentang Law of Attraction, saya tidak tahu bagaimana cara membayangkan impian, tujuan saya ya hanya menghilangkan kejutekan saya itu. Tapi maaf, mengikuti sesi beberapa kali, saya tidak ingat dan tidak tahu apa yang saya rasakan. Ntah lah, bisa jadi karena selama session saya terlalu banyak berpikir, dan tidak percaya. Bisa jadi karena saya merasa sulit berubah, atau takut berubah? Ntah lah. 
Saat itu saya merasa, meditasi bukan gaya saya. Walaupun ternyata saya menyukainya, hanya saja belum mahir. Saya dulu khawatir, jika saya rajin bermeditasi, indra keenam akan muncul. :) Pikiran yang konyol. 
Padahal dengan rajin bermeditasi, atau dalam Islam ber tafakur, kita akan mudah mendengar kata hati. Mengasah intuisi. 

Kembali ke cerita AMN Home. Akhirnya saya mencoba mengikuti kelas gratis terlebih dulu, yakni LSC. Dan selanjutnya dijelaskan tentang manfaat MBP. Tertarik? Pastinya. Tapi pada saat itu (bulan Oktober) dengan biaya 1.8 juta, saya merasa berat. Saya bilang ke mba Indah dari AMN Home, bahwa saya sangat tertarik. Tapi belum bisa ikutan karena belum ada dana sebesar itu. Menjelang akhir Oktober, ditawari lagi. Tetap dengan jawaban yang sama, saya akan ikut kalau ada uang. 

Mba Indah dan sahabat² alumni mengingatkan saya untuk terus mengawal niat saya. Menepiskan keraguan dalam hati, positive thinking. Karena Allah akan memberikan yang hamba minta, dengan penuh keyakinan. Tidak boleh meragukan atau meng-cancell permintaan. Misalnya gini, "Saya akan ikut, kalau saya ...." 
Dengan memakai tambahan "kalau saya" itu yang biasa disebut meng-cancell. Tugas kita hanya meminta ke Allah, percaya, dan Allah yang akan memberikan jalan keluar. 

Tapi memang kenyataannya, saya akan ikut KALAU SAYA dapat arisan. Tapi baiklah.. saya tidak akan membicarakannya. Apalagi saya juga jadi belajar, terlalu berharap malah menjauhkan dari apa yang kita harapkan. Baca disini deh tulisan saya. 

Masalah saya sebenarnya bukan hanya urusan duit, tapi juga belum ngobrol dengan suami. Biasanya memang kalau ikutan training, saya tidak menjelaskan secara detail. Karena suami saya tau saya sering ikutan training. Tapi kalau training berbayar hingga jutaan begini, masa saya ga ngomong? Kalau kata mba Indah, "Meli harus tenang dulu, dan ceritakan manfaat MBP seperti yang sudah Meli ketahui. Untuk menjadi manusia yang lebih baik."

Keajaiban-keajaiban muncul seiring dengan semakin kuatnya saya mengawal perasaan untuk bisa mengikuti MBP ini. Keajaiban pertama tentu ijin dari suami. Lalu bbm mba Indah yang bilang, ada sponsor yang akan membiayai 50% dari biaya training, jadi saya hanya membayar 900ribu. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah Akbar. Luar biasa sekali. Dan spontan saya meniatkan diri, untuk menjadi sponsor di AMN home kelak. Niat baik akan dikabulkan Allah, Aaamiin :) 

Sebenarnya saat itu saya punya uang 1 juta di rekening, tapi itu untuk keperluan lain yang sudah dialokasikan. Dan saya belum bisa transfer 900ribu di hari itu. Saya menjanjikan 2 hari lagi baru transfer ke mba Indah. Keajaiban berikutnya, saya dapat arisan sebesar 3 juta! Alhamdulillah..... Ah.. emang indah hidup saya. Terima kasih ya Allah. 
Ga perlu dua hari saya transfer terlebih dulu 900ribu ke rekening mba Auk Murat. 

Tenang urusan biaya, tenang urusan ijin suami.. masih ada hal yang belum bisa tenang. Siapa yang jaga anak-anak selama saya training? Sebelumnya sempat minta tolong Ibu tercinta, tapi pada saat itu Ibu lagi sakit. Dan saya ga tega minta Ibu nginep dan nemenin cucu-cucu di rumah. Lupakan minta tolong ibu deh, itu pikiran saya. Saya minta tolong ipar supaya mau menampung anak-anak selama saya training. Tapi beberapa hari kemudian, ipar saya bilang "ga bisa". Baiklah. Pilihan terakhir saya minta tolong Bibik. Beliau menyanggupi untuk "menemani" Nasta Nara dirumah sampai saya atau ayah nya pulang. Segala rencana sudah saya siapkan termasuk mengatur bis jemputan. 

Dan Alhamdulillah, keajaiban kembali datang 2 hari sebelum saya training. Ibu tercinta menelpon dan bertanya, "Kamu jadi training mba? ibu kesana besok yah." 
Ya Allah.................. saat itu saya lagi agak kurang sehat.. perut lagi agak kenceng gitu deh. Dan langsung hilang sakit nya :) 

Saya bilang ke Ibu, nanti saya jemput abis anter anak² sekolah. Dan ternyata Ibu malah di antar Bapak. Allah Akbar. Terima kasih ya Allah :) 

Dan dengan ada Ibu di rumah, saya berangkat pagi pulang malam tidak terlalu khawatir. Terimakasih Ibu. Terima kasih abang. Terima kasih Nasta Nara. 

Banyak keajaiban dalam proses become a better me 


 

Tuesday, December 02, 2014

Tujuh Orang Dua Handuk

Mau cerita pengalaman masa kecil saya, tentang handuk.
Bapak saya seorang pegawai negeri, ntah golongan berapa. Yang saya tahu, Bapak saya seorang pegawai yang rajin dan sederhana. Tidak punya uang berlebih. Oleh karena itu Ibu selalu berusaha mencari uang tambahan.

Saya anak keempat dari 5 bersaudara. Dan dulu, kami bertujuh hanya punya 2 handuk. Iyaaa... serius. Jadi kalau mandi, siapa yang paling pagi mandi, yang beruntung dapat handuk kering. Kalau mandi terakhir? Ya resiko ditanggung sendiri deh. Handuk sudah berubah warna dan menipis, baru ganti yang baru. Bahkan harus nunggu robek sana sini dulu. Seiring jalannya waktu, punya handuk sendiri itu suatu kemewahan. Alhamdulillah

Jadi ga pake handuk yang sudah basah, sampe bingung gimana mau ngeringin badan? :(
Masa kecil, masa hidup prihatin.

Mungkin karena pengalaman masa kecil itulah, sejak punya duit sendiri, saya jadi suka beli handuk :) Biar bisa ganti-ganti setiap saat saya mau ganti.

Dan Alhamdulillah sekarang ini memiliki anak dua, kedua anak saya tidak mengalami masa kecil seperti saya... bergantian pake handuk.


Friday, November 14, 2014

Saya Meminta, Saya Percaya, Saya Menerima

Bismillah

Pernah ga berdoa, berharap dapat arisan... ngerasa butuh banget.. doa siang malam, ngarep. Tapi hasilnya, tidak dapat arisan?

Tau dong arisan ya.. kumpulan nama ditempatkan dalam satu tempat, lalu di kocok, kertas yang berisikan nama siapa yang keluar, itu yang dapat arisan.

Semakin ngotot pengen dapat, malah ga dapat. :) Dan saya sering kejadian. Hehehe...
Sampe bilang dalam hati, "duh, kalau ga dapat arisan ini gw ga tau deh punya duit darimana lagi?"

Sekarang saya sadar, dan buru-buru Istighfar, ASTAGHFIRULLAH.

Tapi yang namanya berdoa, tujuannya pengen dikabulkan Allah SWT kan?
Nah ini dia... tidak selamanya apa yang kita inginkan akan dikabulkan Allah, semua orang pasti sudah tau itu.

Sama seperti permintaan anak kecil yang sedang batuk, dia minta permen dan es krim. Apakah di kasih walaupun anak tersebut nangis jejeritan? Orang tua tentu akan memikirkan, kalau anak ini dikasih permen dan es krim lagi, tentu batuk nya akan tambah parah. Kalau batuknya tambah parah, si anak akan sesak nafas, susah tidur, dll. Jadi orang tua memilih mendiamkan dan tidak membelikan apa yang diinginkan anak. Apakah orang tua tersebut jahat?

Allah pun demikian. Allah Maha mengetahui apa yang terbaik bagi ummatNya. Yang terbaik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah.


Jadi bagaimana sebaiknya?

Saat menginginkan atau mengharapkan sesuatU, MINTA
Lalu PERCAYA bahwa keinginan dan harapan akan dikabulkan Allah SWT
Selanjutnya TERIMA seolah-olah kita sudah mendapatkan apa yang diharapkan. Syukuri.

Dengan melakukan hal diatas, alam semesta akan mencatat bahwa memang kita layak mendapatkan apa yang kita inginkan.

Jangan menuntut Allah jika apa yang diharapkan tidak dikabulkan, bisa jadi Allah akan memberikan yang LEBIH BAIK dari yang kamu inginkan.

Wassalam

Thursday, November 13, 2014

Rasamu Adalah Doa mu

Selayaknya ummat Muslim, saya sering berdoa dengan menggunakan bahasa Arab. Karena doa memang tertulis dalam bahasa Arab. Ada yang tau artinya, dan memang sebaiknya begitu. Ada juga yang hanya sedikit tahu.

Diajarkan untuk berdoa setelah shalat, lebih afdol, katanya. Logika nya, karena shalat itu kan menenangkan hati, pikiran dan perasaan yah. Walaupun bacaan shalat itu pun sudah doa semua, namanya manusia, pasti mau tambahan doa. Karena ada tambahan kemauan. As simple as that.

Menangis saat berdoa, itu in syaa Allah bagus. Itu yang saya baca dan dengar. Tapi ntah kenapa, kalau berdoa setelah shalat itu .. saya jarang menangis. Kurang khusyu'? Mungkin

Tapi seringkali saya menangis saat saya berdoa dalam bahasa yang saya pahami, harapan dan keinginan yang saya harapkan dan inginkan, di tempat dan waktu yang bukan waktu shalat. Seperti misalkan saat lagi kerja di depan komputer, tengah malam, lihat anak-anak tidur....
Ucapan atau doa yang saya ucapkan dalam hati, begitu menyentuh.. sehingga bisa tuh nangis tersedu-sedu..  sendirian....

Rasamu adalah doa mu
Kalimat itu saya dapatkan seorang vibrator eh.. kok ga enak ya sebutannya.. :D atau motivator, maaf saya kurang paham beliau disebut apa. Kalau liat profil di web nya beliau adalah konsultan kebahagiaan hidup. Aih.. nikmat banget yah...

Siapa sih yang ga pengen bahagia dalam hidup yang hanya sekali ini? Bahagia dunia dan akhirat, itu harapan semua orang. Bahagia seperti apa? Dan harus bagaimana? Itu yang jadi pelajaran bagi semua orang. Bahagia nya ala saya, belum tentu bahagia ala Anda.

Kembali ke RASA.

Sadar atau tidak, perasaan silih berganti. Sudah waktunya kita mengatur perasaan. Bina hubungan antara otak dan hati hehehe... Jika dirasa baik, akan jadi baik. Jika dirasa buruk, itu lah doa mu.

Mau hidup selalu baik kan? Selalu positif, merasa yang positif, in syaa Allah hasilnya akan selalu positif dan baik.

Apa yang kamu rasakan.. itu lah doa mu ke Tuhan mu.



Saturday, October 04, 2014

Tangis Duka, Tangis Haru, Tangis Rindu

Hari ini saya menangis terus ......................

Tangisan pertama saat bezoek adik Ibu yang biasa saya panggil Mama di RSPP.  Mama sudah lama sakit, hampir 10 tahun terakhir. Kondisinya terus menurun. Mulai dari Parkinson yang semakin parah, Mama sering kehilangan keseimbangan. Sering jatuh jika tidak ditopang / dipegangin.

Awal minggu Ibu sudah memberitahu Mama sakit, dan memang saya niatkan untuk melihat Mama dirumahnya Minggu besok, setelah shalat Idul Adha. Tapi semalam saya dapat pesan di Blackberry dari adik Ibu yang ketiga, yang biasa saya panggil Te I. Isinya singkat, "Mama di opname"

Karena baca dalam kondisi setengah sadar, belum saya balas. Pagi dini hari baru saya balas, dan ternyata Mama sudah masuk RSPP sejak pukul 4 sore. "Kok tumben Ibu ga nelpon?" Dan ternyata te I pun belum kasih tau Ibu, dan baru mau dikasih tau pagi ini. Iya juga sih, kalau dikasih tau malam hari, kebayang deh... Ibu pasti ga akan bisa tidur. :(

Masuk ke kamar 760, dan melihat kondisi Mama yang sudah sangat kurus membuat saya tak sanggup menahan tangis. Tersengguk-sengguk saya memeluk Mama, tanpa bicara apapun. Terakhir saya ketemu Mama 1 atau 2 bulan lalu, pandangan Mama sudah lebih sering kosong. Sedih. Karena harapan saya ada yang selalu mendampingi Mama dan membacakan ayat-ayat suci. Tapi setahu saya, suster yang jaga Mama beda keyakinan. Jadi tentu tidak bisa membantu.

Sekitar 1 jam saya disana, saya bantu dengan membaca Al Faatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas berkali-kali. Juga mendengarkan surat Yaasin yang dikumandangkan dari Blackberry.

Ya Allah, ampuni dosa-dosa Mama - Bachrida binti Bachtaruddin. Angkat penyakit yang dideritanya, berikan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Berikan yang terbaik dari Mu. Hanya kepada Engkau saya memohon, maka kabulkanlah. Aamiin allahu aamiin.

Sore hari saya pun menangis..... lagi..............

Kali ini dikarenakan saya menghadiri konser musik yang diadakan oleh London School Center of Autism Awareness dengan tajuk "Music for Ervitha"

Ervitha adalah seorang anak berkebutuhan khusus berusia sekitar 20 tahun yang tahun 2013 kena kanker payudara. Dan beberapa bulan lalu terpaksa harus melakukan operasi pengangkatan payudara.

Tujuan konser musik ini adalh untuk menggalang dana, membantu pengobatan Ervitha. Yang bikin saya menangis, pengisi acara hampir semua anak-anak berkebutuhan khusus. Yang terlihat secara fisik maupun yang tidak.

Dan mereka membuat saya semakin kagum atas penciptaan Allah subhanahu wa ta'ala. Serta bersyukur diberi nikmat memiliki dua putri cantik, sehat dan cerdas. Alhamdulillah. Nah itu yang bikin saya jadi nangis, karena anak-anak saya begitu sempurna dibandingkan mereka yang tampil dipanggung. Sempurna dari segi fisik, perilaku (sesuai usia) dan mental. Tapi karena pendeknya sumbu emosi saya maupun ayahnya, seringkali perilaku mereka yang tidak sesuai dengan kehendak kami membuat kami mudah memarahi. Astaghfirullah.

Padahal kalau saya membayangkan para Ibu dan Ayah yang anak-anaknya memiliki kebutuhan khusus, Subhanallah.... Allah memang memberi masalah, rejeki, cobaan, nikmat kepada setiap orang sesuai kemampuannya. Smoga orang tua mereka diberi rejeki yang berlimpah, kesehatan, dan kesabaran dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus ini. Aamiin allahuma aamiin.

Tangisan terakhir dimalam hari....
Saat mendengar kumandang takbir dari YouTube.

Allah Akbar Allah Akbar Allah Akbar
La illaa ha illallah hu Allah Akbar

Selamat Idul Adha 1435H

Smoga 5 tahun dari sekarang, saya dan suami bisa merayakan Idul Adha di tanah suci. Aamiin allahuma aamiin



Sunday, August 10, 2014

Harapan Ibu

Dulu setiap melihat anak balita bahkan bayi menggunakan jilbab dalam hati saya berkomentar, "Kasihan banget sih anak sekecil itu sudah dipakein jilbab, kan kepanasan tuh." Bahkan waktu Nara berusia 4 tahun, lagi senang-senangnya pake baju gamis, kemana pun dia pergi dia minta pake baju panjang itu. Saya hanya bilang, "Dek pake baju lain yah, nanti ade kepanasan."

Dan jujur sekarang ini saya menyesal pernah berkata seperti itu.

Memperkenalkan jilbab seharusnya memang dari sedini mungkin. Menutup aurat harus mulai dari kecil. Dibiasakan.

Sebagai seorang perempuan yang baru menggunakan jilbab setelah berumur 34 tahun, pun masih belajar untuk lebih mengerti tentang Islam, saya menyesal telat untuk menutup aurat. Bahkan melewati masa-masa yang indah untuk dikenang, tapi kata istighfar selalu terucap. Astaghfirullah :(

Saya masih belajar. Pun baju yang saya kenakan masih jauh dari syar'i.

In syaa Allah Nasta sudah 11 tahun 1 bulan, belum haid. Ntah 1 bulan lagi, atau 1 tahun lagi waktu nya akan tiba. Harapan saya, kalaupun sekarang masih belum bisa berkerudung setiap pergi², setelah Nasta haid dia akan menutup aurat kemanapun dia pergi. Aaamiin YRA

Pengalaman ibu-ibu lain yang anaknya memutuskan berkerudung, itu karena kemauan mereka (anak-anak) sendiri. Iya, in syaa Allah saya dan suami tidak akan memaksa. Hanya mengarahkan. Karena kalaupun dalam hati mereka belum siap, lalu setelah dewasa malah copot jilbab, itu yang kami hindari.

Tugas Ibu mendidik mereka menjadi anak-anak yang sholeh / sholeha, santun, sopan dan hormat terhadap orang yang lebih tua, melindungi dan sayang terhadap yang lebih muda. Smoga saya, sebagai Ibu bisa menjadikan anak-anak saya berakhlak dan berakidah baik, sesuai rahmatan lillahi ta'ala. Aamiin YRA

Kelak, apapun pilihan karir mereka, Al Qur'an lah pegangan mereka. Dan selalu ingat Allah SWT sehingga perjalanan hidup mereka diridhoi Nya. Aaamiin YRA

Thursday, July 31, 2014

Kaya Itu Banyak Memberi

Kaya itu bukan berapa banyak uang yang kita miliki, melainkan berapa banyak yang kita berikan. 


Saya setuju banget dengan pernyataan diatas. Pengalaman pribadi, setiap saya infaq di kotak masjid, memberikan uang ke siapa saja (walaupun menurut saya jumlahnya masih sedikit).. tapi saya merasa KAYA. Dan harapan saya, bisa memberikan lebih dari yang saya berikan.

Tak salah jika saya selalu berdoa untuk diberikan keluasan rejeki, kepada Allah sang pemilik hidup yang Maha Kaya dan mengayakan ummat yang Dia kehendaki, supaya bisa lebih leluasa memberikan harta yang saya miliki.

Harapan dan doa saya selalu, supaya saya bisa memberikan nafkah yang sangat baik untuk orang tua, karena selama ini saya masih jauh dari banyak kalau tidak bisa dibilang sedikit :(

Harapan dan doa saya, supaya saya bisa membantu keluarga yang membutuhkan.

Harapan dan doa saya, supaya saya bisa membantu downline-downline saya untuk mencapai impian mereka, seperti impian yang saya yang dengan izin Allah SWT akan terkabul :)

Harapan dan doa saya, supaya bisa mewujudkan impian anak-anak saya. Membantu pendidikan hingga jenjang yang mereka inginkan.

Harapan dan doa saya, smoga saya dipantaskan menjadi kaya harta, kaya hati dan kaya jiwa.

Aamiin Allahuma Aamiin