Dear Nasta,
Happy Birthday my dearest one
As always, I love you very much and keep praying for your life.
Hope Allah SWT will give me a chance to be your mother who will protect you, teach you, be your friend and love you always.
Hope Allah SWT bless your life, make you a tough little girl who will be wise and tough woman someday.
Hope Allah SWT love you always.
Love you dear,
Ibu
Sunday, July 12, 2009
Saturday, July 11, 2009
Menyiapkan diri menuju Pensiun
The key to realizing a dream is to focus not on success but significance - and then even the small steps and little victories along your path will take on greater meaning.
Oprah Winfrey, O Magazine, September 2002
US actress & television talk show host (1954 - )
Apa bakat saya?
Apa hobi saya?
Apa ketrampilan yang saya kuasai?
Jika sepertinya saya begitu bodoh, untuk tidak mempunyai ketrampilan, bakat maupun hobi yang menonjol, maklumi saja.
Sudah lama saya memikirkan apa yang akan saya lakukan jika tenaga saya sudah tidak terpakai lagi di kantor. Waktu SMP, saya mengambil extra kulikuler ~ mengetik. Dengan cita-cita saya ingin kerja kantoran. Dan Alhamdulillah tercapai. Ga ada tuh keinginan untuk belajar memasak atau menjahit. Duh.. ga gw banget gitu lho.
Saat teman-teman satu persatu memutuskan untuk mundur dari dunia perkantoran dan memilih usaha sendiri ~ tentunya usaha dari rumah supaya bisa dekat dengan anak-anak. Mayoritas mereka punya usaha yang berawal dari hobi atau ketrampilan yang mereka miliki. Usaha catering, buka butik, jualan baju, dll,dsb.
"Jadi EO aja Mel, lo kan seneng tuh ngatur-ngatur acara kantor," beberapa teman menyarankan hal itu. Hhmm... bisa dipikirkan. Tapi saat ini, saya pun bekerja di dunia periklanan yang menangani event / activation. Walaupun bukan orang lapangan, tapi masih di area yang sama.
"Jadi penulis aja," kata teman yang lain. Halahh.... masih banyak tulisan teman-teman saya yang lebih baik, baik dari cerita maupun tutur bahasanya. Ya iya lah.. mereka memang penulis / copy writer.
Jualan ... sepertinya saya kurang pandai dalam hal ini, walaupun 50% mengalir darah minang. Ntah lah, saya harus banyak belajar untuk "meyakinkan" orang lain membeli dagangan saya.
Memasak ... ehem .. bagi yang mengenal saya dengan baik, tentu tau betapa saya "kurang" suka dengan kegiatan ini.
Menjahit.. halahhh... jahit kancing baju aja berantakan...
Saya suka membaca, koleksi buku saya lumayan banyak
Saya suka jalan-jalan, walaupun kendala keuangan membuat saya jarang jalan-jalan
OK, dari dua kesukaan saya itu, apa yang bisa saya optimalkan untuk bekal saya menuju masa pensiun ya?
to be continue
Oprah Winfrey, O Magazine, September 2002
US actress & television talk show host (1954 - )
Apa bakat saya?
Apa hobi saya?
Apa ketrampilan yang saya kuasai?
Jika sepertinya saya begitu bodoh, untuk tidak mempunyai ketrampilan, bakat maupun hobi yang menonjol, maklumi saja.
Sudah lama saya memikirkan apa yang akan saya lakukan jika tenaga saya sudah tidak terpakai lagi di kantor. Waktu SMP, saya mengambil extra kulikuler ~ mengetik. Dengan cita-cita saya ingin kerja kantoran. Dan Alhamdulillah tercapai. Ga ada tuh keinginan untuk belajar memasak atau menjahit. Duh.. ga gw banget gitu lho.
Saat teman-teman satu persatu memutuskan untuk mundur dari dunia perkantoran dan memilih usaha sendiri ~ tentunya usaha dari rumah supaya bisa dekat dengan anak-anak. Mayoritas mereka punya usaha yang berawal dari hobi atau ketrampilan yang mereka miliki. Usaha catering, buka butik, jualan baju, dll,dsb.
"Jadi EO aja Mel, lo kan seneng tuh ngatur-ngatur acara kantor," beberapa teman menyarankan hal itu. Hhmm... bisa dipikirkan. Tapi saat ini, saya pun bekerja di dunia periklanan yang menangani event / activation. Walaupun bukan orang lapangan, tapi masih di area yang sama.
"Jadi penulis aja," kata teman yang lain. Halahh.... masih banyak tulisan teman-teman saya yang lebih baik, baik dari cerita maupun tutur bahasanya. Ya iya lah.. mereka memang penulis / copy writer.
Jualan ... sepertinya saya kurang pandai dalam hal ini, walaupun 50% mengalir darah minang. Ntah lah, saya harus banyak belajar untuk "meyakinkan" orang lain membeli dagangan saya.
Memasak ... ehem .. bagi yang mengenal saya dengan baik, tentu tau betapa saya "kurang" suka dengan kegiatan ini.
Menjahit.. halahhh... jahit kancing baju aja berantakan...
Saya suka membaca, koleksi buku saya lumayan banyak
Saya suka jalan-jalan, walaupun kendala keuangan membuat saya jarang jalan-jalan
OK, dari dua kesukaan saya itu, apa yang bisa saya optimalkan untuk bekal saya menuju masa pensiun ya?
to be continue
Monday, June 15, 2009
Instink
Is it a feeling?
Is is true?
Saya pernah berbicara dengan seorang teman, apakah berarti instink saya kuat jika apa yang saya rasakan atau pikirkan menjadi kenyataan? Jawabannya, iya. Apakah beda instink dengan halusinasi (maksudnya pikiran saya yang ngelantur kesana kemari gitu), katanya lagi, kalo instink itu terjadi tiba-tiba tanpa pikiran apapun sebelumnya. Kalo rekayasa atau halusinasi itu, jika saya sudah memikirkan dan "mengarang" kejadian dalam otak saya. Duh... ngerti ga sih bahasa saya???
Sebenarnya maksud saya sih simple banget, kalo kamu berkenalan dengan seseorang lalu merasakan "aura positif" dan merasa nyaman dengan orang tersebut, itu yang dinamakan instink. Betul ga?
Tapi kalo kamu bertemu orang, tanpa kenalan, denger dari orang bahwa dia gini gitu gene gono, lalu kamu mengasumsi di dalam pikiran dan hati kamu, itu yg namanya rekayasa.
Semua hal sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, itu saya percaya 100%. Jadi tidak ada yang namanya "kebetulan". Dan segala sesuatu pasti ada maknanya. Ntah untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Selama bermanfaat untuk diri, orang lain dan lingkungan tentunya.
Beberapa hari lalu, saat saya makan di mall deket kantor, saya melihat sosok laki-laki, yang sepertinya saya kenal. Saya perhatikan, untungnya blio tidak kenal saya :D. Eh, suami nya si X nih, pikir saya. Pandangan saya beralih ke arah mana pria ini menuju, pikiran saya, jangan-jangan ada si X nih. Mengingat saya sudah cukup lama tidak ketemu dengan X ini, itu harapan saya. Tapi ternyata pria itu tidak bersama X, melainkan seorang wanita dengan 3 orang anaknya. Bahasa tubuh, mencurigakan. Eits.. maksudnya, ga ngapa-ngapain sih .. hanya "instink" saya mengatakan, they have special relationship. Terlihat dari anak-anak nya si mba ini yang cukup "hormat" dengan suami nya teman saya ini.
Lalu pria itu kembali ke meja sebelumnya, bersama tiga orang pria ... teman kantor nya mungkin. Karena saya sudah selesai makan, jadi saya bebas untuk memperhatikan mereka. Dan ketika pria itu pamit duluan ke perempuan dengan tiga anak ini, teman-teman pria itu pun begitu santun berpamitan, kesan yang saya ambil, "Mungkin istri si pria ini"
Hhm... curiga boleh dong ...
Ahh.. Meli, mungkin saja wanita itu adik pria yang suaminya teman saya itu.
Atau .. saudaranya ...
Kan kamu juga ga terlalu dekat dengan teman kamu itu, mungkin aja kan???
Hhhm... iya iya ... penasaran boleh dong .. dan instink saya kan hak saya pribadi. Walaupun "GATAL" rasanya pengen sms teman saya itu...
Tapi ... apa gunanya buat saya yah?? Ah.. sudah lah, ga inget rasanya di interogasi tahun lalu itu?? Cape deh ....
Is is true?
Saya pernah berbicara dengan seorang teman, apakah berarti instink saya kuat jika apa yang saya rasakan atau pikirkan menjadi kenyataan? Jawabannya, iya. Apakah beda instink dengan halusinasi (maksudnya pikiran saya yang ngelantur kesana kemari gitu), katanya lagi, kalo instink itu terjadi tiba-tiba tanpa pikiran apapun sebelumnya. Kalo rekayasa atau halusinasi itu, jika saya sudah memikirkan dan "mengarang" kejadian dalam otak saya. Duh... ngerti ga sih bahasa saya???
Sebenarnya maksud saya sih simple banget, kalo kamu berkenalan dengan seseorang lalu merasakan "aura positif" dan merasa nyaman dengan orang tersebut, itu yang dinamakan instink. Betul ga?
Tapi kalo kamu bertemu orang, tanpa kenalan, denger dari orang bahwa dia gini gitu gene gono, lalu kamu mengasumsi di dalam pikiran dan hati kamu, itu yg namanya rekayasa.
Semua hal sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, itu saya percaya 100%. Jadi tidak ada yang namanya "kebetulan". Dan segala sesuatu pasti ada maknanya. Ntah untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Selama bermanfaat untuk diri, orang lain dan lingkungan tentunya.
Beberapa hari lalu, saat saya makan di mall deket kantor, saya melihat sosok laki-laki, yang sepertinya saya kenal. Saya perhatikan, untungnya blio tidak kenal saya :D. Eh, suami nya si X nih, pikir saya. Pandangan saya beralih ke arah mana pria ini menuju, pikiran saya, jangan-jangan ada si X nih. Mengingat saya sudah cukup lama tidak ketemu dengan X ini, itu harapan saya. Tapi ternyata pria itu tidak bersama X, melainkan seorang wanita dengan 3 orang anaknya. Bahasa tubuh, mencurigakan. Eits.. maksudnya, ga ngapa-ngapain sih .. hanya "instink" saya mengatakan, they have special relationship. Terlihat dari anak-anak nya si mba ini yang cukup "hormat" dengan suami nya teman saya ini.
Lalu pria itu kembali ke meja sebelumnya, bersama tiga orang pria ... teman kantor nya mungkin. Karena saya sudah selesai makan, jadi saya bebas untuk memperhatikan mereka. Dan ketika pria itu pamit duluan ke perempuan dengan tiga anak ini, teman-teman pria itu pun begitu santun berpamitan, kesan yang saya ambil, "Mungkin istri si pria ini"
Hhm... curiga boleh dong ...
Ahh.. Meli, mungkin saja wanita itu adik pria yang suaminya teman saya itu.
Atau .. saudaranya ...
Kan kamu juga ga terlalu dekat dengan teman kamu itu, mungkin aja kan???
Hhhm... iya iya ... penasaran boleh dong .. dan instink saya kan hak saya pribadi. Walaupun "GATAL" rasanya pengen sms teman saya itu...
Tapi ... apa gunanya buat saya yah?? Ah.. sudah lah, ga inget rasanya di interogasi tahun lalu itu?? Cape deh ....
"Cerita Sekarang Aja Bu"

Wuih... senengnya.. akhirnya kejadian juga ajak Nasta dan Nara naik Trans Jakarta ke Staad Huis. Thanks to Nasta yang hari itu tidak terlihat lelah, padahal pagi nya sudah main sepeda dan les renang.
Kami berangkat dari Cibubur jam 3 kurang menuju Al Azhar Kebayoran. Parkir mobil disana, dan perjalanan dilanjutkan dengan Trans Jakarta menuju Kota. Untungnya, Nasta dan Nara cukup tidur di perjalanan Cibubur - Kebayoran, jadi mereka ga tidur di bus. Kondisi bus cukup penuh untuk ukuran hari libur, bikin Nasta Nara tidak leluasa melihat-lihat keluar bis. Sampai di Kota, yang ternyata sudah dibuat jalan bawah tanah ... wuih.. keren lho.. baru tau juga nih, jadi pejalan kaki tidak harus berantem dengan bus/angkot/mobil untuk menyebrang ke tujuan. Kondisi tunnel cukup bersih, walaupun sudah banyak bagian jalannya yang bolong-bolong.. hhmm.. padahal hanya manusia yang lewat sini kan??
Kami keluar menuju pintu Bank Mandiri, jalan kaki menuju Musium Sejarah Jakarta atau Musium Fatahillah (karena terletak di Jalan Taman Fatahillah, dan menikmati ramainya tempat ini.
Dah lama sekali saya tidak ke tempat ini, dan ternyata .. ramai sekali. Impian untuk foto-foto dengan angle yg sudah direncanakan pupus sudah. Gimana mo foto? Semua sudut sudah dikuasai orang-orang?
Nasta sendiri cukup senang, karena dia melihat atraksi orang-orang main skate board dan sepeda. Nara, kurang puas, karena akibat info dari Ibu nya yang kurang akurat, mengakibatkan dia membayangkan banyak burung-burung dan ternyata tidak ada burung disana :( Maaf Nak, kita ke Taman Surapati aja yah kapan-kapan, biar puas ngejar burung nya :D
Karena banyak nya orang, banyak pula tukang jajanan dan sudah dipastikan, BANYAK SAMPAH! Sayang sekali ..
Sesekali saya memberitahu Nasta, apa itu meriam, bangunan ini dulu nya apa, fungsinya apa.. ya.. yang saya tahu aja. Ingin sekali bercerita banyak ke Nasta, tapi hasilnya saya sendiri yang terjebak ...
"Kak, Jakarta ini sudah tua sekali Ta. Umurnya sudah ratusan tahun. Dulu, ini pusat kota nya."
"Tuaan mana ma Cibubur Bu?"
"Ya tuaan Jakarta Ta, Cibubur dulu belum ada. Jakarta dulu namanya Batavia Ta."
"Udah berapa umur nya Bu?"
"Empat ratus tahun lebih Ta, ibu juga lupa persisnya. Minggu depan Jakarta ulang tahun Ta. Nanti deh sampai rumah, Ibu ceritain tentang Jakarta."
"Cerita sekarang aja Bu!"
Yaaaa... Nasta, Ibu kan harus buka kebetan dulu.....
Tuesday, June 02, 2009
Susahnya punya anak Perempuan
Jum'at lalu saya menonton film Virgin 2. Alur film nya sendiri lambat sekali, tapi sinematography nya keren abisss.. kisah nya sendiri konon kabarnya "Based On True Story"
Sepanjang film itu, tak henti-hentinya saya istighfar dan memohon kepada Allah SWT, sang pemilik kehidupan, untuk menjaga dan melindungi anak-anak perempuan saya dari orang-orang yang berniat jahat. (Bagus juga nih film, bikin saya istighfar terus :D)
Tadi malam, tetangga saya yang anaknya sekolah bareng Nasta kirim pesan. Anaknya bercerita bahwa tadi payudara nya di pegang oleh teman-teman lelaki nya. Dan Nasta juga. Hah?????? Pelan-pelan saya dan suami bertanya kepada Nasta, apa yang terjadi. Nasta awalnya "hanya" bercerita, "tas ku di rebut A, sepatu ku dimasukkin ke dalam tas, liat deh Bu, kaki ku sampai sakit." Perlahan saya bertanya, apakah A benar pegang / nyubit tetek nya dia? Awalnya Nasta pun bercerita tanpa rasa sedih atau kesal, mungkin menurut dia hal seperti itu tidak terlalu bermasalah (tapi bermasalah sekali bagi saya!!!) "Iya, tetek ku di pegang, di cubit.. sakit Bu" "Di cubit bagaimana? Tetek nya atau perut nya?" "Tetek nya bu, begini nih .." (dia memperagakan sambil mencubit tetek saya)
"Tapi kan bukan salah ku Bu..." sudah mulai menangis ...
"Oh ga apa2 sayang, Ibu dan Ayah ga bilang kakak salah. Ibu mau kakak cerita ke Ibu. Ibu pernah bilang ke Nasta kan, tidak ada yang boleh pegang badan kakak apalagi tetek dan meki kakak, kecuali IBU!!!"
Nasta mulai terisak, mungkin dia jadi mengingat kejadian itu.
"Apa yang kakak rasakan? Kakak sedih ga? Kakak marah ga?," saya melanjutkan.
"Aku udah bilang berenti, tapi mereka terus-terusan ngeroyok aku dan N bu."
"Kakak bilang ga ke Oom Bagus (supir bisnya)?"
"Iya, aku bilang.. "
Astaghfirullah...
"Kak, ibu jadi sedih nih. Ibu mau kalo ada hal yang bikin kakak sedih, marah, sebel atau bahagia, kakak cerita ke Ibu ya."
Lalu saya menceritakan ke tetangga saya itu. Apa perlu saya adukan ke Ibu masing-masing anak itu?? Tetangga saya bilang, nanti saja, saya sudah lapor ke guru nya.
Tapi saya tidak bisa menunggu sampai besok, saya langsung sms ke orang tua anak laki-laki yang sudah mencubit tetek nya Nasta.
Astaghfirullah ...
Hal yang saya khawatirkan telah terjadi, hiks.. sedih sekali rasanya. Berat memang punya anak perempuan ...
Sepertinya saya harus mengajarkan Nasta dan Nara teknik Tae Kwon Do yang sederhana. Untuk menendang dan memukul teman-teman yang nakal itu.....
Sepanjang film itu, tak henti-hentinya saya istighfar dan memohon kepada Allah SWT, sang pemilik kehidupan, untuk menjaga dan melindungi anak-anak perempuan saya dari orang-orang yang berniat jahat. (Bagus juga nih film, bikin saya istighfar terus :D)
Tadi malam, tetangga saya yang anaknya sekolah bareng Nasta kirim pesan. Anaknya bercerita bahwa tadi payudara nya di pegang oleh teman-teman lelaki nya. Dan Nasta juga. Hah?????? Pelan-pelan saya dan suami bertanya kepada Nasta, apa yang terjadi. Nasta awalnya "hanya" bercerita, "tas ku di rebut A, sepatu ku dimasukkin ke dalam tas, liat deh Bu, kaki ku sampai sakit." Perlahan saya bertanya, apakah A benar pegang / nyubit tetek nya dia? Awalnya Nasta pun bercerita tanpa rasa sedih atau kesal, mungkin menurut dia hal seperti itu tidak terlalu bermasalah (tapi bermasalah sekali bagi saya!!!) "Iya, tetek ku di pegang, di cubit.. sakit Bu" "Di cubit bagaimana? Tetek nya atau perut nya?" "Tetek nya bu, begini nih .." (dia memperagakan sambil mencubit tetek saya)
"Tapi kan bukan salah ku Bu..." sudah mulai menangis ...
"Oh ga apa2 sayang, Ibu dan Ayah ga bilang kakak salah. Ibu mau kakak cerita ke Ibu. Ibu pernah bilang ke Nasta kan, tidak ada yang boleh pegang badan kakak apalagi tetek dan meki kakak, kecuali IBU!!!"
Nasta mulai terisak, mungkin dia jadi mengingat kejadian itu.
"Apa yang kakak rasakan? Kakak sedih ga? Kakak marah ga?," saya melanjutkan.
"Aku udah bilang berenti, tapi mereka terus-terusan ngeroyok aku dan N bu."
"Kakak bilang ga ke Oom Bagus (supir bisnya)?"
"Iya, aku bilang.. "
Astaghfirullah...
"Kak, ibu jadi sedih nih. Ibu mau kalo ada hal yang bikin kakak sedih, marah, sebel atau bahagia, kakak cerita ke Ibu ya."
Lalu saya menceritakan ke tetangga saya itu. Apa perlu saya adukan ke Ibu masing-masing anak itu?? Tetangga saya bilang, nanti saja, saya sudah lapor ke guru nya.
Tapi saya tidak bisa menunggu sampai besok, saya langsung sms ke orang tua anak laki-laki yang sudah mencubit tetek nya Nasta.
Astaghfirullah ...
Hal yang saya khawatirkan telah terjadi, hiks.. sedih sekali rasanya. Berat memang punya anak perempuan ...
Sepertinya saya harus mengajarkan Nasta dan Nara teknik Tae Kwon Do yang sederhana. Untuk menendang dan memukul teman-teman yang nakal itu.....
Tuesday, May 12, 2009
Kado dari Nasta & Nara
Kemaren sore, kebetulan saya tidak ke kantor karena sakit mata. Dan Nasta pun lagi sakit.
Lagi duduk menatapi hujan, agak-agak kedinginan karena angin dingin. Nasta memulai pembicaraan, "Ibu, ulang tahun ku ga jadi dirayain deh. Tapi aku minta dibeliin PS aja."
"Hah?? Sama aja kali Kak harganya. Game Boy aja yah," saya coba menawar.
"Kaya punya Kak Fika yah Bu? Boleh aja sih, tapi PS lebih keren bu"
"Eh, anggap aja komputer itu kado ulang tahun, malah Ibu udah kasih duluan kan."
"Komputer kan kado ulang tahun buat Ibu," sambung nya cepat.
"Hah? Kado? Itu mah bukan kado dong, Ibu beli sendiri komputer nya."
"Bukan dari ayah?" kata dia (setengah heran kali yah)
"Bukan, itu ibu yang beli." hihihihi... kok sewot ke anak sendiri yah?
"Blackberry yang dari ayah?" kata Nasta lagi
"Bukan juga! Ibu beli sendiri juga. Ibu ga dapat kado apa-apa waktu Ibu ulang tahun." (hiks.. sedih juga ternyata .. hehehe)
Lalu ....
"Ya udah, sini aku kasih kado," Nasta menghampiri saya dan... mencium tiga kali, Pipi kiri, pipi kanan dan jidat saya. Hiks... terharu ..
Lalu Nasta meminta adiknya melakukan hal yang sama, Nara pun menghampiri saya dan "Selamat Ulang Tahun Ibu" ... cium tiga kali juga ... pipi kiri, pipi kanan dan jidat.
Subhanallah, Alhamdulillah, Allah Akbar...
kalian lah kado terhebat yang Ibu punya .. Love you my lovely daughters.
Lagi duduk menatapi hujan, agak-agak kedinginan karena angin dingin. Nasta memulai pembicaraan, "Ibu, ulang tahun ku ga jadi dirayain deh. Tapi aku minta dibeliin PS aja."
"Hah?? Sama aja kali Kak harganya. Game Boy aja yah," saya coba menawar.
"Kaya punya Kak Fika yah Bu? Boleh aja sih, tapi PS lebih keren bu"
"Eh, anggap aja komputer itu kado ulang tahun, malah Ibu udah kasih duluan kan."
"Komputer kan kado ulang tahun buat Ibu," sambung nya cepat.
"Hah? Kado? Itu mah bukan kado dong, Ibu beli sendiri komputer nya."
"Bukan dari ayah?" kata dia (setengah heran kali yah)
"Bukan, itu ibu yang beli." hihihihi... kok sewot ke anak sendiri yah?
"Blackberry yang dari ayah?" kata Nasta lagi
"Bukan juga! Ibu beli sendiri juga. Ibu ga dapat kado apa-apa waktu Ibu ulang tahun." (hiks.. sedih juga ternyata .. hehehe)
Lalu ....
"Ya udah, sini aku kasih kado," Nasta menghampiri saya dan... mencium tiga kali, Pipi kiri, pipi kanan dan jidat saya. Hiks... terharu ..
Lalu Nasta meminta adiknya melakukan hal yang sama, Nara pun menghampiri saya dan "Selamat Ulang Tahun Ibu" ... cium tiga kali juga ... pipi kiri, pipi kanan dan jidat.
Subhanallah, Alhamdulillah, Allah Akbar...
kalian lah kado terhebat yang Ibu punya .. Love you my lovely daughters.
Thursday, April 23, 2009
Sekretaris itu .................
Sudah lama sekali saya bertanya-tanya dalam hati, apa ya keahlian saya selain bekerja kantoran ini? Apa yang akan saya lakukan jika saya tenaga saya sudah diperlukan di kantor? Ada keinginan untuk tinggal di rumah dan mengurus anak-anak saja, tapi sepertinya waktu satu bulan saja bisa membuat saya menjadi MONSTER untuk anak-anak saya :D
Jadi saya harus terus bekerja :D Biar ga jadi monster, maksudnya Ibu yang suka ngomel-ngomel terus ke anak-anak gitu.
Sumpah, kalo lagi kesel ma suami, atau uang belanja kurang, bohong besar kalo anak tidak terimbas.
Kembali ke topik di atas, keahlian apa yang bisa saya upayakan yah? Masak, ga bisa. Jahit? Apalagi! Itu kan dasar banget yah? Jualan?? Kayanya saya nih Padang kafir deh, hihi itu sebutan buat kami sekeluarga, karena ngaku Padang tapi kok ga bisa dagang :D
Jujur aja, saya lagi dan masih mencari, apa kesukaan saya yang bisa saya kembangkan untuk menjadi bekal "pensiun" saya kelak. Atau mungkin bisa jadi usaha sampingan saya. Keep thinking Mel!
Thanks to Ibu dan Bapak, yang tahu banget anak gadis nya kurang minat di urusan rumah tangga, untuk membiarkan saya aktif di sekolah, kuliah dan bekerja kantoran. Ntah lah apakah sekarang saya harus menyalahkan mereka, karena tidak pernah menyuruh saya memasak, mencuci dan meneriska baju. Sumpah, ga pernah!!
Dulu, kalo temen-temen pada cerita, aktifitas harian mereka, dan mereka semua iri dengan saya. Karena urusan membantu pekerjaan rumah, saya hanya berperan sedikiiitt sekali, kalo ga mau di bilang tidak ada peran sama sekali. Sapu dan ngepel rumah, itu pun tidak tiap hari.
Alhamdulillah juga, saya dapat mertua yang tidak menuntut mantu nya bisa masak (padahal orang Padang juga lho). Dulu saya sudah antisipasi, untuk tidak punya calon suami orang Minang. Karena dalam keluarga Ibu saya (Bapak wong Yojo - Jogjakarta), perempuan harus bisa masak, TITIK. Apalagi almarhum Oma saya, ratu dapur. Seingat saya, blio bisa tuh seharian di dapur. Saya suka bangun siang, alhamdulillah Bapak dan Ibu saya jarang protes :D, mertua saya, Alhamdulillah, ga pernah protes juga tuh. Mungkin karena anak-anak gadisnya juga pada bangun siang kali yah? hahahaha...
Well, terlepas dari cerita saya. Ada yang ingin saya ceritakan, dan mungkin bisa menjadi hikmah bagi siapapun yang baca (GR banget yah).
Minggu lalu, HRD saya minta tolong untuk melihat kapasitas seorang calon sekretaris. "Ga pernah kerja Mel, lulusan ASMI, suaminya baru meninggal, anak 4. Dari big boss." Itu kalimat yang diucapkan pertama kali oleh mba HRD ini. Blio menambahkan, "kalo buat memo lemburan ini berapa lama?" katanya sambil memperlihatkan memo lembur. "Itu sih udah ada template-an nya mba, tapi kalo pun harus mulai baru, paling lama 10 menit," kata saya. Berapa menit kemudian saya menambahkan, "mba, tanyain juga dia biasa berurusan ma' travel atau hotel ga?, trus mba, coba bikin chart aja di powerpoint, kan udah ada tuh, tinggal di ketik doang." HRD saya berkata dengan cepat, "Boro-boro Mel, test yang tadi aja juga belum tentu dia bisa??" HAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
Lalu ngapain di test? Ya udah ga usah aja. Itu pertanyaan saya, dan pastinya pikiran kalian semua.
Lalu HRD saya memberikan informasi tambahan. Dari boss besar, katanya. Ya tapi kan tetap aja liat kualitas juga. Dan wawancara dengan salah satu Account Director, dia sama sekali tidak lulus test. Ga bisa jawab pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris, tidak bisa (tepatnya tidak mau) mencoba test telpon (angkat dan terima telpon), dan tidak ada motivasi kerja. Jadi buat apa dong????????
Singkat cerita, kami diperintahkan untuk memberi kesempatan kepada perempuan "malang" ini. Boss besar secara langsung meminta saya untuk memberikan bantuan 30 menit - 1 jam tiap harinya. Saya tolak?? Ya ga bisa lah!! Dan demi mendengar cerita malang perempuan itu, sebagai perempuan tentunya saya pun ingin membantu.
Jadi mulai lah Senin kemaren perempuan ini mulai bekerja. Pertanyaan saya ke diri sendiri, "Harus mulai dari mana???"
Perempuan ini tidak pernah bekerja, tidak bisa komputer sama sekali, bahasa Inggris nya kurang (malah mungkin tidak bisa kali).
Gini.. gini ... jadi sekretaris direksi, mungkin lebih mudah. Karena hanya mengurus satu orang, mengatur jadwal meeting, travelling, filing, bikin surat?? Hari gini, jarang banget sekretaris yang bikin surat sendiri (eh, itu di perusahaan saya yah). Udah ada email kok, para boss itu langsung buat email sendiri dong. Eh, tapi sebelum ada yang protes, sekretaris direksi kantor saya sekarang ini juga di multi fungsi, malah jujur aja, kalo saya yang jadi sekretaris direksi jaman sekarang, mungkin belum tentu bisa. Karena SekDir di kantor saya, terlibat banyak urusan pitching, dari mulai ambil form tender sampai menyerahkan form tender. Di antara itu, pekerjaannya...... JUBLEK BLEK. (saking banyak nya).
Nah, sekretaris divisi client service ini, itu tugasnya lebih kompleks dari sekretaris direksi. Dia menangani lebih dari satu orang, saat ini ada 7 (tujuh) orang perempuan di bagian client service. Membantu 7 perempuan dengan banyak client, dibutuhkan keahlian, keluwesan, dan harus gesit. Berhubungan juga dengan bagian keuangan, karena sekretaris ini mengurus seluruh bon-bon (makan, lemburan, taxi) yang berhubungan dengan department ini.
Itu baru beberapa dari sekian banyak tugas sekretaris divisi Client Service lho. Belum lagi mengatur jadwal travelling, membantu mereka untuk meng- up date pekerjaan jika mereka semua berada di luar kantor, dan lain lain.
Seorang sekretaris tanpa pengalaman di bidang advertising aja, perlu waktu untuk beradaptasi dan mengejar ketinggalannya. Nah, kalo tanpa pengalaman APAPUN, kapan dia bisa mengejar ketinggalannya?? Sedangkan pekerjaan tidak bisa menunggu, dan tidak semua orang ada waktu untuk mengajarinya kan?
Jadi saya harus terus bekerja :D Biar ga jadi monster, maksudnya Ibu yang suka ngomel-ngomel terus ke anak-anak gitu.
Sumpah, kalo lagi kesel ma suami, atau uang belanja kurang, bohong besar kalo anak tidak terimbas.
Kembali ke topik di atas, keahlian apa yang bisa saya upayakan yah? Masak, ga bisa. Jahit? Apalagi! Itu kan dasar banget yah? Jualan?? Kayanya saya nih Padang kafir deh, hihi itu sebutan buat kami sekeluarga, karena ngaku Padang tapi kok ga bisa dagang :D
Jujur aja, saya lagi dan masih mencari, apa kesukaan saya yang bisa saya kembangkan untuk menjadi bekal "pensiun" saya kelak. Atau mungkin bisa jadi usaha sampingan saya. Keep thinking Mel!
Thanks to Ibu dan Bapak, yang tahu banget anak gadis nya kurang minat di urusan rumah tangga, untuk membiarkan saya aktif di sekolah, kuliah dan bekerja kantoran. Ntah lah apakah sekarang saya harus menyalahkan mereka, karena tidak pernah menyuruh saya memasak, mencuci dan meneriska baju. Sumpah, ga pernah!!
Dulu, kalo temen-temen pada cerita, aktifitas harian mereka, dan mereka semua iri dengan saya. Karena urusan membantu pekerjaan rumah, saya hanya berperan sedikiiitt sekali, kalo ga mau di bilang tidak ada peran sama sekali. Sapu dan ngepel rumah, itu pun tidak tiap hari.
Alhamdulillah juga, saya dapat mertua yang tidak menuntut mantu nya bisa masak (padahal orang Padang juga lho). Dulu saya sudah antisipasi, untuk tidak punya calon suami orang Minang. Karena dalam keluarga Ibu saya (Bapak wong Yojo - Jogjakarta), perempuan harus bisa masak, TITIK. Apalagi almarhum Oma saya, ratu dapur. Seingat saya, blio bisa tuh seharian di dapur. Saya suka bangun siang, alhamdulillah Bapak dan Ibu saya jarang protes :D, mertua saya, Alhamdulillah, ga pernah protes juga tuh. Mungkin karena anak-anak gadisnya juga pada bangun siang kali yah? hahahaha...
Well, terlepas dari cerita saya. Ada yang ingin saya ceritakan, dan mungkin bisa menjadi hikmah bagi siapapun yang baca (GR banget yah).
Minggu lalu, HRD saya minta tolong untuk melihat kapasitas seorang calon sekretaris. "Ga pernah kerja Mel, lulusan ASMI, suaminya baru meninggal, anak 4. Dari big boss." Itu kalimat yang diucapkan pertama kali oleh mba HRD ini. Blio menambahkan, "kalo buat memo lemburan ini berapa lama?" katanya sambil memperlihatkan memo lembur. "Itu sih udah ada template-an nya mba, tapi kalo pun harus mulai baru, paling lama 10 menit," kata saya. Berapa menit kemudian saya menambahkan, "mba, tanyain juga dia biasa berurusan ma' travel atau hotel ga?, trus mba, coba bikin chart aja di powerpoint, kan udah ada tuh, tinggal di ketik doang." HRD saya berkata dengan cepat, "Boro-boro Mel, test yang tadi aja juga belum tentu dia bisa??" HAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
Lalu ngapain di test? Ya udah ga usah aja. Itu pertanyaan saya, dan pastinya pikiran kalian semua.
Lalu HRD saya memberikan informasi tambahan. Dari boss besar, katanya. Ya tapi kan tetap aja liat kualitas juga. Dan wawancara dengan salah satu Account Director, dia sama sekali tidak lulus test. Ga bisa jawab pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris, tidak bisa (tepatnya tidak mau) mencoba test telpon (angkat dan terima telpon), dan tidak ada motivasi kerja. Jadi buat apa dong????????
Singkat cerita, kami diperintahkan untuk memberi kesempatan kepada perempuan "malang" ini. Boss besar secara langsung meminta saya untuk memberikan bantuan 30 menit - 1 jam tiap harinya. Saya tolak?? Ya ga bisa lah!! Dan demi mendengar cerita malang perempuan itu, sebagai perempuan tentunya saya pun ingin membantu.
Jadi mulai lah Senin kemaren perempuan ini mulai bekerja. Pertanyaan saya ke diri sendiri, "Harus mulai dari mana???"
Perempuan ini tidak pernah bekerja, tidak bisa komputer sama sekali, bahasa Inggris nya kurang (malah mungkin tidak bisa kali).
Gini.. gini ... jadi sekretaris direksi, mungkin lebih mudah. Karena hanya mengurus satu orang, mengatur jadwal meeting, travelling, filing, bikin surat?? Hari gini, jarang banget sekretaris yang bikin surat sendiri (eh, itu di perusahaan saya yah). Udah ada email kok, para boss itu langsung buat email sendiri dong. Eh, tapi sebelum ada yang protes, sekretaris direksi kantor saya sekarang ini juga di multi fungsi, malah jujur aja, kalo saya yang jadi sekretaris direksi jaman sekarang, mungkin belum tentu bisa. Karena SekDir di kantor saya, terlibat banyak urusan pitching, dari mulai ambil form tender sampai menyerahkan form tender. Di antara itu, pekerjaannya...... JUBLEK BLEK. (saking banyak nya).
Nah, sekretaris divisi client service ini, itu tugasnya lebih kompleks dari sekretaris direksi. Dia menangani lebih dari satu orang, saat ini ada 7 (tujuh) orang perempuan di bagian client service. Membantu 7 perempuan dengan banyak client, dibutuhkan keahlian, keluwesan, dan harus gesit. Berhubungan juga dengan bagian keuangan, karena sekretaris ini mengurus seluruh bon-bon (makan, lemburan, taxi) yang berhubungan dengan department ini.
Itu baru beberapa dari sekian banyak tugas sekretaris divisi Client Service lho. Belum lagi mengatur jadwal travelling, membantu mereka untuk meng- up date pekerjaan jika mereka semua berada di luar kantor, dan lain lain.
Seorang sekretaris tanpa pengalaman di bidang advertising aja, perlu waktu untuk beradaptasi dan mengejar ketinggalannya. Nah, kalo tanpa pengalaman APAPUN, kapan dia bisa mengejar ketinggalannya?? Sedangkan pekerjaan tidak bisa menunggu, dan tidak semua orang ada waktu untuk mengajarinya kan?
Monday, April 13, 2009
Happy Birthday Dear
Hari ini ulang tahun abang
Apa yang ada dalam pikiran abang, menginjak usia 42 tahun
Apakah sudah merasa bahagia?
Apakah sudah merasa cukup?
Maafkan aku, jika belum bisa menjadi istri yang baik hati, sabar dan ikhlas dalam melaksanakan tugas kerumahtanggaan.
Kadang ego masih terlalu tinggi, walaupun ntah apa yang aku ingin buktikan.
Susah sekali untuk tidak membalas "kekecewaan" ku dengan memperlakukan hal yang sama.
Rasanya masih ingin mengatakan, "aku pun bisa!!"
Masih banyak kekurangan ku sebagai istri
Maafkan aku
Smoga di usia 42 tahun ini, Abang senantiasa diberkahi Allah SWT, sehat wal'afiat, diberi sisa umur yang bermanfaat, dilembutkan hati dan perkataannya, rejeki yang barokah untuk menafkahi keluarga. Diberi kekuatan untuk menjaga kami para perempuan dalam kehidupan mu, diberi kesabaran mendidik anak-anak perempuan kita, semoga abang berhasil membawa kita semua lebih dekat dengan Allah SWT. Aamiin.
Apa yang ada dalam pikiran abang, menginjak usia 42 tahun
Apakah sudah merasa bahagia?
Apakah sudah merasa cukup?
Maafkan aku, jika belum bisa menjadi istri yang baik hati, sabar dan ikhlas dalam melaksanakan tugas kerumahtanggaan.
Kadang ego masih terlalu tinggi, walaupun ntah apa yang aku ingin buktikan.
Susah sekali untuk tidak membalas "kekecewaan" ku dengan memperlakukan hal yang sama.
Rasanya masih ingin mengatakan, "aku pun bisa!!"
Masih banyak kekurangan ku sebagai istri
Maafkan aku
Smoga di usia 42 tahun ini, Abang senantiasa diberkahi Allah SWT, sehat wal'afiat, diberi sisa umur yang bermanfaat, dilembutkan hati dan perkataannya, rejeki yang barokah untuk menafkahi keluarga. Diberi kekuatan untuk menjaga kami para perempuan dalam kehidupan mu, diberi kesabaran mendidik anak-anak perempuan kita, semoga abang berhasil membawa kita semua lebih dekat dengan Allah SWT. Aamiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)