photo dirumah-nurina-merah-468.gif

Tuesday, March 31, 2015

Cinderella Eh.. Pangeran Kit

Hampir semua anak perempuan di dunia ini  tahu kisah Cinderella. Seorang anak yatim piatu yang hidup dengan ibu tiri dan kedua kakak tiri. Dengan akhir cerita yang membahagiakan, Cinderella menikah dengan sang Pangeran tampan. 

Duluuu... waktu saya kecil, pernah juga kok punya impian bertemu pangeran tampan dan diajak tinggal di istana. Hehehe... tapi ga mau punya ibu tiri dan kakak tiri yang jahat. Tahun 2015 ini Disney membuat film Cinderella, tapi bukan animasi. Versi orang alias manusia! Wow... 
Alhamdulillah saya punya anak-anak perempuan, jadi ada alasan untuk nonton hehehe... 

Kali pertama nonton, nemenin Nara yang sudah janjian dengan teman sekelasnya Karine. Awalnya saya hanya akan nitip Nara ke mama nya Karine. Mengingat masih ada tugas menjemput Nasta dari sekolah dan antar les. Tapi suami memutuskan untuk berangkat kerja setelah Nasta pulang les, maka saya pun akhirnya nemenin Nara nonton. Dan saya menikmatinya :D 

Karena sudah tahu jalan cerita, saya sangat menikmati artistik, wardrobe, dan hal lain yang tidak berhubungan dengan jalan cerita. Kasarnya, ga pake mikir deh. Termasuk saat .... Pangeran Kit muncul dan bikin saya melotot.... kagum. Masyaa Allah... ada ya mahluk Allah ganteng begini... wkwkwkwkw.... 

Kali kedua hari ini, nemenin Nasta yang waktu itu belum  nonton. Alhamdulillah ada rejeki. Dan saya pun tidak menolak hehehe... Kali ini.. saya lebih fokus dengan ... Pangeran Kit atau nama aslinya Richard Madden. Pfewww... maafkan saya suami ku... hihihihi.... 

Bisa ga ya dia diairkerasin lalu kirim ke rumah saya? Wkwkwkwkw....

#postinganiseng 



Sunday, March 29, 2015

Harapan Atau Tuntutan?

Menjadi seorang Ibu dan mengharapkan anak-anak nya menjadi anak yang sholeha, santun, mandiri dan bertanggung jawab dengan diri sendiri tentulah sangat wajar. Baik pula akhlak dan akidah nya. Ahh.. nikmat sekali rasanya. Dan siapa yang dapat nama? Orang tua tentu ;) 

Tapi sudahkah saya sebagai Ibu, dan suami sebagai Ayah memberikan contoh seperti yang diharapkan diatas? Anak-anak mencontoh perilaku orang tua, bukan mendengarkan apa yang seharusnya menjadi harapan orang tua. 

Don't get me wrong, maksudnya gini. Berharap, berdoa, tentu boleh dan bahkan sangat diwajibkan. Hubungan orang tua dengan anak itu mutual simbiolisme dalam hal doa mendoakan kok. Anak mendoakan orang tua, orang tua mendoakan anak. Bahkan doa anak yang sholeh / sholeha menjadi penolong kita sebagai orang tua di akhirat kelak. 

Tetapi terkadang saya sebagai Ibu suka lupa, besar kemungkinan karena telat belajar bahwa anak-anak punya jiwa sendiri. Mereka ingin diakui keberadaannya, tanpa dibanding-bandingkan. Saya suka khilaf. Kalau lagi sadar, ya sadar untuk tidak membebani anak-anak. Tapi... itulah.. perlu banyak berlatih untuk selalu sadar. 

Harapan atau tuntutan? Tipis sekali perbedaannya. Yang membedakan adalah ego. Mengharapkan anak-anak mendapatkan nilai terbaik, tapi saat mereka tidak mendapatkan nilai terbaik (menurut saya), disitulah ego saya berbicara. Padahal mereka sudah berusaha keras. Berusaha keras menurut mereka. Nah tuh kaaaan... ego saya lagi yang bicara. Apakah standard saya yang terlalu tinggi? Apakah saya menuntut lebih? 

Baiklah, saya tuturkan dulu "pembelaan diri" saya ini. 
Saya tahu anak-anak saya anak cerdas. Mereka bisa. Hanya saja mereka terlalu cepat puas dengan apa yang mereka sudah dapatkan. Dan yang saya harapkan adalah, mereka mampu mendapatkan apa yang mereka impikan. Tidak cepat puas. Menjadi yang terbaik dari yang terbaik. 

 
 

Friday, March 27, 2015

Laporan Pajak 2015



Selesai tugas tahunan, laporan pajak.

Kemaren ke KPP Depok, karena saya dan suami masih juga belum lulus untuk ngisi form pajak nya hehehe... Mengisi berlembar-lembar form, menulis aset dan hutang... Alhamdulillah masih punya aset rumah.. hehehe dan berharap akhir tahun, hutang kartu akan berkurang minimal 60% dari sekarang. Aamiin. Untuk hidup lebih baik, in syaa Allah.

Karena pekerjaan saya sebagai konsultan MLM Oriflame, dikenakan norma khusus MLM. Jadi dari total penghasilan saya pertahun, dikenakan 35% saja untuk setoran pajak. Suasana ruang konsultan KPP Depok di Jalan Pemuda tersebut cukup penuh, tapi teratur. Paling tidak, kami tidak antri lama. Dan pelayanannya sangat memuaskan. Ramah banget.

Tidak bisa langsung diserahkan, karena belum tulis NIK anak-anak yang ada di kartu keluarga.
Jadilah tugas saya lagi untuk cari booth pajak terdekat, Alhamdulillah sudah baca sebelumnya ada di Giant Metland Transyogi. 

Setelah antar anak-anak sekolah, saya mampir ke Fresh Market untuk sarapan dengan beberapa teman. Untungnya nanya lagi arah posisi Metland. Hehehe.. rasanya saya emang pernah lewatin, bertahun-tahun lalu saat ke Mekarsari. Tapi ga inget lagi. Desi, teman saya bilang, lewat pintu Montreal aja nanti ketemu jalan yang ke Bekasi, ambil kanan, lalu ambil kiri arah Metland. Ga sampe Cileungsi. Karena menjelang jembatan Cileungsi macet.
Agak-agak ga kebayang sebenernya, tapi tidak ada salahnya mencoba. Karena saya sudah ngebayangin macetnya jembatan Cileungsi itu duluan :D 

Dan ternyata emang jauuuh lebih enak, dan lebih dekat. Alhasil jam 9 kurang sudah sampai depan Giant, bahkan parkiran Giant pun belum dibuka wkwkwk..
Setelah pintu parkir dibuka, dapat pula parkir VIP persis di depan pintu masuk Giant. Belum terlihat petugas pajak, jadi saya melipir ke toilet dulu. Alhamdulillah... pihak Giant mempersiapkan tempat untuk urusan pajak ini di dalam. Jadi adem deh. Sempet tergoda untuk jalan-jalan ke dalam, tapi mau cari apa? Lagipula, saya harus segera balik ke sekolah, karena dapat SMS dari guru nya Nara, masih belum sehat dia. 

Urusan pajak beres, saya langsung balik ke sekolah. Oh my.... macet menjelang terminal Cileungsi. Jarak 700 meter memakan waktu 30 menit.
Alhamdulillah, sudah selesai sebelum akhir bulan hehehe... (biasanya mepet banget)

Thursday, March 26, 2015

Peranan Suami Istri Dalam Rumah Tangga

Tuhan menciptakan setiap mahlukNya untuk berpasang-pasangan, saling melengkapi. Bukan untuk saling menandingi. 

Dalam sudut pandang ke-ideal-an, tugas seorang suami adalah menafkahi istri dan anak-anaknya. Dan memang sudah menjadi kewajiban. Tapi apa yang terjadi jika posisi suami sebagai pencari nafkah utama tidak maksimal? Dalam arti tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan untuk hal yang mendasar sekalipun? 

Jaman sekarang sudah banyak istri yang ikutan mencari nafkah, suka tidak suka, mau tidak mau. Ya harus kerja, supaya mencukupi kehidupan rumah tangga. Demikian alasannya. 

Contoh soal: suami seorang pegawai negeri misalkan, sedangkan anak-anak memerlukan biaya sekolah yang tidak sedikit, jadi lah istrinya sibuk mencari cara lain mendapatkan penghasilan tambahan. Daripada suami korupsi? :D 

Naudzubillah min dzalik.

Yang sering terjadi adalah, istri berpenghasilan lebih tinggi dari suami. Istri, merasa sudah ikutan cari duit, bahkan penghasilannya lebih banyak dari suami. Tapi sampai di rumah, suami tetap menyerahkan urusan rumah tangga seperti memasak, membereskan rumah, bahkan menemani anak-anak belajar, tetap istri yang kerjain. Suami? Nonton TV. 

Kebayang dong, sama-sama pergi dari rumah pagi hari. Seharian di kantor sibuk ngurusin pekerjaan, sampe rumah, ngurusin rumah tangga juga. Walaupun tau banget, bahwa memang itu adalah tugas utama sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Tapi mana bantuan suami? Begitu mungkin yang ada dipikiran para istri. 

Belum lagi kalau ada keperluan biaya di luar biasanya, suami menyerahkan ke istri. Ya karena suami emang ga punya duit. Tapi, istrinya yang di suruh mikirin. Lah kok ya istri nya mau aja pusing mikirin sendirian. :p 

Sebelum saling menyalahkan niiih... yukk.. mundur dulu ke tahun-tahun masa pacaran. Hehehe....
Apakah suami sekarang pilihan sendiri, atau pilihan orang tua? 
Kalau jawabannya pilih sendiri, sudah tahu belum calon suami tipe giat pencari nafkah atau ................. seadanya? 
Kalau sudah tau bahwa calon suami pilihannya, bukan orang yang giat mencari nafkah, tapi masih mau menikah dengan dia, apa yang jadi kelebihannya? 
Pasti ada dong kelebihannya? 
Ooh.. ternyata calon suami itu rajin shalat, dan tidak pernah berkata kasar. OK. Nah, jadi ketauan kan, mau menikah dengan calon suami ini karena dia rajin shalat dan tidak pernah berkata kasar. 

Ada bagian lain yang harus "di isi" oleh istri, yakni giat cari duit tambahan. Kalau memang memiliki standard hidup yang berbeda dengan suami. 

Paham ya maksudnya? 

Kita nih, saat memilih pasangan hidup... pasti cek dulu dong plus minus calon pasangan kita? Bukan turun dari langit atau seperti membeli kucing dalam karung. Boooo... hari giniiiiiiiii! 

Satu hal yang pasti, kita tidak bisa mengharap : "dia akan berubah seperti yang saya mau" JANGAN! Akan sakit jiwa kalau harapan itu tidak terwujud :) 

Contoh nih, Anda sudah tau bahwa calon suami suka mukul. Hellooo... baru jadi pacar aja sudah suka mukul, apalagi setelah resmi dinikahin??? Berharap dia akan berubah setelah menikah? Ck ck ck .... 

Atau, anda sudah tau calon suami genit, pernah ketauan selingkuh. Jangan bangga kalau Anda dipilih jadi istri. Bukan berarti dia akan berhenti selingkuh. 

Jadi harus gimana dong? 

Pastikan mencari calon suami yang seiman dan beriman. :) 
Yang rajin shalat aja belum tentu paham agama, bagaimana dengan yang tidak rajin shalat? Terus, anak-anak mau diajari apa? 

Sudah terlanjur menikah dengan orang yang salah? 
Tanyakan ke diri sendiri, apakah Anda merasa nyaman dan tentram dengan kondisi rumah tangga Anda? Bukan di-nyaman-nyaman-in yah. Karena kalau di-nyaman-nyaman-in, seperti makan bola api. Suatu waktu akan meledak dan membakar Anda. 

Merasa agak kurang nyaman, tapi tidak ada niat untuk berpisah? Butuh keikhlasan yang luar biasa, butuh pembelajaran juga buat para istri yang memutuskan menjalani hidup seperti ini. Melengkapi kekurangan pasangan dengan ikhlas. Suami kurang taat beribadah, istri wajib belajar agama dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Suami kurang giat mencari nafkah, istri turun tangan membantu perekonomian keluarga. 

Lah enak dong jadi suami nya? 
Gak ada yang enak atau tidak enak... masing-masing peran akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Jadi, kenapa kita tidak memainkan peranan kita menjadi apa yang sudah ditakdirkan Allah dengan baik. Sesuai arahan Allah? 

Dengan begitu, hidup akan menjadi lebih ringan. Karena semua yang dilakukan ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT. 




Sunday, January 18, 2015

Haid Pertama

Alhamdulillah, memasuki tahun 2015 saya masih di percaya Allah SWT untuk memberi pengetahuan tentang haid, kepada putri pertama saya Nasta. Alhamdulillah banget ya Allah, Nasta haid di rumah, dan langsung panggil saya. 

Sependek ingatan saya, Ibu tercinta tidak menjelaskan tentang haid ke saya. Tapi mungkin saya benar-benar lupa. Tapi saya memutuskan untuk memberitahu Nasta, hal-hal yang perlu dia ketahui. 

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencium kepala Nasta. Dan memberitahu hal dasar cara menggunakan pembalut. Wajib mencuci celana yang terkena noda, juga membersihkan pembalut terlebih dulu sebelum membungkus rapi dengan koran bekas untuk dibuang ke tempat sampah. 

Tidak ada keluhan sakit perut, atau badan pegel dari Nasta. Tidak juga menangis. Saat menjelang tidur, kata-kata bijak memberikan pengertian ke Nasta pun terucap. 

Nak, kamu sudah besar sekarang. Shalat 5 waktu jangan di tinggal, karena saat ini dosa-dosa sudah kakak tanggung sendiri. Belajar menutup aurat jika keluar rumah. Jangan malas mandi, karena remaja yang sudah baliq mudah terkena bau badan. Pintar-pintar jaga diri, jaga sikap ya nak. 

Anak bayi Ibu sudah remaja. Menangis haru dan terselip kekhawatiran. 

Ya Allah, lindungi dan jaga anak-anak perempuanku. Mampukan saya dan suami membimbing mereka jadi wanita sholeha, tangguh, mandiri, penyayang. Dan kelak mendapatkan suami sholeh. Mampukan saya dan suami memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka, limpahkan rejeki yang barokah kepada suami, saya, nasta dan nara. 

Satukan kami kembali dalam surga Mu ya Allah. Aamiin allahuma aamiin 

 

Monday, December 15, 2014

Keajaiban Waktu

Training hari pertama tanggal 19 November, akan dimulai jam 08.00 saya ga mau telat. Suami menyarankan untuk ikut tetangga sebelah sampai Sudirman. Tapi lewat dari jam 5.30 belum ada tanda-tanda mereka akan berangkat. Saya memutuskan panggil ojeg dan naik bus. Nanti bus pertama yang ada di depan itu yang saya naiki. Begitu pikiran saya. 

Karena saya mau sampai di AMN Home jam 7.30 
Ga mungkin karena jalanan di Jakarta susah diperkirakan. Saya memilih minta pertolongan Allah, Maha Pemilik Waktu. Ya Allah, saya perlu sampai di AMN Home sebelum jam 8 yah, saya mau sekitar jam 7.30 sudah sampai. Jadi saya punya waktu untuk sarapan. 

Saya meminta, saya percaya dan saya menerima dan merasa bahwa saya sudah sampai disana jam 7.30 seperti yang saya minta.
Saya bayangkan sampai di depan Legenda Wisata akan ada APTB 10. Dan Alhamdulillah, apa yang saya bayangkan, terjadi! 

Tepat saya turun ojeg, bus APTB berhenti. Dengan penuh keyakinan saya naik. Bismillah, saya bisa sampai di Buncit jam 7.30 :) 
Jalanan padat itu biasa, tetap Allah deh yang mengatur waktu. Turun di halte Tegal Parang. Masih ada waktu untuk nunggu metro mini 75, tapi saya memilih naik ojeg. Alhamdulillah, lancaaar dan saya bisa sampe di AMN Home lewat sedikit dari jam 7.30 
Allah memang baik bangeet. Terima kasih 

Dan ternyata, ada teman saya Nurina yang tinggal di Cibubur Country ikutan kelas MBP. Duuh.. kalau tau begitu janjian tadi ya :) Hehehe... 
Ya memang jalan nya saya harus naik kendaraan umum. 

Keajaiban lagi, salah satu teman di MBP ini ada yang tinggal di Picasso. Horee.. saya pulang bareng mba Arni :) 

Hari kedua, suami berangkat lebih dulu. Dan mau tak mau saya kebagian anter anak sekolah. Beruntung mereka mau berangkat lebih pagi. Ga keburu janjian sama Nurina, karena dia berangkat jam 6 kurang. Sedangkan mba Arni belum tau berangkat jam berapa. Awalnya saya kira Uni Anis hanya akan nemenin antar ke sekolah anak-anak, ternyata uni Anis mau bawa mobil ke kantor. Waah.. ya sekalian aja saya minta dianterin dulu ke Buncit. Ga apa-apa deh saya yang nyetir. Membayangkan perjalanan lancar, dan lagi-lagi meminta sebelum jam 8 sudah sampai. 

Alhamdulillah, perjalanan lancar (menurut saya) dan bisa sampai di AMN Home sebelum jam 8. Terima kasih ya Allah 

Cerita diatas tentang perjalanan menuju MBP training yang penuh keajaiban. Tidak perlu dipertanyakan. Karena Allah memberi sesuai permintaan hambaNya. 

Allah Akbar :) I love you 

 

Become a Better Me

Mengenal AMN Home dari sahabat² Oriflame saya. Tidak ingat bagaimana persisnya mereka menceritakan tentang keindahan hidup yang mereka jalani setelah mengikuti 5 tools MBP. Saya pernah ikutan kelas Hypnotherapy. Dan kalau diingat², apa ya tujuan saya pada waktu itu? Selain untuk menghilangkan sifat jutek yang sepertinya sudah mendarah daging, pada saat itu. 

Lebih dari 9 tahun yang lalu, dengan tujuan seperti yang saya ungkapkan diatas. Saat itu saya belum paham tentang Law of Attraction, saya tidak tahu bagaimana cara membayangkan impian, tujuan saya ya hanya menghilangkan kejutekan saya itu. Tapi maaf, mengikuti sesi beberapa kali, saya tidak ingat dan tidak tahu apa yang saya rasakan. Ntah lah, bisa jadi karena selama session saya terlalu banyak berpikir, dan tidak percaya. Bisa jadi karena saya merasa sulit berubah, atau takut berubah? Ntah lah. 
Saat itu saya merasa, meditasi bukan gaya saya. Walaupun ternyata saya menyukainya, hanya saja belum mahir. Saya dulu khawatir, jika saya rajin bermeditasi, indra keenam akan muncul. :) Pikiran yang konyol. 
Padahal dengan rajin bermeditasi, atau dalam Islam ber tafakur, kita akan mudah mendengar kata hati. Mengasah intuisi. 

Kembali ke cerita AMN Home. Akhirnya saya mencoba mengikuti kelas gratis terlebih dulu, yakni LSC. Dan selanjutnya dijelaskan tentang manfaat MBP. Tertarik? Pastinya. Tapi pada saat itu (bulan Oktober) dengan biaya 1.8 juta, saya merasa berat. Saya bilang ke mba Indah dari AMN Home, bahwa saya sangat tertarik. Tapi belum bisa ikutan karena belum ada dana sebesar itu. Menjelang akhir Oktober, ditawari lagi. Tetap dengan jawaban yang sama, saya akan ikut kalau ada uang. 

Mba Indah dan sahabat² alumni mengingatkan saya untuk terus mengawal niat saya. Menepiskan keraguan dalam hati, positive thinking. Karena Allah akan memberikan yang hamba minta, dengan penuh keyakinan. Tidak boleh meragukan atau meng-cancell permintaan. Misalnya gini, "Saya akan ikut, kalau saya ...." 
Dengan memakai tambahan "kalau saya" itu yang biasa disebut meng-cancell. Tugas kita hanya meminta ke Allah, percaya, dan Allah yang akan memberikan jalan keluar. 

Tapi memang kenyataannya, saya akan ikut KALAU SAYA dapat arisan. Tapi baiklah.. saya tidak akan membicarakannya. Apalagi saya juga jadi belajar, terlalu berharap malah menjauhkan dari apa yang kita harapkan. Baca disini deh tulisan saya. 

Masalah saya sebenarnya bukan hanya urusan duit, tapi juga belum ngobrol dengan suami. Biasanya memang kalau ikutan training, saya tidak menjelaskan secara detail. Karena suami saya tau saya sering ikutan training. Tapi kalau training berbayar hingga jutaan begini, masa saya ga ngomong? Kalau kata mba Indah, "Meli harus tenang dulu, dan ceritakan manfaat MBP seperti yang sudah Meli ketahui. Untuk menjadi manusia yang lebih baik."

Keajaiban-keajaiban muncul seiring dengan semakin kuatnya saya mengawal perasaan untuk bisa mengikuti MBP ini. Keajaiban pertama tentu ijin dari suami. Lalu bbm mba Indah yang bilang, ada sponsor yang akan membiayai 50% dari biaya training, jadi saya hanya membayar 900ribu. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah Akbar. Luar biasa sekali. Dan spontan saya meniatkan diri, untuk menjadi sponsor di AMN home kelak. Niat baik akan dikabulkan Allah, Aaamiin :) 

Sebenarnya saat itu saya punya uang 1 juta di rekening, tapi itu untuk keperluan lain yang sudah dialokasikan. Dan saya belum bisa transfer 900ribu di hari itu. Saya menjanjikan 2 hari lagi baru transfer ke mba Indah. Keajaiban berikutnya, saya dapat arisan sebesar 3 juta! Alhamdulillah..... Ah.. emang indah hidup saya. Terima kasih ya Allah. 
Ga perlu dua hari saya transfer terlebih dulu 900ribu ke rekening mba Auk Murat. 

Tenang urusan biaya, tenang urusan ijin suami.. masih ada hal yang belum bisa tenang. Siapa yang jaga anak-anak selama saya training? Sebelumnya sempat minta tolong Ibu tercinta, tapi pada saat itu Ibu lagi sakit. Dan saya ga tega minta Ibu nginep dan nemenin cucu-cucu di rumah. Lupakan minta tolong ibu deh, itu pikiran saya. Saya minta tolong ipar supaya mau menampung anak-anak selama saya training. Tapi beberapa hari kemudian, ipar saya bilang "ga bisa". Baiklah. Pilihan terakhir saya minta tolong Bibik. Beliau menyanggupi untuk "menemani" Nasta Nara dirumah sampai saya atau ayah nya pulang. Segala rencana sudah saya siapkan termasuk mengatur bis jemputan. 

Dan Alhamdulillah, keajaiban kembali datang 2 hari sebelum saya training. Ibu tercinta menelpon dan bertanya, "Kamu jadi training mba? ibu kesana besok yah." 
Ya Allah.................. saat itu saya lagi agak kurang sehat.. perut lagi agak kenceng gitu deh. Dan langsung hilang sakit nya :) 

Saya bilang ke Ibu, nanti saya jemput abis anter anak² sekolah. Dan ternyata Ibu malah di antar Bapak. Allah Akbar. Terima kasih ya Allah :) 

Dan dengan ada Ibu di rumah, saya berangkat pagi pulang malam tidak terlalu khawatir. Terimakasih Ibu. Terima kasih abang. Terima kasih Nasta Nara. 

Banyak keajaiban dalam proses become a better me 


 

Tuesday, December 02, 2014

Tujuh Orang Dua Handuk

Mau cerita pengalaman masa kecil saya, tentang handuk.
Bapak saya seorang pegawai negeri, ntah golongan berapa. Yang saya tahu, Bapak saya seorang pegawai yang rajin dan sederhana. Tidak punya uang berlebih. Oleh karena itu Ibu selalu berusaha mencari uang tambahan.

Saya anak keempat dari 5 bersaudara. Dan dulu, kami bertujuh hanya punya 2 handuk. Iyaaa... serius. Jadi kalau mandi, siapa yang paling pagi mandi, yang beruntung dapat handuk kering. Kalau mandi terakhir? Ya resiko ditanggung sendiri deh. Handuk sudah berubah warna dan menipis, baru ganti yang baru. Bahkan harus nunggu robek sana sini dulu. Seiring jalannya waktu, punya handuk sendiri itu suatu kemewahan. Alhamdulillah

Jadi ga pake handuk yang sudah basah, sampe bingung gimana mau ngeringin badan? :(
Masa kecil, masa hidup prihatin.

Mungkin karena pengalaman masa kecil itulah, sejak punya duit sendiri, saya jadi suka beli handuk :) Biar bisa ganti-ganti setiap saat saya mau ganti.

Dan Alhamdulillah sekarang ini memiliki anak dua, kedua anak saya tidak mengalami masa kecil seperti saya... bergantian pake handuk.


Friday, November 14, 2014

Saya Meminta, Saya Percaya, Saya Menerima

Bismillah

Pernah ga berdoa, berharap dapat arisan... ngerasa butuh banget.. doa siang malam, ngarep. Tapi hasilnya, tidak dapat arisan?

Tau dong arisan ya.. kumpulan nama ditempatkan dalam satu tempat, lalu di kocok, kertas yang berisikan nama siapa yang keluar, itu yang dapat arisan.

Semakin ngotot pengen dapat, malah ga dapat. :) Dan saya sering kejadian. Hehehe...
Sampe bilang dalam hati, "duh, kalau ga dapat arisan ini gw ga tau deh punya duit darimana lagi?"

Sekarang saya sadar, dan buru-buru Istighfar, ASTAGHFIRULLAH.

Tapi yang namanya berdoa, tujuannya pengen dikabulkan Allah SWT kan?
Nah ini dia... tidak selamanya apa yang kita inginkan akan dikabulkan Allah, semua orang pasti sudah tau itu.

Sama seperti permintaan anak kecil yang sedang batuk, dia minta permen dan es krim. Apakah di kasih walaupun anak tersebut nangis jejeritan? Orang tua tentu akan memikirkan, kalau anak ini dikasih permen dan es krim lagi, tentu batuk nya akan tambah parah. Kalau batuknya tambah parah, si anak akan sesak nafas, susah tidur, dll. Jadi orang tua memilih mendiamkan dan tidak membelikan apa yang diinginkan anak. Apakah orang tua tersebut jahat?

Allah pun demikian. Allah Maha mengetahui apa yang terbaik bagi ummatNya. Yang terbaik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah.


Jadi bagaimana sebaiknya?

Saat menginginkan atau mengharapkan sesuatU, MINTA
Lalu PERCAYA bahwa keinginan dan harapan akan dikabulkan Allah SWT
Selanjutnya TERIMA seolah-olah kita sudah mendapatkan apa yang diharapkan. Syukuri.

Dengan melakukan hal diatas, alam semesta akan mencatat bahwa memang kita layak mendapatkan apa yang kita inginkan.

Jangan menuntut Allah jika apa yang diharapkan tidak dikabulkan, bisa jadi Allah akan memberikan yang LEBIH BAIK dari yang kamu inginkan.

Wassalam

Thursday, November 13, 2014

Rasamu Adalah Doa mu

Selayaknya ummat Muslim, saya sering berdoa dengan menggunakan bahasa Arab. Karena doa memang tertulis dalam bahasa Arab. Ada yang tau artinya, dan memang sebaiknya begitu. Ada juga yang hanya sedikit tahu.

Diajarkan untuk berdoa setelah shalat, lebih afdol, katanya. Logika nya, karena shalat itu kan menenangkan hati, pikiran dan perasaan yah. Walaupun bacaan shalat itu pun sudah doa semua, namanya manusia, pasti mau tambahan doa. Karena ada tambahan kemauan. As simple as that.

Menangis saat berdoa, itu in syaa Allah bagus. Itu yang saya baca dan dengar. Tapi ntah kenapa, kalau berdoa setelah shalat itu .. saya jarang menangis. Kurang khusyu'? Mungkin

Tapi seringkali saya menangis saat saya berdoa dalam bahasa yang saya pahami, harapan dan keinginan yang saya harapkan dan inginkan, di tempat dan waktu yang bukan waktu shalat. Seperti misalkan saat lagi kerja di depan komputer, tengah malam, lihat anak-anak tidur....
Ucapan atau doa yang saya ucapkan dalam hati, begitu menyentuh.. sehingga bisa tuh nangis tersedu-sedu..  sendirian....

Rasamu adalah doa mu
Kalimat itu saya dapatkan seorang vibrator eh.. kok ga enak ya sebutannya.. :D atau motivator, maaf saya kurang paham beliau disebut apa. Kalau liat profil di web nya beliau adalah konsultan kebahagiaan hidup. Aih.. nikmat banget yah...

Siapa sih yang ga pengen bahagia dalam hidup yang hanya sekali ini? Bahagia dunia dan akhirat, itu harapan semua orang. Bahagia seperti apa? Dan harus bagaimana? Itu yang jadi pelajaran bagi semua orang. Bahagia nya ala saya, belum tentu bahagia ala Anda.

Kembali ke RASA.

Sadar atau tidak, perasaan silih berganti. Sudah waktunya kita mengatur perasaan. Bina hubungan antara otak dan hati hehehe... Jika dirasa baik, akan jadi baik. Jika dirasa buruk, itu lah doa mu.

Mau hidup selalu baik kan? Selalu positif, merasa yang positif, in syaa Allah hasilnya akan selalu positif dan baik.

Apa yang kamu rasakan.. itu lah doa mu ke Tuhan mu.



Saturday, October 04, 2014

Tangis Duka, Tangis Haru, Tangis Rindu

Hari ini saya menangis terus ......................

Tangisan pertama saat bezoek adik Ibu yang biasa saya panggil Mama di RSPP.  Mama sudah lama sakit, hampir 10 tahun terakhir. Kondisinya terus menurun. Mulai dari Parkinson yang semakin parah, Mama sering kehilangan keseimbangan. Sering jatuh jika tidak ditopang / dipegangin.

Awal minggu Ibu sudah memberitahu Mama sakit, dan memang saya niatkan untuk melihat Mama dirumahnya Minggu besok, setelah shalat Idul Adha. Tapi semalam saya dapat pesan di Blackberry dari adik Ibu yang ketiga, yang biasa saya panggil Te I. Isinya singkat, "Mama di opname"

Karena baca dalam kondisi setengah sadar, belum saya balas. Pagi dini hari baru saya balas, dan ternyata Mama sudah masuk RSPP sejak pukul 4 sore. "Kok tumben Ibu ga nelpon?" Dan ternyata te I pun belum kasih tau Ibu, dan baru mau dikasih tau pagi ini. Iya juga sih, kalau dikasih tau malam hari, kebayang deh... Ibu pasti ga akan bisa tidur. :(

Masuk ke kamar 760, dan melihat kondisi Mama yang sudah sangat kurus membuat saya tak sanggup menahan tangis. Tersengguk-sengguk saya memeluk Mama, tanpa bicara apapun. Terakhir saya ketemu Mama 1 atau 2 bulan lalu, pandangan Mama sudah lebih sering kosong. Sedih. Karena harapan saya ada yang selalu mendampingi Mama dan membacakan ayat-ayat suci. Tapi setahu saya, suster yang jaga Mama beda keyakinan. Jadi tentu tidak bisa membantu.

Sekitar 1 jam saya disana, saya bantu dengan membaca Al Faatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas berkali-kali. Juga mendengarkan surat Yaasin yang dikumandangkan dari Blackberry.

Ya Allah, ampuni dosa-dosa Mama - Bachrida binti Bachtaruddin. Angkat penyakit yang dideritanya, berikan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Berikan yang terbaik dari Mu. Hanya kepada Engkau saya memohon, maka kabulkanlah. Aamiin allahu aamiin.

Sore hari saya pun menangis..... lagi..............

Kali ini dikarenakan saya menghadiri konser musik yang diadakan oleh London School Center of Autism Awareness dengan tajuk "Music for Ervitha"

Ervitha adalah seorang anak berkebutuhan khusus berusia sekitar 20 tahun yang tahun 2013 kena kanker payudara. Dan beberapa bulan lalu terpaksa harus melakukan operasi pengangkatan payudara.

Tujuan konser musik ini adalh untuk menggalang dana, membantu pengobatan Ervitha. Yang bikin saya menangis, pengisi acara hampir semua anak-anak berkebutuhan khusus. Yang terlihat secara fisik maupun yang tidak.

Dan mereka membuat saya semakin kagum atas penciptaan Allah subhanahu wa ta'ala. Serta bersyukur diberi nikmat memiliki dua putri cantik, sehat dan cerdas. Alhamdulillah. Nah itu yang bikin saya jadi nangis, karena anak-anak saya begitu sempurna dibandingkan mereka yang tampil dipanggung. Sempurna dari segi fisik, perilaku (sesuai usia) dan mental. Tapi karena pendeknya sumbu emosi saya maupun ayahnya, seringkali perilaku mereka yang tidak sesuai dengan kehendak kami membuat kami mudah memarahi. Astaghfirullah.

Padahal kalau saya membayangkan para Ibu dan Ayah yang anak-anaknya memiliki kebutuhan khusus, Subhanallah.... Allah memang memberi masalah, rejeki, cobaan, nikmat kepada setiap orang sesuai kemampuannya. Smoga orang tua mereka diberi rejeki yang berlimpah, kesehatan, dan kesabaran dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus ini. Aamiin allahuma aamiin.

Tangisan terakhir dimalam hari....
Saat mendengar kumandang takbir dari YouTube.

Allah Akbar Allah Akbar Allah Akbar
La illaa ha illallah hu Allah Akbar

Selamat Idul Adha 1435H

Smoga 5 tahun dari sekarang, saya dan suami bisa merayakan Idul Adha di tanah suci. Aamiin allahuma aamiin



Sunday, August 10, 2014

Harapan Ibu

Dulu setiap melihat anak balita bahkan bayi menggunakan jilbab dalam hati saya berkomentar, "Kasihan banget sih anak sekecil itu sudah dipakein jilbab, kan kepanasan tuh." Bahkan waktu Nara berusia 4 tahun, lagi senang-senangnya pake baju gamis, kemana pun dia pergi dia minta pake baju panjang itu. Saya hanya bilang, "Dek pake baju lain yah, nanti ade kepanasan."

Dan jujur sekarang ini saya menyesal pernah berkata seperti itu.

Memperkenalkan jilbab seharusnya memang dari sedini mungkin. Menutup aurat harus mulai dari kecil. Dibiasakan.

Sebagai seorang perempuan yang baru menggunakan jilbab setelah berumur 34 tahun, pun masih belajar untuk lebih mengerti tentang Islam, saya menyesal telat untuk menutup aurat. Bahkan melewati masa-masa yang indah untuk dikenang, tapi kata istighfar selalu terucap. Astaghfirullah :(

Saya masih belajar. Pun baju yang saya kenakan masih jauh dari syar'i.

In syaa Allah Nasta sudah 11 tahun 1 bulan, belum haid. Ntah 1 bulan lagi, atau 1 tahun lagi waktu nya akan tiba. Harapan saya, kalaupun sekarang masih belum bisa berkerudung setiap pergi², setelah Nasta haid dia akan menutup aurat kemanapun dia pergi. Aaamiin YRA

Pengalaman ibu-ibu lain yang anaknya memutuskan berkerudung, itu karena kemauan mereka (anak-anak) sendiri. Iya, in syaa Allah saya dan suami tidak akan memaksa. Hanya mengarahkan. Karena kalaupun dalam hati mereka belum siap, lalu setelah dewasa malah copot jilbab, itu yang kami hindari.

Tugas Ibu mendidik mereka menjadi anak-anak yang sholeh / sholeha, santun, sopan dan hormat terhadap orang yang lebih tua, melindungi dan sayang terhadap yang lebih muda. Smoga saya, sebagai Ibu bisa menjadikan anak-anak saya berakhlak dan berakidah baik, sesuai rahmatan lillahi ta'ala. Aamiin YRA

Kelak, apapun pilihan karir mereka, Al Qur'an lah pegangan mereka. Dan selalu ingat Allah SWT sehingga perjalanan hidup mereka diridhoi Nya. Aaamiin YRA

Thursday, July 31, 2014

Kaya Itu Banyak Memberi

Kaya itu bukan berapa banyak uang yang kita miliki, melainkan berapa banyak yang kita berikan. 


Saya setuju banget dengan pernyataan diatas. Pengalaman pribadi, setiap saya infaq di kotak masjid, memberikan uang ke siapa saja (walaupun menurut saya jumlahnya masih sedikit).. tapi saya merasa KAYA. Dan harapan saya, bisa memberikan lebih dari yang saya berikan.

Tak salah jika saya selalu berdoa untuk diberikan keluasan rejeki, kepada Allah sang pemilik hidup yang Maha Kaya dan mengayakan ummat yang Dia kehendaki, supaya bisa lebih leluasa memberikan harta yang saya miliki.

Harapan dan doa saya selalu, supaya saya bisa memberikan nafkah yang sangat baik untuk orang tua, karena selama ini saya masih jauh dari banyak kalau tidak bisa dibilang sedikit :(

Harapan dan doa saya, supaya saya bisa membantu keluarga yang membutuhkan.

Harapan dan doa saya, supaya saya bisa membantu downline-downline saya untuk mencapai impian mereka, seperti impian yang saya yang dengan izin Allah SWT akan terkabul :)

Harapan dan doa saya, supaya bisa mewujudkan impian anak-anak saya. Membantu pendidikan hingga jenjang yang mereka inginkan.

Harapan dan doa saya, smoga saya dipantaskan menjadi kaya harta, kaya hati dan kaya jiwa.

Aamiin Allahuma Aamiin

Wednesday, July 30, 2014

Lebaran 1435H

Tidak ada sungkem dalam tradisi keluarga ku. Cukup salaman / salim dan cium pipi kiri dan kanan. Ntah lah.. dari aku kecil pun begitu. Berlanjut hingga sekarang.

Lebaran tahun ini sama seperti tahun lalu, memulai hari dengan shalat 'Id di masjid Al Ittihad Legenda Wisata.. ups.. tapi tahun ini lagi halangan, jadi ga ikutan shalat. Sejak menikah aku hanya merasakan dua kali shalat 'Id di Bekasi. Setelah suami jadi anak yatim piatu, aku mau lebaran pertama harus di rumah orang tua ku. Karena biasanya, selama masih ada mertua.. shalat 'Id di rumah mertua, setelah shalat baru ke Bekasi. Tapi sudah 2 tahun ini, tidak bisa shalat 'Id di Bekasi. Alasannya ... karena ga ada mobil. Hehehe... Sejak si putih di jual, kami jadi ngikutin jadwal Uni Anis terlebih dulu. Dan tidak banyak tempat, hanya satu.. ke Pamulang, rumah mba Prita Kemal Ghani. Setelah dari Pamulang, anter uni dan Ira balik ke Cibubur, dan kami pun lanjut ke Bekasi.

Hanya disayangkan, jalanan di hari pertama lebaran itu luar biasa macetnya.. sehingga kami tidak punya kesempatan untuk pergi ke pulo Gadung, tempat keluarga alm. Bude. Karena biasanya lebaran pertama itu keluarga Bapak ngumpul di sana.

Alhamdulillah nya lebaran tahun ini masih diberi nikmat berkumpul dengan keluarga. Alhamdulillah orang tua masih ada, berkumpul dengan kakak - adik, keponakan, sepupu ... bersyukur.

Alhamdulillah juga lebaran tahun ini aku kembali bisa kasih uang (salam tempel) untuk keponakan-keponakan ... dengan izin Allah, bisa merasakan Ramadhan dan Lebaran tahun depan dengan kondisi lebih baik dari tahun ini. Dan yang tidak kalah penting.. aku bisa berpuasa penuh. Hikss... puasa tahun ini banyak banget bolong nya.. yang berarti.. banyak hutang (puasa) :(

Alhamdulillah bisa kasih uang ke Bapak dan Ibu, walaupun jumlahnya tidak seberapa. Bismillah, smoga diberikan rejeki yang luas oleh Allah yang Maha Kaya.. lebaran tahun depan bisa kasih Ibu dan Bapak serta saudara / keponakan lebih banyak lagi. Aamiiin YRA

Terima kasih ya Allah atas hari ini, kemaren dan esok hari. Berkahilah kami semua, jadikanlah kami orang yang pandai bersyukur. Aamiin YRA

Selamat hari raya Idul Fithri 1435H
Taqaballahu minna wa minkum

Wassalam,
Meli

Monday, July 21, 2014

Kue Lebaran Buatan Nara

Sejak sebelum puasa, Nara sudah ribut minta mau bikin kue lebaran. Ayahnya bilang, "OK nanti bikin nastar sama tata Anis dan tata Ira ya" :D Hehehehe
Karena ayah tau, Ibu Meli ini kurang suka bikin kue.

Jadilah Nara menunggu dan terus menagih, "Kapan beli bahan kue nya? kapan bikin kue nya?" Akhirnya Rabu, 16 Juli kami ke toko bahan kue di Kota Wisata. Tujuan awal mau ke Cikini sambil ngabuburit. Tapi kok yaa... jauh dan mengingat perjalanan pulang akan kena macet, jadi males deh.

She's so exciting! Bantu ambilin terigu, mentega dan bahan-bahan lainnya. Dia merasa "project bikin kue gue nih." Bahkan dia ga sabar pengen nginep di Picasso, padahal rencana bikin kue adalah Minggu setelah sahur.

Hari yang dinantikan tiba, Sabtu memang ada acara buka puasa bareng sepupuan. Saya, suami dan Nasta tidak nginep tapi datang lagi saat sahur.

Baru mulai kerja setelah jam 8-an, Nara serius bantuin lho. Nasta? boro-boro deh :p

Berkali-kali dia mention akan sekolah memasak supaya bisa jadi chef kelak. In syaa Allah, ayah ibu ada rejeki banyak supaya bisa nyekolahin Nara sekolah culinery terbaik yah. Aamiin





Sunday, July 20, 2014

Menjaga Silaturahim

Bersyukurlah orang-orang yang masih bisa berkumpul, buka puasa dengan saudara-saudaranya. Baik saudara dekat maupun jauh. Menjaga tali silaturahim.
Alhamdulillah

Sejak kepergian mama mertua pada bulan Maret 2014, acara keluarga M. Natsir tidak pernah diadakan dirumah Picasso lagi. Alasan kami sebagai anak adalah, kan masih ada adik-adik mama yang lebih pantas kami datangi. Kalau dulu hari pertama lebaran, malam harinya, pasti diadakan dirumah mama (waktu masih di Depok). Pada dasarnya almarhumah senang menerima tamu. Senang banyak orang dirumah. Iyaa.. saya sebagai menantu lagi kangen mama mertua :)
Walaupun boleh dibilang, tidak terlalu akrab. Apalagi menjelang hari-hari terakhirnya... karena satu dan lain hal :(

Dan ini kali pertama sejak kepergian mama, rumah Picasso ramai lagi. Alhamdulillah. Bersyukur juga, uni Anis dan Ira mau menerima usul tek Abi, adik mama untuk mengadakan buka puasa. Sempat sih saya menawarkan rumah mungil kami, kalau Uni dan Ira ga mau repot. Tapi hehehe... mikir juga... mau taruh dimana semua tamu?

Pada dasarnya keluarga suami, sepupuan ini dekat satu sama lain. Sering ngadain acara. Bahkan dulu waktu saya belum menikah, mereka rutin mengadakan acara kumpul sepupu di awal tahun. Bukan tahun baruan lho. Melainkan tanggal 1 Januari nya.  Tapi kebiasaan seru itu menghilang.

Aahh... sudahlah, saya hanya ingin bilang, saya bersyukur karena rumah Picasso ramai lagi. Mungkin kalau mama bisa liat, mama pasti senang. :)


Friday, July 18, 2014

Menikmati Prosesnya

Sabtu, 12 Juli saya menghadiri acara pertemuan orang tua murid dengan guru dan pengurus sekolah. Sosialiasi, bahasa kerennya. Sebenarnya diutamakan untuk orang tua murid baru, bukan murid lama seperti anak-anak saya, Nasta kelas VI dan Nara kelas III.

Pihak sekolah menjelaskan tentang kurikulum 2013, dimana di SDIT Shafa Marwah baru akan diterapkan diajaran 2014 - 2015 ini. Hanya saja, belum semua kelas mendapatkan materi kurikulum 2013. Kelas III dan VI, masih menggunakan kurikulum 2006. Nah!!! Kelas nya Nasta Nara dong?

Sebelumnya saya pernah juga diundang oleh pihak sekolah, karena saya salah satu korlas (koordinator kelas). Secara garis besar saya paham. Tujuan kurikulum 2013 ini adalah untuk membentuk anak yang berbudi pekerti dan berkarakter. Karena tugas guru bukan hanya menilai dengan angka melainkan wajib memberikan penilaian berupa narasi. "Meringankan beban anak," begitu kata kepala sekolahnya.

Murid diharapkan memiliki pengetahuan faktual dan konseptual dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, humaniora, dengan wawasan kebangsaan. Lalu apa manfaatnya? Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, menggunakan kelompok kerja sama, kolaborasi, kelompok belajar dan strategi pemecahan konflik yang mendorong peserta didik untuk memecahkan masalah.

Disini guru dituntut untuk menguasai semua bidang studi. Karena tidak ada lagi guru mata pelajaran. Guru wali kelas adalah guru semua mata pelajaran, kecuali olahraga dan agama. Hhmm... ga jauh beda dengan jaman saya SD sebenarnya :)

Lalu bagaimana dengan murid kelas III dan VI, anak-anak saya?? Well, mereka tetap belajar seperti biasa hehehe... dengan materi buku yang berbeda. Bagaimana mereka akan menghadapi perbedaan kurikulum di kelas selanjutnya? Well, hal ini saya rasa tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Buat saya (dan suami) yang memang tidak mewajibkan anak-anak saya untuk HARUS ranking 1 dikelasnya, perbedaan kurikulum ini bukan hal besar. Menurut saya lho!!

Harapan saya, Nasta Nara tetap bisa belajar dengan senang. Menikmati proses belajar mereka, memahami apa yang mereka pelajari, in syaa Allah hasilnya akan baik.

Aamiin YRA


10 Tahun Usia Blog Ini

Pertama kali punya blog itu tahun 2004, ketika Nasta anak pertama saya berusia 1 tahun. Blog itu pun lebih banyak bercerita tentang Nasta, ya iya laaaah.. namanya juga blog anak :)

Selang beberapa bulan kemudian, saya pun bikin blog sendiri. Ya blog ini. Ya ampuuuun... blog ini sudah 10 tahun usianya... tapi kok... tapi kok... tulisannya masih sedikit yah? Hiks.. harap maklum ya, karena ada masa saya rajin banget nulis... tapi lebih banyak malas nya. Padahal yang saya tulis di blog ini pun, lebih banyak hal-hal atau pengalaman pribadi. Tulisan yang mungkin hanya saya yang menikmati. Tujuan awalnya benar-benar hanya untuk "diary online".

Jaman sekolah dulu punya diary, buku. Rajin nulis? Ya kalo lagi suka sama cowo atau lagi sebel sama seseorang aja. Kalau ga ada cerita menarik, ya ga cerita eh ga nulis.

Agak menyesal juga sebenarnya.. kenapa saya ga rajin nulis ya? Padahal minimal 2 x seminggu, pasti ada cerita dong. Ada kejadian dalam hidup saya, eh maksudnya bukan yang rutin gitu. Tapi kok.. tapi......... Ah sudahlah.

Padahal yah, 5 tahun saya menjalani bisnis MLM Oriflame, dan diwajibkan punya blog / web pribadi yang tujuannya akan menghasilkan prospek 5 - 10 tahun kedepan. Tapi teori dan praktek lebih sering tidak sejalan :(

Blog ini pun sempat terbengkalai, karena ceritanya saya punya web bisnis. Tujuan awalnya, ya saya akan sharing semua informasi yang berhubungan dengan kegiatan saya selaku pebisnis MLM Oriflame.

Ternyata saya suka kangen menulis. Menulis cerita tentang saya... hahaha.. harap maklum. Bukan apa-apa, supaya saya bisa ingat ada peristiwa apa dalam kehidupan saya. Gitu aja sih.

Nah, kalau kamu baru kali ini baca blog ini, salam kenal yah. Ga ada yang istimewa banget kok. Tapi kalau ada salah satu postingan saya yang bermanfaat atau bikin kamu terhibur, Alhamdulillah.


Berdoa Untuk Indonesiaku

Pemilihan presiden sudah berlalu, "pertempuran" antara relawan pendukung calon presiden masih berlangsung.
Perang di status social media seperti Facebook mengakibatkan ada yang terpaksa unfollow teman bahkan unfriend, yakni tidak mau berteman di Facebook lagi. Hanya gara-gara beda calon presiden.

Tidak hanya itu, dari awal fitnah dan tuduhan yang ntah benar atau tidak, yang asal tuduh pun marak terjadi menyerang kedua belah pihak. Sedih? Iya. Karena sebenarnya siapapun presiden yang akan terpilih, kita .. iyaaa... kita nih.. tetap akan menjadi warga negara Indonesia.

Kalau presiden pilihan kita yang menang, harus dibantu doa supaya beliau amanah. Tidak mengecewakan rakyat nya. Kalaupun kalah, berharap beliau bisa bersikap jantan. Tidak lantas berkoar-koar dan menimbulkan kerugian pada rakyat Indonesia. Iya.. pada kita ini.

Selesai pemilihan tanggal 9 Juli lalu, kedua belah pihak menyatakan kemenangannya. Hehehe... iyaa.. kedua calon presiden menyatakan diri mereka menang. Berdasarkan hasil Quick Count. Belum hasil KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang akan diumumkan pada tanggal 22 Juli nanti.

Seharusnya, iyaaa... seharusnya.. baik calon presiden maupun team pendukungnya, bisa duduk manis dan bersinergi bareng. Karena siapapun yang akan terpilih menjadi presiden Republik Indonesia ke-7 adalah hasil pilihan rakyat. Pilihan kitaaaa...

Dukung dulu.

Alhamdulillah kita nih, rakyat Indonesia sudah merayakan pesta demokrasi. Dimana tidak semua rakyat negara lain merasakan apa yang kita rasakan. Bersyukurlah.

Nah yang tanggal 9 Juli kemaren sudah menggunakan hak pilih maupun yang tidak menggunakan hak suara nya, jangan bikin masalah yaaa... jangan complaint, jangan ngomel dan jangan sinis. Karena namanya mau perubahan hidup lebih baik, ya harus sabar. Presiden kita kelak bukan Superman ... jangan tuntut 100 hari langsung bisa beres semua masalah.

Jadi warga negara yang baik. Yang juga berkontribusi menjaga keutuhan dan keamanan negara. Bikin Indonesia bangga, dengan apapun yang kamu kerjakan. Berprestasilah, disemua bidang!

Bismillah, smoga Republik Indonesia menjadi lebih baik. Aamiin YRA 


Sunday, March 09, 2014

Anak (anak) UTS, Emak Stress?

Sebenarnya, sebenarnya yaaa... aku tuh mencoba untuk membiasakan diri tidak stress saat anak-anak mau ulangan. Tapi iyaaa... pada prakteknya, frekuensi teriakan untuk meminta Nasta Nara belajar, jadi lebih sering. 

Sama? 
Toss ah! Hehehe

Gimana ga bikin ayah ibu nya jadi tarzan di rumah, kalau saat diminta belajar mereka asik aja kasih alasan. Kalau pun abis buka buku, ga sampe 10 menit. Abis itu? Sibuk dengan urusan lain lagi. 

Yaa.. urusan ini emang never ending story, selama mereka masih sekolah, dan aku masih jadi ibu nya hehehehe... 

Belajar juga dari pengalaman ku, kalau belajar nya di paksa pun, ga akan masuk ke otak. Dan sebagai Ibu aku bantu doa aja deh. Sekalian memotivasi mereka dengan mengatakan, "Nak, kalau ga pake belajar, mungkin nilai kakak / ade hanya 7 atau 8. Tapi kalau pake belajar, insyaa Allah bisa 10 loh." 

Beres? 
Tetep sih ada teriakan juga 

Ah percaya ma anak aja deh. 

Bismillah