Mau cerita pengalaman masa kecil saya, tentang handuk.
Bapak saya seorang pegawai negeri, ntah golongan berapa. Yang saya tahu, Bapak saya seorang pegawai yang rajin dan sederhana. Tidak punya uang berlebih. Oleh karena itu Ibu selalu berusaha mencari uang tambahan.
Saya anak keempat dari 5 bersaudara. Dan dulu, kami bertujuh hanya punya 2 handuk. Iyaaa... serius. Jadi kalau mandi, siapa yang paling pagi mandi, yang beruntung dapat handuk kering. Kalau mandi terakhir? Ya resiko ditanggung sendiri deh. Handuk sudah berubah warna dan menipis, baru ganti yang baru. Bahkan harus nunggu robek sana sini dulu. Seiring jalannya waktu, punya handuk sendiri itu suatu kemewahan. Alhamdulillah
Jadi ga pake handuk yang sudah basah, sampe bingung gimana mau ngeringin badan? :(
Masa kecil, masa hidup prihatin.
Mungkin karena pengalaman masa kecil itulah, sejak punya duit sendiri, saya jadi suka beli handuk :) Biar bisa ganti-ganti setiap saat saya mau ganti.
Dan Alhamdulillah sekarang ini memiliki anak dua, kedua anak saya tidak mengalami masa kecil seperti saya... bergantian pake handuk.
A mother of two beloved daughters, Nasta and Nara. A lovely wife for my lovely hubby.
Showing posts with label kenangan masa kecil. Show all posts
Showing posts with label kenangan masa kecil. Show all posts
Tuesday, December 02, 2014
Tuesday, March 08, 2011
Peyek Kacang
Masih lanjut tentang si Mbah
Aku ingat, dulu suka bantu blio mengiris kacang tanah.
Si Mbah dagang peyek.
2 - 3 hari sekali Mbah buat peyek, untuk dititipkan ke warung yang berada tidak jauh dari rumah.
Jangan tanya apakah aku bisa buat atau tidak yah.. karena jawabannya sudah pasti TIDAK BISA
Aku ingat, dulu suka bantu blio mengiris kacang tanah.
Si Mbah dagang peyek.
2 - 3 hari sekali Mbah buat peyek, untuk dititipkan ke warung yang berada tidak jauh dari rumah.
Jangan tanya apakah aku bisa buat atau tidak yah.. karena jawabannya sudah pasti TIDAK BISA
Si Mbah
Lagi ingat-ingat kenangan masa kecil
Mbah ku, dari pihak bapak, Supiyati namanya. Terus terang hubungan nenek - cucu waktu itu tidak terlalu manis untuk di ingat. Mbah ku ini pendiam. Dan cenderung pilih kasih. Itu menurut ku loh.
Malah seingat aku, waktu usia ku lebih kecil lagi.. kami memanggil beliau "Bude", lalu ntah kapan mulai dipanggil Mbah.
Si Mbah selalu bicara dengan bahasa Jawa. Mungkin itu juga yang bikin aku, kakak beradik jadi jarang ngobrol. Pakaian sehari-hari si Mbah adalah jarik (kain) dan kebaya.
Si Mbah jarang kasih uang. Mungkin itu juga yang bikin aku ga suka dengan blio. Beda dengan Oma (dari pihak Ibu). Setiap kami berkunjung, selalu diberi uang jajan. :p
Tapi saat aku SMP, si Mbah suka ajak aku ambil uang pensiun di daerah Blok A.
Lalu sampai rumah, aku di kasih uang deh. Dasar cucu matre :D
Si Mbah meninggal saat aku SMA. Karena pendarahan di otak. Si Mbah terjatuh dari tangga setelah menjemur pakaian. Memang tangga kayu itu agak licin. Dan mungkin kondisi fisik Mbah kurang baik.
Kurang lebih seminggu di RSCM, si Mbah meninggal dunia.
Mbah ku, dari pihak bapak, Supiyati namanya. Terus terang hubungan nenek - cucu waktu itu tidak terlalu manis untuk di ingat. Mbah ku ini pendiam. Dan cenderung pilih kasih. Itu menurut ku loh.
Malah seingat aku, waktu usia ku lebih kecil lagi.. kami memanggil beliau "Bude", lalu ntah kapan mulai dipanggil Mbah.
Si Mbah selalu bicara dengan bahasa Jawa. Mungkin itu juga yang bikin aku, kakak beradik jadi jarang ngobrol. Pakaian sehari-hari si Mbah adalah jarik (kain) dan kebaya.
Si Mbah jarang kasih uang. Mungkin itu juga yang bikin aku ga suka dengan blio. Beda dengan Oma (dari pihak Ibu). Setiap kami berkunjung, selalu diberi uang jajan. :p
Tapi saat aku SMP, si Mbah suka ajak aku ambil uang pensiun di daerah Blok A.
Lalu sampai rumah, aku di kasih uang deh. Dasar cucu matre :D
Si Mbah meninggal saat aku SMA. Karena pendarahan di otak. Si Mbah terjatuh dari tangga setelah menjemur pakaian. Memang tangga kayu itu agak licin. Dan mungkin kondisi fisik Mbah kurang baik.
Kurang lebih seminggu di RSCM, si Mbah meninggal dunia.
Subscribe to:
Posts (Atom)