Tuhan menciptakan setiap mahlukNya untuk berpasang-pasangan, saling melengkapi. Bukan untuk saling menandingi.
Dalam sudut pandang ke-ideal-an, tugas seorang suami adalah menafkahi istri dan anak-anaknya. Dan memang sudah menjadi kewajiban. Tapi apa yang terjadi jika posisi suami sebagai pencari nafkah utama tidak maksimal? Dalam arti tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan untuk hal yang mendasar sekalipun?
Jaman sekarang sudah banyak istri yang ikutan mencari nafkah, suka tidak suka, mau tidak mau. Ya harus kerja, supaya mencukupi kehidupan rumah tangga. Demikian alasannya.
Contoh soal: suami seorang pegawai negeri misalkan, sedangkan anak-anak memerlukan biaya sekolah yang tidak sedikit, jadi lah istrinya sibuk mencari cara lain mendapatkan penghasilan tambahan. Daripada suami korupsi? :D
Naudzubillah min dzalik.
Yang sering terjadi adalah, istri berpenghasilan lebih tinggi dari suami. Istri, merasa sudah ikutan cari duit, bahkan penghasilannya lebih banyak dari suami. Tapi sampai di rumah, suami tetap menyerahkan urusan rumah tangga seperti memasak, membereskan rumah, bahkan menemani anak-anak belajar, tetap istri yang kerjain. Suami? Nonton TV.
Kebayang dong, sama-sama pergi dari rumah pagi hari. Seharian di kantor sibuk ngurusin pekerjaan, sampe rumah, ngurusin rumah tangga juga. Walaupun tau banget, bahwa memang itu adalah tugas utama sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Tapi mana bantuan suami? Begitu mungkin yang ada dipikiran para istri.
Belum lagi kalau ada keperluan biaya di luar biasanya, suami menyerahkan ke istri. Ya karena suami emang ga punya duit. Tapi, istrinya yang di suruh mikirin. Lah kok ya istri nya mau aja pusing mikirin sendirian. :p
Sebelum saling menyalahkan niiih... yukk.. mundur dulu ke tahun-tahun masa pacaran. Hehehe....
Apakah suami sekarang pilihan sendiri, atau pilihan orang tua?
Kalau jawabannya pilih sendiri, sudah tahu belum calon suami tipe giat pencari nafkah atau ................. seadanya?
Kalau sudah tau bahwa calon suami pilihannya, bukan orang yang giat mencari nafkah, tapi masih mau menikah dengan dia, apa yang jadi kelebihannya?
Pasti ada dong kelebihannya?
Ooh.. ternyata calon suami itu rajin shalat, dan tidak pernah berkata kasar. OK. Nah, jadi ketauan kan, mau menikah dengan calon suami ini karena dia rajin shalat dan tidak pernah berkata kasar.
Ada bagian lain yang harus "di isi" oleh istri, yakni giat cari duit tambahan. Kalau memang memiliki standard hidup yang berbeda dengan suami.
Paham ya maksudnya?
Kita nih, saat memilih pasangan hidup... pasti cek dulu dong plus minus calon pasangan kita? Bukan turun dari langit atau seperti membeli kucing dalam karung. Boooo... hari giniiiiiiiii!
Satu hal yang pasti, kita tidak bisa mengharap : "dia akan berubah seperti yang saya mau" JANGAN! Akan sakit jiwa kalau harapan itu tidak terwujud :)
Contoh nih, Anda sudah tau bahwa calon suami suka mukul. Hellooo... baru jadi pacar aja sudah suka mukul, apalagi setelah resmi dinikahin??? Berharap dia akan berubah setelah menikah? Ck ck ck ....
Atau, anda sudah tau calon suami genit, pernah ketauan selingkuh. Jangan bangga kalau Anda dipilih jadi istri. Bukan berarti dia akan berhenti selingkuh.
Jadi harus gimana dong?
Pastikan mencari calon suami yang seiman dan beriman. :)
Yang rajin shalat aja belum tentu paham agama, bagaimana dengan yang tidak rajin shalat? Terus, anak-anak mau diajari apa?
Sudah terlanjur menikah dengan orang yang salah?
Tanyakan ke diri sendiri, apakah Anda merasa nyaman dan tentram dengan kondisi rumah tangga Anda? Bukan di-nyaman-nyaman-in yah. Karena kalau di-nyaman-nyaman-in, seperti makan bola api. Suatu waktu akan meledak dan membakar Anda.
Merasa agak kurang nyaman, tapi tidak ada niat untuk berpisah? Butuh keikhlasan yang luar biasa, butuh pembelajaran juga buat para istri yang memutuskan menjalani hidup seperti ini. Melengkapi kekurangan pasangan dengan ikhlas. Suami kurang taat beribadah, istri wajib belajar agama dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Suami kurang giat mencari nafkah, istri turun tangan membantu perekonomian keluarga.
Lah enak dong jadi suami nya?
Gak ada yang enak atau tidak enak... masing-masing peran akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Jadi, kenapa kita tidak memainkan peranan kita menjadi apa yang sudah ditakdirkan Allah dengan baik. Sesuai arahan Allah?
Dengan begitu, hidup akan menjadi lebih ringan. Karena semua yang dilakukan ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT.
A mother of two beloved daughters, Nasta and Nara. A lovely wife for my lovely hubby.
Showing posts with label kehidupan pernikahan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan pernikahan. Show all posts
Thursday, March 26, 2015
Thursday, September 15, 2011
Menikah Itu ........
WAJIB hukum nya :)
"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim)
Buat yang mampu, segeralah menikah.
Jiaah.... siapapun juga tau :p
Tapi jangan jadikan patokan "mampu" nya dengan perhitungan manusia semata
Dan mampu di sini juga bukan hanya sekedar ngomongin doku aka duit aka uang. Walaupuuunn... menuju ke pernikahan itu, duit juga penting. Yang simpel aja deh, bayar penghulu :D Kan perlu duit toh?
Sudah jadi budaya di Indonesia - khususnya, dan dunia lain - umum nya ... eh. .dunia lain di sini maksudnya bukan dunia perhantuan loh. Eh, hantu menikah ga yah? xixixixi... negara lain maksudnya.. pernikahan bisa jadi ribet, bahkan seringkali diribetkan oleh manusia sendiri.
Mengatasnamakan adat, biaya menikah menjadi tak terhitung. Di luar budget, bahkan tak terhitung lagi yang berhutang :(
Hal seperti itu tidak dapat dihindari.
Hhmm.. saya bukan ahli keuangan. Jadi ga akan mengulas tuntas tentang masalah biaya nikah. Tapiii... saya akan memberikan sudut pandang seorang Meli tentang biaya pernikahan. Berdasarkan pengalaman?? Hhm... bisa jadi. Tapi lebih tepatnya berdasarkan pengalaman teman-teman, yang bahkan saya sendiri tidak terlalu kenal :D
Rukun menikah itu ada 3 :
1. Adanya kedua mempelai yang tidak memiliki penghalang keabsahan nikah seperti adanya hubungan mahram dari keturunan, sepersusuan atau semisalnya. Atau pihak laki-laki adalah orang kafir sementara wanitanya muslimah atau semacamnya.
3. Yang melakukan akad bagi pihak wanita adalah walinya
4. Ada saksi dalam akad nikah.
[disadur dari sini ]
Simpel kan?
Sedikit saran saya untuk seorang adik (adik) yang akan menikah
Tapi heeeyyy!!! Kehidupan setelah menikah, itu jauh lebih penting!
Persiapan untuk hidup berdua setelah ijab kabul, itu jauh lebih penting!
Itu yang harus disiapkan terlebih dulu!!! [banyak nih tanda seru nya]
Biasanya niihh... keluarga [bukan saudara kandung loh] akan terus ngomongin resepsi yang kurang OKEH. Keluarga besan kurang ini lah, makanan resepsi kurang itu lah, bahkan sampai kita sudah punya anak pun, masih suka diomongin :D
Cuekin aja!
Karena yang jalanin hidup setelah ijab kabul, hanya suami - istri itu aja.
Keluarga besar? Sesekali aja kan ketemuannya :p
Setahun sekali deh paling tidak hahaha... pas lebaran :)
Tapi suami atau istri? Ya tiap hari booo...
Berikan pandangan ke orang tua / keluarga, resepsi pernikahan macam apa yang dikehendaki. Kasih tau budget atau kondisi keuangan kalian [jika biaya pernikahan di tanggung sendiri ya]. Kalau emang ortu kaya raya, dan mau menghabiskan uang ratusan juta hanya untuk pesta sehari, silahkan aja. Tapi kok yaaa.. mendingan buat uang muka rumah yah? Atau mobil gitu? :D
Dan uang puluhan juta atau ratusan juta itu akan lebih bermanfaat jika digunakan setelah hidup berumah tangga. Apalagi kalo langsung hamil. Biaya ke dokter tiap bulan, biaya persalinan, biaya imunisasi + susu + diapers, belum lagi nanti biaya sekolah anak. Hahahaha... maaf yaaa... bukan bermaksud menakutkan.. tapi ini kenyataan!
Jangan anggap remeh urusan keuangan yah. Rejeki emang sudah di atur Allah. Tapi alangkah bijaknya jika kita sendiri merencanakannya terlebih dahulu.
Sekian khotbah nikah dari saya :p
Jadi takut menikah?? Ya jangan lah!
Enak tau!! :p
"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim)
Buat yang mampu, segeralah menikah.
Jiaah.... siapapun juga tau :p
Tapi jangan jadikan patokan "mampu" nya dengan perhitungan manusia semata
Dan mampu di sini juga bukan hanya sekedar ngomongin doku aka duit aka uang. Walaupuuunn... menuju ke pernikahan itu, duit juga penting. Yang simpel aja deh, bayar penghulu :D Kan perlu duit toh?
Sudah jadi budaya di Indonesia - khususnya, dan dunia lain - umum nya ... eh. .dunia lain di sini maksudnya bukan dunia perhantuan loh. Eh, hantu menikah ga yah? xixixixi... negara lain maksudnya.. pernikahan bisa jadi ribet, bahkan seringkali diribetkan oleh manusia sendiri.
Mengatasnamakan adat, biaya menikah menjadi tak terhitung. Di luar budget, bahkan tak terhitung lagi yang berhutang :(
Hal seperti itu tidak dapat dihindari.
Hhmm.. saya bukan ahli keuangan. Jadi ga akan mengulas tuntas tentang masalah biaya nikah. Tapiii... saya akan memberikan sudut pandang seorang Meli tentang biaya pernikahan. Berdasarkan pengalaman?? Hhm... bisa jadi. Tapi lebih tepatnya berdasarkan pengalaman teman-teman, yang bahkan saya sendiri tidak terlalu kenal :D
Rukun menikah itu ada 3 :
1. Adanya kedua mempelai yang tidak memiliki penghalang keabsahan nikah seperti adanya hubungan mahram dari keturunan, sepersusuan atau semisalnya. Atau pihak laki-laki adalah orang kafir sementara wanitanya muslimah atau semacamnya.
2. Adanya penyerahan (ijab), yang diucapkan wali atau orang yang menggantikan posisinya dengan mengatakan kepada (calon) suami, 'Saya nikahkan anda dengan fulanah' atau ucapan semacamnya.
3. Adanya penerimaan (qabul), yaitu kata yang diucapkan suami atau ada orang yang menggantikan posisinya dengan mengatakan, 'Saya menerimnya.' atau semacamnya.
Sedangkan syarat menikah :
1. Masing-masing kedua mempelai telah ditentukan, baik dengan isyarat, nama atau sifat atau semacamnya.
2. Kerelaan kedua mempelai3. Yang melakukan akad bagi pihak wanita adalah walinya
4. Ada saksi dalam akad nikah.
[disadur dari sini ]
Simpel kan?
Sedikit saran saya untuk seorang adik (adik) yang akan menikah
- Siapkan budget pernikahan dan resepsi [jika ada]
- Tahan keinginan untuk mendapatkan resepsi pernikahan impian, jika budget tidak memungkinkan. Percaya ga, saya dulu koleksi majalah perkawinan Bella Donna, dan berharap bisa melaksanakan resepsi seperti di majalah itu.
- Siap-siap, biaya konsumsi itu 60 - 70% dari biaya keseluruhan. Iyaaa.. ngasih makan tamu itu mahal boo... Jadi kalo hanya punya budget 50 juta, siap² aja 30 juta nya hanya utk catering yah!!
- Menikah dan syukuran JANGAN DI JAM MAKAN!! Biasanya kan resepsi itu jam 11 - 13 atau jam 17 - 21, waktu nya orang-orang makan berat tuh. Hindari deh. Bikin aja nikah jam 2 siang, lanjut syukuran. Jadi hanya perlu disiapkan kue kan? Pelit?? Realistis babe!
- Kebaya / baju utk menikah sewa aja! Dan ga masalah juga kan kalo akad nikah dan syukuran menggunakan baju yg sama? Emang kenapa? Ga akan di pake untuk kedua kali nya juga toh? Dan emang situ yakin, kebaya buat nikah akan muat dipake lagi? Eaaa...
- Souvenir, ga penting! Sungguh! Kecuali kalo souvenir nya 1 gram emas, itu baru kereen.. Balik ke cara lama aja, hanya kasih kartu ucapan terima kasih. Pelit? Biarin! Realistis aja. Emang akan kepake tuh souvenir sama si penerima?
- Pelaminan ... make it simple! Ga usah pake juga ga apa2 kan? Akad nikah kan ga perlu pelaminan toh?
- Seserahan ... nah ini dia nih.. inget ya adik-adik.. ini bukan hal wajib! Walaupun biasanya sihh.. kado seserahan itu hadiah dari saudara² :D
Tapi heeeyyy!!! Kehidupan setelah menikah, itu jauh lebih penting!
Persiapan untuk hidup berdua setelah ijab kabul, itu jauh lebih penting!
Itu yang harus disiapkan terlebih dulu!!! [banyak nih tanda seru nya]
Biasanya niihh... keluarga [bukan saudara kandung loh] akan terus ngomongin resepsi yang kurang OKEH. Keluarga besan kurang ini lah, makanan resepsi kurang itu lah, bahkan sampai kita sudah punya anak pun, masih suka diomongin :D
Cuekin aja!
Karena yang jalanin hidup setelah ijab kabul, hanya suami - istri itu aja.
Keluarga besar? Sesekali aja kan ketemuannya :p
Setahun sekali deh paling tidak hahaha... pas lebaran :)
Tapi suami atau istri? Ya tiap hari booo...
Berikan pandangan ke orang tua / keluarga, resepsi pernikahan macam apa yang dikehendaki. Kasih tau budget atau kondisi keuangan kalian [jika biaya pernikahan di tanggung sendiri ya]. Kalau emang ortu kaya raya, dan mau menghabiskan uang ratusan juta hanya untuk pesta sehari, silahkan aja. Tapi kok yaaa.. mendingan buat uang muka rumah yah? Atau mobil gitu? :D
Dan uang puluhan juta atau ratusan juta itu akan lebih bermanfaat jika digunakan setelah hidup berumah tangga. Apalagi kalo langsung hamil. Biaya ke dokter tiap bulan, biaya persalinan, biaya imunisasi + susu + diapers, belum lagi nanti biaya sekolah anak. Hahahaha... maaf yaaa... bukan bermaksud menakutkan.. tapi ini kenyataan!
Jangan anggap remeh urusan keuangan yah. Rejeki emang sudah di atur Allah. Tapi alangkah bijaknya jika kita sendiri merencanakannya terlebih dahulu.
Sekian khotbah nikah dari saya :p
Jadi takut menikah?? Ya jangan lah!
Enak tau!! :p
Subscribe to:
Posts (Atom)