Salah satu alasan saya menyukai film seri CSI (baik New York, Miami maupun Vegas) adalah cara kerja para "detektif" itu. Digambarkan mereka adalah orang-orang yang cekatan dan sangat teliti. Mereka bsa melihat sebutir telor ikan di t-shirt korban atau sepotong kayu kecil yang hanya ada di daerah tertentu. Tentu saja itu semua dibantu oleh kecanggihan sebuah benda yang bernama komputer. Tapi siapapun yang suka menyaksikan film itu, pasti setuju untuk mengagumi kecanggihan team peneliti CSI tersebut.
Saya mengagumi orang-orang yang teliti. Merasa diri sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu, jadi sedikit menyesal mengapa dari dulu tidak saya latih. Semua orang pasti ada kemampuan nya kan? Saya kagum dengan orang orang yang mempunyai daya ingat kuat, bisa mengetahui perubahan baik fisik maupun non fisik seseorang. Sayang nya saya bukan lah orang seperti itu. Contoh kecil, waktu orang-orang meributkan kumis mantan boss saya, "apakah dia berkumis atau tidak" dan saya pun tercenung .. kenapa saya tidak memperhatikan hal itu?? Padahal setiap saat saya melihat. Atau jika ada yang baru potong rambut, butuh waktu cukup lama buat saya untuk menyadarinya. Bahkan seringkali jika ada orang lain yang berkomentar, baru lah saya ikut memperhatikan.
Buku Tetralogi Andrea Hirata juga membuat saya kagum, hebatnya Andrea ini mengingat masa kecil nya dengan baik. Walaupun mungkin ada beberapa atau banyak hal yang dia tambahkan. Tapi saya tetap kagum.
Pun saya kagum dengan para penulis, yang bisa menulis tiap hal dengan rinci. Terkadang apa yang mereka tulis itu pernah saya baca atau minimal mengetahuinya, walaupun tidak terekam dengan baik di otak saya.
Ahh... sungguh saya menyesal tidak menggunakan seluruh kemampuan otak saya. Tidak memaksimalkan instink kemanusiaan saya. Tidak mengasah dengan baik sisi spiritualitas saya, supaya saya bisa menjadi manusia yang lebih baik.
Seorang teman pernah mengatakan bahwa saya adalah orang yang tidak perhatian terhadap sekeliling saya. Egois, tepatnya. Jika saya merasa suatu hal tidak ada hubungan dengan saya, maka saya tidak akan memperdulikannya. Dulu saya terlalu menjaga diri saya sendiri, tidak seorang pun boleh menyakiti saya, mengecewakan saya, maka terbentuklah tembok pembatas antara saya dan lingkungan saya. Dari hal-hal kecil hingga hal besar. Menjadikan saya manusia yang tidak perhatian, dan menganggap tidak penting hal hal kecil.
Ah.. kemana saya harus mengulang mengingat-ingat hal-hal kecil dalam kehidupan saya dan saudara-saudara, teman-teman, keluarga, lingkungan.
Saya ingin menjadi orang yang selalu memperhatikan orang lain. Apakah bisa saya memulai kembali? Mengentaskan keegoan saya? Untuk tidak selalu memikirkan diri sendiri..........
Mungkin ini salah satu dari niat baik saya, menjalani tahun 1430 H dan 2009, untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dan selalu menjadi orang baik. Hhmm... ternyata menjadi orang baik memang harus rajin berlatih .. dan minum Milo tentu ..
A mother of two beloved daughters, Nasta and Nara. A lovely wife for my lovely hubby.
Wednesday, December 31, 2008
Sunday, August 10, 2008
Teman-teman Baru
Alhamdulillah nasta nara senang tinggal di cibubur, malah sejak pindah sudah langsung punya banyak teman. Kebetulan banyak teman sebaya di satu jalan rumah kami itu. Samping rumah persis ada Fia dan Nadia, Fia seumuran Nara sedangkan Nadia sekitar 1.5 thn. Kalo nasta ada Vincent, kelas 1 SD. Dan masih banyak lagi yg lain. Akibat dari seminggu pertama main di luar terus tiap sore, Nasta Nara langsung sakit. Maklum, tidak terbiasa kena angin sore. Duh.. kasihan banget anak-anak saya yah? Dan namanya juga anak, kalo mendengar suara teman-temannya main di luar, mana bisa di larang untuk tidak main sih?
Tapi insyaa Allah mereka bisa jadi lebih kuat. Amiin.
Ada kejadian lucu, sepulang kerja seperti biasa saya menanyakan kegiatan mereka. Nasta pun bercerita seru, main sepeda dengan Vincent. ”Aku lebih senang main dengan boys Bu daripada girls. Bu, tadi sendal ku dan Vincent pacaran.” ”Hah?? Maksudnya apa kak?” tanyaku geli dan heran. ”Iya bu, sendal ku dan sendal nya vincent deketan, kaya ciuman gitu.” hihihihi... speechless deh ibu nya.
Lain kali nasta bilang ke Vincent, ”aku kan pacar kamu!” hah? Mampus ga tuh? Trus Vincent nya bilang, ”aku udah punya pacar di sekolah” alamak... do they know what pacar is? Hihihi… geli banget deh dengar obrolan mereka itu.
Sejak nasta sekolah, kesempatan bermain hanya beberapa jam saja. Karena Nasta selalu tidur di atas jam 4 sore. Sedangkan vincent sudah ”njemput” jam 5an. Nasta blom bangun. Kadang ga sempat main. Sampai akhirnya, vincent main ke tempat lain. Dan nasta?? Ya main ke tempat Fariz, teman sekelas nya yang rumah nya tidak jauh juga dari rumah kami.
Nara? Dia jatuh cinta dengan Nadia :D karena setiap saat dia panggil nama Nadia. Padahal yang seumuran dengan dia yah kakak nya Nadia yakni Fia.
Tapi insyaa Allah mereka bisa jadi lebih kuat. Amiin.
Ada kejadian lucu, sepulang kerja seperti biasa saya menanyakan kegiatan mereka. Nasta pun bercerita seru, main sepeda dengan Vincent. ”Aku lebih senang main dengan boys Bu daripada girls. Bu, tadi sendal ku dan Vincent pacaran.” ”Hah?? Maksudnya apa kak?” tanyaku geli dan heran. ”Iya bu, sendal ku dan sendal nya vincent deketan, kaya ciuman gitu.” hihihihi... speechless deh ibu nya.
Lain kali nasta bilang ke Vincent, ”aku kan pacar kamu!” hah? Mampus ga tuh? Trus Vincent nya bilang, ”aku udah punya pacar di sekolah” alamak... do they know what pacar is? Hihihi… geli banget deh dengar obrolan mereka itu.
Sejak nasta sekolah, kesempatan bermain hanya beberapa jam saja. Karena Nasta selalu tidur di atas jam 4 sore. Sedangkan vincent sudah ”njemput” jam 5an. Nasta blom bangun. Kadang ga sempat main. Sampai akhirnya, vincent main ke tempat lain. Dan nasta?? Ya main ke tempat Fariz, teman sekelas nya yang rumah nya tidak jauh juga dari rumah kami.
Nara? Dia jatuh cinta dengan Nadia :D karena setiap saat dia panggil nama Nadia. Padahal yang seumuran dengan dia yah kakak nya Nadia yakni Fia.
Berita Bahagia
Setiap orang punya caranya sendiri untuk memproklamirkan berita bahagia. Baik berupa rencana perkawinan sampai penantian anak pertama or kedua or seterusnya. Apapun bentuknya, berita bahagia lah intinya.
Contoh: seorang teman menutup rapat rencana pernikahannya sampai undangan siap diedarkan. Hah?? maksud lo!! Ga ngomong-ngomong gitu punya rencana. Paling tidak kan bisa bantu doa or bantu cari-cari apa kek. Tapi ya sudah lah, dia pasti punya alasan tidak membicarakan berita bahagia ini secepat mungkin. Takut ga jadi kali yah? hihihi...
Jauh sekali dengan saya, selesai di lamar, hampir seluruh dunia akan tahu bulan pernikahan saya. Hahahah... padahal masih jauh sekali dari tanggal pernikahan. Sampai saya ingat, lebih dari 5 teman ”menyalip” diantara jadwal tunggu saya itu. Hhmm...
Contoh lagi : ada teman yang langsung menceritakan bahwa dia hamil setelah dia cek kehamilan. ”duh.. tapi gw blom cek ke dokter sih, insyaa allah jadi yah. Doain yah mba!”. Atau ada juga yang tidak memberitahu sampai usia kehamilan 3 bulan lebih dengan alasan, ”takut ada apa-apa. Ntar daripada kecewa mendingan nunggu 3 bulan lebih baru ngasih tau orang-orang” hhhmm... masuk akal. Atau ada juga yang menjelang kehamilan 7 bulan blom mau menceritakan kehamilannya pada siapapun (tidak termasuk keluarga lho) dengan alasan, biar surprise aja.
Kalau saya, tentu saja termasuk tipe teman pertama. Ntah lah, apa karena saya bukan orang pintar menyimpan rahasia atau terlalu exciting. Lagipula berita bahagia selayaknya disebarluaskan, syukur2 smakin banyak yang mendoakan insyaa Allah jadi smakin baik. Amiiin.
Contoh: seorang teman menutup rapat rencana pernikahannya sampai undangan siap diedarkan. Hah?? maksud lo!! Ga ngomong-ngomong gitu punya rencana. Paling tidak kan bisa bantu doa or bantu cari-cari apa kek. Tapi ya sudah lah, dia pasti punya alasan tidak membicarakan berita bahagia ini secepat mungkin. Takut ga jadi kali yah? hihihi...
Jauh sekali dengan saya, selesai di lamar, hampir seluruh dunia akan tahu bulan pernikahan saya. Hahahah... padahal masih jauh sekali dari tanggal pernikahan. Sampai saya ingat, lebih dari 5 teman ”menyalip” diantara jadwal tunggu saya itu. Hhmm...
Contoh lagi : ada teman yang langsung menceritakan bahwa dia hamil setelah dia cek kehamilan. ”duh.. tapi gw blom cek ke dokter sih, insyaa allah jadi yah. Doain yah mba!”. Atau ada juga yang tidak memberitahu sampai usia kehamilan 3 bulan lebih dengan alasan, ”takut ada apa-apa. Ntar daripada kecewa mendingan nunggu 3 bulan lebih baru ngasih tau orang-orang” hhhmm... masuk akal. Atau ada juga yang menjelang kehamilan 7 bulan blom mau menceritakan kehamilannya pada siapapun (tidak termasuk keluarga lho) dengan alasan, biar surprise aja.
Kalau saya, tentu saja termasuk tipe teman pertama. Ntah lah, apa karena saya bukan orang pintar menyimpan rahasia atau terlalu exciting. Lagipula berita bahagia selayaknya disebarluaskan, syukur2 smakin banyak yang mendoakan insyaa Allah jadi smakin baik. Amiiin.
Pekerjaan yang (sebaiknya) dihindari
Pada saat Nasta dan Nara besar nanti, aku akan memberitahu mereka pekerjaan yang sebaiknya mereka hindari, yakni dibidang Human Resources! Sebisa mungkin jangan sampai mereka kerja jadi HRD atau sejenisnya.
Kenapa?? Belasan tahun aku kerja dan berkawan cukup dekat dengan bagian HRD, dan mengetahui banget bahwa pekerjaan mereka tidak lain tidak bukan hanyalah ”pelindung” management. Mengatasnamakan perusahaan, tapi seringkali menguntungkan perusahaan. Mengatasnamakan peraturan Depnaker, tapi tetap aja yang diikutin adalah peraturan yang menguntungkan perusahaan kan? Seperti sudah lebih dari 3 tahun lalu, peraturan depnaker yang mengijinkan karyawan wanita untuk cuti selama 2 hari selama mereka menstruasi, dihilangkan. Memang sih, banyak yang ambil keuntungan dari cuti mens ini. Kan 1 dari 20 orang yang mengalami masalah saat menstruasi, sisanya? Yah hanya ambil jatah cuti aja. :D mungkin itu alasan cuti mens dihilangkan. Well, tidak 100% dihilangkan sih, boleh ambil cuti mens dengan catatan : HARUS ADA SURAT DOKTER! Hehehe..
Biasanya pekerjaan HRD harus pintar menjaga rahasia perusahaan. Ya iya lah!! Disaat genting, krisis, dimana pimpinan perusahaan memutuskan untuk mengurangi ”beban kapal”, HRD lah yang pusing tujuh keliling. Mengikuti peraturan depnaker, mengatur jatah pesangon, dan harus menghadapi satu persatu terdakwa yang mau tak mau harus dikeluarkan itu. Blom lagi peraturan lain yang sudah selayaknya dipatuhi, tapi karena satu dan lain, banyak yang menyalahkan HRD karena tidak ”mengerti karyawan”. Contoh kasus, karena sering dan selalu terjadi di kantor ku. Karyawan datang telat, di tegur, di kasih sanksi. Tapi kalo karyawan lembur dan tidak dapat fasilitas lembur (hanya beberapa golongan yang dapat jatah uang lembur), tidak dapat apa-apa. Dilema kan? Belum lagi kalo karyawan tidak masuk kantor dan tidak ada surat dokter, mau tak mau kena potong cuti atau potong gaji. Tapi karyawan lembur di hari Sabtu dan Minggu, tidak dapat kompensasi apa-apa.
Kesannya HRD tidak manusiawi dan flexible kan? Padahal kunci utama kebijakan HRD kan di pimpinan perusahaan juga. Kalo memang pemimpin menyetujui flexibilitas, tentunya HRD akan manut. Susahnya lagi, kalo ada flexibilitas macam ini, karyawan supporting (finance, administrasi, general affair) tentu menuntut hal yang sama kan? Wong sama-sama cari duit buat kantor kok.
Hah.. susah nya.. untuk aku bukan di HRD. No wonder HRD kantor gw sering bermuka jutek.. hihihi... pusing dia.. dari bawah di dorong-dorong, dari atasan di tekan-tekan ... cape deh...
Kenapa?? Belasan tahun aku kerja dan berkawan cukup dekat dengan bagian HRD, dan mengetahui banget bahwa pekerjaan mereka tidak lain tidak bukan hanyalah ”pelindung” management. Mengatasnamakan perusahaan, tapi seringkali menguntungkan perusahaan. Mengatasnamakan peraturan Depnaker, tapi tetap aja yang diikutin adalah peraturan yang menguntungkan perusahaan kan? Seperti sudah lebih dari 3 tahun lalu, peraturan depnaker yang mengijinkan karyawan wanita untuk cuti selama 2 hari selama mereka menstruasi, dihilangkan. Memang sih, banyak yang ambil keuntungan dari cuti mens ini. Kan 1 dari 20 orang yang mengalami masalah saat menstruasi, sisanya? Yah hanya ambil jatah cuti aja. :D mungkin itu alasan cuti mens dihilangkan. Well, tidak 100% dihilangkan sih, boleh ambil cuti mens dengan catatan : HARUS ADA SURAT DOKTER! Hehehe..
Biasanya pekerjaan HRD harus pintar menjaga rahasia perusahaan. Ya iya lah!! Disaat genting, krisis, dimana pimpinan perusahaan memutuskan untuk mengurangi ”beban kapal”, HRD lah yang pusing tujuh keliling. Mengikuti peraturan depnaker, mengatur jatah pesangon, dan harus menghadapi satu persatu terdakwa yang mau tak mau harus dikeluarkan itu. Blom lagi peraturan lain yang sudah selayaknya dipatuhi, tapi karena satu dan lain, banyak yang menyalahkan HRD karena tidak ”mengerti karyawan”. Contoh kasus, karena sering dan selalu terjadi di kantor ku. Karyawan datang telat, di tegur, di kasih sanksi. Tapi kalo karyawan lembur dan tidak dapat fasilitas lembur (hanya beberapa golongan yang dapat jatah uang lembur), tidak dapat apa-apa. Dilema kan? Belum lagi kalo karyawan tidak masuk kantor dan tidak ada surat dokter, mau tak mau kena potong cuti atau potong gaji. Tapi karyawan lembur di hari Sabtu dan Minggu, tidak dapat kompensasi apa-apa.
Kesannya HRD tidak manusiawi dan flexible kan? Padahal kunci utama kebijakan HRD kan di pimpinan perusahaan juga. Kalo memang pemimpin menyetujui flexibilitas, tentunya HRD akan manut. Susahnya lagi, kalo ada flexibilitas macam ini, karyawan supporting (finance, administrasi, general affair) tentu menuntut hal yang sama kan? Wong sama-sama cari duit buat kantor kok.
Hah.. susah nya.. untuk aku bukan di HRD. No wonder HRD kantor gw sering bermuka jutek.. hihihi... pusing dia.. dari bawah di dorong-dorong, dari atasan di tekan-tekan ... cape deh...
Monday, May 05, 2008
Memaknai Usia
''Belum hilang jejak telapak kaki orang-orang yang mengantarnya ke kubur, seorang hamba (yang telah habis usianya) akan ditanya mengenai empat hal, yaitu hal usianya ke mana dihabiskannya, hal tubuhnya untuk apa digunakannya, hal ilmunya seberapa yang diamalkannya, serta hal hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya.'' (HR Tirmidzi).
Karunia Allah yang paling berharga yang diberikan kepada manusia adalah usia. Kekayaan dan kekuatan manusia tidak berarti apa-apa jika usia sudah tiada. Menurut Ar Razi, jika hilangnya masa dipahami sebagai hilangnya modal, sedangkan modal manusia adalah usia yang dimilikinya, manusia pun selalu mengalami kerugian. Sebab, setiap saat, dari waktu ke waktu, usia yang menjadi modal utamanya terus berkurang.
Tidak diragukan lagi, jika usia itu digunakan manusia untuk bermaksiat, ia benar-benar mengalami kerugian. Bukan hanya tidak mendapatkan kompensasi apa pun dari modalnya yang hilang, namun lebih dari itu. Apa yang dilakukan dapat membahayakan dan mencelakakan dirinya. Begitu juga jika usianya dihabiskan untuk mengerjakan perkara-perkara yang mubah, ia tetap dikatakan merugi sebab usia sebagai modalnya habis tanpa meninggalkan dan menghasilkan apa pun bagi dirinya.
Untuk itu, usia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Suatu hari, seorang murid bertanya kepada mursyidnya, ''Apa makna usia?'' Jawabannya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, ''Apabila hari ini amal pekerjaanmu masih sama dengan hari kemarin, berarti kamu merugi. Bila lebih jelek daripada kemarin, terkutuk namanya. Bila lebih bagus, barulah termasuk beruntung.Nah, apakah usiamu yang setiap saat berkurang telah digantikan oleh hal-hal yang lebih baik atau sebaliknya? Di situlah makna usiamu.''
Ada dua hal penting mengapa usia harus mendapat perhatian serius. Pertama, Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas usia yang Allah karuniakan. Kedua, usia adalah masa yang menentukan baik buruknya manusia. At Tirmidzi meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Siapa manusia terbaik?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang dan dihabiskan untuk kebaikan.'' Ia bertanya lagi, ''Siapa manusia terburuk?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang, namun dihabiskan untuk keburukan.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
(Muhammad Bajuri )
Sumber : www.republika.co.id
Semoga kita semua menjadi manusia-manusia TERBAIK. Amiiiin
Saturday, April 26, 2008
PIL or WIL
Jangan pernah cerita masalah rumah tangga khususnya kepada teman lawan jenis, karena bisa menjadi pencetus hubungan emosional yang lebih mendalam.
Percaya atau tidak, hanya diri kita sendiri lah yang bisa mengetahui. Apakah kita akan terus bermain api atau bisa membatasi diri dalam setiap ucapan kita ke teman lawan jenis.
Dan jika tidak ingin mengganggu rumah tangga orang, terlebih rumah tangga diri sendiri, bijak lah dalam bersikap. Pikir panjang sebelum berucap.
Jika keadaan sudah smakin parah, hanya kerugian yang akan datang. Tidak akan ada yang pernah menang dalam permainan seperti ini.
For you : my best friend
Percaya atau tidak, hanya diri kita sendiri lah yang bisa mengetahui. Apakah kita akan terus bermain api atau bisa membatasi diri dalam setiap ucapan kita ke teman lawan jenis.
Dan jika tidak ingin mengganggu rumah tangga orang, terlebih rumah tangga diri sendiri, bijak lah dalam bersikap. Pikir panjang sebelum berucap.
Jika keadaan sudah smakin parah, hanya kerugian yang akan datang. Tidak akan ada yang pernah menang dalam permainan seperti ini.
For you : my best friend
Coklat ... GA ENAK
Itu kata Nasta
Kalo Ibu nya sih.. maniak coklat ... yang sayang nya, sejak ketahuan Nasta alergi makan makanan rasa coklat, ibu nya jadi mengurangi makan coklat juga.
Iya, Nasta alergi makan/minuman rasa coklat. Kasihan kan? Kalo dia makan/minum rasa coklat, hampir bisa dipastikan beberapa hari kemudian dia akan batuk. Dan jika sudah batuk, asma nya kambuh.. hiks.. kasihan kan?
Saat ini Nasta lagi batuk. Dan Kamis kemaren, mau tidak mau, suka tidak suka Nasta harus di inhalasi untuk mengurangi sesak napas nya. Ayah bertanya sedikit curiga, entah ke Ibu atau ke Nasta, "Kakak ga makan coklat kan?" Ibu dan Nasta hanya berpandang-pandangan, "Sepertinya ga deh."
Sebenarnya Nasta pernah nyoba susu Milo nya Ibu, sedikit aja kok. Tapi saya ga berani bilang, masa susu Milo sedikit aja langsung batuk sih????
Pagi nya, Nasta sudah baikan. Tidak terlalu heboh mengi nya. Dan dia langsung teringat, "Ibu, waktu kakak dari Kubah Emas kan makan biskuit coklat."
"Oh iya!!!! Ibu lupa! Hehehe.. malah kakak yang ingat.. "
Padahal, Nasta hanya makan tidak lebih dari 3 keping lho! Dan akhirnya Nasta benar-benar mengerti bahwa dia sama sekali tidak boleh makan makanan/minuman rasa coklat. Lalu dia ngomong, "Coklat itu GA ENAK!!!"
Kalo Ibu nya sih.. maniak coklat ... yang sayang nya, sejak ketahuan Nasta alergi makan makanan rasa coklat, ibu nya jadi mengurangi makan coklat juga.
Iya, Nasta alergi makan/minuman rasa coklat. Kasihan kan? Kalo dia makan/minum rasa coklat, hampir bisa dipastikan beberapa hari kemudian dia akan batuk. Dan jika sudah batuk, asma nya kambuh.. hiks.. kasihan kan?
Saat ini Nasta lagi batuk. Dan Kamis kemaren, mau tidak mau, suka tidak suka Nasta harus di inhalasi untuk mengurangi sesak napas nya. Ayah bertanya sedikit curiga, entah ke Ibu atau ke Nasta, "Kakak ga makan coklat kan?" Ibu dan Nasta hanya berpandang-pandangan, "Sepertinya ga deh."
Sebenarnya Nasta pernah nyoba susu Milo nya Ibu, sedikit aja kok. Tapi saya ga berani bilang, masa susu Milo sedikit aja langsung batuk sih????
Pagi nya, Nasta sudah baikan. Tidak terlalu heboh mengi nya. Dan dia langsung teringat, "Ibu, waktu kakak dari Kubah Emas kan makan biskuit coklat."
"Oh iya!!!! Ibu lupa! Hehehe.. malah kakak yang ingat.. "
Padahal, Nasta hanya makan tidak lebih dari 3 keping lho! Dan akhirnya Nasta benar-benar mengerti bahwa dia sama sekali tidak boleh makan makanan/minuman rasa coklat. Lalu dia ngomong, "Coklat itu GA ENAK!!!"
Ke sini yah ..
Terima kasih sudah mampir ...
Saya jarang posting di sini, silahkan mampir ke sini untuk cerita baru ..
Salam sayang
Saya jarang posting di sini, silahkan mampir ke sini untuk cerita baru ..
Salam sayang
Saturday, November 10, 2007
Spagheti Schottel
Weekend ini saya masak Spagheti Schottel, resep masih di ambil dari blog Dapur Bunda. Thanks Nong. Bahan-bahannya ga jauh beda dengan makaroni schottel lah.. hanya beda jenis pasta nya aja. Udah ketauan dong dari namanya :D
Bahan :
1 bungkus spagheti
200 gr daging cincang (saya lebihkan jadi 300 gram, karena punyanya segini)
1 kaleng susu evaporated (tapi saya tambah 1 kotal 200ml ultra putih)
5 telor
1 bungkus keju cheddar
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih (resep asli hanya 2 siung)
1 batang daun bawang
1 sdt pala bubuk
2 sdt garam (resep asli hanya 1 sdt)
1 sdt gula pasir
merica sesukanya.. (resep asli hanya 1 sdt)
Cara masak :
Tumis bawa bawang bombay, bawang putih dan daun bawang sampai harum
masukkan daging cincang, masak hingga matang
Campur susu + telor + pala bubuk, kocok.
campurkan tumisan daging dan campuran susu telor
rebus spagheti, tiriskan
siapkan pyrex
tuangkan sedikit susu dan daging ke dalam pyrex itu
taro spagheti sesuka hati
tuang sisa daging dan susu sampai membanjiri spagheti
tabur keju parut (kayanya lebih enak kalo dilebihin deh)
panggang
hasilnya?? Alhamdulillah enakkkk.....
Maaf, gambar tidak tersedia.
Bahan :
1 bungkus spagheti
200 gr daging cincang (saya lebihkan jadi 300 gram, karena punyanya segini)
1 kaleng susu evaporated (tapi saya tambah 1 kotal 200ml ultra putih)
5 telor
1 bungkus keju cheddar
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih (resep asli hanya 2 siung)
1 batang daun bawang
1 sdt pala bubuk
2 sdt garam (resep asli hanya 1 sdt)
1 sdt gula pasir
merica sesukanya.. (resep asli hanya 1 sdt)
Cara masak :
Tumis bawa bawang bombay, bawang putih dan daun bawang sampai harum
masukkan daging cincang, masak hingga matang
Campur susu + telor + pala bubuk, kocok.
campurkan tumisan daging dan campuran susu telor
rebus spagheti, tiriskan
siapkan pyrex
tuangkan sedikit susu dan daging ke dalam pyrex itu
taro spagheti sesuka hati
tuang sisa daging dan susu sampai membanjiri spagheti
tabur keju parut (kayanya lebih enak kalo dilebihin deh)
panggang
hasilnya?? Alhamdulillah enakkkk.....
Maaf, gambar tidak tersedia.
Tuesday, November 06, 2007
Brownies, Bubur Menado & Ayam Woku Belanga
Ternyata saya bisa masak!! Mohon maaf jika saya sedikit sombong kali ini, tapi saya benar-benar memasak. Makanan yang saya masak pun tergolong tidak mudah, menurut orang-orang. Hahahahaha....
Ceritanya Sabtu kemaren kan hujan tuh, saya mencari cemilan sore. Alhamduillah banyak makanan sih, kue kering lebaran masih banyak di meja tamu, belom lagi stok di lemari... siapa yang mo ngabisin yah??? Tapi saya ga pengen makan kue kering itu, saya pengen pancake nih. Lalu saya bertanya ke tukang masak, bisa bikin pancake kan?? buatin dong. Tapi saya harus kecewa, karena mba tukang masak ini tidak pernah meracik adonan. Biasanya dia hanya membuat/memasak saja. Adonan yang buat ibu, mba. Hhmmm.... mama memang lagi ga di rumah sore itu. Duh.. padahal gampang banget lho, pikir saya. Tahu kok bahan yang diperlukan apa saja, tapi saya tidak tahu ukuran nya, tepung berapa, telor berapa, susu berapa.... sigh.... mau telpon mertua? Gengsi ah..
Trus saya ingat punya resep brownies dari jaman saya masih aktif ikut milis Dapur Bunda nya alm. Inong. Lalu saya lihat persediaan bahan mentah, hhmm... hanya ada telor 2 butir, kurang. Lalu minta tolong asisten rumah tangga beli telur di warung. Waduh!! coklat bubuk nya kok ga ada? Terpaksa asisten balik ke warung. Hmmm... OK, oh iya perlu mixer. Saya ambil mixer yang sudah lama sekali tidak saya pakai itu. OK, siap. Aduk telor 4 butir dengan 2 cup gula pasir hingga kaku...masukkan tepung terigu 2 cups, coklat bubuk 3/4 cup, minyak 1 cup, garam 1sdt, vanili 1 sdt. Kocok. Siapkan loyang. Aduh...loyang brownies saya mana yah??? Ga sempet nyari, alhasil pake loyang kue bekas bikin nastar... hhhmm.. jadinya kaya apa nanti? Ahh.. cuek lah. Tuangkan adonan ke dalam loyang, panggang. Hhhmmm... mudah kan?? Dan hasilnya pun, alhamdulillah layak makan. Bohong deh... ENAK BANGET TAU!!
Minggu pagi, setelah shalat shubuh saya tidak tidur lagi. Melainkan langsung ke dapur, karena saya sedang ingin membuat bubur menado dan ayam woku belanga. Bubur menado ambil resepnya dari internet, maaf saya lupa. Masaknya mudah (banget) ternyata. Beras 500gram, saya malas nimbang, jadi kira2 aja deh. Daun-daun yang diperlukan, kemaren saya pake daun kangkung, kemangi dan daun melinjo, jagung juga. Masak beras hingga setengah matang, masukkan jagung, dan sereh 1 batang (di geprek dulu), lalu masukkan segala jenis daun-daun itu. aduk aduk aduk.... jadi deh... dan rasanya, cukup mengobati keinginan mertua yang dah lama pengen makan bubur menado. Sambal nya... TOP juga... cabe keriting, cabe rawit merah di goreng, trus di ulek ma' terasi dan gula merah. Pedes manis nya pas. Eitss.. tapi urusan mengulek sambel saya serahkan ke asisten rumah tangga. Sayangnya tidak ada ikan asin kipas (kurang tau nama persisnya), jadi pake ikan jambal biasa. Ah... tetep enak kok... Boleh lah memuji sendiri...
Proyek kedua, memasak ayam woku belanga resep dari Dapur Bunda. Ah... Inong, sayang.. gw ga bisa langsung bertanya... tapi blog ini ternyata sangat bermanfaat. Gw bisa tiap saat mencari makanan yang gw inginkan. Ayam woku belanga ini bahan utamanya ayam negeri (ya pasti ayam lah.. gimana sih meli), kemiri, bawang merah, sereh, jahe 1 ruas, kunyit 1 ruas di blender. trus pake daun kemangi dan daun bawang untuk efek ijo-ijo nya itu lho... hhhmmm.... ngeliat gambar nya aja udah bikin ngiler. Harus pedes nih, pikir saya. Karena makanan menado kalo ga pedes, kurang mantappp....
Dan.... taraaaaaaaaaaa.... alhamdulillah ayam woku belanga made in Meli sudah siap dan layak dimakan. Hhmm.... ternyata memasak itu tidak sulit, dengan catatan kalo saya lagi pengen masak. Biasanya sih abis masak sekali ini, diperlukan waktu lagi untuk mulai masak lagi... hihihihih....
eits... tenang aja... saya sudah mengumpulkan banyak sekali resep-resep yang menurut saya mudah, dan saya suka. Oh iya, saya harus memberikan catatan khusus sepertinya, saya hanya akan masak makanan yang saya suka. Karena jika orang-orang tidak suka / kurang suka, saya bisa menghabiskannya. Benar kan???
next project, pengen bikin pastel tutup atau spageti schottel (resep lagi-lagi dari inong).
Ceritanya Sabtu kemaren kan hujan tuh, saya mencari cemilan sore. Alhamduillah banyak makanan sih, kue kering lebaran masih banyak di meja tamu, belom lagi stok di lemari... siapa yang mo ngabisin yah??? Tapi saya ga pengen makan kue kering itu, saya pengen pancake nih. Lalu saya bertanya ke tukang masak, bisa bikin pancake kan?? buatin dong. Tapi saya harus kecewa, karena mba tukang masak ini tidak pernah meracik adonan. Biasanya dia hanya membuat/memasak saja. Adonan yang buat ibu, mba. Hhmmm.... mama memang lagi ga di rumah sore itu. Duh.. padahal gampang banget lho, pikir saya. Tahu kok bahan yang diperlukan apa saja, tapi saya tidak tahu ukuran nya, tepung berapa, telor berapa, susu berapa.... sigh.... mau telpon mertua? Gengsi ah..
Trus saya ingat punya resep brownies dari jaman saya masih aktif ikut milis Dapur Bunda nya alm. Inong. Lalu saya lihat persediaan bahan mentah, hhmm... hanya ada telor 2 butir, kurang. Lalu minta tolong asisten rumah tangga beli telur di warung. Waduh!! coklat bubuk nya kok ga ada? Terpaksa asisten balik ke warung. Hmmm... OK, oh iya perlu mixer. Saya ambil mixer yang sudah lama sekali tidak saya pakai itu. OK, siap. Aduk telor 4 butir dengan 2 cup gula pasir hingga kaku...masukkan tepung terigu 2 cups, coklat bubuk 3/4 cup, minyak 1 cup, garam 1sdt, vanili 1 sdt. Kocok. Siapkan loyang. Aduh...loyang brownies saya mana yah??? Ga sempet nyari, alhasil pake loyang kue bekas bikin nastar... hhhmm.. jadinya kaya apa nanti? Ahh.. cuek lah. Tuangkan adonan ke dalam loyang, panggang. Hhhmmm... mudah kan?? Dan hasilnya pun, alhamdulillah layak makan. Bohong deh... ENAK BANGET TAU!!
Minggu pagi, setelah shalat shubuh saya tidak tidur lagi. Melainkan langsung ke dapur, karena saya sedang ingin membuat bubur menado dan ayam woku belanga. Bubur menado ambil resepnya dari internet, maaf saya lupa. Masaknya mudah (banget) ternyata. Beras 500gram, saya malas nimbang, jadi kira2 aja deh. Daun-daun yang diperlukan, kemaren saya pake daun kangkung, kemangi dan daun melinjo, jagung juga. Masak beras hingga setengah matang, masukkan jagung, dan sereh 1 batang (di geprek dulu), lalu masukkan segala jenis daun-daun itu. aduk aduk aduk.... jadi deh... dan rasanya, cukup mengobati keinginan mertua yang dah lama pengen makan bubur menado. Sambal nya... TOP juga... cabe keriting, cabe rawit merah di goreng, trus di ulek ma' terasi dan gula merah. Pedes manis nya pas. Eitss.. tapi urusan mengulek sambel saya serahkan ke asisten rumah tangga. Sayangnya tidak ada ikan asin kipas (kurang tau nama persisnya), jadi pake ikan jambal biasa. Ah... tetep enak kok... Boleh lah memuji sendiri...
Proyek kedua, memasak ayam woku belanga resep dari Dapur Bunda. Ah... Inong, sayang.. gw ga bisa langsung bertanya... tapi blog ini ternyata sangat bermanfaat. Gw bisa tiap saat mencari makanan yang gw inginkan. Ayam woku belanga ini bahan utamanya ayam negeri (ya pasti ayam lah.. gimana sih meli), kemiri, bawang merah, sereh, jahe 1 ruas, kunyit 1 ruas di blender. trus pake daun kemangi dan daun bawang untuk efek ijo-ijo nya itu lho... hhhmmm.... ngeliat gambar nya aja udah bikin ngiler. Harus pedes nih, pikir saya. Karena makanan menado kalo ga pedes, kurang mantappp....
Dan.... taraaaaaaaaaaa.... alhamdulillah ayam woku belanga made in Meli sudah siap dan layak dimakan. Hhmm.... ternyata memasak itu tidak sulit, dengan catatan kalo saya lagi pengen masak. Biasanya sih abis masak sekali ini, diperlukan waktu lagi untuk mulai masak lagi... hihihihih....
eits... tenang aja... saya sudah mengumpulkan banyak sekali resep-resep yang menurut saya mudah, dan saya suka. Oh iya, saya harus memberikan catatan khusus sepertinya, saya hanya akan masak makanan yang saya suka. Karena jika orang-orang tidak suka / kurang suka, saya bisa menghabiskannya. Benar kan???
next project, pengen bikin pastel tutup atau spageti schottel (resep lagi-lagi dari inong).
Monday, October 29, 2007
Keinginan
Ntah kenapa keinginan untuk pindah ke rumah sendiri lagi tinggi. Semalam, setelah shalat malam ntah saya bermimpi atau justru saya tidak tidur sebenarnya, saya sudah membayangkan akan merenovasi rumah. Jebol ini, bangun itu, kamar mandi anak-anak di tambah, dek jemuran, pengen punya mesin cuci yang mahal itu (tapi praktis - kata yang udah punya), pengen kitchen set yang simpel dan praktis, mengingat saya kurang jago masak, pengen kolam ikan Koi, pengen pake AC di seluruh ruangan, pengen nambah kamar pembantu, pengen ini, pengen itu......
Pfuih... smoga keinginan saya dapat segera terwujud. Amiiiinnn....
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat kami sekeluarga. Amiiin..
ps: yang lagi dilema menghadapi masalah pembantu.
Pfuih... smoga keinginan saya dapat segera terwujud. Amiiiinnn....
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat kami sekeluarga. Amiiin..
ps: yang lagi dilema menghadapi masalah pembantu.
Thursday, September 13, 2007
Senin, 10 September 2007
Yaa ayyatuhan nafsul muthma’innah, irji’ii ila rabbiki raadhiyatam mardhiyyah. Fadkhulli fii ‘baadi wad khuli jannati
Wahai jiwa yang tenang kemballah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lag di ridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba ku dan masuklah ke dalam surga –Ku\
(QS. Al-Fajr (89) ayat 27 – 30)
Innaa Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun
Sesungguhnya kami adalah milk Allah dan kepada Nya kami kembali
Manusia hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jalan menuju kematian tiap manusia pun tidak pernah sama. Alhamdulillah almarhum papa (mertua) Djamadil Agus Alwi (74 tahun) boleh dibilang meninggal dengan tenang, cepat dan tidak terlalu menderita, menurut saya. Mungkin papa sendiri sebelumnya sudah menderita. Blio kesulitan bernafas dan terlihat sekali blio tidak bisa bernafas akibat asma akut yang dideritanya.
Senin malam saya dan Uni Anis sudah menuju rumah, di sekitar Lenteng Agung saya dengar Uni terima telpon dari rumah. "ada d lemari", kata uni sedikit kesal. Hhmm.. pasti papa pikir saya. Karena papa memang selalu mengandalkan uni jika ada apa-apa, terutama masalah obat-obatan. Saat itu mungkin dalam pikiran uni, papa mengada-ada lagi mengenai sesak nafas nya itu. Sepuluh menit kemudian, di telpon lagi dari rumah, uni masih menjawab seadanya "iya iya ini udah di margonda. Sabar dikit dong." Hhhm.. kalo memang uni bicara dengan papa, saya sempat ngebatin – uni sedikit kasar - :D tapi karena saya sendiri tahu bagaimana papa, jadi agak maklum. Papa itu sudah sedikit (atau banyak yah?) pikun. Dan keras kepala. Hmm… ketauan kan darimana sifat keras nya si abang turunan siapa? Saat itu di mobil, kami masih beranggapan bahwa papa hanya "sesak nafas" biasa, makanya blio ribut cari ventolin. Saya pun ngomong ke Uni, "sirup markisa uni yang buka bukan?" "Bukan", jawab uni. "Soalnya, baik abang maupun meli ga ada yg pernah minum sirup itu, tapi sekarang sudah mau habis." Tersangka utama tentu lah si papa. Yang memang suka minum dingin, tidak bisa dilarang, kalo pun di larang papa bilang "hanya minum sedikit". Jadi saat di mobil kami mengasumsi papa kambuh sesak nafas nya karena minum dingin. Sampai di komplek handphone uni berdering lagi "ya udah di komplek". Kata uni singkat. Huu.. kalo masih jauh gimana?, uni sedikit menggerundel.
Sampai di depan rumah papa sudah bergegas jalan menuju mobil dituntun oleh Bu Diah. Terlihat papa sudah panik, karena kesulitan bernafas. "Susah .. susah nafas..", kata papa terengah-engah. "Iya kita langsung ke rumah sakit, sabar", kata uni cepat. Saya pun ngikut lagi masuk ke dalam. "Papa duduk depan aja", kata papa. "Ehh.. jangan", sahut saya cepat, papa di belakang, meli yg di depan. Di dalam mobil papa duduk pegang jok depan, "susah susah nafas nya..", kata papa. "iya sabar, istighfar", kata uni lagi. Sambil bantu mengucapkan, astahfirullah al adziim. Terus di ulang-ulang. Saya bantu pegang tangan papa, seakan-akan ingin memberikan kekuatan kepada papa. Saya bingung harus ngapain lagi, melihat papa kesulitan bernafas. Saya hanya bisa berkata, sabar pa, istighfar. Sempat terucap oleh papa –sulit sulit sekali bernafas "pa, sabar pa". Uni mungkin tidak melihat ekspresi papa karena uni nyetir mobil. Tapi saya yang melihat muka papa, smakin tidak tega. Sabar pa, rumah sakit nya sudah dekat. Melihat papa yg seperti mau pingsan, saya langsung lompat ke belakang dan menangkap tubuh papa.
Di jalan tidak hentinya saya mengajak papa bicara dan dalam hati menyesali tidak ada pemisah jalan di depan RS Bunda Margonda. Kalaupun ada puteran sekitar 200 meter dari Bunda, itu pun tidak dapat digunakan karena dtutup. Buat apa ada puteran kalo ga bisa buat muter?? Jadi kami harus memutar diputaran UI. Ditambah kondisi jalan yang kurang ramah (jam nya orang pulang kantor). Ahh…
Papa sudah terdiam, saya melihat gigi papa sudah mengatup. Reflek saya coba masukkan jempol saya ke mulut papa, "pa, gigit jempol meli pa. gigit yang kenceng pa. gigit pa", sempat saya merasakan jempol saya digigit papa, sesaat. "pa, sabar pa, rumah sakit nya udah lewat, kita harus muter dulu. Pa. bangun pa. pa, besok papa antar nasta sekolah atau TPA yah pa. pa, inget nasta dan nara pa. pa, bangun pa." Saya coba memegang denyut nadi di pergelangan tangan papa, hanya rasa dingin dan justru degup jantung saya terdengar lebih kencang lagi. Saya terus ajak ngobrol papa, berusaha menghilangkan pikiran bahwa papa sudah tak bernyawa, berharap hanya pingsan. Tapi sempat juga saya melihat jam, seandainya benar papa sudah tak bernyawa saya bisa tahu perkiraan waktu nya. 8.29.
Sesampainya di RS Bunda, dengan bantuan orang-orang yang ada di sekitar UGD, papa diturunkan dari mobil. Saya mencoba mendorong papa, sudah berat. Tapi saya masih berharap. Seorang perawat di parkiran masih mengenali muka saya, saat Nara di rawat. Dengan cepat perawat UGD mengambil alih papa dan memasangkan selang oksigen, dokter jaga datang dalam hitungan detik. "Sudah tak ada denyut," katanya. Ayahnya kenapa? Kata dokter kepada kami. Sesak nafas, serangan asma. "punya sakit jantung?" "iya, pernah serangan jantung 4 – 5 bulan yang lalu." Dokter hanya diam lalu berkata ke perawatnya, kita coba EKG. Saya melihat air muka dokter, dan sepertinya saya sudah tahu apa yang terjadi. "papa ngompol dok," kata saya. Dokter hanya mengangguk. Dan kesimpulan dokter, papa sudah meninggal pada saat dibawa ke rumah sakit. Ya Allah, apakah benar dugaan saya tadi? Papa sekarat waktu di mobil tadi. Dan tidak ada yg bisa saya bantu untuk papa, meringankan sakit nya itu? Dan yg lebih sedih nya lagi, saya tidak membantu papa 'melepas kepergiannya' padahal saya berada tepat disamping papa. Karena saat itu saya masih berharap papa hanya pingsan dan akan segera sembuh.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat ummatNya. Allah tidak menginginkan papa tersiksa lebih lama. Dia menyegarakan sakit papa. Walaupun kepergian papa yang sangat cepat ini menyisakan penyesalan dihati kami, anak-anaknya. Kami masih kurang sabar dalam menghadapi tingkah laku papa, padahal kami menyadari kekurangan papa.
Pada saat papa pingsan di mobil, uni sudah telpon ke rumah. Menyuruh Ira dan mama segera ke rumah sakit. Terserah mau naik apa, harus segera. Abang masih dalam perjalanan saat itu, uni juga sudah telpon abang untuk segera langsung ke rumah sakit. Berkal-kali abang mencoba cari tahu, apa yang terjadi dengan papa. Saya hanya bisa bilang, sedang di observasi oleh dokter. Saya tidak mau bilang ke abang, kalo papa nya sudah meninggal. Supaya abang tidak terburu-buru ke rumah sakit. Mengingat abang itu orang nya panikan. Ira sms saya, memberitahu sudah menuju rumah sakit. Papa gimana? Itu pun tidak saya balas. Sesampainya ira d rumah sakit, dengan muka penuh pertanyaan ira menghampiri saya. Mama berjalan dibelakang. "Saya hanya bilang ke ira, pegangin mama Ir, papa udah ga ada" tak terbendung tangis ira dan mama yang mendengar kabar ini.
Saya mencoba tabah. Tapi setiap kali teringat "ya Allah, bentar lagi puasa. Ga disangka kejadian juga ke saya, merasakan puasa tanpa orang terkasih." Saya suka sedih, jika menjelang bulan Ramadhan melihat mobil jenasah lewat, saya selalu bertanya, mereka pasti sedih sekali yah? Bentar lagi mo puasa, di tinggal orang terkasih. Dan hal ini menimpa saya.
Alhamdulillah mama aktif di mesjid, jadi saat mama bilang, urusan rumah sudah di urus pihak mesjid. Alhamdulillah. Saya menemani papa saat sakratul maut menjemput, saya menemani papa saat pulang ke rumah untuk disemayamkan. Saya memang baru kurang dari 6 tahun mengenal blio, tapi papa adalah papa yang baik, opa yang sayang sekali dengan kedua cucu nya. Papa sangat concern jika anak-anak sakit, dia akan masuk ke kamar jika mendengar cucu nya batuk atau menangis. Dan pastinya ribut bertanya, sudah di kasih obat? Dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang, dkarenakan kepikunan papa itu.
Sesampainya di rumah, Alhamdulllah semua sudah beres. Nasta blom tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Dia melihat semua kesibukan orang-orang, dia melihat opa nya di taro di dipan. Tapi tidak sepatah katapun dia mengajukan pertanyaan. Aneh sebenarnya, karena Nasta selalu bertanya jika ada hal-hal yang diluar kewajaran. Nasta tidur pukul 11.30, saya pun mengantuk sekali. Tapi mata sulit sekali dipejamkan. Coba baca Yaasiin, tapi ntah kenapa air mata ini sulit sekali dihentikan. Akhirnya saya 'mungkin' tertidur sekitar pukul 3 pagi. Dan sudah bangun lagi pukul 5.15, karena jamaah shubuh mesjid Adz-Dzikri datang untuk mendoakan papa.
Alhamdulillah semua proses dari mulai memandikan, mengafani, menyembayangkan dan menguburkan berjalan lancar. Papa dikubur di atas kuburan Oma, ibunya. Mama bilang, papa meninggal tanggal 10 September, Oma meninggal tanggal 11 September 1978. Sepertinya papa memang mempersiapkan diri untuk bertemu ibu nya, Karena sore nya papa sempat cat rambut.
Alhamdulillah, banyak yang bilang papa meninggalnya bagus. Karena mendekati puasa. Saat terakhir melihat wajah papa, sambil terisak saya berkata dalam hati, papa sudah enak sekarang, tidak akan merasakan sesak nafas lagi.
Ahh… hari-hari tidak akan sama tanpa kehadiran papa d rumah. Tidak ada lagi yang bikin mama marah-marah / kesel, karena tingkah papa yang kadang memang bikin geleng-geleng kepala. Tdak ada lagi papa yang suka melucu / bercanda dengan pembantu rumah tangga. Tidak ada lagi yang buka kulkas tengah malam, mencari kudapan. Ahh… sedih sekali…
Papa, I am gonna miss u.
Wahai jiwa yang tenang kemballah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lag di ridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba ku dan masuklah ke dalam surga –Ku\
(QS. Al-Fajr (89) ayat 27 – 30)
Innaa Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun
Sesungguhnya kami adalah milk Allah dan kepada Nya kami kembali
Manusia hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jalan menuju kematian tiap manusia pun tidak pernah sama. Alhamdulillah almarhum papa (mertua) Djamadil Agus Alwi (74 tahun) boleh dibilang meninggal dengan tenang, cepat dan tidak terlalu menderita, menurut saya. Mungkin papa sendiri sebelumnya sudah menderita. Blio kesulitan bernafas dan terlihat sekali blio tidak bisa bernafas akibat asma akut yang dideritanya.
Senin malam saya dan Uni Anis sudah menuju rumah, di sekitar Lenteng Agung saya dengar Uni terima telpon dari rumah. "ada d lemari", kata uni sedikit kesal. Hhmm.. pasti papa pikir saya. Karena papa memang selalu mengandalkan uni jika ada apa-apa, terutama masalah obat-obatan. Saat itu mungkin dalam pikiran uni, papa mengada-ada lagi mengenai sesak nafas nya itu. Sepuluh menit kemudian, di telpon lagi dari rumah, uni masih menjawab seadanya "iya iya ini udah di margonda. Sabar dikit dong." Hhhm.. kalo memang uni bicara dengan papa, saya sempat ngebatin – uni sedikit kasar - :D tapi karena saya sendiri tahu bagaimana papa, jadi agak maklum. Papa itu sudah sedikit (atau banyak yah?) pikun. Dan keras kepala. Hmm… ketauan kan darimana sifat keras nya si abang turunan siapa? Saat itu di mobil, kami masih beranggapan bahwa papa hanya "sesak nafas" biasa, makanya blio ribut cari ventolin. Saya pun ngomong ke Uni, "sirup markisa uni yang buka bukan?" "Bukan", jawab uni. "Soalnya, baik abang maupun meli ga ada yg pernah minum sirup itu, tapi sekarang sudah mau habis." Tersangka utama tentu lah si papa. Yang memang suka minum dingin, tidak bisa dilarang, kalo pun di larang papa bilang "hanya minum sedikit". Jadi saat di mobil kami mengasumsi papa kambuh sesak nafas nya karena minum dingin. Sampai di komplek handphone uni berdering lagi "ya udah di komplek". Kata uni singkat. Huu.. kalo masih jauh gimana?, uni sedikit menggerundel.
Sampai di depan rumah papa sudah bergegas jalan menuju mobil dituntun oleh Bu Diah. Terlihat papa sudah panik, karena kesulitan bernafas. "Susah .. susah nafas..", kata papa terengah-engah. "Iya kita langsung ke rumah sakit, sabar", kata uni cepat. Saya pun ngikut lagi masuk ke dalam. "Papa duduk depan aja", kata papa. "Ehh.. jangan", sahut saya cepat, papa di belakang, meli yg di depan. Di dalam mobil papa duduk pegang jok depan, "susah susah nafas nya..", kata papa. "iya sabar, istighfar", kata uni lagi. Sambil bantu mengucapkan, astahfirullah al adziim. Terus di ulang-ulang. Saya bantu pegang tangan papa, seakan-akan ingin memberikan kekuatan kepada papa. Saya bingung harus ngapain lagi, melihat papa kesulitan bernafas. Saya hanya bisa berkata, sabar pa, istighfar. Sempat terucap oleh papa –sulit sulit sekali bernafas "pa, sabar pa". Uni mungkin tidak melihat ekspresi papa karena uni nyetir mobil. Tapi saya yang melihat muka papa, smakin tidak tega. Sabar pa, rumah sakit nya sudah dekat. Melihat papa yg seperti mau pingsan, saya langsung lompat ke belakang dan menangkap tubuh papa.
Di jalan tidak hentinya saya mengajak papa bicara dan dalam hati menyesali tidak ada pemisah jalan di depan RS Bunda Margonda. Kalaupun ada puteran sekitar 200 meter dari Bunda, itu pun tidak dapat digunakan karena dtutup. Buat apa ada puteran kalo ga bisa buat muter?? Jadi kami harus memutar diputaran UI. Ditambah kondisi jalan yang kurang ramah (jam nya orang pulang kantor). Ahh…
Papa sudah terdiam, saya melihat gigi papa sudah mengatup. Reflek saya coba masukkan jempol saya ke mulut papa, "pa, gigit jempol meli pa. gigit yang kenceng pa. gigit pa", sempat saya merasakan jempol saya digigit papa, sesaat. "pa, sabar pa, rumah sakit nya udah lewat, kita harus muter dulu. Pa. bangun pa. pa, besok papa antar nasta sekolah atau TPA yah pa. pa, inget nasta dan nara pa. pa, bangun pa." Saya coba memegang denyut nadi di pergelangan tangan papa, hanya rasa dingin dan justru degup jantung saya terdengar lebih kencang lagi. Saya terus ajak ngobrol papa, berusaha menghilangkan pikiran bahwa papa sudah tak bernyawa, berharap hanya pingsan. Tapi sempat juga saya melihat jam, seandainya benar papa sudah tak bernyawa saya bisa tahu perkiraan waktu nya. 8.29.
Sesampainya di RS Bunda, dengan bantuan orang-orang yang ada di sekitar UGD, papa diturunkan dari mobil. Saya mencoba mendorong papa, sudah berat. Tapi saya masih berharap. Seorang perawat di parkiran masih mengenali muka saya, saat Nara di rawat. Dengan cepat perawat UGD mengambil alih papa dan memasangkan selang oksigen, dokter jaga datang dalam hitungan detik. "Sudah tak ada denyut," katanya. Ayahnya kenapa? Kata dokter kepada kami. Sesak nafas, serangan asma. "punya sakit jantung?" "iya, pernah serangan jantung 4 – 5 bulan yang lalu." Dokter hanya diam lalu berkata ke perawatnya, kita coba EKG. Saya melihat air muka dokter, dan sepertinya saya sudah tahu apa yang terjadi. "papa ngompol dok," kata saya. Dokter hanya mengangguk. Dan kesimpulan dokter, papa sudah meninggal pada saat dibawa ke rumah sakit. Ya Allah, apakah benar dugaan saya tadi? Papa sekarat waktu di mobil tadi. Dan tidak ada yg bisa saya bantu untuk papa, meringankan sakit nya itu? Dan yg lebih sedih nya lagi, saya tidak membantu papa 'melepas kepergiannya' padahal saya berada tepat disamping papa. Karena saat itu saya masih berharap papa hanya pingsan dan akan segera sembuh.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat ummatNya. Allah tidak menginginkan papa tersiksa lebih lama. Dia menyegarakan sakit papa. Walaupun kepergian papa yang sangat cepat ini menyisakan penyesalan dihati kami, anak-anaknya. Kami masih kurang sabar dalam menghadapi tingkah laku papa, padahal kami menyadari kekurangan papa.
Pada saat papa pingsan di mobil, uni sudah telpon ke rumah. Menyuruh Ira dan mama segera ke rumah sakit. Terserah mau naik apa, harus segera. Abang masih dalam perjalanan saat itu, uni juga sudah telpon abang untuk segera langsung ke rumah sakit. Berkal-kali abang mencoba cari tahu, apa yang terjadi dengan papa. Saya hanya bisa bilang, sedang di observasi oleh dokter. Saya tidak mau bilang ke abang, kalo papa nya sudah meninggal. Supaya abang tidak terburu-buru ke rumah sakit. Mengingat abang itu orang nya panikan. Ira sms saya, memberitahu sudah menuju rumah sakit. Papa gimana? Itu pun tidak saya balas. Sesampainya ira d rumah sakit, dengan muka penuh pertanyaan ira menghampiri saya. Mama berjalan dibelakang. "Saya hanya bilang ke ira, pegangin mama Ir, papa udah ga ada" tak terbendung tangis ira dan mama yang mendengar kabar ini.
Saya mencoba tabah. Tapi setiap kali teringat "ya Allah, bentar lagi puasa. Ga disangka kejadian juga ke saya, merasakan puasa tanpa orang terkasih." Saya suka sedih, jika menjelang bulan Ramadhan melihat mobil jenasah lewat, saya selalu bertanya, mereka pasti sedih sekali yah? Bentar lagi mo puasa, di tinggal orang terkasih. Dan hal ini menimpa saya.
Alhamdulillah mama aktif di mesjid, jadi saat mama bilang, urusan rumah sudah di urus pihak mesjid. Alhamdulillah. Saya menemani papa saat sakratul maut menjemput, saya menemani papa saat pulang ke rumah untuk disemayamkan. Saya memang baru kurang dari 6 tahun mengenal blio, tapi papa adalah papa yang baik, opa yang sayang sekali dengan kedua cucu nya. Papa sangat concern jika anak-anak sakit, dia akan masuk ke kamar jika mendengar cucu nya batuk atau menangis. Dan pastinya ribut bertanya, sudah di kasih obat? Dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang, dkarenakan kepikunan papa itu.
Sesampainya di rumah, Alhamdulllah semua sudah beres. Nasta blom tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Dia melihat semua kesibukan orang-orang, dia melihat opa nya di taro di dipan. Tapi tidak sepatah katapun dia mengajukan pertanyaan. Aneh sebenarnya, karena Nasta selalu bertanya jika ada hal-hal yang diluar kewajaran. Nasta tidur pukul 11.30, saya pun mengantuk sekali. Tapi mata sulit sekali dipejamkan. Coba baca Yaasiin, tapi ntah kenapa air mata ini sulit sekali dihentikan. Akhirnya saya 'mungkin' tertidur sekitar pukul 3 pagi. Dan sudah bangun lagi pukul 5.15, karena jamaah shubuh mesjid Adz-Dzikri datang untuk mendoakan papa.
Alhamdulillah semua proses dari mulai memandikan, mengafani, menyembayangkan dan menguburkan berjalan lancar. Papa dikubur di atas kuburan Oma, ibunya. Mama bilang, papa meninggal tanggal 10 September, Oma meninggal tanggal 11 September 1978. Sepertinya papa memang mempersiapkan diri untuk bertemu ibu nya, Karena sore nya papa sempat cat rambut.
Alhamdulillah, banyak yang bilang papa meninggalnya bagus. Karena mendekati puasa. Saat terakhir melihat wajah papa, sambil terisak saya berkata dalam hati, papa sudah enak sekarang, tidak akan merasakan sesak nafas lagi.
Ahh… hari-hari tidak akan sama tanpa kehadiran papa d rumah. Tidak ada lagi yang bikin mama marah-marah / kesel, karena tingkah papa yang kadang memang bikin geleng-geleng kepala. Tdak ada lagi papa yang suka melucu / bercanda dengan pembantu rumah tangga. Tidak ada lagi yang buka kulkas tengah malam, mencari kudapan. Ahh… sedih sekali…
Papa, I am gonna miss u.
Friday, August 24, 2007
Musibah Kecil
Cobaan dari Allah SWT itu bisa berbagai macam hal. Smoga saya termasuk orang orang yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi apapun ujian yang Allah berikan. Amiiin.
Masalah pembantu/baby sitter adalah cobaan kecil bagi seorang ibu yang punya anak dan bekerja di luar rumah. Setelah mba nya anak-anak yang hampir 2 tahun bekerja pada kami resign, dengan cepat saya langsung dapat pengganti. Belum ketenangan itu terasa, si mba' baru itu harus pulang karena "ibu nya sakit".. hhmm.. klise. Alhamdulillah tidak terlalu lama dapat pengganti. Ex baby sitter yayasan, teman suster yg lama itu. Anak nya kecil tapi gesit. Walaupun perlu waktu untuk beradaptasi dengan anak-anak, overall, kerjaanya OK.
Ah.. lega deh.. anak-anak ada yg bantu ngurus. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Karena asisten senior di rumah yang bagian masak dan bebenah rumah tiba-tiba pendarahan di rumahnya sendiri. (dia pulang tiap weekend). Hah??? kok ga keliatan hamil nya?? Dan kok bisa-bisanya mba itu ga bilang2 kalo sedang hamil (note: dia sudah punya 2 anak, bahkan anak yg bungsu dibawa - jadi teman main nasta nara). Kami semua jadi merasa bersalah. Memperkerjakan orang hamil!!
Pusing lagi..
Ga lama dapat freelancer untuk masak dan bebenah. Alhamdulillah. Tapi lagi-lagi ketenangan terusik, karena tiba-tiba si mba' suster tidak bisa balik dengan alasan harus menemani kakak nya yang ditinggal tugas suami. Ingin menangis rasanya.. pusing...
Kepusingan bertambah karena saat transisi pembantu itu, anak-anak lagi pada gantian sakit. Berakhir dengan Nara opname dengan diagnosa Radang Paru ringan. Gedubrak!!!
Nara di rumah sakit, otomatis saya harus disana dong. Siapa yang jaga Nasta?? Alhamdulillah, Allah memang pengasih dan penyayang. Kakak ipar saya memang pada saat itu memang sudah rencana ambil cuti seminggu, mau jalan-jalan dan istirahat di rumah. Jadilah Tata Anis jadi mba nya Nasta selama saya di rumah sakit. Antar jemput sekolah, dan bolak balik rumah sakit. Thanks Un.
Singkat kata, kami memutuskan ambil suster lagi di yayasan. Itu pun ternyata sulit sekali. Menjelang puasa ini, stok suster KOSONG!! banyak tersedia suster untuk bayi. Alhamdulillah setelah beberapa yayasan di telpon, referensi dari teman-teman dan saudara, kami dapat mba untuk Nara. Hhhmm... sebenarnya saya agak malas ambil dari yayasan karena takut si mba hanya mau pegang 1 anak. Trus Nasta gimana?? Mau nangis lagi saya. Tapi memang susah sekali cari pembantu menjelang puasa ini. Mba baru ini pun sudah bilang akan pulang kampung lebaran nanti. ahh... sudah lah, yang penting saat ini saya bisa kerja dengan tenang dulu. Mengingat pekerjaan kantor sudah menumpuk rasanya.
Saat ini saya masih dalam pencarian 1 mba untuk teman Nasta dan bantu-bantu bebenah. Smoga cepat dapat.
Masalah pembantu/baby sitter adalah cobaan kecil bagi seorang ibu yang punya anak dan bekerja di luar rumah. Setelah mba nya anak-anak yang hampir 2 tahun bekerja pada kami resign, dengan cepat saya langsung dapat pengganti. Belum ketenangan itu terasa, si mba' baru itu harus pulang karena "ibu nya sakit".. hhmm.. klise. Alhamdulillah tidak terlalu lama dapat pengganti. Ex baby sitter yayasan, teman suster yg lama itu. Anak nya kecil tapi gesit. Walaupun perlu waktu untuk beradaptasi dengan anak-anak, overall, kerjaanya OK.
Ah.. lega deh.. anak-anak ada yg bantu ngurus. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Karena asisten senior di rumah yang bagian masak dan bebenah rumah tiba-tiba pendarahan di rumahnya sendiri. (dia pulang tiap weekend). Hah??? kok ga keliatan hamil nya?? Dan kok bisa-bisanya mba itu ga bilang2 kalo sedang hamil (note: dia sudah punya 2 anak, bahkan anak yg bungsu dibawa - jadi teman main nasta nara). Kami semua jadi merasa bersalah. Memperkerjakan orang hamil!!
Pusing lagi..
Ga lama dapat freelancer untuk masak dan bebenah. Alhamdulillah. Tapi lagi-lagi ketenangan terusik, karena tiba-tiba si mba' suster tidak bisa balik dengan alasan harus menemani kakak nya yang ditinggal tugas suami. Ingin menangis rasanya.. pusing...
Kepusingan bertambah karena saat transisi pembantu itu, anak-anak lagi pada gantian sakit. Berakhir dengan Nara opname dengan diagnosa Radang Paru ringan. Gedubrak!!!
Nara di rumah sakit, otomatis saya harus disana dong. Siapa yang jaga Nasta?? Alhamdulillah, Allah memang pengasih dan penyayang. Kakak ipar saya memang pada saat itu memang sudah rencana ambil cuti seminggu, mau jalan-jalan dan istirahat di rumah. Jadilah Tata Anis jadi mba nya Nasta selama saya di rumah sakit. Antar jemput sekolah, dan bolak balik rumah sakit. Thanks Un.
Singkat kata, kami memutuskan ambil suster lagi di yayasan. Itu pun ternyata sulit sekali. Menjelang puasa ini, stok suster KOSONG!! banyak tersedia suster untuk bayi. Alhamdulillah setelah beberapa yayasan di telpon, referensi dari teman-teman dan saudara, kami dapat mba untuk Nara. Hhhmm... sebenarnya saya agak malas ambil dari yayasan karena takut si mba hanya mau pegang 1 anak. Trus Nasta gimana?? Mau nangis lagi saya. Tapi memang susah sekali cari pembantu menjelang puasa ini. Mba baru ini pun sudah bilang akan pulang kampung lebaran nanti. ahh... sudah lah, yang penting saat ini saya bisa kerja dengan tenang dulu. Mengingat pekerjaan kantor sudah menumpuk rasanya.
Saat ini saya masih dalam pencarian 1 mba untuk teman Nasta dan bantu-bantu bebenah. Smoga cepat dapat.
Thursday, July 19, 2007
Perempuan (baca: Ibu Hamil) Jakarta memang KUAT
Judul di atas sebenarnya ungkapan kekesalan saya terhadap para pria di ibukota Jakarta, penumpang bus lebih khususnya lagi.
Bagaimana tidak kesal? Jika melihat pria muda (bahkan remaja), seperti tidak punya mata melihat seorang wanita hamil besar dan sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda memberikan bangku untuk wanita hamil itu!
Kemaren saya dan dua orang teman menumpang Kopaja P20 dari tempat makan siang kami menuju kantor, salah seorang teman saya sedang hamil besar. Persis di depan mata kami, bangku-bangku tersebut telah diduduki oleh beberapa pria. Yang sepertinya para pria itu BUTA semua! Mereka seolah tidak melihat (tidak mau melihat tepatnya), bahwa seorang wanita hamil besar berdiri di samping mereka. Apakah mereka lupa pelajaran etika berkendaraan umum? Harus memberikan tempat (duduk) kepada orang yang tua, wanita hamil dan wanita yang menggendong anak kecil?
Ingin rasanya saya berteriak tepat di kuping mereka, "pada buta lo semua yah??". Well, sebenarnya tidak terlalu bermasalah juga untuk teman saya itu, kami hanya melewati 3 halte, dan Alhamdulillah teman saya itu cukup kuat untuk berdiri beberapa menit di dalam bus.
BUT THAT'S NOT THE POINT!! AAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHHHH......
Saat itu kebetulan matahari ada 5 di atas ubun-ubun kepala! Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak gerai kopi sebelah kantor. Dan kami membicarakan kejadian ini. Dan.. semuanya merasa GERAM!!
Wahai para pria yang baik hati, saya tau sebenarnya kalian baik hati dan perduli. Hanya saja kalian terlalu MALAS untuk berdiri di bus. Smoga suatu hari nanti, jika kalian bertemu dengan Ibu Hamil, Orang jompo dan ibu menggendong / membawa anak-anak, kalian tidak MALAS lagi utk berdiri dan memberikan tempat duduk kalian.
Bagaimana tidak kesal? Jika melihat pria muda (bahkan remaja), seperti tidak punya mata melihat seorang wanita hamil besar dan sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda memberikan bangku untuk wanita hamil itu!
Kemaren saya dan dua orang teman menumpang Kopaja P20 dari tempat makan siang kami menuju kantor, salah seorang teman saya sedang hamil besar. Persis di depan mata kami, bangku-bangku tersebut telah diduduki oleh beberapa pria. Yang sepertinya para pria itu BUTA semua! Mereka seolah tidak melihat (tidak mau melihat tepatnya), bahwa seorang wanita hamil besar berdiri di samping mereka. Apakah mereka lupa pelajaran etika berkendaraan umum? Harus memberikan tempat (duduk) kepada orang yang tua, wanita hamil dan wanita yang menggendong anak kecil?
Ingin rasanya saya berteriak tepat di kuping mereka, "pada buta lo semua yah??". Well, sebenarnya tidak terlalu bermasalah juga untuk teman saya itu, kami hanya melewati 3 halte, dan Alhamdulillah teman saya itu cukup kuat untuk berdiri beberapa menit di dalam bus.
BUT THAT'S NOT THE POINT!! AAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHHHH......
Saat itu kebetulan matahari ada 5 di atas ubun-ubun kepala! Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak gerai kopi sebelah kantor. Dan kami membicarakan kejadian ini. Dan.. semuanya merasa GERAM!!
Wahai para pria yang baik hati, saya tau sebenarnya kalian baik hati dan perduli. Hanya saja kalian terlalu MALAS untuk berdiri di bus. Smoga suatu hari nanti, jika kalian bertemu dengan Ibu Hamil, Orang jompo dan ibu menggendong / membawa anak-anak, kalian tidak MALAS lagi utk berdiri dan memberikan tempat duduk kalian.
Wednesday, July 18, 2007
Bu, Abu, Ibu, Ibi
Sejak sebelum menikah pun saya berkeinginan anak-anak saya akan memanggil saya dengan sebutan Ibu. Bukan Mama. Ternyata tingkat kesulitan bagi seorang anak batita mengucapkan kata "IBU" cukup tinggi juga. Terbukti sewaktu Nasta seumuran Nara (<2 thn) dia tidak bisa mengucapkan "Ibu". Tapi dengan lantang dari umur 9 bulan sudah bisa mengucapkan "Ayah". Sedih? Pastinya!! Alhasil sempat sekali waktu Nasta memanggil saya dengan sebutan "Yeye". Hahahaha... ntah darimana dia mendapatkan ide untuk menyebut Yeye itu, dan sebutan itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya Nasta sudah bisa menyebut Ibu. Alhamdulillah.
Lain Nasta lain pula Nara. Dia cukup fasih mengucapkan kata "Ayah" dari sejak bisa mengeluarkan suara (agak hiperbola dikit boleh dong). Tapi untuk menyebut kata "Ibu" diperlukan usaha dan kesabaran saya sebagai Ibu nya untuk mendengar Nara memanggil saya Ibu. Hiks..
Kalau kami mencontohkan pengucapan "I-BU", dia hanya memonyongkan mulutnya menyerupai seruan "BU", tapi tidak ada suara. Kekekekekkkk... Ada untung nya juga sih, karena dia belum bisa bilang "ibu", jadi kalo terbangun tengah malam yang dipanggil adalah "AYAH". hahahahaha.... jadilah si ayah yang bangun meladeni keinginannya, si ibu? tetep tidur dong..
Sampai akhirnya Nara bisa mengucapkan kata "bu". Alhamdulillah. Eitss.. jangan senang dulu, karena Nara tidak mengucapkan "Ibu", melainkan "A-bu" waksss... dan jadilah beberapa saat Nara manggil saya dengan sebutan Abu. Sesekali dia bisa juga mengucapkan I-BU, atau E-BU. Yang penting "BU" nya jelas deh. Hehehehe...
Kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena saat ini Nara memanggil saya dengan sebutan "ibi". Pfewww...
"ndi, bi. ndi" yang artinya mandi ibu, mandi.
Lain Nasta lain pula Nara. Dia cukup fasih mengucapkan kata "Ayah" dari sejak bisa mengeluarkan suara (agak hiperbola dikit boleh dong). Tapi untuk menyebut kata "Ibu" diperlukan usaha dan kesabaran saya sebagai Ibu nya untuk mendengar Nara memanggil saya Ibu. Hiks..
Kalau kami mencontohkan pengucapan "I-BU", dia hanya memonyongkan mulutnya menyerupai seruan "BU", tapi tidak ada suara. Kekekekekkkk... Ada untung nya juga sih, karena dia belum bisa bilang "ibu", jadi kalo terbangun tengah malam yang dipanggil adalah "AYAH". hahahahaha.... jadilah si ayah yang bangun meladeni keinginannya, si ibu? tetep tidur dong..
Sampai akhirnya Nara bisa mengucapkan kata "bu". Alhamdulillah. Eitss.. jangan senang dulu, karena Nara tidak mengucapkan "Ibu", melainkan "A-bu" waksss... dan jadilah beberapa saat Nara manggil saya dengan sebutan Abu. Sesekali dia bisa juga mengucapkan I-BU, atau E-BU. Yang penting "BU" nya jelas deh. Hehehehe...
Kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena saat ini Nara memanggil saya dengan sebutan "ibi". Pfewww...
"ndi, bi. ndi" yang artinya mandi ibu, mandi.
Wednesday, July 11, 2007
Batuk nya Nasta
Seharusnya Nasta sudah mulai masuk sekolah, tapi sengaja saya suruh dia tetap di rumah sambil memulihkan tenaga. Sudah hampir dua minggu Nasta terserang batuk yang cukup parah. Dan kali ini saya 'lemah'. Hari pertama dia demam dan mulai batuk, saya langsung bawa dia ke dokter anak. Dan di hari itu juga dia mulai menelan beragam macam obat yang dimasukkan kedalam 1 botol antibiotik. Hiksss... (padahal menurut artikel yang saya baca, batuk/asma tidak harus selalu diobati dengan antibiotik)
Hari keempat masih demam dan batuk yang bertambah parah, karena banyak slem di dada. Tambah lagi obat-obatan yang diracik dalam 1 botol antibiotik. Sempat juga Nasta dibawa ke UGD nya sebuah rumah sakit di jalan Margonda, karena saya dan suami memutuskan untuk mencoba inhalasi untuk Nasta. Karena jujur saja, kami tidak sanggup mendengar suara grok grok dan (mungkin) rasa sesak di dada yang Nasta rasakan. Kalo kami ada di posisi nasta, mungkin kami akan lemas tidak karuan.
Nasta demam lebih dari 5 hari, on off on off, saya sudah kepikiran bahwa demam nya dia ini karena batuk, dan kemungkinan ada kuman di slem nya dia. Tapi kami coba juga test darah dan hasilnya Alhamdulillah baik-baik saja. Proses inhalasi tidak berjalan mulus, karena Nasta ternyata tidak suka. "BAU" katanya sewaktu masker menutupi mulut dan hidungnya. Alhasil, kami hanya berhasil "mendekatkan" masker ke mulut dia. Sebenernya kurang efektif, karena banyak obat yang terbuang.
Dugaan sementara dari dokter, Nasta kemungkinan Asma. Karena ada turunan asma dari pihak ayah Lutfi, jadi kami seperti mengamini. Ditambah memang dari bayi Nasta sering batuk grok grok gitu. masih inget kejadian Nasta batuk grok grok di kasih Izoniazid ma' DSA nya, pdhal tuh obat utk penderita TB. Aarrggghhh
Saya dan suami akhirnya coba cari dsa spesialis asma anak. Sampailah kami pada seorang dokter di daerah kebayoran, dan kami dapat nomor besar, sehingga kami dijadwalkan bertemu sang dokter jam 12 malam!!. Phewww..
OK, kita coba saja. Kondisi Nasta sendiri pada saat kami bawa ke dokter itu sudah membaik, sesekali masih batuk berdahak. Tapi memang karena sudah masa akan sembuh (batuk masa sembuhnya ± 14 hari). Hasil obrolan kami dengan pak dokter ini, blio memang mengatakan tenggorokannya Nasta sensitive. Karena ada riwayat keluarga penderita asma, memang ada kemungkinan Nasta bisa menderita asma (noted : sekarang blom asma). Jadi sebisa mungkin pencetus nya musti dihindari. Tidak boleh ada buku di kamar / lemari kamar, pakaian di lemari tidak boleh lebih dari 2 minggu menetap, karena masa hidup sang TUNGAU. Tidak boleh ada binatang peliharaan (untungnya kami tidak punya), tidak boleh pasang karpet (karpet terakhir di ruang tamu sudah di angkat), bersihakan filter AC seminggu sekali (pfuiih...), boneka bulu di cuci seminggu sekali, dll,dsb.
Untuk memastikan kondisi Nasta, pak dokter ini menyarankan untuk photo thorax dan sinus. Ahh.. smoga Nasta baik-baik saja.
Renungan buat Ibu Meli
- Smoga ini kali terakhir Nasta minum antibiotik lama (biasanya kalo dapat antibiotik, saya jarang sekali kasih ke Nasta. Apalagi kalo tau sakit nya karena virus)
- Smoga lain kali jika Nasta mengalami hal serupa, saya bisa lebih intens mengawasi Nasta, sehingga kami tidak perlu bolak balik ke dokter. Karena penyakit seperti ini yang diperlukan hanya istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak dan makan makanan bergizi.
- Smoga Nasta bisa lebih sehat dan jarang sakit. Amiiin.
Buat teman-teman yang memerlukan artikel tentang asma bisa di cari di sini
Hari keempat masih demam dan batuk yang bertambah parah, karena banyak slem di dada. Tambah lagi obat-obatan yang diracik dalam 1 botol antibiotik. Sempat juga Nasta dibawa ke UGD nya sebuah rumah sakit di jalan Margonda, karena saya dan suami memutuskan untuk mencoba inhalasi untuk Nasta. Karena jujur saja, kami tidak sanggup mendengar suara grok grok dan (mungkin) rasa sesak di dada yang Nasta rasakan. Kalo kami ada di posisi nasta, mungkin kami akan lemas tidak karuan.
Nasta demam lebih dari 5 hari, on off on off, saya sudah kepikiran bahwa demam nya dia ini karena batuk, dan kemungkinan ada kuman di slem nya dia. Tapi kami coba juga test darah dan hasilnya Alhamdulillah baik-baik saja. Proses inhalasi tidak berjalan mulus, karena Nasta ternyata tidak suka. "BAU" katanya sewaktu masker menutupi mulut dan hidungnya. Alhasil, kami hanya berhasil "mendekatkan" masker ke mulut dia. Sebenernya kurang efektif, karena banyak obat yang terbuang.
Dugaan sementara dari dokter, Nasta kemungkinan Asma. Karena ada turunan asma dari pihak ayah Lutfi, jadi kami seperti mengamini. Ditambah memang dari bayi Nasta sering batuk grok grok gitu. masih inget kejadian Nasta batuk grok grok di kasih Izoniazid ma' DSA nya, pdhal tuh obat utk penderita TB. Aarrggghhh
Saya dan suami akhirnya coba cari dsa spesialis asma anak. Sampailah kami pada seorang dokter di daerah kebayoran, dan kami dapat nomor besar, sehingga kami dijadwalkan bertemu sang dokter jam 12 malam!!. Phewww..
OK, kita coba saja. Kondisi Nasta sendiri pada saat kami bawa ke dokter itu sudah membaik, sesekali masih batuk berdahak. Tapi memang karena sudah masa akan sembuh (batuk masa sembuhnya ± 14 hari). Hasil obrolan kami dengan pak dokter ini, blio memang mengatakan tenggorokannya Nasta sensitive. Karena ada riwayat keluarga penderita asma, memang ada kemungkinan Nasta bisa menderita asma (noted : sekarang blom asma). Jadi sebisa mungkin pencetus nya musti dihindari. Tidak boleh ada buku di kamar / lemari kamar, pakaian di lemari tidak boleh lebih dari 2 minggu menetap, karena masa hidup sang TUNGAU. Tidak boleh ada binatang peliharaan (untungnya kami tidak punya), tidak boleh pasang karpet (karpet terakhir di ruang tamu sudah di angkat), bersihakan filter AC seminggu sekali (pfuiih...), boneka bulu di cuci seminggu sekali, dll,dsb.
Untuk memastikan kondisi Nasta, pak dokter ini menyarankan untuk photo thorax dan sinus. Ahh.. smoga Nasta baik-baik saja.
Renungan buat Ibu Meli
- Smoga ini kali terakhir Nasta minum antibiotik lama (biasanya kalo dapat antibiotik, saya jarang sekali kasih ke Nasta. Apalagi kalo tau sakit nya karena virus)
- Smoga lain kali jika Nasta mengalami hal serupa, saya bisa lebih intens mengawasi Nasta, sehingga kami tidak perlu bolak balik ke dokter. Karena penyakit seperti ini yang diperlukan hanya istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak dan makan makanan bergizi.
- Smoga Nasta bisa lebih sehat dan jarang sakit. Amiiin.
Buat teman-teman yang memerlukan artikel tentang asma bisa di cari di sini
Tuesday, June 26, 2007
Asa
Kehilangan kesempatan pastinya bikin semua orang sedih, dan mungkin semuanya akan berpikir, seandainya kita bisa kembali ke suatu masa dimana kita bisa memperbaiki sesuatu sehingga kita tidak kehilangan kesempatan itu.
Tapi mungkin sebagian besar orang akan mengatakan, ambil hikmah dari semua kejadian dan belajar dari kegagalan. Saya 100% setuju. Saya pun berusaha untuk ikhlas dan semoga lebih mengerti dari kegagalan saya ini.
Mengawali kejadian ini pun, saya sudah berusaha untuk berpikir positif dan siap kecewa jika hasilnya tidak sesuai keinginan. Menjalani proses sebaik-baiknya. Dan berdoa, jika memang hal ini terbaik dari Allah SWT, please make it happen. Tapi jika tidak, smoga saya diberi kesabaran, keihlasan dan pengertian akan semua hal ini.
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat ummat Mu ini. Berkahilah kehidupan kami sekeluarga. Amiiin.
Tapi mungkin sebagian besar orang akan mengatakan, ambil hikmah dari semua kejadian dan belajar dari kegagalan. Saya 100% setuju. Saya pun berusaha untuk ikhlas dan semoga lebih mengerti dari kegagalan saya ini.
Mengawali kejadian ini pun, saya sudah berusaha untuk berpikir positif dan siap kecewa jika hasilnya tidak sesuai keinginan. Menjalani proses sebaik-baiknya. Dan berdoa, jika memang hal ini terbaik dari Allah SWT, please make it happen. Tapi jika tidak, smoga saya diberi kesabaran, keihlasan dan pengertian akan semua hal ini.
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat ummat Mu ini. Berkahilah kehidupan kami sekeluarga. Amiiin.
Friday, June 08, 2007
Ulah Nasta
Potong Rambut
Akhirnya.... iya, kalo boleh saya bilang "akhirnya" kejadian ini terjadi juga di anak saya. Seringkali saya mendengar anak kecil ada masanya akan menggunting rambutnya sendiri. Dan terus terang saya menunggu saat itu. Hahahaha... maksudnya sih pengen tau aja, apa anak gw se"creative" anak-anak lain yang pernah melakukannya. Dan ternyata sekarang sudah terbukti.
Pulang kantor langsung dapat laporan, Nasta potong rambut. Sekilas saya lihat, ga ada yang aneh dengan rambut nya. Poni masih tetap sama panjang, bagian depan juga mulus. Ternyata dia potong bagian belakang. Hahahaha.... hhmmm.... ga keliatan kok. Tapi kalo diperhatikan baik-baik, memang aneh.
Dasar anak, dia bangga sekali lho bisa "potong rambut sendiri". Dan pastinya, dia ngomong itu tanpa ada perasaan bersalah, mungkin Nasta pikir, "kenapa sih, potong rambut dikit aja heboh banget."
Pfuihh... Ata..... ata.....
Masak "Kreppy Patty"
Semalam ayah cerita kalo Dani menangis karena Nasta. Deg. Saya langsung sedih. Apa yang sudah Nasta perbuat? Kok Dani bisa nangis? FYI, Dani itu lelaki dan lebih tua 1,5 tahun dari Nasta. Saya tidak ingin Nasta & Nara jadi anak yang suka mukul.
Sampai rumah, kebetulan Nasta belum tidur. Saya langsung ajak dia ngobrol.
Saya : Ibu denger tadi siang Dani nangis. Kenapa?
Ata : Iya, aku mau bikin Kreppy Patty, sama Dani ga boleh.
Terus dilanjutkan penjelasan dari mbak nya, Nasta ngejar-ngejar Dani pake sodet. Dani nya lari-lari ketakutan gitu, takut kena pukul. Trus Dani nangis. Ga lama Nasta nya juga nangis, karena sodet nya di ambil.
Ya Tuhan...
antara mau ketawa, tapi juga prihatin. Ternyata anak saya "galak" juga. alhasil, saya mencoba terus menjelaskan ke Nasta bahwa perbuatannya itu tidak baik. Dan tidak boleh di ulang lagi. Kepada Dani pun saya berpesan, kalo Nasta berbuat nakal lagi, kasih tau saya.
Ulangan Umum di TPA
Semalam saya baru membaca lembaran pengumuman dari TPA Adz-Dzikri, tempat Nasta sehari-hari menghabiskan waktu nya di sore hari. Nasta belum terdaftar resmi sebagai murid TPA itu. Hanya karena sang Oma pengurus mesjid, jadi status nasta adalah, "murid titipan".
Pengumuman itu berupa pemberitahuan Ulangan Umum di TPA tersebut. Jujur saja, saya dan suami sedikit panik. Karena kami kurang mengikuti pelajaran yang telah Nasta pelajari selama di TPA itu. Kami selalu berpikir, Nasta hanya murid titipan. Jadi belum terlalu banyak pelajarannya.
Ternyata oh ternyata.. walaupun ada "contekan" bacaan hadist dan surat pendek serta menghitung dengan bahasa Arab, saya jadi ketakutan sendiri. Hah? Bisa ga Nasta ngikutin "ujian" ini. Akhirnya kami sepakat, ya sudah lah, biar Nasta belajar "ulangan umum". Hihihihi....
Doakan yah, smoga minggu depan Nasta bisa mengikuti "ulangan umum" pertama nya itu.
Akhirnya.... iya, kalo boleh saya bilang "akhirnya" kejadian ini terjadi juga di anak saya. Seringkali saya mendengar anak kecil ada masanya akan menggunting rambutnya sendiri. Dan terus terang saya menunggu saat itu. Hahahaha... maksudnya sih pengen tau aja, apa anak gw se"creative" anak-anak lain yang pernah melakukannya. Dan ternyata sekarang sudah terbukti.
Pulang kantor langsung dapat laporan, Nasta potong rambut. Sekilas saya lihat, ga ada yang aneh dengan rambut nya. Poni masih tetap sama panjang, bagian depan juga mulus. Ternyata dia potong bagian belakang. Hahahaha.... hhmmm.... ga keliatan kok. Tapi kalo diperhatikan baik-baik, memang aneh.
Dasar anak, dia bangga sekali lho bisa "potong rambut sendiri". Dan pastinya, dia ngomong itu tanpa ada perasaan bersalah, mungkin Nasta pikir, "kenapa sih, potong rambut dikit aja heboh banget."
Pfuihh... Ata..... ata.....
Masak "Kreppy Patty"
Semalam ayah cerita kalo Dani menangis karena Nasta. Deg. Saya langsung sedih. Apa yang sudah Nasta perbuat? Kok Dani bisa nangis? FYI, Dani itu lelaki dan lebih tua 1,5 tahun dari Nasta. Saya tidak ingin Nasta & Nara jadi anak yang suka mukul.
Sampai rumah, kebetulan Nasta belum tidur. Saya langsung ajak dia ngobrol.
Saya : Ibu denger tadi siang Dani nangis. Kenapa?
Ata : Iya, aku mau bikin Kreppy Patty, sama Dani ga boleh.
Terus dilanjutkan penjelasan dari mbak nya, Nasta ngejar-ngejar Dani pake sodet. Dani nya lari-lari ketakutan gitu, takut kena pukul. Trus Dani nangis. Ga lama Nasta nya juga nangis, karena sodet nya di ambil.
Ya Tuhan...
antara mau ketawa, tapi juga prihatin. Ternyata anak saya "galak" juga. alhasil, saya mencoba terus menjelaskan ke Nasta bahwa perbuatannya itu tidak baik. Dan tidak boleh di ulang lagi. Kepada Dani pun saya berpesan, kalo Nasta berbuat nakal lagi, kasih tau saya.
Ulangan Umum di TPA
Semalam saya baru membaca lembaran pengumuman dari TPA Adz-Dzikri, tempat Nasta sehari-hari menghabiskan waktu nya di sore hari. Nasta belum terdaftar resmi sebagai murid TPA itu. Hanya karena sang Oma pengurus mesjid, jadi status nasta adalah, "murid titipan".
Pengumuman itu berupa pemberitahuan Ulangan Umum di TPA tersebut. Jujur saja, saya dan suami sedikit panik. Karena kami kurang mengikuti pelajaran yang telah Nasta pelajari selama di TPA itu. Kami selalu berpikir, Nasta hanya murid titipan. Jadi belum terlalu banyak pelajarannya.
Ternyata oh ternyata.. walaupun ada "contekan" bacaan hadist dan surat pendek serta menghitung dengan bahasa Arab, saya jadi ketakutan sendiri. Hah? Bisa ga Nasta ngikutin "ujian" ini. Akhirnya kami sepakat, ya sudah lah, biar Nasta belajar "ulangan umum". Hihihihi....
Doakan yah, smoga minggu depan Nasta bisa mengikuti "ulangan umum" pertama nya itu.
Tuesday, June 05, 2007
Menunggu itu membosankan
Saat ini saya sedang dalam kondisi menunggu. Menunggu jemputan. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 19.18, pfuihh...
Dan dalam kondisi agak sedikit menyesal.. kenapa saya tadi tidak langsung pulang saja jam 5 teng. Seandainya saya langsung pulang, tidak minta di jemput, tentunya saat ini saya sudah bercengkerama dengan kedua bidadari saya.
Seandainya saya pulang duluan.... aaaaaaaaahhhh..... lamanya...
SMS baru, "sudah dekat kantor".
Ups.. saya pamit dulu yah.
Dan dalam kondisi agak sedikit menyesal.. kenapa saya tadi tidak langsung pulang saja jam 5 teng. Seandainya saya langsung pulang, tidak minta di jemput, tentunya saat ini saya sudah bercengkerama dengan kedua bidadari saya.
Seandainya saya pulang duluan.... aaaaaaaaahhhh..... lamanya...
SMS baru, "sudah dekat kantor".
Ups.. saya pamit dulu yah.
Monday, June 04, 2007
Butuh uang? ke ATM aja
Sudah lama saya tidak bercerita tentang Nasta dan Nara. Sudah smakin banyak polah dari kedua orang bidadari kecil saya itu. Nasta (bentar lagi 4th) sudah smakin bijak. Nara (16 bulan) cenderung mengikuti kelakuan kakak nya.
Nara sudah bisa manggil saya, "booooooo" :D
Dan lucunya, dia senang sekali mengucapkan kata "apel". Kami memang senang melihat dia mengucapkan kata itu, karena pas ucapan "pel", dia akan melipat lidahnya. Lucu dan menggemaskan sekali. Sedihnya, karena Nara tidak memakai anting-anting, jadi tidak sedikit orang yang mengira Nara adalah anak laki. Seringkali orang-orang mengatakan, "enak yah, anaknya sudah sepasang." Wakkksss... huwaaaaaaa.... anak saya perempuan... Hhm.. resiko deh.. tapi mau gimana lagi? lubang anting nya sudah tertutup, dan harus menunggu Nara besar untuk buat lubang anting baru.
Lain Nara, lain pula Nasta. Anak ini memang seringkali "menguji kesabaran" ibu dan ayahnya. Suatu saat dia bisa begitu menyenangkan, sehingga saya tidak akan berhenti menciumnya. Tapi, kalo dia sudah berubah menjadi anak yang "menyebalkan" AAAAAAAAARGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH... rasanya saya ingin menangis saja...
Tapi sampai saat ini sih lebih banyak menyenangkannya kok. Belum tau nanti kedepannya. Pfuih...
Smoga saja baik saya dan suami saya bisa menjadi orang tua yang sabar dan lebih mengerti anak-anak nya. Amiiin.
Nasta juga masih suka becanda garing, bisa liat di sini. Duh.. menyesal saya, sudah lama tidak menulis tentang kegaringan dia, karena suatu hari nanti pasti bisa jadi obrolan menarik. Hahahahaha...
Sudah beberapa kali saya sering mendengar Nasta berbicara soal uang. Awalnya dari si mba, Nasta minta dibeliin sesuatu di warung. Mba nya bilang, "mba ga punya uang Ta." Dan dengan enteng nya nasta bilang, "mba ambil aja dulu di ATM." hihihihihihihi... Dan hal itu terjadi juga dengan kami, ayah dan ibu nya. Mentang-mentang setiap mau ambil uang kami suka ajak dia ke ATM.
Hahahaaha.. bisa-bisa bentar lagi dia akan mengerti, kalo untuk belanja bisa "gesek kartu aja"
Nara sudah bisa manggil saya, "booooooo" :D
Dan lucunya, dia senang sekali mengucapkan kata "apel". Kami memang senang melihat dia mengucapkan kata itu, karena pas ucapan "pel", dia akan melipat lidahnya. Lucu dan menggemaskan sekali. Sedihnya, karena Nara tidak memakai anting-anting, jadi tidak sedikit orang yang mengira Nara adalah anak laki. Seringkali orang-orang mengatakan, "enak yah, anaknya sudah sepasang." Wakkksss... huwaaaaaaa.... anak saya perempuan... Hhm.. resiko deh.. tapi mau gimana lagi? lubang anting nya sudah tertutup, dan harus menunggu Nara besar untuk buat lubang anting baru.
Lain Nara, lain pula Nasta. Anak ini memang seringkali "menguji kesabaran" ibu dan ayahnya. Suatu saat dia bisa begitu menyenangkan, sehingga saya tidak akan berhenti menciumnya. Tapi, kalo dia sudah berubah menjadi anak yang "menyebalkan" AAAAAAAAARGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH... rasanya saya ingin menangis saja...
Tapi sampai saat ini sih lebih banyak menyenangkannya kok. Belum tau nanti kedepannya. Pfuih...
Smoga saja baik saya dan suami saya bisa menjadi orang tua yang sabar dan lebih mengerti anak-anak nya. Amiiin.
Nasta juga masih suka becanda garing, bisa liat di sini. Duh.. menyesal saya, sudah lama tidak menulis tentang kegaringan dia, karena suatu hari nanti pasti bisa jadi obrolan menarik. Hahahahaha...
Sudah beberapa kali saya sering mendengar Nasta berbicara soal uang. Awalnya dari si mba, Nasta minta dibeliin sesuatu di warung. Mba nya bilang, "mba ga punya uang Ta." Dan dengan enteng nya nasta bilang, "mba ambil aja dulu di ATM." hihihihihihihi... Dan hal itu terjadi juga dengan kami, ayah dan ibu nya. Mentang-mentang setiap mau ambil uang kami suka ajak dia ke ATM.
Hahahaaha.. bisa-bisa bentar lagi dia akan mengerti, kalo untuk belanja bisa "gesek kartu aja"
Subscribe to:
Posts (Atom)