Jangan pernah cerita masalah rumah tangga khususnya kepada teman lawan jenis, karena bisa menjadi pencetus hubungan emosional yang lebih mendalam.
Percaya atau tidak, hanya diri kita sendiri lah yang bisa mengetahui. Apakah kita akan terus bermain api atau bisa membatasi diri dalam setiap ucapan kita ke teman lawan jenis.
Dan jika tidak ingin mengganggu rumah tangga orang, terlebih rumah tangga diri sendiri, bijak lah dalam bersikap. Pikir panjang sebelum berucap.
Jika keadaan sudah smakin parah, hanya kerugian yang akan datang. Tidak akan ada yang pernah menang dalam permainan seperti ini.
For you : my best friend
A mother of two beloved daughters, Nasta and Nara. A lovely wife for my lovely hubby.
Saturday, April 26, 2008
Coklat ... GA ENAK
Itu kata Nasta
Kalo Ibu nya sih.. maniak coklat ... yang sayang nya, sejak ketahuan Nasta alergi makan makanan rasa coklat, ibu nya jadi mengurangi makan coklat juga.
Iya, Nasta alergi makan/minuman rasa coklat. Kasihan kan? Kalo dia makan/minum rasa coklat, hampir bisa dipastikan beberapa hari kemudian dia akan batuk. Dan jika sudah batuk, asma nya kambuh.. hiks.. kasihan kan?
Saat ini Nasta lagi batuk. Dan Kamis kemaren, mau tidak mau, suka tidak suka Nasta harus di inhalasi untuk mengurangi sesak napas nya. Ayah bertanya sedikit curiga, entah ke Ibu atau ke Nasta, "Kakak ga makan coklat kan?" Ibu dan Nasta hanya berpandang-pandangan, "Sepertinya ga deh."
Sebenarnya Nasta pernah nyoba susu Milo nya Ibu, sedikit aja kok. Tapi saya ga berani bilang, masa susu Milo sedikit aja langsung batuk sih????
Pagi nya, Nasta sudah baikan. Tidak terlalu heboh mengi nya. Dan dia langsung teringat, "Ibu, waktu kakak dari Kubah Emas kan makan biskuit coklat."
"Oh iya!!!! Ibu lupa! Hehehe.. malah kakak yang ingat.. "
Padahal, Nasta hanya makan tidak lebih dari 3 keping lho! Dan akhirnya Nasta benar-benar mengerti bahwa dia sama sekali tidak boleh makan makanan/minuman rasa coklat. Lalu dia ngomong, "Coklat itu GA ENAK!!!"
Kalo Ibu nya sih.. maniak coklat ... yang sayang nya, sejak ketahuan Nasta alergi makan makanan rasa coklat, ibu nya jadi mengurangi makan coklat juga.
Iya, Nasta alergi makan/minuman rasa coklat. Kasihan kan? Kalo dia makan/minum rasa coklat, hampir bisa dipastikan beberapa hari kemudian dia akan batuk. Dan jika sudah batuk, asma nya kambuh.. hiks.. kasihan kan?
Saat ini Nasta lagi batuk. Dan Kamis kemaren, mau tidak mau, suka tidak suka Nasta harus di inhalasi untuk mengurangi sesak napas nya. Ayah bertanya sedikit curiga, entah ke Ibu atau ke Nasta, "Kakak ga makan coklat kan?" Ibu dan Nasta hanya berpandang-pandangan, "Sepertinya ga deh."
Sebenarnya Nasta pernah nyoba susu Milo nya Ibu, sedikit aja kok. Tapi saya ga berani bilang, masa susu Milo sedikit aja langsung batuk sih????
Pagi nya, Nasta sudah baikan. Tidak terlalu heboh mengi nya. Dan dia langsung teringat, "Ibu, waktu kakak dari Kubah Emas kan makan biskuit coklat."
"Oh iya!!!! Ibu lupa! Hehehe.. malah kakak yang ingat.. "
Padahal, Nasta hanya makan tidak lebih dari 3 keping lho! Dan akhirnya Nasta benar-benar mengerti bahwa dia sama sekali tidak boleh makan makanan/minuman rasa coklat. Lalu dia ngomong, "Coklat itu GA ENAK!!!"
Ke sini yah ..
Terima kasih sudah mampir ...
Saya jarang posting di sini, silahkan mampir ke sini untuk cerita baru ..
Salam sayang
Saya jarang posting di sini, silahkan mampir ke sini untuk cerita baru ..
Salam sayang
Saturday, November 10, 2007
Spagheti Schottel
Weekend ini saya masak Spagheti Schottel, resep masih di ambil dari blog Dapur Bunda. Thanks Nong. Bahan-bahannya ga jauh beda dengan makaroni schottel lah.. hanya beda jenis pasta nya aja. Udah ketauan dong dari namanya :D
Bahan :
1 bungkus spagheti
200 gr daging cincang (saya lebihkan jadi 300 gram, karena punyanya segini)
1 kaleng susu evaporated (tapi saya tambah 1 kotal 200ml ultra putih)
5 telor
1 bungkus keju cheddar
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih (resep asli hanya 2 siung)
1 batang daun bawang
1 sdt pala bubuk
2 sdt garam (resep asli hanya 1 sdt)
1 sdt gula pasir
merica sesukanya.. (resep asli hanya 1 sdt)
Cara masak :
Tumis bawa bawang bombay, bawang putih dan daun bawang sampai harum
masukkan daging cincang, masak hingga matang
Campur susu + telor + pala bubuk, kocok.
campurkan tumisan daging dan campuran susu telor
rebus spagheti, tiriskan
siapkan pyrex
tuangkan sedikit susu dan daging ke dalam pyrex itu
taro spagheti sesuka hati
tuang sisa daging dan susu sampai membanjiri spagheti
tabur keju parut (kayanya lebih enak kalo dilebihin deh)
panggang
hasilnya?? Alhamdulillah enakkkk.....
Maaf, gambar tidak tersedia.
Bahan :
1 bungkus spagheti
200 gr daging cincang (saya lebihkan jadi 300 gram, karena punyanya segini)
1 kaleng susu evaporated (tapi saya tambah 1 kotal 200ml ultra putih)
5 telor
1 bungkus keju cheddar
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih (resep asli hanya 2 siung)
1 batang daun bawang
1 sdt pala bubuk
2 sdt garam (resep asli hanya 1 sdt)
1 sdt gula pasir
merica sesukanya.. (resep asli hanya 1 sdt)
Cara masak :
Tumis bawa bawang bombay, bawang putih dan daun bawang sampai harum
masukkan daging cincang, masak hingga matang
Campur susu + telor + pala bubuk, kocok.
campurkan tumisan daging dan campuran susu telor
rebus spagheti, tiriskan
siapkan pyrex
tuangkan sedikit susu dan daging ke dalam pyrex itu
taro spagheti sesuka hati
tuang sisa daging dan susu sampai membanjiri spagheti
tabur keju parut (kayanya lebih enak kalo dilebihin deh)
panggang
hasilnya?? Alhamdulillah enakkkk.....
Maaf, gambar tidak tersedia.
Tuesday, November 06, 2007
Brownies, Bubur Menado & Ayam Woku Belanga
Ternyata saya bisa masak!! Mohon maaf jika saya sedikit sombong kali ini, tapi saya benar-benar memasak. Makanan yang saya masak pun tergolong tidak mudah, menurut orang-orang. Hahahahaha....
Ceritanya Sabtu kemaren kan hujan tuh, saya mencari cemilan sore. Alhamduillah banyak makanan sih, kue kering lebaran masih banyak di meja tamu, belom lagi stok di lemari... siapa yang mo ngabisin yah??? Tapi saya ga pengen makan kue kering itu, saya pengen pancake nih. Lalu saya bertanya ke tukang masak, bisa bikin pancake kan?? buatin dong. Tapi saya harus kecewa, karena mba tukang masak ini tidak pernah meracik adonan. Biasanya dia hanya membuat/memasak saja. Adonan yang buat ibu, mba. Hhmmm.... mama memang lagi ga di rumah sore itu. Duh.. padahal gampang banget lho, pikir saya. Tahu kok bahan yang diperlukan apa saja, tapi saya tidak tahu ukuran nya, tepung berapa, telor berapa, susu berapa.... sigh.... mau telpon mertua? Gengsi ah..
Trus saya ingat punya resep brownies dari jaman saya masih aktif ikut milis Dapur Bunda nya alm. Inong. Lalu saya lihat persediaan bahan mentah, hhmm... hanya ada telor 2 butir, kurang. Lalu minta tolong asisten rumah tangga beli telur di warung. Waduh!! coklat bubuk nya kok ga ada? Terpaksa asisten balik ke warung. Hmmm... OK, oh iya perlu mixer. Saya ambil mixer yang sudah lama sekali tidak saya pakai itu. OK, siap. Aduk telor 4 butir dengan 2 cup gula pasir hingga kaku...masukkan tepung terigu 2 cups, coklat bubuk 3/4 cup, minyak 1 cup, garam 1sdt, vanili 1 sdt. Kocok. Siapkan loyang. Aduh...loyang brownies saya mana yah??? Ga sempet nyari, alhasil pake loyang kue bekas bikin nastar... hhhmm.. jadinya kaya apa nanti? Ahh.. cuek lah. Tuangkan adonan ke dalam loyang, panggang. Hhhmmm... mudah kan?? Dan hasilnya pun, alhamdulillah layak makan. Bohong deh... ENAK BANGET TAU!!
Minggu pagi, setelah shalat shubuh saya tidak tidur lagi. Melainkan langsung ke dapur, karena saya sedang ingin membuat bubur menado dan ayam woku belanga. Bubur menado ambil resepnya dari internet, maaf saya lupa. Masaknya mudah (banget) ternyata. Beras 500gram, saya malas nimbang, jadi kira2 aja deh. Daun-daun yang diperlukan, kemaren saya pake daun kangkung, kemangi dan daun melinjo, jagung juga. Masak beras hingga setengah matang, masukkan jagung, dan sereh 1 batang (di geprek dulu), lalu masukkan segala jenis daun-daun itu. aduk aduk aduk.... jadi deh... dan rasanya, cukup mengobati keinginan mertua yang dah lama pengen makan bubur menado. Sambal nya... TOP juga... cabe keriting, cabe rawit merah di goreng, trus di ulek ma' terasi dan gula merah. Pedes manis nya pas. Eitss.. tapi urusan mengulek sambel saya serahkan ke asisten rumah tangga. Sayangnya tidak ada ikan asin kipas (kurang tau nama persisnya), jadi pake ikan jambal biasa. Ah... tetep enak kok... Boleh lah memuji sendiri...
Proyek kedua, memasak ayam woku belanga resep dari Dapur Bunda. Ah... Inong, sayang.. gw ga bisa langsung bertanya... tapi blog ini ternyata sangat bermanfaat. Gw bisa tiap saat mencari makanan yang gw inginkan. Ayam woku belanga ini bahan utamanya ayam negeri (ya pasti ayam lah.. gimana sih meli), kemiri, bawang merah, sereh, jahe 1 ruas, kunyit 1 ruas di blender. trus pake daun kemangi dan daun bawang untuk efek ijo-ijo nya itu lho... hhhmmm.... ngeliat gambar nya aja udah bikin ngiler. Harus pedes nih, pikir saya. Karena makanan menado kalo ga pedes, kurang mantappp....
Dan.... taraaaaaaaaaaa.... alhamdulillah ayam woku belanga made in Meli sudah siap dan layak dimakan. Hhmm.... ternyata memasak itu tidak sulit, dengan catatan kalo saya lagi pengen masak. Biasanya sih abis masak sekali ini, diperlukan waktu lagi untuk mulai masak lagi... hihihihih....
eits... tenang aja... saya sudah mengumpulkan banyak sekali resep-resep yang menurut saya mudah, dan saya suka. Oh iya, saya harus memberikan catatan khusus sepertinya, saya hanya akan masak makanan yang saya suka. Karena jika orang-orang tidak suka / kurang suka, saya bisa menghabiskannya. Benar kan???
next project, pengen bikin pastel tutup atau spageti schottel (resep lagi-lagi dari inong).
Ceritanya Sabtu kemaren kan hujan tuh, saya mencari cemilan sore. Alhamduillah banyak makanan sih, kue kering lebaran masih banyak di meja tamu, belom lagi stok di lemari... siapa yang mo ngabisin yah??? Tapi saya ga pengen makan kue kering itu, saya pengen pancake nih. Lalu saya bertanya ke tukang masak, bisa bikin pancake kan?? buatin dong. Tapi saya harus kecewa, karena mba tukang masak ini tidak pernah meracik adonan. Biasanya dia hanya membuat/memasak saja. Adonan yang buat ibu, mba. Hhmmm.... mama memang lagi ga di rumah sore itu. Duh.. padahal gampang banget lho, pikir saya. Tahu kok bahan yang diperlukan apa saja, tapi saya tidak tahu ukuran nya, tepung berapa, telor berapa, susu berapa.... sigh.... mau telpon mertua? Gengsi ah..
Trus saya ingat punya resep brownies dari jaman saya masih aktif ikut milis Dapur Bunda nya alm. Inong. Lalu saya lihat persediaan bahan mentah, hhmm... hanya ada telor 2 butir, kurang. Lalu minta tolong asisten rumah tangga beli telur di warung. Waduh!! coklat bubuk nya kok ga ada? Terpaksa asisten balik ke warung. Hmmm... OK, oh iya perlu mixer. Saya ambil mixer yang sudah lama sekali tidak saya pakai itu. OK, siap. Aduk telor 4 butir dengan 2 cup gula pasir hingga kaku...masukkan tepung terigu 2 cups, coklat bubuk 3/4 cup, minyak 1 cup, garam 1sdt, vanili 1 sdt. Kocok. Siapkan loyang. Aduh...loyang brownies saya mana yah??? Ga sempet nyari, alhasil pake loyang kue bekas bikin nastar... hhhmm.. jadinya kaya apa nanti? Ahh.. cuek lah. Tuangkan adonan ke dalam loyang, panggang. Hhhmmm... mudah kan?? Dan hasilnya pun, alhamdulillah layak makan. Bohong deh... ENAK BANGET TAU!!
Minggu pagi, setelah shalat shubuh saya tidak tidur lagi. Melainkan langsung ke dapur, karena saya sedang ingin membuat bubur menado dan ayam woku belanga. Bubur menado ambil resepnya dari internet, maaf saya lupa. Masaknya mudah (banget) ternyata. Beras 500gram, saya malas nimbang, jadi kira2 aja deh. Daun-daun yang diperlukan, kemaren saya pake daun kangkung, kemangi dan daun melinjo, jagung juga. Masak beras hingga setengah matang, masukkan jagung, dan sereh 1 batang (di geprek dulu), lalu masukkan segala jenis daun-daun itu. aduk aduk aduk.... jadi deh... dan rasanya, cukup mengobati keinginan mertua yang dah lama pengen makan bubur menado. Sambal nya... TOP juga... cabe keriting, cabe rawit merah di goreng, trus di ulek ma' terasi dan gula merah. Pedes manis nya pas. Eitss.. tapi urusan mengulek sambel saya serahkan ke asisten rumah tangga. Sayangnya tidak ada ikan asin kipas (kurang tau nama persisnya), jadi pake ikan jambal biasa. Ah... tetep enak kok... Boleh lah memuji sendiri...
Proyek kedua, memasak ayam woku belanga resep dari Dapur Bunda. Ah... Inong, sayang.. gw ga bisa langsung bertanya... tapi blog ini ternyata sangat bermanfaat. Gw bisa tiap saat mencari makanan yang gw inginkan. Ayam woku belanga ini bahan utamanya ayam negeri (ya pasti ayam lah.. gimana sih meli), kemiri, bawang merah, sereh, jahe 1 ruas, kunyit 1 ruas di blender. trus pake daun kemangi dan daun bawang untuk efek ijo-ijo nya itu lho... hhhmmm.... ngeliat gambar nya aja udah bikin ngiler. Harus pedes nih, pikir saya. Karena makanan menado kalo ga pedes, kurang mantappp....
Dan.... taraaaaaaaaaaa.... alhamdulillah ayam woku belanga made in Meli sudah siap dan layak dimakan. Hhmm.... ternyata memasak itu tidak sulit, dengan catatan kalo saya lagi pengen masak. Biasanya sih abis masak sekali ini, diperlukan waktu lagi untuk mulai masak lagi... hihihihih....
eits... tenang aja... saya sudah mengumpulkan banyak sekali resep-resep yang menurut saya mudah, dan saya suka. Oh iya, saya harus memberikan catatan khusus sepertinya, saya hanya akan masak makanan yang saya suka. Karena jika orang-orang tidak suka / kurang suka, saya bisa menghabiskannya. Benar kan???
next project, pengen bikin pastel tutup atau spageti schottel (resep lagi-lagi dari inong).
Monday, October 29, 2007
Keinginan
Ntah kenapa keinginan untuk pindah ke rumah sendiri lagi tinggi. Semalam, setelah shalat malam ntah saya bermimpi atau justru saya tidak tidur sebenarnya, saya sudah membayangkan akan merenovasi rumah. Jebol ini, bangun itu, kamar mandi anak-anak di tambah, dek jemuran, pengen punya mesin cuci yang mahal itu (tapi praktis - kata yang udah punya), pengen kitchen set yang simpel dan praktis, mengingat saya kurang jago masak, pengen kolam ikan Koi, pengen pake AC di seluruh ruangan, pengen nambah kamar pembantu, pengen ini, pengen itu......
Pfuih... smoga keinginan saya dapat segera terwujud. Amiiiinnn....
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat kami sekeluarga. Amiiin..
ps: yang lagi dilema menghadapi masalah pembantu.
Pfuih... smoga keinginan saya dapat segera terwujud. Amiiiinnn....
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat kami sekeluarga. Amiiin..
ps: yang lagi dilema menghadapi masalah pembantu.
Thursday, September 13, 2007
Senin, 10 September 2007
Yaa ayyatuhan nafsul muthma’innah, irji’ii ila rabbiki raadhiyatam mardhiyyah. Fadkhulli fii ‘baadi wad khuli jannati
Wahai jiwa yang tenang kemballah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lag di ridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba ku dan masuklah ke dalam surga –Ku\
(QS. Al-Fajr (89) ayat 27 – 30)
Innaa Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun
Sesungguhnya kami adalah milk Allah dan kepada Nya kami kembali
Manusia hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jalan menuju kematian tiap manusia pun tidak pernah sama. Alhamdulillah almarhum papa (mertua) Djamadil Agus Alwi (74 tahun) boleh dibilang meninggal dengan tenang, cepat dan tidak terlalu menderita, menurut saya. Mungkin papa sendiri sebelumnya sudah menderita. Blio kesulitan bernafas dan terlihat sekali blio tidak bisa bernafas akibat asma akut yang dideritanya.
Senin malam saya dan Uni Anis sudah menuju rumah, di sekitar Lenteng Agung saya dengar Uni terima telpon dari rumah. "ada d lemari", kata uni sedikit kesal. Hhmm.. pasti papa pikir saya. Karena papa memang selalu mengandalkan uni jika ada apa-apa, terutama masalah obat-obatan. Saat itu mungkin dalam pikiran uni, papa mengada-ada lagi mengenai sesak nafas nya itu. Sepuluh menit kemudian, di telpon lagi dari rumah, uni masih menjawab seadanya "iya iya ini udah di margonda. Sabar dikit dong." Hhhm.. kalo memang uni bicara dengan papa, saya sempat ngebatin – uni sedikit kasar - :D tapi karena saya sendiri tahu bagaimana papa, jadi agak maklum. Papa itu sudah sedikit (atau banyak yah?) pikun. Dan keras kepala. Hmm… ketauan kan darimana sifat keras nya si abang turunan siapa? Saat itu di mobil, kami masih beranggapan bahwa papa hanya "sesak nafas" biasa, makanya blio ribut cari ventolin. Saya pun ngomong ke Uni, "sirup markisa uni yang buka bukan?" "Bukan", jawab uni. "Soalnya, baik abang maupun meli ga ada yg pernah minum sirup itu, tapi sekarang sudah mau habis." Tersangka utama tentu lah si papa. Yang memang suka minum dingin, tidak bisa dilarang, kalo pun di larang papa bilang "hanya minum sedikit". Jadi saat di mobil kami mengasumsi papa kambuh sesak nafas nya karena minum dingin. Sampai di komplek handphone uni berdering lagi "ya udah di komplek". Kata uni singkat. Huu.. kalo masih jauh gimana?, uni sedikit menggerundel.
Sampai di depan rumah papa sudah bergegas jalan menuju mobil dituntun oleh Bu Diah. Terlihat papa sudah panik, karena kesulitan bernafas. "Susah .. susah nafas..", kata papa terengah-engah. "Iya kita langsung ke rumah sakit, sabar", kata uni cepat. Saya pun ngikut lagi masuk ke dalam. "Papa duduk depan aja", kata papa. "Ehh.. jangan", sahut saya cepat, papa di belakang, meli yg di depan. Di dalam mobil papa duduk pegang jok depan, "susah susah nafas nya..", kata papa. "iya sabar, istighfar", kata uni lagi. Sambil bantu mengucapkan, astahfirullah al adziim. Terus di ulang-ulang. Saya bantu pegang tangan papa, seakan-akan ingin memberikan kekuatan kepada papa. Saya bingung harus ngapain lagi, melihat papa kesulitan bernafas. Saya hanya bisa berkata, sabar pa, istighfar. Sempat terucap oleh papa –sulit sulit sekali bernafas "pa, sabar pa". Uni mungkin tidak melihat ekspresi papa karena uni nyetir mobil. Tapi saya yang melihat muka papa, smakin tidak tega. Sabar pa, rumah sakit nya sudah dekat. Melihat papa yg seperti mau pingsan, saya langsung lompat ke belakang dan menangkap tubuh papa.
Di jalan tidak hentinya saya mengajak papa bicara dan dalam hati menyesali tidak ada pemisah jalan di depan RS Bunda Margonda. Kalaupun ada puteran sekitar 200 meter dari Bunda, itu pun tidak dapat digunakan karena dtutup. Buat apa ada puteran kalo ga bisa buat muter?? Jadi kami harus memutar diputaran UI. Ditambah kondisi jalan yang kurang ramah (jam nya orang pulang kantor). Ahh…
Papa sudah terdiam, saya melihat gigi papa sudah mengatup. Reflek saya coba masukkan jempol saya ke mulut papa, "pa, gigit jempol meli pa. gigit yang kenceng pa. gigit pa", sempat saya merasakan jempol saya digigit papa, sesaat. "pa, sabar pa, rumah sakit nya udah lewat, kita harus muter dulu. Pa. bangun pa. pa, besok papa antar nasta sekolah atau TPA yah pa. pa, inget nasta dan nara pa. pa, bangun pa." Saya coba memegang denyut nadi di pergelangan tangan papa, hanya rasa dingin dan justru degup jantung saya terdengar lebih kencang lagi. Saya terus ajak ngobrol papa, berusaha menghilangkan pikiran bahwa papa sudah tak bernyawa, berharap hanya pingsan. Tapi sempat juga saya melihat jam, seandainya benar papa sudah tak bernyawa saya bisa tahu perkiraan waktu nya. 8.29.
Sesampainya di RS Bunda, dengan bantuan orang-orang yang ada di sekitar UGD, papa diturunkan dari mobil. Saya mencoba mendorong papa, sudah berat. Tapi saya masih berharap. Seorang perawat di parkiran masih mengenali muka saya, saat Nara di rawat. Dengan cepat perawat UGD mengambil alih papa dan memasangkan selang oksigen, dokter jaga datang dalam hitungan detik. "Sudah tak ada denyut," katanya. Ayahnya kenapa? Kata dokter kepada kami. Sesak nafas, serangan asma. "punya sakit jantung?" "iya, pernah serangan jantung 4 – 5 bulan yang lalu." Dokter hanya diam lalu berkata ke perawatnya, kita coba EKG. Saya melihat air muka dokter, dan sepertinya saya sudah tahu apa yang terjadi. "papa ngompol dok," kata saya. Dokter hanya mengangguk. Dan kesimpulan dokter, papa sudah meninggal pada saat dibawa ke rumah sakit. Ya Allah, apakah benar dugaan saya tadi? Papa sekarat waktu di mobil tadi. Dan tidak ada yg bisa saya bantu untuk papa, meringankan sakit nya itu? Dan yg lebih sedih nya lagi, saya tidak membantu papa 'melepas kepergiannya' padahal saya berada tepat disamping papa. Karena saat itu saya masih berharap papa hanya pingsan dan akan segera sembuh.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat ummatNya. Allah tidak menginginkan papa tersiksa lebih lama. Dia menyegarakan sakit papa. Walaupun kepergian papa yang sangat cepat ini menyisakan penyesalan dihati kami, anak-anaknya. Kami masih kurang sabar dalam menghadapi tingkah laku papa, padahal kami menyadari kekurangan papa.
Pada saat papa pingsan di mobil, uni sudah telpon ke rumah. Menyuruh Ira dan mama segera ke rumah sakit. Terserah mau naik apa, harus segera. Abang masih dalam perjalanan saat itu, uni juga sudah telpon abang untuk segera langsung ke rumah sakit. Berkal-kali abang mencoba cari tahu, apa yang terjadi dengan papa. Saya hanya bisa bilang, sedang di observasi oleh dokter. Saya tidak mau bilang ke abang, kalo papa nya sudah meninggal. Supaya abang tidak terburu-buru ke rumah sakit. Mengingat abang itu orang nya panikan. Ira sms saya, memberitahu sudah menuju rumah sakit. Papa gimana? Itu pun tidak saya balas. Sesampainya ira d rumah sakit, dengan muka penuh pertanyaan ira menghampiri saya. Mama berjalan dibelakang. "Saya hanya bilang ke ira, pegangin mama Ir, papa udah ga ada" tak terbendung tangis ira dan mama yang mendengar kabar ini.
Saya mencoba tabah. Tapi setiap kali teringat "ya Allah, bentar lagi puasa. Ga disangka kejadian juga ke saya, merasakan puasa tanpa orang terkasih." Saya suka sedih, jika menjelang bulan Ramadhan melihat mobil jenasah lewat, saya selalu bertanya, mereka pasti sedih sekali yah? Bentar lagi mo puasa, di tinggal orang terkasih. Dan hal ini menimpa saya.
Alhamdulillah mama aktif di mesjid, jadi saat mama bilang, urusan rumah sudah di urus pihak mesjid. Alhamdulillah. Saya menemani papa saat sakratul maut menjemput, saya menemani papa saat pulang ke rumah untuk disemayamkan. Saya memang baru kurang dari 6 tahun mengenal blio, tapi papa adalah papa yang baik, opa yang sayang sekali dengan kedua cucu nya. Papa sangat concern jika anak-anak sakit, dia akan masuk ke kamar jika mendengar cucu nya batuk atau menangis. Dan pastinya ribut bertanya, sudah di kasih obat? Dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang, dkarenakan kepikunan papa itu.
Sesampainya di rumah, Alhamdulllah semua sudah beres. Nasta blom tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Dia melihat semua kesibukan orang-orang, dia melihat opa nya di taro di dipan. Tapi tidak sepatah katapun dia mengajukan pertanyaan. Aneh sebenarnya, karena Nasta selalu bertanya jika ada hal-hal yang diluar kewajaran. Nasta tidur pukul 11.30, saya pun mengantuk sekali. Tapi mata sulit sekali dipejamkan. Coba baca Yaasiin, tapi ntah kenapa air mata ini sulit sekali dihentikan. Akhirnya saya 'mungkin' tertidur sekitar pukul 3 pagi. Dan sudah bangun lagi pukul 5.15, karena jamaah shubuh mesjid Adz-Dzikri datang untuk mendoakan papa.
Alhamdulillah semua proses dari mulai memandikan, mengafani, menyembayangkan dan menguburkan berjalan lancar. Papa dikubur di atas kuburan Oma, ibunya. Mama bilang, papa meninggal tanggal 10 September, Oma meninggal tanggal 11 September 1978. Sepertinya papa memang mempersiapkan diri untuk bertemu ibu nya, Karena sore nya papa sempat cat rambut.
Alhamdulillah, banyak yang bilang papa meninggalnya bagus. Karena mendekati puasa. Saat terakhir melihat wajah papa, sambil terisak saya berkata dalam hati, papa sudah enak sekarang, tidak akan merasakan sesak nafas lagi.
Ahh… hari-hari tidak akan sama tanpa kehadiran papa d rumah. Tidak ada lagi yang bikin mama marah-marah / kesel, karena tingkah papa yang kadang memang bikin geleng-geleng kepala. Tdak ada lagi papa yang suka melucu / bercanda dengan pembantu rumah tangga. Tidak ada lagi yang buka kulkas tengah malam, mencari kudapan. Ahh… sedih sekali…
Papa, I am gonna miss u.
Wahai jiwa yang tenang kemballah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lag di ridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba ku dan masuklah ke dalam surga –Ku\
(QS. Al-Fajr (89) ayat 27 – 30)
Innaa Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun
Sesungguhnya kami adalah milk Allah dan kepada Nya kami kembali
Manusia hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jalan menuju kematian tiap manusia pun tidak pernah sama. Alhamdulillah almarhum papa (mertua) Djamadil Agus Alwi (74 tahun) boleh dibilang meninggal dengan tenang, cepat dan tidak terlalu menderita, menurut saya. Mungkin papa sendiri sebelumnya sudah menderita. Blio kesulitan bernafas dan terlihat sekali blio tidak bisa bernafas akibat asma akut yang dideritanya.
Senin malam saya dan Uni Anis sudah menuju rumah, di sekitar Lenteng Agung saya dengar Uni terima telpon dari rumah. "ada d lemari", kata uni sedikit kesal. Hhmm.. pasti papa pikir saya. Karena papa memang selalu mengandalkan uni jika ada apa-apa, terutama masalah obat-obatan. Saat itu mungkin dalam pikiran uni, papa mengada-ada lagi mengenai sesak nafas nya itu. Sepuluh menit kemudian, di telpon lagi dari rumah, uni masih menjawab seadanya "iya iya ini udah di margonda. Sabar dikit dong." Hhhm.. kalo memang uni bicara dengan papa, saya sempat ngebatin – uni sedikit kasar - :D tapi karena saya sendiri tahu bagaimana papa, jadi agak maklum. Papa itu sudah sedikit (atau banyak yah?) pikun. Dan keras kepala. Hmm… ketauan kan darimana sifat keras nya si abang turunan siapa? Saat itu di mobil, kami masih beranggapan bahwa papa hanya "sesak nafas" biasa, makanya blio ribut cari ventolin. Saya pun ngomong ke Uni, "sirup markisa uni yang buka bukan?" "Bukan", jawab uni. "Soalnya, baik abang maupun meli ga ada yg pernah minum sirup itu, tapi sekarang sudah mau habis." Tersangka utama tentu lah si papa. Yang memang suka minum dingin, tidak bisa dilarang, kalo pun di larang papa bilang "hanya minum sedikit". Jadi saat di mobil kami mengasumsi papa kambuh sesak nafas nya karena minum dingin. Sampai di komplek handphone uni berdering lagi "ya udah di komplek". Kata uni singkat. Huu.. kalo masih jauh gimana?, uni sedikit menggerundel.
Sampai di depan rumah papa sudah bergegas jalan menuju mobil dituntun oleh Bu Diah. Terlihat papa sudah panik, karena kesulitan bernafas. "Susah .. susah nafas..", kata papa terengah-engah. "Iya kita langsung ke rumah sakit, sabar", kata uni cepat. Saya pun ngikut lagi masuk ke dalam. "Papa duduk depan aja", kata papa. "Ehh.. jangan", sahut saya cepat, papa di belakang, meli yg di depan. Di dalam mobil papa duduk pegang jok depan, "susah susah nafas nya..", kata papa. "iya sabar, istighfar", kata uni lagi. Sambil bantu mengucapkan, astahfirullah al adziim. Terus di ulang-ulang. Saya bantu pegang tangan papa, seakan-akan ingin memberikan kekuatan kepada papa. Saya bingung harus ngapain lagi, melihat papa kesulitan bernafas. Saya hanya bisa berkata, sabar pa, istighfar. Sempat terucap oleh papa –sulit sulit sekali bernafas "pa, sabar pa". Uni mungkin tidak melihat ekspresi papa karena uni nyetir mobil. Tapi saya yang melihat muka papa, smakin tidak tega. Sabar pa, rumah sakit nya sudah dekat. Melihat papa yg seperti mau pingsan, saya langsung lompat ke belakang dan menangkap tubuh papa.
Di jalan tidak hentinya saya mengajak papa bicara dan dalam hati menyesali tidak ada pemisah jalan di depan RS Bunda Margonda. Kalaupun ada puteran sekitar 200 meter dari Bunda, itu pun tidak dapat digunakan karena dtutup. Buat apa ada puteran kalo ga bisa buat muter?? Jadi kami harus memutar diputaran UI. Ditambah kondisi jalan yang kurang ramah (jam nya orang pulang kantor). Ahh…
Papa sudah terdiam, saya melihat gigi papa sudah mengatup. Reflek saya coba masukkan jempol saya ke mulut papa, "pa, gigit jempol meli pa. gigit yang kenceng pa. gigit pa", sempat saya merasakan jempol saya digigit papa, sesaat. "pa, sabar pa, rumah sakit nya udah lewat, kita harus muter dulu. Pa. bangun pa. pa, besok papa antar nasta sekolah atau TPA yah pa. pa, inget nasta dan nara pa. pa, bangun pa." Saya coba memegang denyut nadi di pergelangan tangan papa, hanya rasa dingin dan justru degup jantung saya terdengar lebih kencang lagi. Saya terus ajak ngobrol papa, berusaha menghilangkan pikiran bahwa papa sudah tak bernyawa, berharap hanya pingsan. Tapi sempat juga saya melihat jam, seandainya benar papa sudah tak bernyawa saya bisa tahu perkiraan waktu nya. 8.29.
Sesampainya di RS Bunda, dengan bantuan orang-orang yang ada di sekitar UGD, papa diturunkan dari mobil. Saya mencoba mendorong papa, sudah berat. Tapi saya masih berharap. Seorang perawat di parkiran masih mengenali muka saya, saat Nara di rawat. Dengan cepat perawat UGD mengambil alih papa dan memasangkan selang oksigen, dokter jaga datang dalam hitungan detik. "Sudah tak ada denyut," katanya. Ayahnya kenapa? Kata dokter kepada kami. Sesak nafas, serangan asma. "punya sakit jantung?" "iya, pernah serangan jantung 4 – 5 bulan yang lalu." Dokter hanya diam lalu berkata ke perawatnya, kita coba EKG. Saya melihat air muka dokter, dan sepertinya saya sudah tahu apa yang terjadi. "papa ngompol dok," kata saya. Dokter hanya mengangguk. Dan kesimpulan dokter, papa sudah meninggal pada saat dibawa ke rumah sakit. Ya Allah, apakah benar dugaan saya tadi? Papa sekarat waktu di mobil tadi. Dan tidak ada yg bisa saya bantu untuk papa, meringankan sakit nya itu? Dan yg lebih sedih nya lagi, saya tidak membantu papa 'melepas kepergiannya' padahal saya berada tepat disamping papa. Karena saat itu saya masih berharap papa hanya pingsan dan akan segera sembuh.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat ummatNya. Allah tidak menginginkan papa tersiksa lebih lama. Dia menyegarakan sakit papa. Walaupun kepergian papa yang sangat cepat ini menyisakan penyesalan dihati kami, anak-anaknya. Kami masih kurang sabar dalam menghadapi tingkah laku papa, padahal kami menyadari kekurangan papa.
Pada saat papa pingsan di mobil, uni sudah telpon ke rumah. Menyuruh Ira dan mama segera ke rumah sakit. Terserah mau naik apa, harus segera. Abang masih dalam perjalanan saat itu, uni juga sudah telpon abang untuk segera langsung ke rumah sakit. Berkal-kali abang mencoba cari tahu, apa yang terjadi dengan papa. Saya hanya bisa bilang, sedang di observasi oleh dokter. Saya tidak mau bilang ke abang, kalo papa nya sudah meninggal. Supaya abang tidak terburu-buru ke rumah sakit. Mengingat abang itu orang nya panikan. Ira sms saya, memberitahu sudah menuju rumah sakit. Papa gimana? Itu pun tidak saya balas. Sesampainya ira d rumah sakit, dengan muka penuh pertanyaan ira menghampiri saya. Mama berjalan dibelakang. "Saya hanya bilang ke ira, pegangin mama Ir, papa udah ga ada" tak terbendung tangis ira dan mama yang mendengar kabar ini.
Saya mencoba tabah. Tapi setiap kali teringat "ya Allah, bentar lagi puasa. Ga disangka kejadian juga ke saya, merasakan puasa tanpa orang terkasih." Saya suka sedih, jika menjelang bulan Ramadhan melihat mobil jenasah lewat, saya selalu bertanya, mereka pasti sedih sekali yah? Bentar lagi mo puasa, di tinggal orang terkasih. Dan hal ini menimpa saya.
Alhamdulillah mama aktif di mesjid, jadi saat mama bilang, urusan rumah sudah di urus pihak mesjid. Alhamdulillah. Saya menemani papa saat sakratul maut menjemput, saya menemani papa saat pulang ke rumah untuk disemayamkan. Saya memang baru kurang dari 6 tahun mengenal blio, tapi papa adalah papa yang baik, opa yang sayang sekali dengan kedua cucu nya. Papa sangat concern jika anak-anak sakit, dia akan masuk ke kamar jika mendengar cucu nya batuk atau menangis. Dan pastinya ribut bertanya, sudah di kasih obat? Dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang, dkarenakan kepikunan papa itu.
Sesampainya di rumah, Alhamdulllah semua sudah beres. Nasta blom tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Dia melihat semua kesibukan orang-orang, dia melihat opa nya di taro di dipan. Tapi tidak sepatah katapun dia mengajukan pertanyaan. Aneh sebenarnya, karena Nasta selalu bertanya jika ada hal-hal yang diluar kewajaran. Nasta tidur pukul 11.30, saya pun mengantuk sekali. Tapi mata sulit sekali dipejamkan. Coba baca Yaasiin, tapi ntah kenapa air mata ini sulit sekali dihentikan. Akhirnya saya 'mungkin' tertidur sekitar pukul 3 pagi. Dan sudah bangun lagi pukul 5.15, karena jamaah shubuh mesjid Adz-Dzikri datang untuk mendoakan papa.
Alhamdulillah semua proses dari mulai memandikan, mengafani, menyembayangkan dan menguburkan berjalan lancar. Papa dikubur di atas kuburan Oma, ibunya. Mama bilang, papa meninggal tanggal 10 September, Oma meninggal tanggal 11 September 1978. Sepertinya papa memang mempersiapkan diri untuk bertemu ibu nya, Karena sore nya papa sempat cat rambut.
Alhamdulillah, banyak yang bilang papa meninggalnya bagus. Karena mendekati puasa. Saat terakhir melihat wajah papa, sambil terisak saya berkata dalam hati, papa sudah enak sekarang, tidak akan merasakan sesak nafas lagi.
Ahh… hari-hari tidak akan sama tanpa kehadiran papa d rumah. Tidak ada lagi yang bikin mama marah-marah / kesel, karena tingkah papa yang kadang memang bikin geleng-geleng kepala. Tdak ada lagi papa yang suka melucu / bercanda dengan pembantu rumah tangga. Tidak ada lagi yang buka kulkas tengah malam, mencari kudapan. Ahh… sedih sekali…
Papa, I am gonna miss u.
Friday, August 24, 2007
Musibah Kecil
Cobaan dari Allah SWT itu bisa berbagai macam hal. Smoga saya termasuk orang orang yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi apapun ujian yang Allah berikan. Amiiin.
Masalah pembantu/baby sitter adalah cobaan kecil bagi seorang ibu yang punya anak dan bekerja di luar rumah. Setelah mba nya anak-anak yang hampir 2 tahun bekerja pada kami resign, dengan cepat saya langsung dapat pengganti. Belum ketenangan itu terasa, si mba' baru itu harus pulang karena "ibu nya sakit".. hhmm.. klise. Alhamdulillah tidak terlalu lama dapat pengganti. Ex baby sitter yayasan, teman suster yg lama itu. Anak nya kecil tapi gesit. Walaupun perlu waktu untuk beradaptasi dengan anak-anak, overall, kerjaanya OK.
Ah.. lega deh.. anak-anak ada yg bantu ngurus. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Karena asisten senior di rumah yang bagian masak dan bebenah rumah tiba-tiba pendarahan di rumahnya sendiri. (dia pulang tiap weekend). Hah??? kok ga keliatan hamil nya?? Dan kok bisa-bisanya mba itu ga bilang2 kalo sedang hamil (note: dia sudah punya 2 anak, bahkan anak yg bungsu dibawa - jadi teman main nasta nara). Kami semua jadi merasa bersalah. Memperkerjakan orang hamil!!
Pusing lagi..
Ga lama dapat freelancer untuk masak dan bebenah. Alhamdulillah. Tapi lagi-lagi ketenangan terusik, karena tiba-tiba si mba' suster tidak bisa balik dengan alasan harus menemani kakak nya yang ditinggal tugas suami. Ingin menangis rasanya.. pusing...
Kepusingan bertambah karena saat transisi pembantu itu, anak-anak lagi pada gantian sakit. Berakhir dengan Nara opname dengan diagnosa Radang Paru ringan. Gedubrak!!!
Nara di rumah sakit, otomatis saya harus disana dong. Siapa yang jaga Nasta?? Alhamdulillah, Allah memang pengasih dan penyayang. Kakak ipar saya memang pada saat itu memang sudah rencana ambil cuti seminggu, mau jalan-jalan dan istirahat di rumah. Jadilah Tata Anis jadi mba nya Nasta selama saya di rumah sakit. Antar jemput sekolah, dan bolak balik rumah sakit. Thanks Un.
Singkat kata, kami memutuskan ambil suster lagi di yayasan. Itu pun ternyata sulit sekali. Menjelang puasa ini, stok suster KOSONG!! banyak tersedia suster untuk bayi. Alhamdulillah setelah beberapa yayasan di telpon, referensi dari teman-teman dan saudara, kami dapat mba untuk Nara. Hhhmm... sebenarnya saya agak malas ambil dari yayasan karena takut si mba hanya mau pegang 1 anak. Trus Nasta gimana?? Mau nangis lagi saya. Tapi memang susah sekali cari pembantu menjelang puasa ini. Mba baru ini pun sudah bilang akan pulang kampung lebaran nanti. ahh... sudah lah, yang penting saat ini saya bisa kerja dengan tenang dulu. Mengingat pekerjaan kantor sudah menumpuk rasanya.
Saat ini saya masih dalam pencarian 1 mba untuk teman Nasta dan bantu-bantu bebenah. Smoga cepat dapat.
Masalah pembantu/baby sitter adalah cobaan kecil bagi seorang ibu yang punya anak dan bekerja di luar rumah. Setelah mba nya anak-anak yang hampir 2 tahun bekerja pada kami resign, dengan cepat saya langsung dapat pengganti. Belum ketenangan itu terasa, si mba' baru itu harus pulang karena "ibu nya sakit".. hhmm.. klise. Alhamdulillah tidak terlalu lama dapat pengganti. Ex baby sitter yayasan, teman suster yg lama itu. Anak nya kecil tapi gesit. Walaupun perlu waktu untuk beradaptasi dengan anak-anak, overall, kerjaanya OK.
Ah.. lega deh.. anak-anak ada yg bantu ngurus. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Karena asisten senior di rumah yang bagian masak dan bebenah rumah tiba-tiba pendarahan di rumahnya sendiri. (dia pulang tiap weekend). Hah??? kok ga keliatan hamil nya?? Dan kok bisa-bisanya mba itu ga bilang2 kalo sedang hamil (note: dia sudah punya 2 anak, bahkan anak yg bungsu dibawa - jadi teman main nasta nara). Kami semua jadi merasa bersalah. Memperkerjakan orang hamil!!
Pusing lagi..
Ga lama dapat freelancer untuk masak dan bebenah. Alhamdulillah. Tapi lagi-lagi ketenangan terusik, karena tiba-tiba si mba' suster tidak bisa balik dengan alasan harus menemani kakak nya yang ditinggal tugas suami. Ingin menangis rasanya.. pusing...
Kepusingan bertambah karena saat transisi pembantu itu, anak-anak lagi pada gantian sakit. Berakhir dengan Nara opname dengan diagnosa Radang Paru ringan. Gedubrak!!!
Nara di rumah sakit, otomatis saya harus disana dong. Siapa yang jaga Nasta?? Alhamdulillah, Allah memang pengasih dan penyayang. Kakak ipar saya memang pada saat itu memang sudah rencana ambil cuti seminggu, mau jalan-jalan dan istirahat di rumah. Jadilah Tata Anis jadi mba nya Nasta selama saya di rumah sakit. Antar jemput sekolah, dan bolak balik rumah sakit. Thanks Un.
Singkat kata, kami memutuskan ambil suster lagi di yayasan. Itu pun ternyata sulit sekali. Menjelang puasa ini, stok suster KOSONG!! banyak tersedia suster untuk bayi. Alhamdulillah setelah beberapa yayasan di telpon, referensi dari teman-teman dan saudara, kami dapat mba untuk Nara. Hhhmm... sebenarnya saya agak malas ambil dari yayasan karena takut si mba hanya mau pegang 1 anak. Trus Nasta gimana?? Mau nangis lagi saya. Tapi memang susah sekali cari pembantu menjelang puasa ini. Mba baru ini pun sudah bilang akan pulang kampung lebaran nanti. ahh... sudah lah, yang penting saat ini saya bisa kerja dengan tenang dulu. Mengingat pekerjaan kantor sudah menumpuk rasanya.
Saat ini saya masih dalam pencarian 1 mba untuk teman Nasta dan bantu-bantu bebenah. Smoga cepat dapat.
Thursday, July 19, 2007
Perempuan (baca: Ibu Hamil) Jakarta memang KUAT
Judul di atas sebenarnya ungkapan kekesalan saya terhadap para pria di ibukota Jakarta, penumpang bus lebih khususnya lagi.
Bagaimana tidak kesal? Jika melihat pria muda (bahkan remaja), seperti tidak punya mata melihat seorang wanita hamil besar dan sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda memberikan bangku untuk wanita hamil itu!
Kemaren saya dan dua orang teman menumpang Kopaja P20 dari tempat makan siang kami menuju kantor, salah seorang teman saya sedang hamil besar. Persis di depan mata kami, bangku-bangku tersebut telah diduduki oleh beberapa pria. Yang sepertinya para pria itu BUTA semua! Mereka seolah tidak melihat (tidak mau melihat tepatnya), bahwa seorang wanita hamil besar berdiri di samping mereka. Apakah mereka lupa pelajaran etika berkendaraan umum? Harus memberikan tempat (duduk) kepada orang yang tua, wanita hamil dan wanita yang menggendong anak kecil?
Ingin rasanya saya berteriak tepat di kuping mereka, "pada buta lo semua yah??". Well, sebenarnya tidak terlalu bermasalah juga untuk teman saya itu, kami hanya melewati 3 halte, dan Alhamdulillah teman saya itu cukup kuat untuk berdiri beberapa menit di dalam bus.
BUT THAT'S NOT THE POINT!! AAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHHHH......
Saat itu kebetulan matahari ada 5 di atas ubun-ubun kepala! Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak gerai kopi sebelah kantor. Dan kami membicarakan kejadian ini. Dan.. semuanya merasa GERAM!!
Wahai para pria yang baik hati, saya tau sebenarnya kalian baik hati dan perduli. Hanya saja kalian terlalu MALAS untuk berdiri di bus. Smoga suatu hari nanti, jika kalian bertemu dengan Ibu Hamil, Orang jompo dan ibu menggendong / membawa anak-anak, kalian tidak MALAS lagi utk berdiri dan memberikan tempat duduk kalian.
Bagaimana tidak kesal? Jika melihat pria muda (bahkan remaja), seperti tidak punya mata melihat seorang wanita hamil besar dan sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda memberikan bangku untuk wanita hamil itu!
Kemaren saya dan dua orang teman menumpang Kopaja P20 dari tempat makan siang kami menuju kantor, salah seorang teman saya sedang hamil besar. Persis di depan mata kami, bangku-bangku tersebut telah diduduki oleh beberapa pria. Yang sepertinya para pria itu BUTA semua! Mereka seolah tidak melihat (tidak mau melihat tepatnya), bahwa seorang wanita hamil besar berdiri di samping mereka. Apakah mereka lupa pelajaran etika berkendaraan umum? Harus memberikan tempat (duduk) kepada orang yang tua, wanita hamil dan wanita yang menggendong anak kecil?
Ingin rasanya saya berteriak tepat di kuping mereka, "pada buta lo semua yah??". Well, sebenarnya tidak terlalu bermasalah juga untuk teman saya itu, kami hanya melewati 3 halte, dan Alhamdulillah teman saya itu cukup kuat untuk berdiri beberapa menit di dalam bus.
BUT THAT'S NOT THE POINT!! AAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHHHH......
Saat itu kebetulan matahari ada 5 di atas ubun-ubun kepala! Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak gerai kopi sebelah kantor. Dan kami membicarakan kejadian ini. Dan.. semuanya merasa GERAM!!
Wahai para pria yang baik hati, saya tau sebenarnya kalian baik hati dan perduli. Hanya saja kalian terlalu MALAS untuk berdiri di bus. Smoga suatu hari nanti, jika kalian bertemu dengan Ibu Hamil, Orang jompo dan ibu menggendong / membawa anak-anak, kalian tidak MALAS lagi utk berdiri dan memberikan tempat duduk kalian.
Wednesday, July 18, 2007
Bu, Abu, Ibu, Ibi
Sejak sebelum menikah pun saya berkeinginan anak-anak saya akan memanggil saya dengan sebutan Ibu. Bukan Mama. Ternyata tingkat kesulitan bagi seorang anak batita mengucapkan kata "IBU" cukup tinggi juga. Terbukti sewaktu Nasta seumuran Nara (<2 thn) dia tidak bisa mengucapkan "Ibu". Tapi dengan lantang dari umur 9 bulan sudah bisa mengucapkan "Ayah". Sedih? Pastinya!! Alhasil sempat sekali waktu Nasta memanggil saya dengan sebutan "Yeye". Hahahaha... ntah darimana dia mendapatkan ide untuk menyebut Yeye itu, dan sebutan itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya Nasta sudah bisa menyebut Ibu. Alhamdulillah.
Lain Nasta lain pula Nara. Dia cukup fasih mengucapkan kata "Ayah" dari sejak bisa mengeluarkan suara (agak hiperbola dikit boleh dong). Tapi untuk menyebut kata "Ibu" diperlukan usaha dan kesabaran saya sebagai Ibu nya untuk mendengar Nara memanggil saya Ibu. Hiks..
Kalau kami mencontohkan pengucapan "I-BU", dia hanya memonyongkan mulutnya menyerupai seruan "BU", tapi tidak ada suara. Kekekekekkkk... Ada untung nya juga sih, karena dia belum bisa bilang "ibu", jadi kalo terbangun tengah malam yang dipanggil adalah "AYAH". hahahahaha.... jadilah si ayah yang bangun meladeni keinginannya, si ibu? tetep tidur dong..
Sampai akhirnya Nara bisa mengucapkan kata "bu". Alhamdulillah. Eitss.. jangan senang dulu, karena Nara tidak mengucapkan "Ibu", melainkan "A-bu" waksss... dan jadilah beberapa saat Nara manggil saya dengan sebutan Abu. Sesekali dia bisa juga mengucapkan I-BU, atau E-BU. Yang penting "BU" nya jelas deh. Hehehehe...
Kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena saat ini Nara memanggil saya dengan sebutan "ibi". Pfewww...
"ndi, bi. ndi" yang artinya mandi ibu, mandi.
Lain Nasta lain pula Nara. Dia cukup fasih mengucapkan kata "Ayah" dari sejak bisa mengeluarkan suara (agak hiperbola dikit boleh dong). Tapi untuk menyebut kata "Ibu" diperlukan usaha dan kesabaran saya sebagai Ibu nya untuk mendengar Nara memanggil saya Ibu. Hiks..
Kalau kami mencontohkan pengucapan "I-BU", dia hanya memonyongkan mulutnya menyerupai seruan "BU", tapi tidak ada suara. Kekekekekkkk... Ada untung nya juga sih, karena dia belum bisa bilang "ibu", jadi kalo terbangun tengah malam yang dipanggil adalah "AYAH". hahahahaha.... jadilah si ayah yang bangun meladeni keinginannya, si ibu? tetep tidur dong..
Sampai akhirnya Nara bisa mengucapkan kata "bu". Alhamdulillah. Eitss.. jangan senang dulu, karena Nara tidak mengucapkan "Ibu", melainkan "A-bu" waksss... dan jadilah beberapa saat Nara manggil saya dengan sebutan Abu. Sesekali dia bisa juga mengucapkan I-BU, atau E-BU. Yang penting "BU" nya jelas deh. Hehehehe...
Kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena saat ini Nara memanggil saya dengan sebutan "ibi". Pfewww...
"ndi, bi. ndi" yang artinya mandi ibu, mandi.
Wednesday, July 11, 2007
Batuk nya Nasta
Seharusnya Nasta sudah mulai masuk sekolah, tapi sengaja saya suruh dia tetap di rumah sambil memulihkan tenaga. Sudah hampir dua minggu Nasta terserang batuk yang cukup parah. Dan kali ini saya 'lemah'. Hari pertama dia demam dan mulai batuk, saya langsung bawa dia ke dokter anak. Dan di hari itu juga dia mulai menelan beragam macam obat yang dimasukkan kedalam 1 botol antibiotik. Hiksss... (padahal menurut artikel yang saya baca, batuk/asma tidak harus selalu diobati dengan antibiotik)
Hari keempat masih demam dan batuk yang bertambah parah, karena banyak slem di dada. Tambah lagi obat-obatan yang diracik dalam 1 botol antibiotik. Sempat juga Nasta dibawa ke UGD nya sebuah rumah sakit di jalan Margonda, karena saya dan suami memutuskan untuk mencoba inhalasi untuk Nasta. Karena jujur saja, kami tidak sanggup mendengar suara grok grok dan (mungkin) rasa sesak di dada yang Nasta rasakan. Kalo kami ada di posisi nasta, mungkin kami akan lemas tidak karuan.
Nasta demam lebih dari 5 hari, on off on off, saya sudah kepikiran bahwa demam nya dia ini karena batuk, dan kemungkinan ada kuman di slem nya dia. Tapi kami coba juga test darah dan hasilnya Alhamdulillah baik-baik saja. Proses inhalasi tidak berjalan mulus, karena Nasta ternyata tidak suka. "BAU" katanya sewaktu masker menutupi mulut dan hidungnya. Alhasil, kami hanya berhasil "mendekatkan" masker ke mulut dia. Sebenernya kurang efektif, karena banyak obat yang terbuang.
Dugaan sementara dari dokter, Nasta kemungkinan Asma. Karena ada turunan asma dari pihak ayah Lutfi, jadi kami seperti mengamini. Ditambah memang dari bayi Nasta sering batuk grok grok gitu. masih inget kejadian Nasta batuk grok grok di kasih Izoniazid ma' DSA nya, pdhal tuh obat utk penderita TB. Aarrggghhh
Saya dan suami akhirnya coba cari dsa spesialis asma anak. Sampailah kami pada seorang dokter di daerah kebayoran, dan kami dapat nomor besar, sehingga kami dijadwalkan bertemu sang dokter jam 12 malam!!. Phewww..
OK, kita coba saja. Kondisi Nasta sendiri pada saat kami bawa ke dokter itu sudah membaik, sesekali masih batuk berdahak. Tapi memang karena sudah masa akan sembuh (batuk masa sembuhnya ± 14 hari). Hasil obrolan kami dengan pak dokter ini, blio memang mengatakan tenggorokannya Nasta sensitive. Karena ada riwayat keluarga penderita asma, memang ada kemungkinan Nasta bisa menderita asma (noted : sekarang blom asma). Jadi sebisa mungkin pencetus nya musti dihindari. Tidak boleh ada buku di kamar / lemari kamar, pakaian di lemari tidak boleh lebih dari 2 minggu menetap, karena masa hidup sang TUNGAU. Tidak boleh ada binatang peliharaan (untungnya kami tidak punya), tidak boleh pasang karpet (karpet terakhir di ruang tamu sudah di angkat), bersihakan filter AC seminggu sekali (pfuiih...), boneka bulu di cuci seminggu sekali, dll,dsb.
Untuk memastikan kondisi Nasta, pak dokter ini menyarankan untuk photo thorax dan sinus. Ahh.. smoga Nasta baik-baik saja.
Renungan buat Ibu Meli
- Smoga ini kali terakhir Nasta minum antibiotik lama (biasanya kalo dapat antibiotik, saya jarang sekali kasih ke Nasta. Apalagi kalo tau sakit nya karena virus)
- Smoga lain kali jika Nasta mengalami hal serupa, saya bisa lebih intens mengawasi Nasta, sehingga kami tidak perlu bolak balik ke dokter. Karena penyakit seperti ini yang diperlukan hanya istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak dan makan makanan bergizi.
- Smoga Nasta bisa lebih sehat dan jarang sakit. Amiiin.
Buat teman-teman yang memerlukan artikel tentang asma bisa di cari di sini
Hari keempat masih demam dan batuk yang bertambah parah, karena banyak slem di dada. Tambah lagi obat-obatan yang diracik dalam 1 botol antibiotik. Sempat juga Nasta dibawa ke UGD nya sebuah rumah sakit di jalan Margonda, karena saya dan suami memutuskan untuk mencoba inhalasi untuk Nasta. Karena jujur saja, kami tidak sanggup mendengar suara grok grok dan (mungkin) rasa sesak di dada yang Nasta rasakan. Kalo kami ada di posisi nasta, mungkin kami akan lemas tidak karuan.
Nasta demam lebih dari 5 hari, on off on off, saya sudah kepikiran bahwa demam nya dia ini karena batuk, dan kemungkinan ada kuman di slem nya dia. Tapi kami coba juga test darah dan hasilnya Alhamdulillah baik-baik saja. Proses inhalasi tidak berjalan mulus, karena Nasta ternyata tidak suka. "BAU" katanya sewaktu masker menutupi mulut dan hidungnya. Alhasil, kami hanya berhasil "mendekatkan" masker ke mulut dia. Sebenernya kurang efektif, karena banyak obat yang terbuang.
Dugaan sementara dari dokter, Nasta kemungkinan Asma. Karena ada turunan asma dari pihak ayah Lutfi, jadi kami seperti mengamini. Ditambah memang dari bayi Nasta sering batuk grok grok gitu. masih inget kejadian Nasta batuk grok grok di kasih Izoniazid ma' DSA nya, pdhal tuh obat utk penderita TB. Aarrggghhh
Saya dan suami akhirnya coba cari dsa spesialis asma anak. Sampailah kami pada seorang dokter di daerah kebayoran, dan kami dapat nomor besar, sehingga kami dijadwalkan bertemu sang dokter jam 12 malam!!. Phewww..
OK, kita coba saja. Kondisi Nasta sendiri pada saat kami bawa ke dokter itu sudah membaik, sesekali masih batuk berdahak. Tapi memang karena sudah masa akan sembuh (batuk masa sembuhnya ± 14 hari). Hasil obrolan kami dengan pak dokter ini, blio memang mengatakan tenggorokannya Nasta sensitive. Karena ada riwayat keluarga penderita asma, memang ada kemungkinan Nasta bisa menderita asma (noted : sekarang blom asma). Jadi sebisa mungkin pencetus nya musti dihindari. Tidak boleh ada buku di kamar / lemari kamar, pakaian di lemari tidak boleh lebih dari 2 minggu menetap, karena masa hidup sang TUNGAU. Tidak boleh ada binatang peliharaan (untungnya kami tidak punya), tidak boleh pasang karpet (karpet terakhir di ruang tamu sudah di angkat), bersihakan filter AC seminggu sekali (pfuiih...), boneka bulu di cuci seminggu sekali, dll,dsb.
Untuk memastikan kondisi Nasta, pak dokter ini menyarankan untuk photo thorax dan sinus. Ahh.. smoga Nasta baik-baik saja.
Renungan buat Ibu Meli
- Smoga ini kali terakhir Nasta minum antibiotik lama (biasanya kalo dapat antibiotik, saya jarang sekali kasih ke Nasta. Apalagi kalo tau sakit nya karena virus)
- Smoga lain kali jika Nasta mengalami hal serupa, saya bisa lebih intens mengawasi Nasta, sehingga kami tidak perlu bolak balik ke dokter. Karena penyakit seperti ini yang diperlukan hanya istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak dan makan makanan bergizi.
- Smoga Nasta bisa lebih sehat dan jarang sakit. Amiiin.
Buat teman-teman yang memerlukan artikel tentang asma bisa di cari di sini
Tuesday, June 26, 2007
Asa
Kehilangan kesempatan pastinya bikin semua orang sedih, dan mungkin semuanya akan berpikir, seandainya kita bisa kembali ke suatu masa dimana kita bisa memperbaiki sesuatu sehingga kita tidak kehilangan kesempatan itu.
Tapi mungkin sebagian besar orang akan mengatakan, ambil hikmah dari semua kejadian dan belajar dari kegagalan. Saya 100% setuju. Saya pun berusaha untuk ikhlas dan semoga lebih mengerti dari kegagalan saya ini.
Mengawali kejadian ini pun, saya sudah berusaha untuk berpikir positif dan siap kecewa jika hasilnya tidak sesuai keinginan. Menjalani proses sebaik-baiknya. Dan berdoa, jika memang hal ini terbaik dari Allah SWT, please make it happen. Tapi jika tidak, smoga saya diberi kesabaran, keihlasan dan pengertian akan semua hal ini.
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat ummat Mu ini. Berkahilah kehidupan kami sekeluarga. Amiiin.
Tapi mungkin sebagian besar orang akan mengatakan, ambil hikmah dari semua kejadian dan belajar dari kegagalan. Saya 100% setuju. Saya pun berusaha untuk ikhlas dan semoga lebih mengerti dari kegagalan saya ini.
Mengawali kejadian ini pun, saya sudah berusaha untuk berpikir positif dan siap kecewa jika hasilnya tidak sesuai keinginan. Menjalani proses sebaik-baiknya. Dan berdoa, jika memang hal ini terbaik dari Allah SWT, please make it happen. Tapi jika tidak, smoga saya diberi kesabaran, keihlasan dan pengertian akan semua hal ini.
Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat ummat Mu ini. Berkahilah kehidupan kami sekeluarga. Amiiin.
Friday, June 08, 2007
Ulah Nasta
Potong Rambut
Akhirnya.... iya, kalo boleh saya bilang "akhirnya" kejadian ini terjadi juga di anak saya. Seringkali saya mendengar anak kecil ada masanya akan menggunting rambutnya sendiri. Dan terus terang saya menunggu saat itu. Hahahaha... maksudnya sih pengen tau aja, apa anak gw se"creative" anak-anak lain yang pernah melakukannya. Dan ternyata sekarang sudah terbukti.
Pulang kantor langsung dapat laporan, Nasta potong rambut. Sekilas saya lihat, ga ada yang aneh dengan rambut nya. Poni masih tetap sama panjang, bagian depan juga mulus. Ternyata dia potong bagian belakang. Hahahaha.... hhmmm.... ga keliatan kok. Tapi kalo diperhatikan baik-baik, memang aneh.
Dasar anak, dia bangga sekali lho bisa "potong rambut sendiri". Dan pastinya, dia ngomong itu tanpa ada perasaan bersalah, mungkin Nasta pikir, "kenapa sih, potong rambut dikit aja heboh banget."
Pfuihh... Ata..... ata.....
Masak "Kreppy Patty"
Semalam ayah cerita kalo Dani menangis karena Nasta. Deg. Saya langsung sedih. Apa yang sudah Nasta perbuat? Kok Dani bisa nangis? FYI, Dani itu lelaki dan lebih tua 1,5 tahun dari Nasta. Saya tidak ingin Nasta & Nara jadi anak yang suka mukul.
Sampai rumah, kebetulan Nasta belum tidur. Saya langsung ajak dia ngobrol.
Saya : Ibu denger tadi siang Dani nangis. Kenapa?
Ata : Iya, aku mau bikin Kreppy Patty, sama Dani ga boleh.
Terus dilanjutkan penjelasan dari mbak nya, Nasta ngejar-ngejar Dani pake sodet. Dani nya lari-lari ketakutan gitu, takut kena pukul. Trus Dani nangis. Ga lama Nasta nya juga nangis, karena sodet nya di ambil.
Ya Tuhan...
antara mau ketawa, tapi juga prihatin. Ternyata anak saya "galak" juga. alhasil, saya mencoba terus menjelaskan ke Nasta bahwa perbuatannya itu tidak baik. Dan tidak boleh di ulang lagi. Kepada Dani pun saya berpesan, kalo Nasta berbuat nakal lagi, kasih tau saya.
Ulangan Umum di TPA
Semalam saya baru membaca lembaran pengumuman dari TPA Adz-Dzikri, tempat Nasta sehari-hari menghabiskan waktu nya di sore hari. Nasta belum terdaftar resmi sebagai murid TPA itu. Hanya karena sang Oma pengurus mesjid, jadi status nasta adalah, "murid titipan".
Pengumuman itu berupa pemberitahuan Ulangan Umum di TPA tersebut. Jujur saja, saya dan suami sedikit panik. Karena kami kurang mengikuti pelajaran yang telah Nasta pelajari selama di TPA itu. Kami selalu berpikir, Nasta hanya murid titipan. Jadi belum terlalu banyak pelajarannya.
Ternyata oh ternyata.. walaupun ada "contekan" bacaan hadist dan surat pendek serta menghitung dengan bahasa Arab, saya jadi ketakutan sendiri. Hah? Bisa ga Nasta ngikutin "ujian" ini. Akhirnya kami sepakat, ya sudah lah, biar Nasta belajar "ulangan umum". Hihihihi....
Doakan yah, smoga minggu depan Nasta bisa mengikuti "ulangan umum" pertama nya itu.
Akhirnya.... iya, kalo boleh saya bilang "akhirnya" kejadian ini terjadi juga di anak saya. Seringkali saya mendengar anak kecil ada masanya akan menggunting rambutnya sendiri. Dan terus terang saya menunggu saat itu. Hahahaha... maksudnya sih pengen tau aja, apa anak gw se"creative" anak-anak lain yang pernah melakukannya. Dan ternyata sekarang sudah terbukti.
Pulang kantor langsung dapat laporan, Nasta potong rambut. Sekilas saya lihat, ga ada yang aneh dengan rambut nya. Poni masih tetap sama panjang, bagian depan juga mulus. Ternyata dia potong bagian belakang. Hahahaha.... hhmmm.... ga keliatan kok. Tapi kalo diperhatikan baik-baik, memang aneh.
Dasar anak, dia bangga sekali lho bisa "potong rambut sendiri". Dan pastinya, dia ngomong itu tanpa ada perasaan bersalah, mungkin Nasta pikir, "kenapa sih, potong rambut dikit aja heboh banget."
Pfuihh... Ata..... ata.....
Masak "Kreppy Patty"
Semalam ayah cerita kalo Dani menangis karena Nasta. Deg. Saya langsung sedih. Apa yang sudah Nasta perbuat? Kok Dani bisa nangis? FYI, Dani itu lelaki dan lebih tua 1,5 tahun dari Nasta. Saya tidak ingin Nasta & Nara jadi anak yang suka mukul.
Sampai rumah, kebetulan Nasta belum tidur. Saya langsung ajak dia ngobrol.
Saya : Ibu denger tadi siang Dani nangis. Kenapa?
Ata : Iya, aku mau bikin Kreppy Patty, sama Dani ga boleh.
Terus dilanjutkan penjelasan dari mbak nya, Nasta ngejar-ngejar Dani pake sodet. Dani nya lari-lari ketakutan gitu, takut kena pukul. Trus Dani nangis. Ga lama Nasta nya juga nangis, karena sodet nya di ambil.
Ya Tuhan...
antara mau ketawa, tapi juga prihatin. Ternyata anak saya "galak" juga. alhasil, saya mencoba terus menjelaskan ke Nasta bahwa perbuatannya itu tidak baik. Dan tidak boleh di ulang lagi. Kepada Dani pun saya berpesan, kalo Nasta berbuat nakal lagi, kasih tau saya.
Ulangan Umum di TPA
Semalam saya baru membaca lembaran pengumuman dari TPA Adz-Dzikri, tempat Nasta sehari-hari menghabiskan waktu nya di sore hari. Nasta belum terdaftar resmi sebagai murid TPA itu. Hanya karena sang Oma pengurus mesjid, jadi status nasta adalah, "murid titipan".
Pengumuman itu berupa pemberitahuan Ulangan Umum di TPA tersebut. Jujur saja, saya dan suami sedikit panik. Karena kami kurang mengikuti pelajaran yang telah Nasta pelajari selama di TPA itu. Kami selalu berpikir, Nasta hanya murid titipan. Jadi belum terlalu banyak pelajarannya.
Ternyata oh ternyata.. walaupun ada "contekan" bacaan hadist dan surat pendek serta menghitung dengan bahasa Arab, saya jadi ketakutan sendiri. Hah? Bisa ga Nasta ngikutin "ujian" ini. Akhirnya kami sepakat, ya sudah lah, biar Nasta belajar "ulangan umum". Hihihihi....
Doakan yah, smoga minggu depan Nasta bisa mengikuti "ulangan umum" pertama nya itu.
Tuesday, June 05, 2007
Menunggu itu membosankan
Saat ini saya sedang dalam kondisi menunggu. Menunggu jemputan. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 19.18, pfuihh...
Dan dalam kondisi agak sedikit menyesal.. kenapa saya tadi tidak langsung pulang saja jam 5 teng. Seandainya saya langsung pulang, tidak minta di jemput, tentunya saat ini saya sudah bercengkerama dengan kedua bidadari saya.
Seandainya saya pulang duluan.... aaaaaaaaahhhh..... lamanya...
SMS baru, "sudah dekat kantor".
Ups.. saya pamit dulu yah.
Dan dalam kondisi agak sedikit menyesal.. kenapa saya tadi tidak langsung pulang saja jam 5 teng. Seandainya saya langsung pulang, tidak minta di jemput, tentunya saat ini saya sudah bercengkerama dengan kedua bidadari saya.
Seandainya saya pulang duluan.... aaaaaaaaahhhh..... lamanya...
SMS baru, "sudah dekat kantor".
Ups.. saya pamit dulu yah.
Monday, June 04, 2007
Butuh uang? ke ATM aja
Sudah lama saya tidak bercerita tentang Nasta dan Nara. Sudah smakin banyak polah dari kedua orang bidadari kecil saya itu. Nasta (bentar lagi 4th) sudah smakin bijak. Nara (16 bulan) cenderung mengikuti kelakuan kakak nya.
Nara sudah bisa manggil saya, "booooooo" :D
Dan lucunya, dia senang sekali mengucapkan kata "apel". Kami memang senang melihat dia mengucapkan kata itu, karena pas ucapan "pel", dia akan melipat lidahnya. Lucu dan menggemaskan sekali. Sedihnya, karena Nara tidak memakai anting-anting, jadi tidak sedikit orang yang mengira Nara adalah anak laki. Seringkali orang-orang mengatakan, "enak yah, anaknya sudah sepasang." Wakkksss... huwaaaaaaa.... anak saya perempuan... Hhm.. resiko deh.. tapi mau gimana lagi? lubang anting nya sudah tertutup, dan harus menunggu Nara besar untuk buat lubang anting baru.
Lain Nara, lain pula Nasta. Anak ini memang seringkali "menguji kesabaran" ibu dan ayahnya. Suatu saat dia bisa begitu menyenangkan, sehingga saya tidak akan berhenti menciumnya. Tapi, kalo dia sudah berubah menjadi anak yang "menyebalkan" AAAAAAAAARGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH... rasanya saya ingin menangis saja...
Tapi sampai saat ini sih lebih banyak menyenangkannya kok. Belum tau nanti kedepannya. Pfuih...
Smoga saja baik saya dan suami saya bisa menjadi orang tua yang sabar dan lebih mengerti anak-anak nya. Amiiin.
Nasta juga masih suka becanda garing, bisa liat di sini. Duh.. menyesal saya, sudah lama tidak menulis tentang kegaringan dia, karena suatu hari nanti pasti bisa jadi obrolan menarik. Hahahahaha...
Sudah beberapa kali saya sering mendengar Nasta berbicara soal uang. Awalnya dari si mba, Nasta minta dibeliin sesuatu di warung. Mba nya bilang, "mba ga punya uang Ta." Dan dengan enteng nya nasta bilang, "mba ambil aja dulu di ATM." hihihihihihihi... Dan hal itu terjadi juga dengan kami, ayah dan ibu nya. Mentang-mentang setiap mau ambil uang kami suka ajak dia ke ATM.
Hahahaaha.. bisa-bisa bentar lagi dia akan mengerti, kalo untuk belanja bisa "gesek kartu aja"
Nara sudah bisa manggil saya, "booooooo" :D
Dan lucunya, dia senang sekali mengucapkan kata "apel". Kami memang senang melihat dia mengucapkan kata itu, karena pas ucapan "pel", dia akan melipat lidahnya. Lucu dan menggemaskan sekali. Sedihnya, karena Nara tidak memakai anting-anting, jadi tidak sedikit orang yang mengira Nara adalah anak laki. Seringkali orang-orang mengatakan, "enak yah, anaknya sudah sepasang." Wakkksss... huwaaaaaaa.... anak saya perempuan... Hhm.. resiko deh.. tapi mau gimana lagi? lubang anting nya sudah tertutup, dan harus menunggu Nara besar untuk buat lubang anting baru.
Lain Nara, lain pula Nasta. Anak ini memang seringkali "menguji kesabaran" ibu dan ayahnya. Suatu saat dia bisa begitu menyenangkan, sehingga saya tidak akan berhenti menciumnya. Tapi, kalo dia sudah berubah menjadi anak yang "menyebalkan" AAAAAAAAARGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH... rasanya saya ingin menangis saja...
Tapi sampai saat ini sih lebih banyak menyenangkannya kok. Belum tau nanti kedepannya. Pfuih...
Smoga saja baik saya dan suami saya bisa menjadi orang tua yang sabar dan lebih mengerti anak-anak nya. Amiiin.
Nasta juga masih suka becanda garing, bisa liat di sini. Duh.. menyesal saya, sudah lama tidak menulis tentang kegaringan dia, karena suatu hari nanti pasti bisa jadi obrolan menarik. Hahahahaha...
Sudah beberapa kali saya sering mendengar Nasta berbicara soal uang. Awalnya dari si mba, Nasta minta dibeliin sesuatu di warung. Mba nya bilang, "mba ga punya uang Ta." Dan dengan enteng nya nasta bilang, "mba ambil aja dulu di ATM." hihihihihihihi... Dan hal itu terjadi juga dengan kami, ayah dan ibu nya. Mentang-mentang setiap mau ambil uang kami suka ajak dia ke ATM.
Hahahaaha.. bisa-bisa bentar lagi dia akan mengerti, kalo untuk belanja bisa "gesek kartu aja"
Friday, May 04, 2007
Pernikahan
Suatu hari saya pernah membaca tulisan seorang teman mengenai Pernikahan. Dan saya salut dan langsung pengen kenalan dengan Mama nya teman saya ini. Tapi blom kejadian sih. Apa yang di tulis oleh teman saya itu, benar-benar mengena di hati.
Dan belum lama saya seperti diingatkan oleh tulisan tersebut, dan saya jadi ingin bercerita. Sepupu suami saya hendak menikah. Alhamdulillah. Dan tentu saja sang ibu menyambut gembira rencana pernikahan sang anak perempuan semata wayang nya ini. Calon nya kerja di ini lho, dekat dengan bapak presiden kita, bla bla bla ... tanggal belum ditentukan, tempat resepsi sudah ditentukan yaitu sebuah gedung megah yang biasa menjadi tempat resepsi pernikahan orang-orang berduit. Dengan alasan, hadiah dari Pakde calon mantu. Acara lamaran berjalan lancar, selesai acara segera ditunjuk team panitia untuk menyukseskan acara ini. Calon pengantin wanita nya? Duduk manis tanpa komentar apapun. Para sepupu yang sudah merasa pernah menikah, melontarkan saran-saran, masukan dan opini. Para sesepuh ikutan memberi suara. Ternyata, tempat memang sudah di pesan (oleh pakde calon pengantin pria), tapi belum ada yang survey mengenai rekanan catering, photographer, pelaminan, dll,dsb. Sang ibu berkata, pakai catering ini aja, makanannya enak dan harganya terjangkau. Para sepupu berkata, catering ini rekanan gedung ini ga? Biasanya kalo bukan rekanan akan kena surcharge 20%. Di bantu oleh buku panduan dari gedung, ternyata catering yang diinginkan tidak termasuk dalam daftar rekanan gedung. En zo fort... (saya ga terlalu menyimak, karena sibuk ngurusin Nasta).
Beberapa hari kemudian, ada desas desus.. catering di gedung ini minimal 50ribu per orang dengan minimum undangan 1800 orang. Suami saya berteriak, "Gila!! Gw mah mikir-mikir deh!!" Tapi ternyata, harga per porsi nya bukan segitu, melainkan minimal Rp. 150.000 per orang! Dannn.... suami saya tambah menjerit. GILA!!! Lalu pihak keluarga langsung minta dicarikan gedung lain, karena tidak sanggup dengan harga catering dan jumlah quota orang yang diwajibkan oleh gedung ini. Ya iya lah... mubazir banget kalo sampe kejadian.. (itu menurut saya lho). Dan yang tersedia untuk tanggal pernikahan yang diinginkan tinggal gedung ini, gedung yang dulunya pernah menjadi idola para calon pengantin. Disebelah Gedung MPR - DPR.
Lucu dan aneh nya, seperti nya calon pengantin wanita tidak merasa "terlibat" lebih jauh dengan acara pernikahan dia, karena gedung bukan dia yang mencari, tapi suami saya yang sepupu nya dia. Yang ribut mengenai KUA juga para sepupu nya, KUA udah di urus belom? Ijin numpang nikah, dll,dsb,dst. Dan saat itu calon pengantin pria hanya berkata, "Lho, itu bukannya sehari dua hari selesai yah?" Alamakkkk..... lo kira yang jadi penghulu bapak lo ndiri apa?? Biar nyaho aja kalo ternyata penghulu kagak ada yang bisa sesuai rencana jam pernikahan!. Eitsss... sabar... dia kan belum pernah menikah, jadi tidak tahu prosedur nya. Hhmm... baik lah.
Rapat keluarga lagi. Eits.. mana calon pengantin wanita nya?? Ini sebenarnya kita mau ngerapatin kawinan siapa sih? Yang punya hajat aja kagak ada!! Geram sekali rasanya. Ga menghargai banget sih para tante-tante dan sepupu-sepupu yang udah ngorbanin waktu weekend nya hanya untuk bantuin tante (sang ibu CPW) tercinta biar dia tidak merasa kerja sendiri. Note: most of all niat bantu tante, bukan bantuin sepupu saya itu!!! Saya dan salah seorang sepupu ngobrol, "kayanya gw waktu mo nikah itu semua ngurus sendiri deh. Cari gedung, cari catering, ngedatangin catering untuk test food, cari pelaminan, jadi pada saat rapat keluarga hal-hal tersebut sudah rapih. Tinggal menyerahkan ke panitia, supaya kita ga repot lagi di hari H nya." Pfuih..... Ini mah.... Astaghfirullah ...
Lalu dengan muka iseng saya berkata ke sepupu yang lain, "tanyain sekalian dong, malam pertama perlu bantuan kita-kita juga ga?" hihihihihihihihihi.....
Sigh.... cerita sepupu saya ini menjadikan perjalanan pergi dan pulang kantor menjadi penuh warna, karena di mobil saya dan ipar-ipar saya jadi sibuk mengomentari soal tingkah laku dia. "kaya di paksa aja sih nikahnya," itu salah satu dari sekian banyak komentar kami, para sepupu nya.
Aaahhhh.... ribet bener sih?? Kenapa sih yang musti diributkan itu justru acara sebelum pernikahan nya??? Kan masih banyak hal-hal lain yang nantinya akan dihadapi oleh calon pengantin kelak. Jadi benar kata mama teman saya ini ditulisannya. "Tante, kenalan dong. saya kagum deh ma' tante."
Sabtu lalu saya menghadiri syukuran pernikahan teman. Siang hari. Ternyata sebelum brangkat saya cek lagi di undangan, "Hah?? Bang, acaranya dari jam 10 - 12 lho!" HHm... berarti selesai akad nikah langsung syukuran, tanpa jeda seperti layaknya pasangan lain (seperti saya juga). Dan saya langsung berkomentar, wah.. enak banget yah? Acara di mesjid, selesai akad langsung ramai-ramai, simple, dan pastinya irit tuh. Hhmm... berbanding terbalik dengan sepupu saya itu, yang gosipnya, baju pengantin nya seharga 15 juta rupiah saja. Wakssssss!!!!!
Saya tidak sepandai teman saya dalam merangkai kata, tapi 100% setuju dengan tulisannya. Dan mengharapkan hal yang sama, jika suatu hari nanti ada kesempatan menikahkan anak-anak saya, atau keponakan-keponakan saya, smoga saya tidak menjadi tante atau ibu yang ikutan heboh dalam mempersiapkan pesta anak dan kemenakan saya. Tapi Insyaa Allah, bisa mempersiapkan batin mereka untuk menghadapi hidup baru mereka kelak.
Dan belum lama saya seperti diingatkan oleh tulisan tersebut, dan saya jadi ingin bercerita. Sepupu suami saya hendak menikah. Alhamdulillah. Dan tentu saja sang ibu menyambut gembira rencana pernikahan sang anak perempuan semata wayang nya ini. Calon nya kerja di ini lho, dekat dengan bapak presiden kita, bla bla bla ... tanggal belum ditentukan, tempat resepsi sudah ditentukan yaitu sebuah gedung megah yang biasa menjadi tempat resepsi pernikahan orang-orang berduit. Dengan alasan, hadiah dari Pakde calon mantu. Acara lamaran berjalan lancar, selesai acara segera ditunjuk team panitia untuk menyukseskan acara ini. Calon pengantin wanita nya? Duduk manis tanpa komentar apapun. Para sepupu yang sudah merasa pernah menikah, melontarkan saran-saran, masukan dan opini. Para sesepuh ikutan memberi suara. Ternyata, tempat memang sudah di pesan (oleh pakde calon pengantin pria), tapi belum ada yang survey mengenai rekanan catering, photographer, pelaminan, dll,dsb. Sang ibu berkata, pakai catering ini aja, makanannya enak dan harganya terjangkau. Para sepupu berkata, catering ini rekanan gedung ini ga? Biasanya kalo bukan rekanan akan kena surcharge 20%. Di bantu oleh buku panduan dari gedung, ternyata catering yang diinginkan tidak termasuk dalam daftar rekanan gedung. En zo fort... (saya ga terlalu menyimak, karena sibuk ngurusin Nasta).
Beberapa hari kemudian, ada desas desus.. catering di gedung ini minimal 50ribu per orang dengan minimum undangan 1800 orang. Suami saya berteriak, "Gila!! Gw mah mikir-mikir deh!!" Tapi ternyata, harga per porsi nya bukan segitu, melainkan minimal Rp. 150.000 per orang! Dannn.... suami saya tambah menjerit. GILA!!! Lalu pihak keluarga langsung minta dicarikan gedung lain, karena tidak sanggup dengan harga catering dan jumlah quota orang yang diwajibkan oleh gedung ini. Ya iya lah... mubazir banget kalo sampe kejadian.. (itu menurut saya lho). Dan yang tersedia untuk tanggal pernikahan yang diinginkan tinggal gedung ini, gedung yang dulunya pernah menjadi idola para calon pengantin. Disebelah Gedung MPR - DPR.
Lucu dan aneh nya, seperti nya calon pengantin wanita tidak merasa "terlibat" lebih jauh dengan acara pernikahan dia, karena gedung bukan dia yang mencari, tapi suami saya yang sepupu nya dia. Yang ribut mengenai KUA juga para sepupu nya, KUA udah di urus belom? Ijin numpang nikah, dll,dsb,dst. Dan saat itu calon pengantin pria hanya berkata, "Lho, itu bukannya sehari dua hari selesai yah?" Alamakkkk..... lo kira yang jadi penghulu bapak lo ndiri apa?? Biar nyaho aja kalo ternyata penghulu kagak ada yang bisa sesuai rencana jam pernikahan!. Eitsss... sabar... dia kan belum pernah menikah, jadi tidak tahu prosedur nya. Hhmm... baik lah.
Rapat keluarga lagi. Eits.. mana calon pengantin wanita nya?? Ini sebenarnya kita mau ngerapatin kawinan siapa sih? Yang punya hajat aja kagak ada!! Geram sekali rasanya. Ga menghargai banget sih para tante-tante dan sepupu-sepupu yang udah ngorbanin waktu weekend nya hanya untuk bantuin tante (sang ibu CPW) tercinta biar dia tidak merasa kerja sendiri. Note: most of all niat bantu tante, bukan bantuin sepupu saya itu!!! Saya dan salah seorang sepupu ngobrol, "kayanya gw waktu mo nikah itu semua ngurus sendiri deh. Cari gedung, cari catering, ngedatangin catering untuk test food, cari pelaminan, jadi pada saat rapat keluarga hal-hal tersebut sudah rapih. Tinggal menyerahkan ke panitia, supaya kita ga repot lagi di hari H nya." Pfuih..... Ini mah.... Astaghfirullah ...
Lalu dengan muka iseng saya berkata ke sepupu yang lain, "tanyain sekalian dong, malam pertama perlu bantuan kita-kita juga ga?" hihihihihihihihihi.....
Sigh.... cerita sepupu saya ini menjadikan perjalanan pergi dan pulang kantor menjadi penuh warna, karena di mobil saya dan ipar-ipar saya jadi sibuk mengomentari soal tingkah laku dia. "kaya di paksa aja sih nikahnya," itu salah satu dari sekian banyak komentar kami, para sepupu nya.
Aaahhhh.... ribet bener sih?? Kenapa sih yang musti diributkan itu justru acara sebelum pernikahan nya??? Kan masih banyak hal-hal lain yang nantinya akan dihadapi oleh calon pengantin kelak. Jadi benar kata mama teman saya ini ditulisannya. "Tante, kenalan dong. saya kagum deh ma' tante."
Sabtu lalu saya menghadiri syukuran pernikahan teman. Siang hari. Ternyata sebelum brangkat saya cek lagi di undangan, "Hah?? Bang, acaranya dari jam 10 - 12 lho!" HHm... berarti selesai akad nikah langsung syukuran, tanpa jeda seperti layaknya pasangan lain (seperti saya juga). Dan saya langsung berkomentar, wah.. enak banget yah? Acara di mesjid, selesai akad langsung ramai-ramai, simple, dan pastinya irit tuh. Hhmm... berbanding terbalik dengan sepupu saya itu, yang gosipnya, baju pengantin nya seharga 15 juta rupiah saja. Wakssssss!!!!!
Saya tidak sepandai teman saya dalam merangkai kata, tapi 100% setuju dengan tulisannya. Dan mengharapkan hal yang sama, jika suatu hari nanti ada kesempatan menikahkan anak-anak saya, atau keponakan-keponakan saya, smoga saya tidak menjadi tante atau ibu yang ikutan heboh dalam mempersiapkan pesta anak dan kemenakan saya. Tapi Insyaa Allah, bisa mempersiapkan batin mereka untuk menghadapi hidup baru mereka kelak.
Thursday, May 03, 2007
Naga Bonar "jadi" 2
Telat banget ga sih saya baru nonton film ini semalam. Itu pun nyaris gagal, karena suami saya sempet "mutung". Karena ternyata film tersebut sudah mulai pukul 19.00, sedangkan kami tiba pukul 19.10, "udah 10 menit mba, mau?" kata mba' petugas karcis. Dengan cepat suami saya berkata, "gimana sih? katanya mulai jam 8? ah.. ga mau gw kalo udah telat." dan langsung ngeloyor pergi keluar bioskop. Nyebelinnnnn banget sih suami saya itu!! Sebelumnya saya memang memberitahu dia bahwa studio 4 di bioskop ini mulai jam 8 malam. Sambil jalan dia juga nyerocos (duh.. bahasanya ..), "emang ga di cek lagi apa?" ARRGGGGGHHHHHHH ..... sebelum bertanduk, saya jalan melenggang mendahului dia. Nyebelin banget sih??
Mendekati eskalator untuk turun, suami saya itu bertanya, "Sekarang jam berapa? Telat dikit ga apa kali yah?" Dan dia langsung berbalik arah menuju bioskop lagi. Sekali lagi, AAARGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH...... "Telat 15 menit yah Pak," kata petugas karcis nya. Yah... sudah lah...
Untung nya film ini memang T-O-P-B-G-T, smua kekesalan di luar bioskop tadi terhapus sudah. Dan memang benar seperti orang-orang, resensi di koran-koran, bahwa film ini memang luar biasa. Aktor kawakan Deddy Mizwar, memang tidak perlu diragukan lagi kwalitas acting nya. Banyak sekali dialog yg mengkritik, baik pemerintahan, maupun mengkritik diri sendiri. Seperti dialog antara Naga Bonar dan Umar (tukang bajaj), bapaknya Umar ini seorang pejuang, tapi tidak pernah bercerita ke anak nya tentang masa-masa perjuangannya, dengan alasan perbuatan baik tidak perlu diomongin, cukup Allah saja yang mengetahui. Dan saya pun terbawa emosi haru di saat Naga Bonar mengunjungi Tugu Proklamasi, Taman Makam Pahlawan dan Patung Jend. Sudirman. Soundtrack lagu-lagu nasional nya sungguh menyentuh.
Ahhh... cerita yang menakjubkan... kalo yang belum pernah nonton dan penasaran film Naga Bonar versi tahun 80-an, bisa lihat di sini.
Kira-kira ada yang jual VCD Asli Naga Bonar ga yah? Mau dong.
Sinopsis Naga Bonar jadi 2
Apa kata Duniaa
Mendekati eskalator untuk turun, suami saya itu bertanya, "Sekarang jam berapa? Telat dikit ga apa kali yah?" Dan dia langsung berbalik arah menuju bioskop lagi. Sekali lagi, AAARGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH...... "Telat 15 menit yah Pak," kata petugas karcis nya. Yah... sudah lah...
Untung nya film ini memang T-O-P-B-G-T, smua kekesalan di luar bioskop tadi terhapus sudah. Dan memang benar seperti orang-orang, resensi di koran-koran, bahwa film ini memang luar biasa. Aktor kawakan Deddy Mizwar, memang tidak perlu diragukan lagi kwalitas acting nya. Banyak sekali dialog yg mengkritik, baik pemerintahan, maupun mengkritik diri sendiri. Seperti dialog antara Naga Bonar dan Umar (tukang bajaj), bapaknya Umar ini seorang pejuang, tapi tidak pernah bercerita ke anak nya tentang masa-masa perjuangannya, dengan alasan perbuatan baik tidak perlu diomongin, cukup Allah saja yang mengetahui. Dan saya pun terbawa emosi haru di saat Naga Bonar mengunjungi Tugu Proklamasi, Taman Makam Pahlawan dan Patung Jend. Sudirman. Soundtrack lagu-lagu nasional nya sungguh menyentuh.
Ahhh... cerita yang menakjubkan... kalo yang belum pernah nonton dan penasaran film Naga Bonar versi tahun 80-an, bisa lihat di sini.
Kira-kira ada yang jual VCD Asli Naga Bonar ga yah? Mau dong.
Sinopsis Naga Bonar jadi 2
Apa kata Duniaa
Nyalon
Rambut Nasta itu lurus banget, dan memang dari kecil sudah model Dora gitu. Jadi pasti ada poni nya. Sebenernya saya suka Nasta berambut panjang, karena rambutnya yang hitam dan lurus. Tapi mengingat Nasta tidak suka di kuncir & di jepit, jadi saya harus merelakan Nasta berambut pendek. Kalo Nara itu rambut nya lebih tipis dan ikal. Jadi sampai sekarang (15 bulan), tidak tampak perubahan significant, makanya Nara belum pernah ke salon untuk sekedar potong poni atau pun rambut lainnya. Terbalik dengan kakak nya, yang tiap 2 - 3 bulan sekali harus ke salon (salon kakak yang di Kemang lho). Karena saya, ibu nya, tidak bisa potong poni Nasta. (kepikiran untuk ambil kursus menggunting rambut nih, biar ga tekor ke salon).
Suatu hari, saya, Nasta dan ipar-ipar saya ke salon di Jl. Joko Sutono. Ditawarin potong rambut, dia menampik dengan alasan, "nanti aja di salon kakak." Kali lain, beramai-ramai kami ke salon itu lagi, dia baru mulai "tergoda". Coba cuci rambut dulu, anteng aja tuh. Padahal kalo di salon kakak, dia ga mau cuci rambut, jadi cuma dibasahin pake semprotan air gitu. Saat itu Nasta duduk tenang sambil membaca majalah nya (iya, baca majalah). Giliran di gunting, mulai deh agak2 ga tenang. Memang butuh kesabaran untuk menggunting rambut anak-anak yah. Dan akhirnya.. viola ... rambut nasta berbeda dari biasa. Kali ini agak sedikit di layer.. (biar ga terlalu seperti Dora). Smakin hari, kok.. jadi kaya Baim Wong yah?? Hahahaha... makanya saya sempat memanggil dia Nasta Wong.
Sebulan... dua bulan ... aaarrrggghhh... poni nya sudah melewati alis mata. Dengan sedikit nekat, karena ga mau rugi ke salon hanya untuk potong poni, saya coba potong poni nya Nasta. Hasilnya??? Hmm.... musti banyak berlatih .. dan minum Milo tiap hari!! Saya ga berani potong terlalu pendek, karena miring-miring dong potongan saya. 2 minggu berlalu, akhirnya terpaksa saya ajak ke salon lagi.
Ibu : Kak, potong rambut lagi yah.
Ata : Iya Bu
Ibu : Mau dimana? Salon kakak?
Ata : Ga bu, salon ibu aja.
Ibu : !@#$%
Singkat cerita, Sabtu lalu saya ke Salon, sebenarnya saya pun pengen potong dikit juga nih rambut. Tapi lihat nanti deh. Sesampainya di salon, saya pesan tukang cukur yg dulu pernah potong rambut Nasta. "Tapi lagi nge-blow orang Bu. Nunggu bentar yah." OK lah.. Sambil melihat, duh... tukang cukur yg biasa menghandle ipar-ipar saya lagi nganggur nih, sayang juga kalo keduluan orang. Bisa ga yah ikutan potong?? (Karena takut ga ada yg ngawasin Nasta nanti).
Ga lama, "Bu, di cuci dulu yuk.." Saya dan Nasta melangkah ke tempat cuci rambut. Dan hoop, mengangkat Nasta ke tempat duduknya. Mba nya bengong, "Lho?? Yang mau potong ibu atau anaknya sih??" Hehehehehe... ternyata yang mau potong rambut itu anak kecil. Dan.. Nasta menikmati sekali acara cuci rambut tersebut, dia memejamkan matanya. Mba cuci rambut bilang, "wah.. besok-besok ikutan creambath dan luluran ma' mama nya yah." Hhmm... bisa jadi.
Eh.. tapi kalo beneran anak(anak) saya nanti pada suka ke salon gimana yah?? (Nurun gitu dari ibu nya).
Dan... Nasta sudah meng-claim, bahwa Salon dia adalah salon ini. "Salon baru kakak".
Pfuiih...
Suatu hari, saya, Nasta dan ipar-ipar saya ke salon di Jl. Joko Sutono. Ditawarin potong rambut, dia menampik dengan alasan, "nanti aja di salon kakak." Kali lain, beramai-ramai kami ke salon itu lagi, dia baru mulai "tergoda". Coba cuci rambut dulu, anteng aja tuh. Padahal kalo di salon kakak, dia ga mau cuci rambut, jadi cuma dibasahin pake semprotan air gitu. Saat itu Nasta duduk tenang sambil membaca majalah nya (iya, baca majalah). Giliran di gunting, mulai deh agak2 ga tenang. Memang butuh kesabaran untuk menggunting rambut anak-anak yah. Dan akhirnya.. viola ... rambut nasta berbeda dari biasa. Kali ini agak sedikit di layer.. (biar ga terlalu seperti Dora). Smakin hari, kok.. jadi kaya Baim Wong yah?? Hahahaha... makanya saya sempat memanggil dia Nasta Wong.
Sebulan... dua bulan ... aaarrrggghhh... poni nya sudah melewati alis mata. Dengan sedikit nekat, karena ga mau rugi ke salon hanya untuk potong poni, saya coba potong poni nya Nasta. Hasilnya??? Hmm.... musti banyak berlatih .. dan minum Milo tiap hari!! Saya ga berani potong terlalu pendek, karena miring-miring dong potongan saya. 2 minggu berlalu, akhirnya terpaksa saya ajak ke salon lagi.
Ibu : Kak, potong rambut lagi yah.
Ata : Iya Bu
Ibu : Mau dimana? Salon kakak?
Ata : Ga bu, salon ibu aja.
Ibu : !@#$%
Singkat cerita, Sabtu lalu saya ke Salon, sebenarnya saya pun pengen potong dikit juga nih rambut. Tapi lihat nanti deh. Sesampainya di salon, saya pesan tukang cukur yg dulu pernah potong rambut Nasta. "Tapi lagi nge-blow orang Bu. Nunggu bentar yah." OK lah.. Sambil melihat, duh... tukang cukur yg biasa menghandle ipar-ipar saya lagi nganggur nih, sayang juga kalo keduluan orang. Bisa ga yah ikutan potong?? (Karena takut ga ada yg ngawasin Nasta nanti).
Ga lama, "Bu, di cuci dulu yuk.." Saya dan Nasta melangkah ke tempat cuci rambut. Dan hoop, mengangkat Nasta ke tempat duduknya. Mba nya bengong, "Lho?? Yang mau potong ibu atau anaknya sih??" Hehehehehe... ternyata yang mau potong rambut itu anak kecil. Dan.. Nasta menikmati sekali acara cuci rambut tersebut, dia memejamkan matanya. Mba cuci rambut bilang, "wah.. besok-besok ikutan creambath dan luluran ma' mama nya yah." Hhmm... bisa jadi.
Eh.. tapi kalo beneran anak(anak) saya nanti pada suka ke salon gimana yah?? (Nurun gitu dari ibu nya).
Dan... Nasta sudah meng-claim, bahwa Salon dia adalah salon ini. "Salon baru kakak".
Pfuiih...
Tuesday, May 01, 2007
Bahagianya Orang Ikhlas
Note: artikel bagus banget.. buat yang sedang belajar jadi orang Ikhlas (seperti saya yang akan terus belajar ikhlas)
Berpikirlah terus, bagaimana caranya agar amal kita diterima Allah. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat.
"Ketahuilah, hari ini adalah hari Allah. Tidak boleh ada kesombongan dan sikap melampaui batas. Ikhlaskan niat kalian untuk berjihad dan carilah ridha Allah dengan amal kalian". Inilah yang disampaikan Khalid bin Walid di hadapan komandan pasukannya menjelang Perang Yarmuk.
Tak lama kemudian, datanglah utusan Khalifah membawa sepucuk surat untuk Khalid bin Walid. "Pedang Allah" ini segera membacanya. Di dalamnya tercantum beberapa hal, termasuk berita wafatnya Khalifah Abu Bakar dan dan beralihnya kendali kekhalifahan ke tangan Umar bin Khathab. Yang terpenting, Khalifah Umar mencopot jabatan panglima perang yang disandang Khalid bin Walid, dan mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.
Bagaimana sikap Khalid? Ia menerima pemberhentian tersebut dengan sikap ksatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar dari wajahnya. "Aku tidak berperang untuk Umar. Aku berperang untuk Tuhannya Umar," demikian ungkapnya.
Ia segera mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menyerahkan kendali kepemimpinan. Setelah itu ia berperang habis-habisan di bawah komando mantan anak buahnya tersebut. Padahal, masa itu adalah masa keemasan Khalid bin Walid.
Saudaraku, betapa bahagianya Khalid bin Walid. Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya, lalu berperang habis-habisan sebagai seorang prajurit. Orientasi perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.
Kita harus mulai mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun tidak sibuk menata niat. Sehingga amal-amal yang kita lakukan tidak ada nilainya di hadapan Allah. Seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa sakit, bila kehamilannya itu disikapi dengan keluhan. Demikian pula seorang bapak yang siang malam bekerja, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah, bila tidak karena Allah. Karena itu, jangan hanya sibuk beramal, tapi sibukkan pula dengan meluruskan niat.
Bagaimana agar kita bisa ikhlas? Tekniknya sederhana. Pusatkan pikiran dan amal hanya untuk Allah. Berpikirlah, bagaimana agar amal kita diterima Allah. Titik. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat. Lakukan yang terbaik, sampaikan dengan cara terbaik, berikan yang terbaik, dan dengan hati terbaik.
Saudaraku, orang ikhlas itu pasti bahagia dalam hidupnya. Sebab, Allah SWT akan menganugerahkan enam ciri (keutamaan) dalam hidupnya.
[1] Jarang kecewa terhadap dunia. Orang ikhlas tidak mengharapkan apapun dan dari siapapun. kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari mempersembahkan. Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup, karena banyak berharap dari makhluk.
[2] Tidak pusing dengan penghargaan. Baginya orang ikhlas dipuji atau dicaci sama saja, asalkan apa yang ia lakukan benar caranya dan lurus niatnya.
[3] Tidak membeda-bedakan amal besar dan amal kecil. Orang ikhlas tidak sibuk melihat besar kecilnya amal. Ia hanya sibuk dengan apa yang disukai Allah. Tidak ada yang kecil di hadapan Allah. Yang kecil hanyalah amal yang tidak ikhlas.
[4] Nikmat berbuat amal. Kebahagiaannya bukan dari mendapatkan pujian, namun dari optimalnya amal. Karena itu, orang ikhlas akan tangguh dan istikamah dalam ibadah.
[5] Tidak menonjolkan "bendera". Orang ikhlas tidak berjuang untuk satu kelompok tertentu. Ia berjuang hanya untuk Islam. Kelompok/bendera hanyalah sarana/alat untuk mencapai tujuan.
[6] Tidak ditipu setan. Allah SWT mengabadikan ucapan Iblis dalam Alquran. "_pasti aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas" (QS Al Hijr [15]: 39-40). Wallaahu a'lam.
( KH Abdullah Gymnastiar )
Berpikirlah terus, bagaimana caranya agar amal kita diterima Allah. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat.
"Ketahuilah, hari ini adalah hari Allah. Tidak boleh ada kesombongan dan sikap melampaui batas. Ikhlaskan niat kalian untuk berjihad dan carilah ridha Allah dengan amal kalian". Inilah yang disampaikan Khalid bin Walid di hadapan komandan pasukannya menjelang Perang Yarmuk.
Tak lama kemudian, datanglah utusan Khalifah membawa sepucuk surat untuk Khalid bin Walid. "Pedang Allah" ini segera membacanya. Di dalamnya tercantum beberapa hal, termasuk berita wafatnya Khalifah Abu Bakar dan dan beralihnya kendali kekhalifahan ke tangan Umar bin Khathab. Yang terpenting, Khalifah Umar mencopot jabatan panglima perang yang disandang Khalid bin Walid, dan mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.
Bagaimana sikap Khalid? Ia menerima pemberhentian tersebut dengan sikap ksatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar dari wajahnya. "Aku tidak berperang untuk Umar. Aku berperang untuk Tuhannya Umar," demikian ungkapnya.
Ia segera mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menyerahkan kendali kepemimpinan. Setelah itu ia berperang habis-habisan di bawah komando mantan anak buahnya tersebut. Padahal, masa itu adalah masa keemasan Khalid bin Walid.
Saudaraku, betapa bahagianya Khalid bin Walid. Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya, lalu berperang habis-habisan sebagai seorang prajurit. Orientasi perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.
Kita harus mulai mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun tidak sibuk menata niat. Sehingga amal-amal yang kita lakukan tidak ada nilainya di hadapan Allah. Seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa sakit, bila kehamilannya itu disikapi dengan keluhan. Demikian pula seorang bapak yang siang malam bekerja, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah, bila tidak karena Allah. Karena itu, jangan hanya sibuk beramal, tapi sibukkan pula dengan meluruskan niat.
Bagaimana agar kita bisa ikhlas? Tekniknya sederhana. Pusatkan pikiran dan amal hanya untuk Allah. Berpikirlah, bagaimana agar amal kita diterima Allah. Titik. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat. Lakukan yang terbaik, sampaikan dengan cara terbaik, berikan yang terbaik, dan dengan hati terbaik.
Saudaraku, orang ikhlas itu pasti bahagia dalam hidupnya. Sebab, Allah SWT akan menganugerahkan enam ciri (keutamaan) dalam hidupnya.
[1] Jarang kecewa terhadap dunia. Orang ikhlas tidak mengharapkan apapun dan dari siapapun. kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari mempersembahkan. Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup, karena banyak berharap dari makhluk.
[2] Tidak pusing dengan penghargaan. Baginya orang ikhlas dipuji atau dicaci sama saja, asalkan apa yang ia lakukan benar caranya dan lurus niatnya.
[3] Tidak membeda-bedakan amal besar dan amal kecil. Orang ikhlas tidak sibuk melihat besar kecilnya amal. Ia hanya sibuk dengan apa yang disukai Allah. Tidak ada yang kecil di hadapan Allah. Yang kecil hanyalah amal yang tidak ikhlas.
[4] Nikmat berbuat amal. Kebahagiaannya bukan dari mendapatkan pujian, namun dari optimalnya amal. Karena itu, orang ikhlas akan tangguh dan istikamah dalam ibadah.
[5] Tidak menonjolkan "bendera". Orang ikhlas tidak berjuang untuk satu kelompok tertentu. Ia berjuang hanya untuk Islam. Kelompok/bendera hanyalah sarana/alat untuk mencapai tujuan.
[6] Tidak ditipu setan. Allah SWT mengabadikan ucapan Iblis dalam Alquran. "_pasti aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas" (QS Al Hijr [15]: 39-40). Wallaahu a'lam.
( KH Abdullah Gymnastiar )
If I have 2 billion cash, I will .........................
Hehehehehe.... I believe in miracle, I do! Jadi sambil menunggu mukjizat itu terjadi yang entah itu kapan akan terjadi boleh kan saya berkhayal dulu. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, rasanya sah-sah saja kegiatan berkhayal ini.
Dan topik khayalan saya minggu ini adalah : apa yang akan saya lakukan jika saya mendapatkan kesempatan punya uang 2 milyar rupiah. Catat : 2 (DUA) MILYAR. Ntah ada apa dengan angka 2 Milyar ini, padahal kalo berkhayal, bisa aja kan angkanya saya mark up jadi 10 Milyar. Upss... ketauan deh suka mark up angka (icon blushing). Eits... biasanya untuk keperluan kantor kok.... iya iya ... percaya mel... Kembali ke dalam dunia khayalan saya :D
Seandainya saya punya uang 2 Milyar, yang pertama-tama saya lakukan adalah memangkas 2.5% untuk zakat. (Eh, kalo dapat rezeki dadakan gini zakatnya 2.5% atau lebih yah?? Nantilah diomongin lagi). Lalu saya akan membayar semua hutang-hutang (materi lho) saya. Dari mulai kartu kredit (saya & suami), hutang KPR, bangun rumah sedikit supaya lebih layak huni, beli keperluan rumah (yang penting-penting aja dulu i.e. AC dan kulkas), trus kasih ke mama & ibu, bantuin bayar hutang (kartu kredit) kakak² dan adik² saya, bantuin bayar hutang ke beberapa teman yang saya tahu dengan pasti amat sangat membutuhkan, ngasih ke tante-tante, ngajak jalan2 orang tua (ke Bali aja, tapi harus berkesan buat mereka), nabung buat Nasta & Nara masing2 300 juta, buat pendidikan mereka kelak, beli mobil ga usah yang mahal-mahal deh (VW Tourage aja kali yah? hehehe), beli digital camera (Nikon D 200), laptop impian (ga usah yang canggih banget kok), traktir temen-teman kantor deh, Sushi Tei anyone? Hhhm... apalagi yah? Ada yang kurang ga yah?? Beli rumah di Casamora (Cilandak Tengah situ tuh...) cukup ga yah??? ah... gampang... BERKHAYAL LAGI AJA... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
"Ya Allah, ini memang sekedar khayalan, tapi jika Engkau mengizinkan dan mengabulkan, Alhamdulillah. Smoga memang jadi manfaat besar buat saya dan keluarga, serta orang-orang yang nanti akan menikmati harapan saya ini. Amiiiinnnn"
Dan topik khayalan saya minggu ini adalah : apa yang akan saya lakukan jika saya mendapatkan kesempatan punya uang 2 milyar rupiah. Catat : 2 (DUA) MILYAR. Ntah ada apa dengan angka 2 Milyar ini, padahal kalo berkhayal, bisa aja kan angkanya saya mark up jadi 10 Milyar. Upss... ketauan deh suka mark up angka (icon blushing). Eits... biasanya untuk keperluan kantor kok.... iya iya ... percaya mel... Kembali ke dalam dunia khayalan saya :D
Seandainya saya punya uang 2 Milyar, yang pertama-tama saya lakukan adalah memangkas 2.5% untuk zakat. (Eh, kalo dapat rezeki dadakan gini zakatnya 2.5% atau lebih yah?? Nantilah diomongin lagi). Lalu saya akan membayar semua hutang-hutang (materi lho) saya. Dari mulai kartu kredit (saya & suami), hutang KPR, bangun rumah sedikit supaya lebih layak huni, beli keperluan rumah (yang penting-penting aja dulu i.e. AC dan kulkas), trus kasih ke mama & ibu, bantuin bayar hutang (kartu kredit) kakak² dan adik² saya, bantuin bayar hutang ke beberapa teman yang saya tahu dengan pasti amat sangat membutuhkan, ngasih ke tante-tante, ngajak jalan2 orang tua (ke Bali aja, tapi harus berkesan buat mereka), nabung buat Nasta & Nara masing2 300 juta, buat pendidikan mereka kelak, beli mobil ga usah yang mahal-mahal deh (VW Tourage aja kali yah? hehehe), beli digital camera (Nikon D 200), laptop impian (ga usah yang canggih banget kok), traktir temen-teman kantor deh, Sushi Tei anyone? Hhhm... apalagi yah? Ada yang kurang ga yah?? Beli rumah di Casamora (Cilandak Tengah situ tuh...) cukup ga yah??? ah... gampang... BERKHAYAL LAGI AJA... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
"Ya Allah, ini memang sekedar khayalan, tapi jika Engkau mengizinkan dan mengabulkan, Alhamdulillah. Smoga memang jadi manfaat besar buat saya dan keluarga, serta orang-orang yang nanti akan menikmati harapan saya ini. Amiiiinnnn"
Subscribe to:
Posts (Atom)