photo dirumah-nurina-merah-468.gif

Thursday, September 13, 2007

Senin, 10 September 2007

Yaa ayyatuhan nafsul muthma’innah, irji’ii ila rabbiki raadhiyatam mardhiyyah. Fadkhulli fii ‘baadi wad khuli jannati
Wahai jiwa yang tenang kemballah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lag di ridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba ku dan masuklah ke dalam surga –Ku\
(QS. Al-Fajr (89) ayat 27 – 30)



Innaa Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun
Sesungguhnya kami adalah milk Allah dan kepada Nya kami kembali

Manusia hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jalan menuju kematian tiap manusia pun tidak pernah sama. Alhamdulillah almarhum papa (mertua) Djamadil Agus Alwi (74 tahun) boleh dibilang meninggal dengan tenang, cepat dan tidak terlalu menderita, menurut saya. Mungkin papa sendiri sebelumnya sudah menderita. Blio kesulitan bernafas dan terlihat sekali blio tidak bisa bernafas akibat asma akut yang dideritanya.

Senin malam saya dan Uni Anis sudah menuju rumah, di sekitar Lenteng Agung saya dengar Uni terima telpon dari rumah. "ada d lemari", kata uni sedikit kesal. Hhmm.. pasti papa pikir saya. Karena papa memang selalu mengandalkan uni jika ada apa-apa, terutama masalah obat-obatan. Saat itu mungkin dalam pikiran uni, papa mengada-ada lagi mengenai sesak nafas nya itu. Sepuluh menit kemudian, di telpon lagi dari rumah, uni masih menjawab seadanya "iya iya ini udah di margonda. Sabar dikit dong." Hhhm.. kalo memang uni bicara dengan papa, saya sempat ngebatin – uni sedikit kasar - :D tapi karena saya sendiri tahu bagaimana papa, jadi agak maklum. Papa itu sudah sedikit (atau banyak yah?) pikun. Dan keras kepala. Hmm… ketauan kan darimana sifat keras nya si abang turunan siapa? Saat itu di mobil, kami masih beranggapan bahwa papa hanya "sesak nafas" biasa, makanya blio ribut cari ventolin. Saya pun ngomong ke Uni, "sirup markisa uni yang buka bukan?" "Bukan", jawab uni. "Soalnya, baik abang maupun meli ga ada yg pernah minum sirup itu, tapi sekarang sudah mau habis." Tersangka utama tentu lah si papa. Yang memang suka minum dingin, tidak bisa dilarang, kalo pun di larang papa bilang "hanya minum sedikit". Jadi saat di mobil kami mengasumsi papa kambuh sesak nafas nya karena minum dingin. Sampai di komplek handphone uni berdering lagi "ya udah di komplek". Kata uni singkat. Huu.. kalo masih jauh gimana?, uni sedikit menggerundel.

Sampai di depan rumah papa sudah bergegas jalan menuju mobil dituntun oleh Bu Diah. Terlihat papa sudah panik, karena kesulitan bernafas. "Susah .. susah nafas..", kata papa terengah-engah. "Iya kita langsung ke rumah sakit, sabar", kata uni cepat. Saya pun ngikut lagi masuk ke dalam. "Papa duduk depan aja", kata papa. "Ehh.. jangan", sahut saya cepat, papa di belakang, meli yg di depan. Di dalam mobil papa duduk pegang jok depan, "susah susah nafas nya..", kata papa. "iya sabar, istighfar", kata uni lagi. Sambil bantu mengucapkan, astahfirullah al adziim. Terus di ulang-ulang. Saya bantu pegang tangan papa, seakan-akan ingin memberikan kekuatan kepada papa. Saya bingung harus ngapain lagi, melihat papa kesulitan bernafas. Saya hanya bisa berkata, sabar pa, istighfar. Sempat terucap oleh papa –sulit sulit sekali bernafas "pa, sabar pa". Uni mungkin tidak melihat ekspresi papa karena uni nyetir mobil. Tapi saya yang melihat muka papa, smakin tidak tega. Sabar pa, rumah sakit nya sudah dekat. Melihat papa yg seperti mau pingsan, saya langsung lompat ke belakang dan menangkap tubuh papa.

Di jalan tidak hentinya saya mengajak papa bicara dan dalam hati menyesali tidak ada pemisah jalan di depan RS Bunda Margonda. Kalaupun ada puteran sekitar 200 meter dari Bunda, itu pun tidak dapat digunakan karena dtutup. Buat apa ada puteran kalo ga bisa buat muter?? Jadi kami harus memutar diputaran UI. Ditambah kondisi jalan yang kurang ramah (jam nya orang pulang kantor). Ahh…

Papa sudah terdiam, saya melihat gigi papa sudah mengatup. Reflek saya coba masukkan jempol saya ke mulut papa, "pa, gigit jempol meli pa. gigit yang kenceng pa. gigit pa", sempat saya merasakan jempol saya digigit papa, sesaat. "pa, sabar pa, rumah sakit nya udah lewat, kita harus muter dulu. Pa. bangun pa. pa, besok papa antar nasta sekolah atau TPA yah pa. pa, inget nasta dan nara pa. pa, bangun pa." Saya coba memegang denyut nadi di pergelangan tangan papa, hanya rasa dingin dan justru degup jantung saya terdengar lebih kencang lagi. Saya terus ajak ngobrol papa, berusaha menghilangkan pikiran bahwa papa sudah tak bernyawa, berharap hanya pingsan. Tapi sempat juga saya melihat jam, seandainya benar papa sudah tak bernyawa saya bisa tahu perkiraan waktu nya. 8.29.

Sesampainya di RS Bunda, dengan bantuan orang-orang yang ada di sekitar UGD, papa diturunkan dari mobil. Saya mencoba mendorong papa, sudah berat. Tapi saya masih berharap. Seorang perawat di parkiran masih mengenali muka saya, saat Nara di rawat. Dengan cepat perawat UGD mengambil alih papa dan memasangkan selang oksigen, dokter jaga datang dalam hitungan detik. "Sudah tak ada denyut," katanya. Ayahnya kenapa? Kata dokter kepada kami. Sesak nafas, serangan asma. "punya sakit jantung?" "iya, pernah serangan jantung 4 – 5 bulan yang lalu." Dokter hanya diam lalu berkata ke perawatnya, kita coba EKG. Saya melihat air muka dokter, dan sepertinya saya sudah tahu apa yang terjadi. "papa ngompol dok," kata saya. Dokter hanya mengangguk. Dan kesimpulan dokter, papa sudah meninggal pada saat dibawa ke rumah sakit. Ya Allah, apakah benar dugaan saya tadi? Papa sekarat waktu di mobil tadi. Dan tidak ada yg bisa saya bantu untuk papa, meringankan sakit nya itu? Dan yg lebih sedih nya lagi, saya tidak membantu papa 'melepas kepergiannya' padahal saya berada tepat disamping papa. Karena saat itu saya masih berharap papa hanya pingsan dan akan segera sembuh.

Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat ummatNya. Allah tidak menginginkan papa tersiksa lebih lama. Dia menyegarakan sakit papa. Walaupun kepergian papa yang sangat cepat ini menyisakan penyesalan dihati kami, anak-anaknya. Kami masih kurang sabar dalam menghadapi tingkah laku papa, padahal kami menyadari kekurangan papa.

Pada saat papa pingsan di mobil, uni sudah telpon ke rumah. Menyuruh Ira dan mama segera ke rumah sakit. Terserah mau naik apa, harus segera. Abang masih dalam perjalanan saat itu, uni juga sudah telpon abang untuk segera langsung ke rumah sakit. Berkal-kali abang mencoba cari tahu, apa yang terjadi dengan papa. Saya hanya bisa bilang, sedang di observasi oleh dokter. Saya tidak mau bilang ke abang, kalo papa nya sudah meninggal. Supaya abang tidak terburu-buru ke rumah sakit. Mengingat abang itu orang nya panikan. Ira sms saya, memberitahu sudah menuju rumah sakit. Papa gimana? Itu pun tidak saya balas. Sesampainya ira d rumah sakit, dengan muka penuh pertanyaan ira menghampiri saya. Mama berjalan dibelakang. "Saya hanya bilang ke ira, pegangin mama Ir, papa udah ga ada" tak terbendung tangis ira dan mama yang mendengar kabar ini.

Saya mencoba tabah. Tapi setiap kali teringat "ya Allah, bentar lagi puasa. Ga disangka kejadian juga ke saya, merasakan puasa tanpa orang terkasih." Saya suka sedih, jika menjelang bulan Ramadhan melihat mobil jenasah lewat, saya selalu bertanya, mereka pasti sedih sekali yah? Bentar lagi mo puasa, di tinggal orang terkasih. Dan hal ini menimpa saya.

Alhamdulillah mama aktif di mesjid, jadi saat mama bilang, urusan rumah sudah di urus pihak mesjid. Alhamdulillah. Saya menemani papa saat sakratul maut menjemput, saya menemani papa saat pulang ke rumah untuk disemayamkan. Saya memang baru kurang dari 6 tahun mengenal blio, tapi papa adalah papa yang baik, opa yang sayang sekali dengan kedua cucu nya. Papa sangat concern jika anak-anak sakit, dia akan masuk ke kamar jika mendengar cucu nya batuk atau menangis. Dan pastinya ribut bertanya, sudah di kasih obat? Dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang, dkarenakan kepikunan papa itu.

Sesampainya di rumah, Alhamdulllah semua sudah beres. Nasta blom tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Dia melihat semua kesibukan orang-orang, dia melihat opa nya di taro di dipan. Tapi tidak sepatah katapun dia mengajukan pertanyaan. Aneh sebenarnya, karena Nasta selalu bertanya jika ada hal-hal yang diluar kewajaran. Nasta tidur pukul 11.30, saya pun mengantuk sekali. Tapi mata sulit sekali dipejamkan. Coba baca Yaasiin, tapi ntah kenapa air mata ini sulit sekali dihentikan. Akhirnya saya 'mungkin' tertidur sekitar pukul 3 pagi. Dan sudah bangun lagi pukul 5.15, karena jamaah shubuh mesjid Adz-Dzikri datang untuk mendoakan papa.

Alhamdulillah semua proses dari mulai memandikan, mengafani, menyembayangkan dan menguburkan berjalan lancar. Papa dikubur di atas kuburan Oma, ibunya. Mama bilang, papa meninggal tanggal 10 September, Oma meninggal tanggal 11 September 1978. Sepertinya papa memang mempersiapkan diri untuk bertemu ibu nya, Karena sore nya papa sempat cat rambut.

Alhamdulillah, banyak yang bilang papa meninggalnya bagus. Karena mendekati puasa. Saat terakhir melihat wajah papa, sambil terisak saya berkata dalam hati, papa sudah enak sekarang, tidak akan merasakan sesak nafas lagi.

Ahh… hari-hari tidak akan sama tanpa kehadiran papa d rumah. Tidak ada lagi yang bikin mama marah-marah / kesel, karena tingkah papa yang kadang memang bikin geleng-geleng kepala. Tdak ada lagi papa yang suka melucu / bercanda dengan pembantu rumah tangga. Tidak ada lagi yang buka kulkas tengah malam, mencari kudapan. Ahh… sedih sekali…

Papa, I am gonna miss u.

Friday, August 24, 2007

Musibah Kecil

Cobaan dari Allah SWT itu bisa berbagai macam hal. Smoga saya termasuk orang orang yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi apapun ujian yang Allah berikan. Amiiin.

Masalah pembantu/baby sitter adalah cobaan kecil bagi seorang ibu yang punya anak dan bekerja di luar rumah. Setelah mba nya anak-anak yang hampir 2 tahun bekerja pada kami resign, dengan cepat saya langsung dapat pengganti. Belum ketenangan itu terasa, si mba' baru itu harus pulang karena "ibu nya sakit".. hhmm.. klise. Alhamdulillah tidak terlalu lama dapat pengganti. Ex baby sitter yayasan, teman suster yg lama itu. Anak nya kecil tapi gesit. Walaupun perlu waktu untuk beradaptasi dengan anak-anak, overall, kerjaanya OK.

Ah.. lega deh.. anak-anak ada yg bantu ngurus. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Karena asisten senior di rumah yang bagian masak dan bebenah rumah tiba-tiba pendarahan di rumahnya sendiri. (dia pulang tiap weekend). Hah??? kok ga keliatan hamil nya?? Dan kok bisa-bisanya mba itu ga bilang2 kalo sedang hamil (note: dia sudah punya 2 anak, bahkan anak yg bungsu dibawa - jadi teman main nasta nara). Kami semua jadi merasa bersalah. Memperkerjakan orang hamil!!

Pusing lagi..

Ga lama dapat freelancer untuk masak dan bebenah. Alhamdulillah. Tapi lagi-lagi ketenangan terusik, karena tiba-tiba si mba' suster tidak bisa balik dengan alasan harus menemani kakak nya yang ditinggal tugas suami. Ingin menangis rasanya.. pusing...

Kepusingan bertambah karena saat transisi pembantu itu, anak-anak lagi pada gantian sakit. Berakhir dengan Nara opname dengan diagnosa Radang Paru ringan. Gedubrak!!!
Nara di rumah sakit, otomatis saya harus disana dong. Siapa yang jaga Nasta?? Alhamdulillah, Allah memang pengasih dan penyayang. Kakak ipar saya memang pada saat itu memang sudah rencana ambil cuti seminggu, mau jalan-jalan dan istirahat di rumah. Jadilah Tata Anis jadi mba nya Nasta selama saya di rumah sakit. Antar jemput sekolah, dan bolak balik rumah sakit. Thanks Un.

Singkat kata, kami memutuskan ambil suster lagi di yayasan. Itu pun ternyata sulit sekali. Menjelang puasa ini, stok suster KOSONG!! banyak tersedia suster untuk bayi. Alhamdulillah setelah beberapa yayasan di telpon, referensi dari teman-teman dan saudara, kami dapat mba untuk Nara. Hhhmm... sebenarnya saya agak malas ambil dari yayasan karena takut si mba hanya mau pegang 1 anak. Trus Nasta gimana?? Mau nangis lagi saya. Tapi memang susah sekali cari pembantu menjelang puasa ini. Mba baru ini pun sudah bilang akan pulang kampung lebaran nanti. ahh... sudah lah, yang penting saat ini saya bisa kerja dengan tenang dulu. Mengingat pekerjaan kantor sudah menumpuk rasanya.

Saat ini saya masih dalam pencarian 1 mba untuk teman Nasta dan bantu-bantu bebenah. Smoga cepat dapat.

Thursday, July 19, 2007

Perempuan (baca: Ibu Hamil) Jakarta memang KUAT

Judul di atas sebenarnya ungkapan kekesalan saya terhadap para pria di ibukota Jakarta, penumpang bus lebih khususnya lagi.

Bagaimana tidak kesal? Jika melihat pria muda (bahkan remaja), seperti tidak punya mata melihat seorang wanita hamil besar dan sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda memberikan bangku untuk wanita hamil itu!

Kemaren saya dan dua orang teman menumpang Kopaja P20 dari tempat makan siang kami menuju kantor, salah seorang teman saya sedang hamil besar. Persis di depan mata kami, bangku-bangku tersebut telah diduduki oleh beberapa pria. Yang sepertinya para pria itu BUTA semua! Mereka seolah tidak melihat (tidak mau melihat tepatnya), bahwa seorang wanita hamil besar berdiri di samping mereka. Apakah mereka lupa pelajaran etika berkendaraan umum? Harus memberikan tempat (duduk) kepada orang yang tua, wanita hamil dan wanita yang menggendong anak kecil?

Ingin rasanya saya berteriak tepat di kuping mereka, "pada buta lo semua yah??". Well, sebenarnya tidak terlalu bermasalah juga untuk teman saya itu, kami hanya melewati 3 halte, dan Alhamdulillah teman saya itu cukup kuat untuk berdiri beberapa menit di dalam bus.

BUT THAT'S NOT THE POINT!! AAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHHHH......

Saat itu kebetulan matahari ada 5 di atas ubun-ubun kepala! Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak gerai kopi sebelah kantor. Dan kami membicarakan kejadian ini. Dan.. semuanya merasa GERAM!!

Wahai para pria yang baik hati, saya tau sebenarnya kalian baik hati dan perduli. Hanya saja kalian terlalu MALAS untuk berdiri di bus. Smoga suatu hari nanti, jika kalian bertemu dengan Ibu Hamil, Orang jompo dan ibu menggendong / membawa anak-anak, kalian tidak MALAS lagi utk berdiri dan memberikan tempat duduk kalian.

Wednesday, July 18, 2007

Bu, Abu, Ibu, Ibi

Sejak sebelum menikah pun saya berkeinginan anak-anak saya akan memanggil saya dengan sebutan Ibu. Bukan Mama. Ternyata tingkat kesulitan bagi seorang anak batita mengucapkan kata "IBU" cukup tinggi juga. Terbukti sewaktu Nasta seumuran Nara (<2 thn) dia tidak bisa mengucapkan "Ibu". Tapi dengan lantang dari umur 9 bulan sudah bisa mengucapkan "Ayah". Sedih? Pastinya!! Alhasil sempat sekali waktu Nasta memanggil saya dengan sebutan "Yeye". Hahahaha... ntah darimana dia mendapatkan ide untuk menyebut Yeye itu, dan sebutan itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya Nasta sudah bisa menyebut Ibu. Alhamdulillah.

Lain Nasta lain pula Nara. Dia cukup fasih mengucapkan kata "Ayah" dari sejak bisa mengeluarkan suara (agak hiperbola dikit boleh dong). Tapi untuk menyebut kata "Ibu" diperlukan usaha dan kesabaran saya sebagai Ibu nya untuk mendengar Nara memanggil saya Ibu. Hiks..
Kalau kami mencontohkan pengucapan "I-BU", dia hanya memonyongkan mulutnya menyerupai seruan "BU", tapi tidak ada suara. Kekekekekkkk... Ada untung nya juga sih, karena dia belum bisa bilang "ibu", jadi kalo terbangun tengah malam yang dipanggil adalah "AYAH". hahahahaha.... jadilah si ayah yang bangun meladeni keinginannya, si ibu? tetep tidur dong..

Sampai akhirnya Nara bisa mengucapkan kata "bu". Alhamdulillah. Eitss.. jangan senang dulu, karena Nara tidak mengucapkan "Ibu", melainkan "A-bu" waksss... dan jadilah beberapa saat Nara manggil saya dengan sebutan Abu. Sesekali dia bisa juga mengucapkan I-BU, atau E-BU. Yang penting "BU" nya jelas deh. Hehehehe...

Kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena saat ini Nara memanggil saya dengan sebutan "ibi". Pfewww...

"ndi, bi. ndi" yang artinya mandi ibu, mandi.

Wednesday, July 11, 2007

Batuk nya Nasta

Seharusnya Nasta sudah mulai masuk sekolah, tapi sengaja saya suruh dia tetap di rumah sambil memulihkan tenaga. Sudah hampir dua minggu Nasta terserang batuk yang cukup parah. Dan kali ini saya 'lemah'. Hari pertama dia demam dan mulai batuk, saya langsung bawa dia ke dokter anak. Dan di hari itu juga dia mulai menelan beragam macam obat yang dimasukkan kedalam 1 botol antibiotik. Hiksss... (padahal menurut artikel yang saya baca, batuk/asma tidak harus selalu diobati dengan antibiotik)

Hari keempat masih demam dan batuk yang bertambah parah, karena banyak slem di dada. Tambah lagi obat-obatan yang diracik dalam 1 botol antibiotik. Sempat juga Nasta dibawa ke UGD nya sebuah rumah sakit di jalan Margonda, karena saya dan suami memutuskan untuk mencoba inhalasi untuk Nasta. Karena jujur saja, kami tidak sanggup mendengar suara grok grok dan (mungkin) rasa sesak di dada yang Nasta rasakan. Kalo kami ada di posisi nasta, mungkin kami akan lemas tidak karuan.

Nasta demam lebih dari 5 hari, on off on off, saya sudah kepikiran bahwa demam nya dia ini karena batuk, dan kemungkinan ada kuman di slem nya dia. Tapi kami coba juga test darah dan hasilnya Alhamdulillah baik-baik saja. Proses inhalasi tidak berjalan mulus, karena Nasta ternyata tidak suka. "BAU" katanya sewaktu masker menutupi mulut dan hidungnya. Alhasil, kami hanya berhasil "mendekatkan" masker ke mulut dia. Sebenernya kurang efektif, karena banyak obat yang terbuang.

Dugaan sementara dari dokter, Nasta kemungkinan Asma. Karena ada turunan asma dari pihak ayah Lutfi, jadi kami seperti mengamini. Ditambah memang dari bayi Nasta sering batuk grok grok gitu. masih inget kejadian Nasta batuk grok grok di kasih Izoniazid ma' DSA nya, pdhal tuh obat utk penderita TB. Aarrggghhh

Saya dan suami akhirnya coba cari dsa spesialis asma anak. Sampailah kami pada seorang dokter di daerah kebayoran, dan kami dapat nomor besar, sehingga kami dijadwalkan bertemu sang dokter jam 12 malam!!. Phewww..
OK, kita coba saja. Kondisi Nasta sendiri pada saat kami bawa ke dokter itu sudah membaik, sesekali masih batuk berdahak. Tapi memang karena sudah masa akan sembuh (batuk masa sembuhnya ± 14 hari). Hasil obrolan kami dengan pak dokter ini, blio memang mengatakan tenggorokannya Nasta sensitive. Karena ada riwayat keluarga penderita asma, memang ada kemungkinan Nasta bisa menderita asma (noted : sekarang blom asma). Jadi sebisa mungkin pencetus nya musti dihindari. Tidak boleh ada buku di kamar / lemari kamar, pakaian di lemari tidak boleh lebih dari 2 minggu menetap, karena masa hidup sang TUNGAU. Tidak boleh ada binatang peliharaan (untungnya kami tidak punya), tidak boleh pasang karpet (karpet terakhir di ruang tamu sudah di angkat), bersihakan filter AC seminggu sekali (pfuiih...), boneka bulu di cuci seminggu sekali, dll,dsb.

Untuk memastikan kondisi Nasta, pak dokter ini menyarankan untuk photo thorax dan sinus. Ahh.. smoga Nasta baik-baik saja.

Renungan buat Ibu Meli
- Smoga ini kali terakhir Nasta minum antibiotik lama (biasanya kalo dapat antibiotik, saya jarang sekali kasih ke Nasta. Apalagi kalo tau sakit nya karena virus)
- Smoga lain kali jika Nasta mengalami hal serupa, saya bisa lebih intens mengawasi Nasta, sehingga kami tidak perlu bolak balik ke dokter. Karena penyakit seperti ini yang diperlukan hanya istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak dan makan makanan bergizi.
- Smoga Nasta bisa lebih sehat dan jarang sakit. Amiiin.


Buat teman-teman yang memerlukan artikel tentang asma bisa di cari di sini

Tuesday, June 26, 2007

Asa

Kehilangan kesempatan pastinya bikin semua orang sedih, dan mungkin semuanya akan berpikir, seandainya kita bisa kembali ke suatu masa dimana kita bisa memperbaiki sesuatu sehingga kita tidak kehilangan kesempatan itu.

Tapi mungkin sebagian besar orang akan mengatakan, ambil hikmah dari semua kejadian dan belajar dari kegagalan. Saya 100% setuju. Saya pun berusaha untuk ikhlas dan semoga lebih mengerti dari kegagalan saya ini.

Mengawali kejadian ini pun, saya sudah berusaha untuk berpikir positif dan siap kecewa jika hasilnya tidak sesuai keinginan. Menjalani proses sebaik-baiknya. Dan berdoa, jika memang hal ini terbaik dari Allah SWT, please make it happen. Tapi jika tidak, smoga saya diberi kesabaran, keihlasan dan pengertian akan semua hal ini.

Ya Allah, Engkau lah yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat ummat Mu ini. Berkahilah kehidupan kami sekeluarga. Amiiin.

Friday, June 08, 2007

Ulah Nasta

Potong Rambut

Akhirnya.... iya, kalo boleh saya bilang "akhirnya" kejadian ini terjadi juga di anak saya. Seringkali saya mendengar anak kecil ada masanya akan menggunting rambutnya sendiri. Dan terus terang saya menunggu saat itu. Hahahaha... maksudnya sih pengen tau aja, apa anak gw se"creative" anak-anak lain yang pernah melakukannya. Dan ternyata sekarang sudah terbukti.

Pulang kantor langsung dapat laporan, Nasta potong rambut. Sekilas saya lihat, ga ada yang aneh dengan rambut nya. Poni masih tetap sama panjang, bagian depan juga mulus. Ternyata dia potong bagian belakang. Hahahaha.... hhmmm.... ga keliatan kok. Tapi kalo diperhatikan baik-baik, memang aneh.

Dasar anak, dia bangga sekali lho bisa "potong rambut sendiri". Dan pastinya, dia ngomong itu tanpa ada perasaan bersalah, mungkin Nasta pikir, "kenapa sih, potong rambut dikit aja heboh banget."

Pfuihh... Ata..... ata.....


Masak "Kreppy Patty"

Semalam ayah cerita kalo Dani menangis karena Nasta. Deg. Saya langsung sedih. Apa yang sudah Nasta perbuat? Kok Dani bisa nangis? FYI, Dani itu lelaki dan lebih tua 1,5 tahun dari Nasta. Saya tidak ingin Nasta & Nara jadi anak yang suka mukul.

Sampai rumah, kebetulan Nasta belum tidur. Saya langsung ajak dia ngobrol.
Saya : Ibu denger tadi siang Dani nangis. Kenapa?
Ata : Iya, aku mau bikin Kreppy Patty, sama Dani ga boleh.

Terus dilanjutkan penjelasan dari mbak nya, Nasta ngejar-ngejar Dani pake sodet. Dani nya lari-lari ketakutan gitu, takut kena pukul. Trus Dani nangis. Ga lama Nasta nya juga nangis, karena sodet nya di ambil.

Ya Tuhan...

antara mau ketawa, tapi juga prihatin. Ternyata anak saya "galak" juga. alhasil, saya mencoba terus menjelaskan ke Nasta bahwa perbuatannya itu tidak baik. Dan tidak boleh di ulang lagi. Kepada Dani pun saya berpesan, kalo Nasta berbuat nakal lagi, kasih tau saya.

Ulangan Umum di TPA

Semalam saya baru membaca lembaran pengumuman dari TPA Adz-Dzikri, tempat Nasta sehari-hari menghabiskan waktu nya di sore hari. Nasta belum terdaftar resmi sebagai murid TPA itu. Hanya karena sang Oma pengurus mesjid, jadi status nasta adalah, "murid titipan".

Pengumuman itu berupa pemberitahuan Ulangan Umum di TPA tersebut. Jujur saja, saya dan suami sedikit panik. Karena kami kurang mengikuti pelajaran yang telah Nasta pelajari selama di TPA itu. Kami selalu berpikir, Nasta hanya murid titipan. Jadi belum terlalu banyak pelajarannya.

Ternyata oh ternyata.. walaupun ada "contekan" bacaan hadist dan surat pendek serta menghitung dengan bahasa Arab, saya jadi ketakutan sendiri. Hah? Bisa ga Nasta ngikutin "ujian" ini. Akhirnya kami sepakat, ya sudah lah, biar Nasta belajar "ulangan umum". Hihihihi....

Doakan yah, smoga minggu depan Nasta bisa mengikuti "ulangan umum" pertama nya itu.

Tuesday, June 05, 2007

Menunggu itu membosankan

Saat ini saya sedang dalam kondisi menunggu. Menunggu jemputan. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 19.18, pfuihh...

Dan dalam kondisi agak sedikit menyesal.. kenapa saya tadi tidak langsung pulang saja jam 5 teng. Seandainya saya langsung pulang, tidak minta di jemput, tentunya saat ini saya sudah bercengkerama dengan kedua bidadari saya.

Seandainya saya pulang duluan.... aaaaaaaaahhhh..... lamanya...

SMS baru, "sudah dekat kantor".

Ups.. saya pamit dulu yah.

Monday, June 04, 2007

Butuh uang? ke ATM aja

Sudah lama saya tidak bercerita tentang Nasta dan Nara. Sudah smakin banyak polah dari kedua orang bidadari kecil saya itu. Nasta (bentar lagi 4th) sudah smakin bijak. Nara (16 bulan) cenderung mengikuti kelakuan kakak nya.

Nara sudah bisa manggil saya, "booooooo" :D
Dan lucunya, dia senang sekali mengucapkan kata "apel". Kami memang senang melihat dia mengucapkan kata itu, karena pas ucapan "pel", dia akan melipat lidahnya. Lucu dan menggemaskan sekali. Sedihnya, karena Nara tidak memakai anting-anting, jadi tidak sedikit orang yang mengira Nara adalah anak laki. Seringkali orang-orang mengatakan, "enak yah, anaknya sudah sepasang." Wakkksss... huwaaaaaaa.... anak saya perempuan... Hhm.. resiko deh.. tapi mau gimana lagi? lubang anting nya sudah tertutup, dan harus menunggu Nara besar untuk buat lubang anting baru.

Lain Nara, lain pula Nasta. Anak ini memang seringkali "menguji kesabaran" ibu dan ayahnya. Suatu saat dia bisa begitu menyenangkan, sehingga saya tidak akan berhenti menciumnya. Tapi, kalo dia sudah berubah menjadi anak yang "menyebalkan" AAAAAAAAARGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH... rasanya saya ingin menangis saja...
Tapi sampai saat ini sih lebih banyak menyenangkannya kok. Belum tau nanti kedepannya. Pfuih...

Smoga saja baik saya dan suami saya bisa menjadi orang tua yang sabar dan lebih mengerti anak-anak nya. Amiiin.

Nasta juga masih suka becanda garing, bisa liat di sini. Duh.. menyesal saya, sudah lama tidak menulis tentang kegaringan dia, karena suatu hari nanti pasti bisa jadi obrolan menarik. Hahahahaha...

Sudah beberapa kali saya sering mendengar Nasta berbicara soal uang. Awalnya dari si mba, Nasta minta dibeliin sesuatu di warung. Mba nya bilang, "mba ga punya uang Ta." Dan dengan enteng nya nasta bilang, "mba ambil aja dulu di ATM." hihihihihihihi... Dan hal itu terjadi juga dengan kami, ayah dan ibu nya. Mentang-mentang setiap mau ambil uang kami suka ajak dia ke ATM.

Hahahaaha.. bisa-bisa bentar lagi dia akan mengerti, kalo untuk belanja bisa "gesek kartu aja"

Friday, May 04, 2007

Pernikahan

Suatu hari saya pernah membaca tulisan seorang teman mengenai Pernikahan. Dan saya salut dan langsung pengen kenalan dengan Mama nya teman saya ini. Tapi blom kejadian sih. Apa yang di tulis oleh teman saya itu, benar-benar mengena di hati.

Dan belum lama saya seperti diingatkan oleh tulisan tersebut, dan saya jadi ingin bercerita. Sepupu suami saya hendak menikah. Alhamdulillah. Dan tentu saja sang ibu menyambut gembira rencana pernikahan sang anak perempuan semata wayang nya ini. Calon nya kerja di ini lho, dekat dengan bapak presiden kita, bla bla bla ... tanggal belum ditentukan, tempat resepsi sudah ditentukan yaitu sebuah gedung megah yang biasa menjadi tempat resepsi pernikahan orang-orang berduit. Dengan alasan, hadiah dari Pakde calon mantu. Acara lamaran berjalan lancar, selesai acara segera ditunjuk team panitia untuk menyukseskan acara ini. Calon pengantin wanita nya? Duduk manis tanpa komentar apapun. Para sepupu yang sudah merasa pernah menikah, melontarkan saran-saran, masukan dan opini. Para sesepuh ikutan memberi suara. Ternyata, tempat memang sudah di pesan (oleh pakde calon pengantin pria), tapi belum ada yang survey mengenai rekanan catering, photographer, pelaminan, dll,dsb. Sang ibu berkata, pakai catering ini aja, makanannya enak dan harganya terjangkau. Para sepupu berkata, catering ini rekanan gedung ini ga? Biasanya kalo bukan rekanan akan kena surcharge 20%. Di bantu oleh buku panduan dari gedung, ternyata catering yang diinginkan tidak termasuk dalam daftar rekanan gedung. En zo fort... (saya ga terlalu menyimak, karena sibuk ngurusin Nasta).

Beberapa hari kemudian, ada desas desus.. catering di gedung ini minimal 50ribu per orang dengan minimum undangan 1800 orang. Suami saya berteriak, "Gila!! Gw mah mikir-mikir deh!!" Tapi ternyata, harga per porsi nya bukan segitu, melainkan minimal Rp. 150.000 per orang! Dannn.... suami saya tambah menjerit. GILA!!! Lalu pihak keluarga langsung minta dicarikan gedung lain, karena tidak sanggup dengan harga catering dan jumlah quota orang yang diwajibkan oleh gedung ini. Ya iya lah... mubazir banget kalo sampe kejadian.. (itu menurut saya lho). Dan yang tersedia untuk tanggal pernikahan yang diinginkan tinggal gedung ini, gedung yang dulunya pernah menjadi idola para calon pengantin. Disebelah Gedung MPR - DPR.

Lucu dan aneh nya, seperti nya calon pengantin wanita tidak merasa "terlibat" lebih jauh dengan acara pernikahan dia, karena gedung bukan dia yang mencari, tapi suami saya yang sepupu nya dia. Yang ribut mengenai KUA juga para sepupu nya, KUA udah di urus belom? Ijin numpang nikah, dll,dsb,dst. Dan saat itu calon pengantin pria hanya berkata, "Lho, itu bukannya sehari dua hari selesai yah?" Alamakkkk..... lo kira yang jadi penghulu bapak lo ndiri apa?? Biar nyaho aja kalo ternyata penghulu kagak ada yang bisa sesuai rencana jam pernikahan!. Eitsss... sabar... dia kan belum pernah menikah, jadi tidak tahu prosedur nya. Hhmm... baik lah.

Rapat keluarga lagi. Eits.. mana calon pengantin wanita nya?? Ini sebenarnya kita mau ngerapatin kawinan siapa sih? Yang punya hajat aja kagak ada!! Geram sekali rasanya. Ga menghargai banget sih para tante-tante dan sepupu-sepupu yang udah ngorbanin waktu weekend nya hanya untuk bantuin tante (sang ibu CPW) tercinta biar dia tidak merasa kerja sendiri. Note: most of all niat bantu tante, bukan bantuin sepupu saya itu!!! Saya dan salah seorang sepupu ngobrol, "kayanya gw waktu mo nikah itu semua ngurus sendiri deh. Cari gedung, cari catering, ngedatangin catering untuk test food, cari pelaminan, jadi pada saat rapat keluarga hal-hal tersebut sudah rapih. Tinggal menyerahkan ke panitia, supaya kita ga repot lagi di hari H nya." Pfuih..... Ini mah.... Astaghfirullah ...
Lalu dengan muka iseng saya berkata ke sepupu yang lain, "tanyain sekalian dong, malam pertama perlu bantuan kita-kita juga ga?" hihihihihihihihihi.....

Sigh.... cerita sepupu saya ini menjadikan perjalanan pergi dan pulang kantor menjadi penuh warna, karena di mobil saya dan ipar-ipar saya jadi sibuk mengomentari soal tingkah laku dia. "kaya di paksa aja sih nikahnya," itu salah satu dari sekian banyak komentar kami, para sepupu nya.

Aaahhhh.... ribet bener sih?? Kenapa sih yang musti diributkan itu justru acara sebelum pernikahan nya??? Kan masih banyak hal-hal lain yang nantinya akan dihadapi oleh calon pengantin kelak. Jadi benar kata mama teman saya ini ditulisannya. "Tante, kenalan dong. saya kagum deh ma' tante."

Sabtu lalu saya menghadiri syukuran pernikahan teman. Siang hari. Ternyata sebelum brangkat saya cek lagi di undangan, "Hah?? Bang, acaranya dari jam 10 - 12 lho!" HHm... berarti selesai akad nikah langsung syukuran, tanpa jeda seperti layaknya pasangan lain (seperti saya juga). Dan saya langsung berkomentar, wah.. enak banget yah? Acara di mesjid, selesai akad langsung ramai-ramai, simple, dan pastinya irit tuh. Hhmm... berbanding terbalik dengan sepupu saya itu, yang gosipnya, baju pengantin nya seharga 15 juta rupiah saja. Wakssssss!!!!!

Saya tidak sepandai teman saya dalam merangkai kata, tapi 100% setuju dengan tulisannya. Dan mengharapkan hal yang sama, jika suatu hari nanti ada kesempatan menikahkan anak-anak saya, atau keponakan-keponakan saya, smoga saya tidak menjadi tante atau ibu yang ikutan heboh dalam mempersiapkan pesta anak dan kemenakan saya. Tapi Insyaa Allah, bisa mempersiapkan batin mereka untuk menghadapi hidup baru mereka kelak.

Thursday, May 03, 2007

Naga Bonar "jadi" 2

Telat banget ga sih saya baru nonton film ini semalam. Itu pun nyaris gagal, karena suami saya sempet "mutung". Karena ternyata film tersebut sudah mulai pukul 19.00, sedangkan kami tiba pukul 19.10, "udah 10 menit mba, mau?" kata mba' petugas karcis. Dengan cepat suami saya berkata, "gimana sih? katanya mulai jam 8? ah.. ga mau gw kalo udah telat." dan langsung ngeloyor pergi keluar bioskop. Nyebelinnnnn banget sih suami saya itu!! Sebelumnya saya memang memberitahu dia bahwa studio 4 di bioskop ini mulai jam 8 malam. Sambil jalan dia juga nyerocos (duh.. bahasanya ..), "emang ga di cek lagi apa?" ARRGGGGGHHHHHHH ..... sebelum bertanduk, saya jalan melenggang mendahului dia. Nyebelin banget sih??

Mendekati eskalator untuk turun, suami saya itu bertanya, "Sekarang jam berapa? Telat dikit ga apa kali yah?" Dan dia langsung berbalik arah menuju bioskop lagi. Sekali lagi, AAARGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH...... "Telat 15 menit yah Pak," kata petugas karcis nya. Yah... sudah lah...

Untung nya film ini memang T-O-P-B-G-T, smua kekesalan di luar bioskop tadi terhapus sudah. Dan memang benar seperti orang-orang, resensi di koran-koran, bahwa film ini memang luar biasa. Aktor kawakan Deddy Mizwar, memang tidak perlu diragukan lagi kwalitas acting nya. Banyak sekali dialog yg mengkritik, baik pemerintahan, maupun mengkritik diri sendiri. Seperti dialog antara Naga Bonar dan Umar (tukang bajaj), bapaknya Umar ini seorang pejuang, tapi tidak pernah bercerita ke anak nya tentang masa-masa perjuangannya, dengan alasan perbuatan baik tidak perlu diomongin, cukup Allah saja yang mengetahui. Dan saya pun terbawa emosi haru di saat Naga Bonar mengunjungi Tugu Proklamasi, Taman Makam Pahlawan dan Patung Jend. Sudirman. Soundtrack lagu-lagu nasional nya sungguh menyentuh.

Ahhh... cerita yang menakjubkan... kalo yang belum pernah nonton dan penasaran film Naga Bonar versi tahun 80-an, bisa lihat di sini.

Kira-kira ada yang jual VCD Asli Naga Bonar ga yah? Mau dong.

Sinopsis Naga Bonar jadi 2

Apa kata Duniaa

Nyalon

Rambut Nasta itu lurus banget, dan memang dari kecil sudah model Dora gitu. Jadi pasti ada poni nya. Sebenernya saya suka Nasta berambut panjang, karena rambutnya yang hitam dan lurus. Tapi mengingat Nasta tidak suka di kuncir & di jepit, jadi saya harus merelakan Nasta berambut pendek. Kalo Nara itu rambut nya lebih tipis dan ikal. Jadi sampai sekarang (15 bulan), tidak tampak perubahan significant, makanya Nara belum pernah ke salon untuk sekedar potong poni atau pun rambut lainnya. Terbalik dengan kakak nya, yang tiap 2 - 3 bulan sekali harus ke salon (salon kakak yang di Kemang lho). Karena saya, ibu nya, tidak bisa potong poni Nasta. (kepikiran untuk ambil kursus menggunting rambut nih, biar ga tekor ke salon).

Suatu hari, saya, Nasta dan ipar-ipar saya ke salon di Jl. Joko Sutono. Ditawarin potong rambut, dia menampik dengan alasan, "nanti aja di salon kakak." Kali lain, beramai-ramai kami ke salon itu lagi, dia baru mulai "tergoda". Coba cuci rambut dulu, anteng aja tuh. Padahal kalo di salon kakak, dia ga mau cuci rambut, jadi cuma dibasahin pake semprotan air gitu. Saat itu Nasta duduk tenang sambil membaca majalah nya (iya, baca majalah). Giliran di gunting, mulai deh agak2 ga tenang. Memang butuh kesabaran untuk menggunting rambut anak-anak yah. Dan akhirnya.. viola ... rambut nasta berbeda dari biasa. Kali ini agak sedikit di layer.. (biar ga terlalu seperti Dora). Smakin hari, kok.. jadi kaya Baim Wong yah?? Hahahaha... makanya saya sempat memanggil dia Nasta Wong.

Sebulan... dua bulan ... aaarrrggghhh... poni nya sudah melewati alis mata. Dengan sedikit nekat, karena ga mau rugi ke salon hanya untuk potong poni, saya coba potong poni nya Nasta. Hasilnya??? Hmm.... musti banyak berlatih .. dan minum Milo tiap hari!! Saya ga berani potong terlalu pendek, karena miring-miring dong potongan saya. 2 minggu berlalu, akhirnya terpaksa saya ajak ke salon lagi.

Ibu : Kak, potong rambut lagi yah.
Ata : Iya Bu
Ibu : Mau dimana? Salon kakak?
Ata : Ga bu, salon ibu aja.
Ibu : !@#$%

Singkat cerita, Sabtu lalu saya ke Salon, sebenarnya saya pun pengen potong dikit juga nih rambut. Tapi lihat nanti deh. Sesampainya di salon, saya pesan tukang cukur yg dulu pernah potong rambut Nasta. "Tapi lagi nge-blow orang Bu. Nunggu bentar yah." OK lah.. Sambil melihat, duh... tukang cukur yg biasa menghandle ipar-ipar saya lagi nganggur nih, sayang juga kalo keduluan orang. Bisa ga yah ikutan potong?? (Karena takut ga ada yg ngawasin Nasta nanti).

Ga lama, "Bu, di cuci dulu yuk.." Saya dan Nasta melangkah ke tempat cuci rambut. Dan hoop, mengangkat Nasta ke tempat duduknya. Mba nya bengong, "Lho?? Yang mau potong ibu atau anaknya sih??" Hehehehehe... ternyata yang mau potong rambut itu anak kecil. Dan.. Nasta menikmati sekali acara cuci rambut tersebut, dia memejamkan matanya. Mba cuci rambut bilang, "wah.. besok-besok ikutan creambath dan luluran ma' mama nya yah." Hhmm... bisa jadi.

Eh.. tapi kalo beneran anak(anak) saya nanti pada suka ke salon gimana yah?? (Nurun gitu dari ibu nya).

Dan... Nasta sudah meng-claim, bahwa Salon dia adalah salon ini. "Salon baru kakak".

Pfuiih...

Tuesday, May 01, 2007

Bahagianya Orang Ikhlas

Note: artikel bagus banget.. buat yang sedang belajar jadi orang Ikhlas (seperti saya yang akan terus belajar ikhlas)


Berpikirlah terus, bagaimana caranya agar amal kita diterima Allah. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat.

"Ketahuilah, hari ini adalah hari Allah. Tidak boleh ada kesombongan dan sikap melampaui batas. Ikhlaskan niat kalian untuk berjihad dan carilah ridha Allah dengan amal kalian". Inilah yang disampaikan Khalid bin Walid di hadapan komandan pasukannya menjelang Perang Yarmuk.

Tak lama kemudian, datanglah utusan Khalifah membawa sepucuk surat untuk Khalid bin Walid. "Pedang Allah" ini segera membacanya. Di dalamnya tercantum beberapa hal, termasuk berita wafatnya Khalifah Abu Bakar dan dan beralihnya kendali kekhalifahan ke tangan Umar bin Khathab. Yang terpenting, Khalifah Umar mencopot jabatan panglima perang yang disandang Khalid bin Walid, dan mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.

Bagaimana sikap Khalid? Ia menerima pemberhentian tersebut dengan sikap ksatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar dari wajahnya. "Aku tidak berperang untuk Umar. Aku berperang untuk Tuhannya Umar," demikian ungkapnya.

Ia segera mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menyerahkan kendali kepemimpinan. Setelah itu ia berperang habis-habisan di bawah komando mantan anak buahnya tersebut. Padahal, masa itu adalah masa keemasan Khalid bin Walid.

Saudaraku, betapa bahagianya Khalid bin Walid. Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya, lalu berperang habis-habisan sebagai seorang prajurit. Orientasi perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.

Kita harus mulai mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun tidak sibuk menata niat. Sehingga amal-amal yang kita lakukan tidak ada nilainya di hadapan Allah. Seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa sakit, bila kehamilannya itu disikapi dengan keluhan. Demikian pula seorang bapak yang siang malam bekerja, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah, bila tidak karena Allah. Karena itu, jangan hanya sibuk beramal, tapi sibukkan pula dengan meluruskan niat.

Bagaimana agar kita bisa ikhlas? Tekniknya sederhana. Pusatkan pikiran dan amal hanya untuk Allah. Berpikirlah, bagaimana agar amal kita diterima Allah. Titik. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat. Lakukan yang terbaik, sampaikan dengan cara terbaik, berikan yang terbaik, dan dengan hati terbaik.

Saudaraku, orang ikhlas itu pasti bahagia dalam hidupnya. Sebab, Allah SWT akan menganugerahkan enam ciri (keutamaan) dalam hidupnya.

[1] Jarang kecewa terhadap dunia. Orang ikhlas tidak mengharapkan apapun dan dari siapapun. kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari mempersembahkan. Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup, karena banyak berharap dari makhluk.

[2] Tidak pusing dengan penghargaan. Baginya orang ikhlas dipuji atau dicaci sama saja, asalkan apa yang ia lakukan benar caranya dan lurus niatnya.

[3] Tidak membeda-bedakan amal besar dan amal kecil. Orang ikhlas tidak sibuk melihat besar kecilnya amal. Ia hanya sibuk dengan apa yang disukai Allah. Tidak ada yang kecil di hadapan Allah. Yang kecil hanyalah amal yang tidak ikhlas.

[4] Nikmat berbuat amal. Kebahagiaannya bukan dari mendapatkan pujian, namun dari optimalnya amal. Karena itu, orang ikhlas akan tangguh dan istikamah dalam ibadah.

[5] Tidak menonjolkan "bendera". Orang ikhlas tidak berjuang untuk satu kelompok tertentu. Ia berjuang hanya untuk Islam. Kelompok/bendera hanyalah sarana/alat untuk mencapai tujuan.

[6] Tidak ditipu setan. Allah SWT mengabadikan ucapan Iblis dalam Alquran. "_pasti aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas" (QS Al Hijr [15]: 39-40). Wallaahu a'lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )

If I have 2 billion cash, I will .........................

Hehehehehe.... I believe in miracle, I do! Jadi sambil menunggu mukjizat itu terjadi yang entah itu kapan akan terjadi boleh kan saya berkhayal dulu. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, rasanya sah-sah saja kegiatan berkhayal ini.

Dan topik khayalan saya minggu ini adalah : apa yang akan saya lakukan jika saya mendapatkan kesempatan punya uang 2 milyar rupiah. Catat : 2 (DUA) MILYAR. Ntah ada apa dengan angka 2 Milyar ini, padahal kalo berkhayal, bisa aja kan angkanya saya mark up jadi 10 Milyar. Upss... ketauan deh suka mark up angka (icon blushing). Eits... biasanya untuk keperluan kantor kok.... iya iya ... percaya mel... Kembali ke dalam dunia khayalan saya :D

Seandainya saya punya uang 2 Milyar, yang pertama-tama saya lakukan adalah memangkas 2.5% untuk zakat. (Eh, kalo dapat rezeki dadakan gini zakatnya 2.5% atau lebih yah?? Nantilah diomongin lagi). Lalu saya akan membayar semua hutang-hutang (materi lho) saya. Dari mulai kartu kredit (saya & suami), hutang KPR, bangun rumah sedikit supaya lebih layak huni, beli keperluan rumah (yang penting-penting aja dulu i.e. AC dan kulkas), trus kasih ke mama & ibu, bantuin bayar hutang (kartu kredit) kakak² dan adik² saya, bantuin bayar hutang ke beberapa teman yang saya tahu dengan pasti amat sangat membutuhkan, ngasih ke tante-tante, ngajak jalan2 orang tua (ke Bali aja, tapi harus berkesan buat mereka), nabung buat Nasta & Nara masing2 300 juta, buat pendidikan mereka kelak, beli mobil ga usah yang mahal-mahal deh (VW Tourage aja kali yah? hehehe), beli digital camera (Nikon D 200), laptop impian (ga usah yang canggih banget kok), traktir temen-teman kantor deh, Sushi Tei anyone? Hhhm... apalagi yah? Ada yang kurang ga yah?? Beli rumah di Casamora (Cilandak Tengah situ tuh...) cukup ga yah??? ah... gampang... BERKHAYAL LAGI AJA... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA


"Ya Allah, ini memang sekedar khayalan, tapi jika Engkau mengizinkan dan mengabulkan, Alhamdulillah. Smoga memang jadi manfaat besar buat saya dan keluarga, serta orang-orang yang nanti akan menikmati harapan saya ini. Amiiiinnnn"

Friday, April 13, 2007

If Life Begin at 40, You're a Baby...


Judul di atas contekan dari Pa' Djoko yang 3 hari lalu merayakan hari lahir nya yang ke 63. Blio itu Creative Director, di usia nya (seumur Nabi Muhammad lho Yang.. - Eyang, bukan sayang. :D) yang sepuh itu blio masih aktif di kantor, masih mengeluarkan ide-ide brilian dan tentu saja, masih garing abitss... pada saat saya mengomentari kegaringannya itu, blio bilang, "If life begin at 40, then I'm 23". Hmm... oke deh...

Nah.. kembali ke judul di atas, alhamdulillah hari ini suami tercinta genap berusia 40 tahun. Happy birthday sayang.

Smoga smakin bijaksana
Smoga diberi rejeki yang diberkahi Allah SWT
Smoga selalu inget keluarga
Smoga diberi umur yang bermanfaat
Dan ribuan smoga yg lain ...

We love you.

Saturday, March 24, 2007

Perjalanan Suatu Siang

Suatu siang di dalam kereta ekonomi jurusan Bogor, saya di antara orang-orang yang mungkin bertujuan sama yakni pulang ke rumah. Tidak lah heran jika kereta api ekonomi ini diminati ratusan bahkan mungkin ribuan penumpang setia nya setiap hari, setiap jam. Dengan tariff Rp. 1.500 (Seribu Lima Ratus Rupiah Saja) dari stasiun Sudirman menuju Depok, harga tersebut tentu tidak sebanding dengan angkutan umum lain. Sebelumnya saya berpikir untuk naik taxi sampai Kuningan (dari suatu gedung di ujung jalan Sudirman), lalu naik Trans Jakarta sampai ujung Jl. Margasatwa, dilanjutkan dengan taxi. Karena saya terlalu lelah dan ditambah sakit perut karena penyakit bulanan. Dengan rencana semula, kemungkinan saya akan menghabiskan biaya sekitar Rp. 15.000 + Rp. 3.500 + Rp. 40.000 = Rp. 58.500 (itu biaya perkiraan, bisa lebih). Tapi saya penasaran dengan angkutan umum yang bernama Kereta Api ini, di tengah teriknya matahari pukul 1 siang saya berjalan kaki (IYA, JALAN KAKI) dari Wisma BNI menuju stasiun Sudirman. Pheww…. Tengah hari, panas terik, jalan kaki dengan jarak yang boleh dibilang lumayan jauh.. sambil ngebatin, apa yang kau cari Meli? Ditambah kondisi fisik yang kurang maksimal. Cape deh.

Tapi memasuki pintu masuk Stasiun itu, jiwa petualang saya mulai terusik, ciee.. saya sudah niat untuk naik kereta eksekutif. Tapi ternyata kalo siang hari, hanya ada kereta ekonomi. Tanpa perlu menunggu lama, saya pun memasuki kereta api yang siang itu dalam kondisi tidak terlalu ramai. Syukur lah, jadi saya bisa duduk dengan nyaman. Nyaman?? Hmmm… tidak lama setelah saya duduk, kereta api berjalan perlahan. Seorang penjual jepit menggantung dagangannya tepat di muka saya. Hhhmm.. seribu rupiah satu plastik. Mau jepitan, karet rambut, atau apapun. Sayang, walaupun kedua anak saya perempuan tapi mereka berdua tidak terlalu suka di ikat atau di jepit. Seorang mba-mba selisih duduk satu Ibu tua membeli lima macam jepit / ikat rambut. Ibu tua itu hanya membeli satu buah ikat rambut. Tak lama kemudian, seorang penjual buah – anggur dan kelengkeng – yang sudah di kemas dan dihargai Rp. 5.000 per kantong. Mba-mba itu pun membeli satu kantong anggur dan satu kantung kelengkeng. Buat oleh-oleh orang rumah mungkin, piker saya. Penjual minuman dingin, tukang Koran (psstt.. tips buat yang mau beli Koran pagi dengan harga murah, beli nya siang hari aja. Seribu rupiah saja kok.) Eh, ada penjual peniti, jarum, dan alat-alat lainnya lho.. (duh.. please deh Mel, Jangan norak gitu dong). Lalu, penjual buah Alpukat, Rp. 5.000 dapat 7 buah. Dan, mba-mba samping saya itu beli lho. Juga beli buah Jambu Biji (bagus untuk demam berdarah, promosi si abang). Wah.. mba ini sangat suka buah-buahan ternyata.

Menyadari bahwa mba-mba itu sudah memberikan kontribusi yang cukup besar untuk pedagang di kereta ini, saya pun berpikir, mba-mba ini memang membeli karena membutuhkan atau karena senang membeli (baca : konsumtif) atau apa yah??

Tak lama, seorang pedagang dompet / tempat pensil lewat, dan saya pun melirik pada sebuah tempat pensil gambar mobil merah, yang kebetulan Nasta lagi suka dengan si mobil merah ini. Daripada ga bawa apa-apa, saya pun membeli tempat pensil dengan harga Rp. 5.000 itu. Paling tidak, saya pun sudah memberikan kontribusi ke salah satu pedagang di kereta api ekonomi .

Monday, February 19, 2007

Obrolan Nasta

Di mobil dalam perjalanan menuju Depok.

Ata : Bu, orang itu kenapa telanjang??
Ibu lihat ke arah yang di tunjuk Ata, seorang lelaki di dalam truk bertelanjang dada. Lalu menjawab, "Ooo... dia buka baju, kepanasan kali Kak."
Ata : Ibu, dia naik apa?
Ibu : Itu namanya truk Kak
Ata : Truk itu isinya apa?
Ibu : Ga ada isinya kak.. kosong
Ata : Kosong yah Bu? Empty
Ibu : Iya, kosong = empty
Ata : Empty one, empty two, empty three....
Ibu : gedubrak....

(maksudnya twenty kallleeee)


kali lain...

ceritanya ring tone di HP ibu dah ganti.. baru juga intro nya, Ata langsung tau, "Lagunya mba' Ipah tuh Bu." Hah?? Ibu sempet bengong bentar, "emang lagu apa nih Ta?" Tanpa ragu Ata pun langsung nyanyi, "sani.. sani.. apa kabar mu aku baik-baik saja.." HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.....

(emang ring tone nya ibu lagunya BCL itu lho.. Sunny sunny....)


Sabtu kemaren, Ibu, Ayah dan Ata ke Al Azhar Syifa Budi - Cibubur. Insyaa Allah, kalo ada rejeki, tahun ajaran baru Ata mau sekolah di situ. Sekalian pindah rumah. Insyaa Allah. (Doain yah)
Ibu juga mau liat, Ata akan suka ga dengan sekolah nya. Kalo sekiranya Ata kurang suka, ibu akan pikir ulang. Tapi namanya Ata, Insyaa Allah sih ga ada masalah.
Ata sempet nanya, "nanti Tasya sekolah di sini juga? Icel?? Miss Risna masih jadi miss nya Ata??" Waduh... gimana ini?? Ibu bilang, Tasya dan Icel ga satu sekolah lagi .. eh.. Ata malah nyecer ke ibu nanyanya, "Trus temen Ata siapa aja namanya?" De ileee... mana ibu tau Kak??

Ceritanya nih, Sabtu depan ini Ata mau test di sekolah ini. De ilee... anak TK pake di test. Sebenernya sih lebih test kesiapan anak aja. Dan ada juga nih baca-baca doa harian. Nah... ini dia yang bikin ibu agak pusing. Eitss... Ibu sih Insyaa Allah selalu ucapin kalo mau makan, mau tidur, surat2 pendek aja sih ibu kasih tau kok. Tapi anaknya suka ga nyimak gitu. Malah kalo mau tidur, ibu kan pasti baca doa tidur. Eh.. Ata malah bilang, "ga usah doa deh bu." gedubrak... ampun deh nih anak...

Jadi ibu pesen2 aja ke mba, tiap hari didengerin doa doa pendek. Insyaa Allah, sambil main Ata bisa mengingat dengan baik. Amiiiinnnn...

Sssttt... tetep, tolong bantu doa juga yah.. (biar bisa pindah rumah nih... :D)

Naramorfosa

Wednesday, February 14, 2007

Valentine

Ga pernah seinget saya merayakan hari kasih sayang ini.. eh.. pernah deh.. jaman SMA. Tukeran bunga, hahahahahaha.... itu pun sesama teman sekelas aja kok. Merayakan khusus dengan pasangan... hhmmm... nope. Can't remember.. mungkin karena emang ga pernah kali yah.

Mungkin karena saya bukan orang yang romantis (begitu pun suami saya) hiks..
Mengucapkan I Love You, bisa tiap hari dan tiap saat kan? Ga perlu nunggu tanggal 14 Februari ini. So, what's so special about this date? Sempet kepikiran untuk mengenakan baju pink, buat seru²an aja. Tapi kok pas lagi males neriska baju pink saya. Alhasil, malah pake baju hitam.

Sampe kantor, ada sebungkus coklat. Bertuliskan nama saya, di kertas kecil berbentuk hati. Tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui dari siapa.. ga perlu ke-GE-ER-an menerka dari pria mana... ah.. jauh deh... Bunda Mitaaaaaaaaaa.... I love you too...

Iya, Bunda Mita, Traffic Manager di kantor saya, memberikan sebungkus atau 2 bungkus coklat kepada semua wanita di kantor ini. Ahh.. so sweet... perhatian kecil dari seorang Bunda Mita, bikin hati senang...

Ternyata sebungkus coklat bisa menyenangkan bahkan menghibur hati semua orang di kantor ini. Bukan karena harga coklatnya, tapi karena PERHATIAN yang diberikan. Senangnya diperhatikan.

Bund, gw belajar dari elo.. begitu senang diperhatikan. Thanks Bund. Love you too.

Hujan bukan halangan pergi sekolah

Selasa pagi jadwal renang di Yellow Class. Dari malam sebelumnya Nasta sudah antusias untuk menyiapkan baju renangnya. Tapi sebenarnya itu alasan dia supaya tidak harus tidur. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Saya tetap menyuruh dia tidur, "besok pagi Ibu siapkan baju renang kakak." Lalu dia pun tertidur.

Selasa pagi, langit di Depok mendung. Wah.. tidak mungkin berenang nih, pikir saya. Tapi biar Nasta tetap semangat pergi sekolah, saya pun tetap menyiapkan keperluan renang nya. Nasta sudah saya beritahu, bahwa langit mendung, kemungkinan besar tidak jadi berenang. Tapi dengan yakin dia bilang, "Ga ujan kok bu." (karena di luar memang belum hujan). Tak lama kemudian hujan turun. Saya pun berangkat kerja. Di jalan Ayah bilang, "telpon rumah, kalo hujan deras begini Nasta ga usah sekolah aja." Lalu saya memberitahu asisten di rumah mengenai hal ini.

Sampai di kantor, saya pun cek lagi. Nasta berangkat sekolah atau tidak yah...
Ibu : mba, kakak sekolah ga?
Mba : Sekolah bu. Kan tadi dibilangin, kalo ujan ga usah sekolah. Kakak bilang -kan ada mobil mba.
Ibu : hehehehe....
Mba : sebelum berangkat sekolah, saya bilang lagi kalo masih ujan ga usah sekolah Kak. Eh, dia bilang lagi - kan ada jas ujan mba..
Ibu : speechless

Jadi teringat lagu ini

Hujan hujan alangkah senangnya
Mengenakan jas hujan pakai payung berbunga
Ayo kawan ikut lah serta
hujan bukan halangan pergi sekolah

Wednesday, January 31, 2007

Nara - 1st B'day

28 Januari 2006

Resepsi pernikahan Windy, spupu saya. Perut sudah membuncit, menunggu hari. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali duduk manis. Ah.. cape banget sih. Ini perut kenapa mengencang terus, seperti mengajak saya untuk tidak banyak bergerak. Pfuih...
Di pesta ini saya sebagai sepupu benar-benar hanya bertindak sebagai tamu. Tidak membantu. Sedih sebenarnya. Karena ini pernikahan sepupu perempuan, anak Mama (adik Ibu yang saya panggil mama). Maaf yah.
Siang nya saya ada jadwal kontrol, sudah seminggu sekali. Perkiraan dokter Krisna, Insyaa Allah saya operasi caesar (karena plasenta previa) pertengahan Februari. Tapi melihat saya yang sudah kepayahan, dan sering banget perut mengencang, dokter bilang bisa dimajukan. "Tanggal 8 Februari aja deh bu. Tapi kalo sebelum tanggal 8 udah sering kontraksi dan udah kesusahan, ibu langsung datang aja ke rumah sakit dan langsung ke ruang bersalin yah." Baik lah dok....

Minggu 29 Jan, ada arisan keluarga Padang di rumah Ibu. Oh, iya sebelumnya saya udah minta surat istirahat ke dokter, karena hari Senin tgl 30 itu - HARPITNAS - (HAri kejePIT NASional). Saat acara pun, saya sudah tidak sanggup banyak gerak. Jalan dikit, perut mengencang. Udah kepayahan. Pfuih...
Malamnya udara panas bikin saya semakin merasa tidak nyaman. Nasta pun gelisah, karena kami baru pindah kamar. Kamar kami ditempati oleh adik saya yang juga baru melahirkan. Alhasil, terbiasa dengan kamar ber-AC, kami semua merasa tidak nyaman. Saya jadi gelisah, sesak nafas. Nasta mau nya tidur di ruang tamu. Mungkin lebih dingin di situ, tapi banyak nyamuk!

Senin, 30 Jan. "Bang, anterin ke dokter deh. Kok cape banget nih, dan semalam sesak nafas terus." Udah kepikiran kalo akan melahirkan di hari yang sama, tapi saya masih berpikir, ah.. paling nanti di suruh istirahat dulu. Buku kontrol ada di Depok, begitupun persiapan persalinan. OK, minta tolong Uni Anis bawain buku nya, janjian di RSB Asih. Sampe sana jam 10.30. Tapi blom bisa langsung masuk, karena nunggu buku kontrol nya dulu. Begitu Uni dateng, saya langsung masuk Ruang Bersalin. Karena suster siaga ada di situ. Cek tensi, cek kontraksi, dll,dsb. Alhamdulillah nya dokter Krisna hari Senin memang pas praktek. Suster jaga tanya dokter, dan.. "Bu, Pak, dokter Krisna bilang operasi jam 12. Karena sudah kontraksi terus." WHATTTTTT.... Gila.. masuk ruang bersalin jam 11, langsung mau operasi jam 12. Saya pikir, kalo pun operasi hari ini juga, akan dilakukan jam 2 atau 3 sore. Tidak langsung seperti sekarang. Entah lah, apa karena ini anak kedua, jadi baik saya dan suami bisa lebih tenang. OK lah. Para suster pun mulai lagi mengerubungi saya untuk ambil darah, cukur bulu %^#$%^& :D, dll, dsb. Ga lama dokter anastesi datang memperkenalkan diri. Saya berharap bisa menyaksikan jalannya operasi, seperti persalinan Nasta dulu.

Masuk ruang operasi, Bismillahirrohmannirrohiim.
Setelah di bius, aduh.. kenapa mata ini beraaaaaaaaatt sekali? Sesekali dokter anastesi mencoba membangunkan saya, "Bu bangun bu." Tapi saya benar-benar tidak sanggup untuk membuka mata. Sesekali sadar, tapi tidak lama. Saya mendengar dokter Krisna mengatakan, "Bu, anak nya perempuan. Gendut banget." Dan memang saya melihat sesosok bayi mungil yang putih dan montok. Lalu tidur lagi. Dibangunkan lagi saat bayi saya sudah dimandikan, dan saya di suruh mencium bayi saya. "Cium lagi nih bu, tadi kan udah. Sekarang udah bersih dan wangi." Itu kata dokter anastesi. Sambil bertanya dalam hati, 'kapan saya cium?'

Saya baru benar-benar sadar saat sudah dipindahkan dari ruang operasi ke ruang pemulihan. Suami datang untuk mengucapkan selamat. Ah.. senang nya.. anak kedua kami sudah lahir. Dan jauh sebelum kelahiran anak kedua kami, saya sudah menemukan nama cantik untuk dia - PUTI NARA MARTEEZA. Puti adalah gelar untuk orang Minang, seperti Raden untuk orang Jawa. Nara berarti ORANG dalam bahasa Indonesia, sedangkan dalam contekan lain, Nara berarti BAHAGIA. Ah.. smoga dia memang selalu bahagia. MARTEEZA / MARTIZA berarti yang diberkahi Illahi (amiennn...)

Tak terasa, setahun telah berlalu, dan tanggal 30 Januari 2007 ini Nara sudah genap 1 tahun. Alhamdulillah.

Alhamdulillah juga, setahun Nara ini, dia tidak pernah merasakan obat antibiotik. Ke dokter hanya untuk imunisasi. Alhamdulillah, Nara dapat ASI Exclusive, walaupun di umur 8 bulan sudah tidak minum ASI lagi.

Ya Allah, smoga Nara & Nasta selalu diberi kesehatan. Dan smoga kami, orang tuanya, bisa menjadi orang tua yang baik dan menjadi panutan bagi anak-anak kami. Amiiiiiinnn.

(foto nara nyusul yah

Tuesday, January 09, 2007

Ibu cantik, tapi....

Pernah ga kamu di puji setinggi langit, tapi abis itu "dibanting" sampai hampir gepeng rasanya... mungkin pernah kali yah.. atau malah sering? hihihihi.... Tapi pernah ga yang muji dan "banting" kamu itu adalah anak kamu sendiri?? Saya pernah .. tadi pagi.. dan smoga cukup sekali ini saja.

Tadi pagi saya berniat pake baju yang sudah saya beli hampir beberapa bulan lalu, tapi blom pernah saya pakai. Karena jujur aja, baju tersebut masih .... ssstttt... kesempitan.hehehehe.... :D
Nah, merasa sudah agak sedikit berkurang lemak di badan, saya nekat deh pake baju itu. Pas kok, ga terlalu "meleketet" (duh.. bahasa ini, tau kan artinya.. itu deh.. pas banget lah). Lalu datang lah Nasta yang sudah menggunakan seragam sekolah nya, dan langsung memberikan komentar.

Ata : "Ibu cantik."
Ibu : "Makasih sayang"
Ata : "tapi bu, baju nya kesempitan yah?"
Ibu : glek... terdiam... speechless...
"Kenapa Ta? Emang keliatan kesempitan yah?"
Ata : "Iya"
Ibu : "Ya udah, ibu ganti baju lagi deh."

Maka saya pun ganti baju yang sudah biasa saya pakai.

Ata "Iya bu, pake baju itu aja. Nanti ibu malu lho ma' temen-temen ibu. Pake baju kesempitan."

Ibu : Speechless... nyaris pingsan

Sepertinya anak saya yang paling tua ini memang amat sangat perduli dengan bobot tubuh ibu nya, yang tidak kunjung berkurang.

Sudah cukup sering saya mendapat kritikan, baik secara halus maupun frontal. Coba simak aja di blog nya Nasta.

Thursday, January 04, 2007

Rule # 1: Jangan menelpon saat menyetir mobil

Jika rule #1 itu dilanggar, kejadian deh apa yang disebut dengan kecelakaan. Merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Kemaren sore, persis di depan gerbang Gedung Tetra Pak - Philips, mobil yang saya tumpangi di tabrak dari depan. Mobil Suzuki APV abu-abu mundur tanpa melihat mobil Suzuki APV hitam milik keluarga saya. "Emang ga di klakson?", mungkin ada yg bertanya. "Pasti sudah." Dan ternyata pengemudi nya seorang wanita dan sedang asyik menelpon. Grrrgggggghhh.....

Supir turun. Dari dalam mobil saya melihat, wanita ini seperti menyalahkan supir saya. Lalu wanita itu bicara dengan mama saya, "Maaf saya lagi telpon. Ga lihat ada mobil di belakang." Mama saya hanya berkomentar, "Trus urusannya gimana?" Mengingat mobil kami tidak diasuransikan, dan jelas-jelas ini salah wanita itu. Saya ikut turun untuk melihat seberapa berat kerusakan mobil kami. Hmm.... cukup penyok. Padahal ga kenceng lho nabraknya. Hehehe... maklum aja, mobil kaleng kerupuk. Di teken dikit aja juga penyok kok.

Wanita itu cukup sportif kok, dia berjanji akan mengganti biaya kerusakan. Maka saya minta kartu namanya. Tapi yang bikin saya tertawa, she's very defensive. Human lah. Berusaha mencari-cari alasan supaya tidak terlihat terlalu bersalah.

Ini lho yang dia sempat utarakan ke supir saya:
- "Bapak kan seharusnya liat saya lagi telpon. Dan itu telpon penting sekali dari distributor."
** saya dalam hati, "emang gw pikirin. Lo dapet telpon dari president pun gw ga perduli."
- "Bapak kan seharusnya liat saya mundur, mobil saya mentok."
** saya dalam hati, "eh mba, jaraknya ada kali 2 meteran. dan udah di klakson. lagian lo mundur emang ga liat mobil di belakang? ga liat spion?
- "Mobil saya kan ga power steering."
** saya dalam hati, "ga ada yang tau kaleee.... ga ada tulisannya juga di badan mobil."

Sayangnya ucapan saya hanya benar-benar saya katakan di dalam hati. Percuma juga lah. Yang penting dia udah mau bertanggung jawab. Tunggu aja kalo saya kirim kwitansi perbaikan mobil, apakah dia akan langsung bayar?

Yang penting lagi, banyak saksi mata yang menyaksikan bahwa wanita ini memang SALAH. Bahkan seorang satpam gedung pun sempat berkata, "wah.. kalo dia emang ngaco nyetir ya mba."

Jadi saya ingatkan sekali lagi ke para pengemudi, JANGAN PERNAH MENELPON SAMBIL MENYETIR. BERBAHAYA.

Untung saya blom bisa nyetir, jadi ga apa dong menelpon di dalam mobil.

Friday, December 01, 2006

Bernyanyilah

Sing sing sing along sing along with Mommy
Sing sing sing along sing along with Children

Lagu ini saya ketahui ketika Nasta mengikuti kelas Gymboree. Lagu diatas dinyanyikan sambil memukul drum pada saat Music Class. Alhamdulillah, pada saat itu Nasta bisa mengikuti kegiatan ini sejak dia berumur 7 bulan. Sedangkan Nara - adiknya, hingga diusianya yang 10 bulan ini, belum mengikuti kegiatan apapun. Untung nya, saya masih hafal lagu-lagu ala Gymboree itu.

Sejak Nasta dikandungan, saya sudah menyiapkan diri dengan CD / kaset lagu klasik (maklum anak pertama). Setelah Nasta lahir, koleksi buku dongeng sudah lumayan banyak begitu juga dengan lagu-lagu Nursery Rhymes atau lagu-lagu anak versi lokal. Dari mulai lullaby sampai untuk joget, dari mulai nina bobo sampai lagu Barney. Well, tidak smua lagu saya hafal. Tapi boleh lah di uji kemampuan saya.

Saya pernah ikutan Bina Vokalia asuhan Bapak Pranadjaja (alm.). Cukup lama - 6 tahun. Sependek ingatan saya, suara saya sih jauh dari lumayan, hehehe... tapi tingkat percaya diri saya, lumayan lah untuk anak seusia saya pada saat itu. Ditambah nilai 9 selalu di tangan untuk pelajaran kesenian. Bukan hanya jago kelas kalo di suruh maju oleh Bapak / Ibu guru, tapi pemahaman tentang not balok pun menambah point sendiri.

Tapiiiiiiii.... hikmah lain yang saya dapatkan adalah, dan saya amat sangat bersyukur untuk hal ini, saya tidak pernah kekurangan stok lagu di kala menidurkan anak-anak saya. Lumayan banget kan? Dan dipastikan kedua anak saya, akan punya kenangan tersendiri karena, ibu nya selalu bernyanyi.

Stok lagu bertambah ketika Nasta di Gymboree, lalu Nasta suka nonton Barney - banyak sekali kan lagu-lagu Barney, dan sedikit yang saya hafal :( Lalu ketika Nasta masuk preschool, saya 'kecolongan'. Karena saya tidak mendampingi Nasta di sekolah, jadi dia belajar nyanyi sendiri. Dan kalo dia memamerkan lagu baru nya, saya hanya bisa bengong dan tidak bisa bantu jika salah. Kadang saya suka tanya ke gurunya, lagu apa yang baru diajarkan. Jika kebetulan saya tahu, saya ajarkan. Jika tidak, terpaksa Nasta nyanyi sendirian.
Lucunya, saya suka menyanyikan lagu-lagu semasa saya kecil. Eits.. bukan lagu yang memang wajar untuk dinyanyikan sebenarnya, seperti Balon ku, Pelangi pelangi, de el el, de es be. Gini deh, masih pada hafal ga lagu iklan POSYANDU? Kalo suka nonton TVRI, mungkin masih ingat dikit, karena saat ini iklan layanan masyarakat untuk menggiatkan POSYANDU lagi aktif. Tapi itu pun tidak ada liriknya, hanya musik aja. Nah, suatu hari, Nasta di suruh menyanyi oleh Miss nya di depan kelas. Dengan percaya diri tinggi, dia maju dan mulai bernyanyi. Alhasil, teman-temannya tidak ada yang bisa ngikutin, Miss nya pun hanya bisa tertawa dan tidak tahu juga lirik nya (iya lah, Miss nya kan lebih muda dari saya). Ya iya lah.. mau tau lagu nya kan? Ini lho...

Aku anak sehat tubuh ku kuat
Karena ibu ku rajin dan cermat
Semasa aku bayi selalu diberi ASI
Makanan bergizi dan imunisasi
Berat badan ku di timbang selalu
POSYANDU menunggu setiap waktu
Jika aku diare ibu telah waspada
Pertolongan oralit telat siap sedia

Hihihihihihihihihi.... top abis kan anak ibu Meli.

Atau yang ini:

Kembang gula Sugus ramai rasanya
Digemari oleh tua dan muda
Kembang gula Sugus aneka rasa
Kembang gula Sugus pilihan kita

Dan saya mengajari Nasta lagu itu sambil bermain tepuk tangan, hehehe... permainan saya dulu waktu SD.

Saya juga belajar lagu-lagu baru nya Nasta kok. Dan saat ini saya lagi menyukai lagu Rain Rain Go Away. Lets sing together...

Rain rain go away
Come again another day
Little Children want to play
Rain rain go away

atau

Ring around the rosey
A pocket full of posey
Ashes ashes
We all fall down
(note, permainannya sambil berpegangan tangan dan mutar-mutar, big circle. Begitu kalimat terakhir, kita menjatuhkan badan :D Seru kan?)

Bernyanyi itu menyenangkan, dan pastinya jadi berguna setelah punya anak.

So lets sing together... SING SING SING ALONG SING ALONG WITH MOMMY, SING SING SING ALONG SING ALONG WITH CHILDREN.

Thursday, November 23, 2006

No subject

Suatu hari saya blogwalking ke rumah mba' Lita. Subhanallah, smoga saya bisa mendidik anak-anak saya menyerupai mba' Lita ini. Anak-anak nya lelaki semua, tiga orang. Dan Subhanallah, kalo dari cerita yang mba' Lita tuturkan, anak-anak blio, santun dan cerdas smua. Di tambah, rajin beribadah. Memang ga salah penilaian orang-orang, anak bajingan - lihat lah orang tua nya. Anak santun - lihat lah orang tua nya.
Mungkin selain karena takut ma' Tuhan (ciee...), alasan saya waktu remaja tidak berbuat "tercela" adalah wejangan ibu saya. Blio wanti-wanti bilang, "Jangan pernah bikin malu ibu dan bapak." Hehehe.. jadi apapun tindakan dan perilaku saya, baik yang akan maupun sudah dilakukan, saya harus berpikir - apakah akan bikin malu orang tua? Alhamdulillah, sampai saya menikah, saya merasa tidak pernah bikin malu orang tua. Kalo bikin susah? Wallahualam. Pasti pernah lah... hehehehe... pulang malem, dugem, pergi diving, dan lain lain. Yah... namanya juga anak.

Masalah rumah tangga orang lain, sedikit banyak pastinya membuat kita belajar juga kan? Terlalu sayang dan sibuk meladeni anak-anak, tanpa menghiraukan suami, that's a big MISTAKE. Suami selingkuh, sebaiknya para istri introspeksi diri juga. Apa yang salah dengan diri kita. Kalo kita merasa sudah bertingkah laku dan melakukan tugas -keistrian- kita dengan baik, tapi suami masih selingkuh... SUAMI NYA EMANG KEGATELAN. Istri cantik, baik hati, penuh perhatian tapi suami masih selingkuh? Itu naluri lelaki. Gila! Enak banget jadi lelaki yah?

Atau cerita lain, seorang ibu yang sampai usia tua nya, masih harus "bertanggung jawab" terhadap anak-anaknya. Sampai (kesannya) rela dimanfaatkan oleh anak-anaknya. Itu salah siapa yah? Kebiasaan meladeni anak-anak sampai akhirnya mreka dewasa pun kebiasaan diladeni? Ah... saya ga mau seperti itu.

Gambaran ideal kehidupan saya di masa tua adalah, setelah berhasil mendidik anak-anak supaya mereka mandiri. Saya akan menikmati masa tua saya bersama suami. Berdua saja. Liburan ke tempat-tempat yang belum atau sudah -dan meninggalkan kenangan- pernah kami kunjungi. Tidak tergantung kepada anak, pun sebaliknya. Tapi jangan salah, hubungan kami tetap terjalin dengan mesra. Anak-anak menikah dan punya kehidupan sendiri. Saya akan datang jika mreka membutuhkan. Atau hanya sekedar menengok cucu. Tanpa mencampuri pola hidup yang akan mreka jalani. Mungkin mreka akan meng-adapt apa yang telah kami ajarkan, smoga mreka lebih baik dari kami kelak. Amien.

(kok saya jadi bingung sendiri, sebenarnya apa sih yang mau saya ceritakan?)

Friday, November 17, 2006

Personal Test

Permainan ini harus dijawab spontan

Bayangkan kamu sedang berada di suatu taman bermain. Disana kamu sedang mengantri permainan jet coaster. (1) Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk giliran mu bermain jet coaster tersebut? Kamu sudah duduk di kursi jet coaster, berjalan pelan menuju puncak nya. Sampai di puncak, (2) Apa expresi / reaksi kamu? Lalu bayangkan jika jet coaster tersebut melewati genangan air (seperti Niagara), kamu kecipratan air nya, (3) Ungkapan atau reaksi apa yang kamu lakukan? Setelah itu kamu naik carosel, kuda yang kamu tunggangi tidak berjalan seperti kuda-kuda yang lain. Kuda kamu tidak mau naik turun, (4) Apa yang kamu lakukan?

Jawaban Meli:
1. 30 menit
2. tertawa ngakak
3. MONYET!!!!
4. ganti kuda

Hehehe... pengen tau makna dibalik jawaban saya ini? Hahahaha... jadi malu (blushing icon).

Pertanyaan pertama, itu waktu yang saya perlukan untuk foreplay :D (lama yah bow!)
Pertanyaan kedua, saat orgasme reaksi saya adalah tertawa ngakak, hahahahahah...
Pertanyaan ketiga, saat pasangan "keluar" duluan, saya teriak "MONYET" hehehe....
Pertanyaan keempat, saat pasangan mengalami disfungsi, huahahahahaha... ga tega sih... tau kan apa tindakan saya.... hehehehe.....

Ayo, coba test, jawaban di tulis di comment saya yah.

Sumber: Buku Kokology.

Wednesday, November 15, 2006

Karaoke

Dah lama banget sy ga pergi karaoke. Kapan yah terakhir karaoke?? oooo.... ulang tahun saya tahun lalu, itu pun hanya saya hadiri pas di ujung acara. Karena saya harus mengantarkan orang tua ke Bekasi setelah dinner di Citos, parahnya jalanan menuju Bekasi saat itu, PARAH BANGET. Masih segar dalam ingatan rasanya, dari Citos jam 9 malam, sampai Bekasi jam 11.15 Pfuih...

Nah, Jum'at kemaren dalam rangka farewell 2 orang teman yang resign, dan 2 orang teman yang berulang tahun, kami hampir satu kantor (banyak deh pokoknya), pergi karaoke di Inul Vista Pasar Festifal. Saat itu saya berpikir, pengen sedikit "bersenang-senang". Jangan kira saya bisa nyanyi, suara saya sangat jauh dari bagus (cukup sadar kan :D)
Tapi mengikuti orang nyanyi, ikut berjoget heboh dan aktif memainkan keyboard untuk memilih lagu-lagu yang akan dinyanyikan, itu sudah cukup membuat saya HAVING FUN.

Melihat teman-teman pada happy, seperti melupakan sejenak kejenuhan kerjaan kantor. Melihat "asli" nya kelakuan teman-teman yang seolah-olah seperti anak kecil. Berteriak, melompat, bernyanyi.... ah.. senang nya...

Jadi kangen dengan teman-teman lama yang dulu sering karaoke bareng. Miss u very much.

note: foto menyusul, kalo udah dapet dari Garry.

Friday, November 03, 2006

PRT aka Maid aka Bedinde

Sudah bisa ditebak, sekarang ini, most of people in Jakarta are looking for MAID. Kebutuhan ini smakin mendesak, karena MOSTLY banyak pekerja wanita yang sudah harus masuk kantor lagi, berkutat dengan urusan kerjaan kantor.

Saya sendiri, terpaksa harus menitipkan anak-anak ke orang tua saya di Bekasi pada awal kerja Senin kemaren. Padahal Kakak Ata sudah harus masuk sekolah di hari yang sama. Tidak ada pilihan, karena mertua saya (note: saya tinggal di mertua) tidak bisa saya titipkan anak tanpa pengasuh. Alhamdulillah, pengasuh Nara datang hari Rabu kemaren. Tapi bukan berarti saya bisa bernafas lega. Karena mba' nya Nasta tidak kembali. :(

PRT aka Maid aka Bedinde atau kalo di Singapore namanya PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga), thanks Han, saya jadi tau istilah ini. Masalah klasik dalam kehidupan manusia saat ini. Orang-orang yang terbiasa punya PRT, pasti akan kerepotan setengah mampus saat mba-mba ini pulang kampung. Tapi orang-orang yang terbiasa bekerja sendiri, akan menyikapinya dengan santai. Saya pribadi, bukan lah pembantu mania. Dari dulu orang tua saya terbiasa tidak punya pembantu. Walaupun bukan berarti saya jadi rajin skali atau jadi pintar masak. Hehehe, ga juga sih. Biasa aja kok. Percaya ga percaya, sampai saat ini, bapak saya masih aktif mencuci pakaian, membuang sampah ke tempat pembuangan, memasak jika perlu, menguras bak mandi, dan lain-lain. Ibu saya juga alhamdulillah, masih aktif memasak, meneriska baju (pasangan yang klop kan, bapak mencuci dan ibu meneriska :D), bebenah rumah, dan lain-lain. Jadi saya berusaha menyikapi bahwa PRT itu hanya MEMBANTU kerjaan rumah kita. Bukan MENGAMBIL ALIH kerjaan rumah. Tapi ntah lah, kenapa yang saya dapatkan, pembantu jadi (terpaksa dan dipaksa) AMBIL ALIH kerjaan rumah yah?? Ngomel-ngomel kalo masakan mreka tidak sesuai lidah, gerutu kalo cara menyapu dan mengepel mreka tidak sesuai dengan yang kita mau, bekerja lebih dari 12 jam tiap hari.

Pfuih...

Berharap punya PRT yang jujur, setia dan dapat diandalkan.. hari gini? Jujur itu emang NOMOR SATU. IT'S A MUST. Setia?? Wallahualam. Dapat diandalkan? Itu kayanya harus disesuaikan dengan ekspektasi kita sebagai majikan ke mereka deh. Eh, kalo saya, ada satu hal lagi deh.. PRT itu musti "bersih". Iya dong, mreka kan keluar masuk kamar kita, main ma' anak-anak, dll,dsb, kalo mreka ga bersih, apa kata dunia persilatan? (apa sih Mel??)

Untuk saya, saat ini yang terpenting adalah ada orang yang bisa menjaga/mengasuh anak-anak saya dengan baik. Anak-anak saya makan tepat waktu, mandi tepat waktu, menemani mreka bermain di kala saya atau suami di luar rumah.

Oooh.. pembantu... butuh ga butuh.... tapi sekarang lagi butuh... :D

Jadi, kalo ada yang punya PRT extra, silahkan hubungi saya. Terima kasih.

Tuesday, October 31, 2006

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1427 H

Untuk segala kekhilafan
Untuk segala kealpaan
Untuk segala ucapan yang menyakitkan
Untuk segala tingkah laku yang menyebalkan
Untuk semua hal yang merugikan orang lain

Ijinkan saya mengucapkan, "Minal Aidin Wal Fa'idzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Friday, October 06, 2006

4th Anniversary

November 2001, kami resmi mengukuhkan hubungan. Waktu itu saya tanya, "mau seberapa serius nih?" dan di jawab, "serius mau menikah". Hehehe, jangan heran dulu yah. Emang sependek ingatan saya, justru saya yang agresif. Hahaha.. abis, dah terbukti kan sayang, gw cuekin bentar, jalan ma' daun muda, lo udah kelabakan. Hihihi...

Mulai lah perjalanan panjang, kemang - bekasi. Iya, dulu abang kost di Kemang. Untung BBM belum semahal sekarang yah? Sejak itu pula, 'mayan deh, pulang kantor di antar terus. Kecuali kalo abang lembur, (dulu sih sering lembur nya yah?). Duh, kantor Blok-M penuh kenangan itu. Hasil kerjasama yang baik antara gw, lutfi, margie dan rickson, akhirnya masing-masing berhasil sampai pelaminan. Ya ampun lucu banget deh kalo ingat banyak kejadian seru, konyol, norak dan ngangenin. Aduh.. Ji, kapan nih kita double date lagi? Kangen.

Lalu mulailah kami berdua menabung untuk menggelar akad nikah dan syukuran sederhana ala kami. Mengingat, ini acara kami dan smua biaya haruslah dari kami. Intinya orang tua hanya merestui. Untung nya kami berdua sama-sama mencoba realistis aja, acara diadakan sesuai dengan dana yang ada. Tidak boleh ada hutang piutang setelah pesta usai. Alhamdulillah, rejekinya calon penganten, ada aja. Jadilah kami bisa menggelar syukuran sederhana di Gedung Bharawidya Sasana. Smua kami urus berdua, mulai cari catering, pelaminan, oh iya, karena orang tua kami berasal dari Sumatera Barat, jadilah kami memakai adat minang. Duh, ngebayangin pake sunting setinggi rumah gadang (hiperbola dikit boleh kan?) kayanya dah pusing duluan. Walaupun bapak saya orang Jogjakarta, tapi tidak ada tuh yang cari hari baik bulan baik. Kami hanya berpikir semua hari adalah baik, dan yang tidak kalah penting pada saat itu, gedung perkawinan yang kosong tanggal berapa? hehehehe... itu lah hari pernikahannya.


Singkat cerita, prosesi ijab kabul, Alhamdulillah berjalan lancar. Menangis? bohong aja lah kalo ga. Dikit sih, karena saya harus tahan supaya tidak terlalu heboh, mengingat saya menggunakan contact lens pada saat itu. hahahaha... Smoga kami berdua bisa menjadikan rumah tangga kami sakinah, mawaddah, warrohmah.. Amieen... amien ya robbal alamin.

Tahun ini, 6 Oktober 2006 adalah tahun keempat pernikahan kami. Masih banyak yang perlu kami pelajari dari diri kami masing-masing. Masih banyak perbedaan-perbedaan yang harus kami samakan, masih perlu tenggang rasa yang tidak sedikit untuk menghadapi seorang pria yang berbeda dengan diri saya.

Harapan saya pribadi, smoga saya bisa menjadi seorang istri yang sabar dan ikhlas dalam menemani kemanapun langkah suami. Smoga saya bisa menjadi seorang istri yang menyenangkan buat suami, partner dan teman hidup dunia akhirat. Amien.

Doakan kami, smoga pernikahan kami selalu dilindungi Allah SWT. Dijauhkan dari godaan, diberkahi Allah SWT. Amien amien ya robbal alamin.

Untaian Do'a
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru , laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiirun, laa ilaaha illallaahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Duhai Allah,
Duhai yang mendetakkan jantung ini,
Duhai yang selalu memberikan makan kepada hamba-hambaMu ini,
Duhai yang memberikan air yang sejuk di kala kami dahaga,
Duhai yang mengaruniakan kantuk di kala kami lelah,
Duhai yang selalu mengurus diri-diri kami di kala kami tertidur pulas,
Hanya Engkaulah Yang Maha Agung,
Ya Allah, betapapun kami menghianatiMu setiap waktu tapi tiada suatu saat pun terputus Engkau memberi nikmat kepada kami,
Ya Allah jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala kebusukan kami.
Penghapus bagi seluruh dosa-dosa kami, hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami, hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya di qolbu ini.
Ya Allah, kami ingin merasakan indahnya hidup dekat denganMu,
Kami ingin hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang selalu akrab bersamaMu, kami lelah jauh dariMu ya Allah , kami tidak ingin terpuruk dan terhina karena tenggelam dalam kemaksiatan.,
Berikan kepada kami kemudahan, untuk mengenalMu Ya Allah,
Berikan kepada kami jalan untuk bisa mendekat kepadaMu,
Jadikan kami menjadi orang-orang yang selalu merasakan, kehangatan, kasih sayangMu.
Ya Allah jadikan sujud kami menjadi sujud yang selalu nikmat Kepada-Mu,
Jadikan shoadaqoh kami menjadi jalan yang membuat kami akrab denganMu,
Jadikan amal-amal kami sebagai amal -amal yang tulus hanya karenaMu,
Ya Allah jangan biarkan kesibukkan dunia membutakan hati kami,
Jangan biarkan hawa nafsu, menjerumuskan kami,
Jangan biarkan syahwat membuat kami terjerumus dalam maksiat,
Jangan biarkan amarah membuat kami terhina dalam kedzoliman,
Ya Allah, wahai yang Maha Mendengar, sayangilah kami Ya Allah.
Berkahi sisa umur kami ini,
Jadikan umur yang tersisa ini membawa maslahat bagi orang tua kami, bagi keluarga kami, bagi sebanyak-banyak-Nya umat Mu,

Rabbanaa aatinaa Fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa 'adzaaban naar "Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka"

Makanan Sehat

Udah beberapa hari ini suami saya lagi "galak banget". Ntah kenapa dia jadi ga suka kalo saya makan makanan "ENAK". Dengan alasan, "jaga kesehatan dong." Padahal, sampai saat ini, Alhamdulillah saya tidak ketauan punya penyakit yang membahayakan. Seperti asam urat, kolesterol tinggi, darah tinggi, atau apapun. Alhamdulillah. Jadi ga ada alasan kan saya TIDAK MAKAN makanan "ENAK" (versi saya).

Photobucket - Video and Image Hosting Tiga hari lalu saya kepengeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnn sekali makan kerang rebus. Eh, sebenarnya udah dari awal puasa tuh, tapi suami saya ga mau. Makan di Menteng aja. Yah.. ngebayangin kerang rebus, di ganti ma' bakso. Jauh banget kan? Nah, 3 hari lalu itu, saya kepengen kerang rebus itu. Dan keukeuh sumekeuh pengen kerang rebus."Jangan sering-sering kenapa sih makan makanan kaya gitu," itu kata dia. Langsung proteslah saya, "De ile.. emang kapan sih terakhir gw makan kerang rebus? Dah lama banget kan??" Dan.. memang sudah lamaaaaaa sekali. "Trus nanti gw makan apa dong?" itu alasan suami (karena memang dia menghindari banget makan seafood, dengan alasan bikin kolesterol tinggi. Saya bilang, "nanti kan bisa makan ikan bakar." Dan, alhamdulillah, jadilah kami transit di warung kaki lima yang menyediakan seafood. Ngabayangin kerang dara rebus (saya langsung pesen 2 porsi), tapi ternyata habis, ihiks... ya sudah lah, kerang ijo pun ga apa. (padahal saya sebenernya menghindari kerang ijo ini, karena konon kabarnya, kadar mercuri di kerang ijo lebih tinggi dibanding kerang dara). Tapi, demi keinginan makan kerang rebus, ya sudah lah. Satu porsi saja kok. Tambahan, udang goreng mentega. Porsi kecil kok. Suami? Konsisten makan ikan bawal bakar. Baiklah.
Photobucket - Video and Image Hosting

Nah, semalam, suami pengen makan di Bumen - Penjompongan. OK lah, dah lama juga saya ga makan mie rebus Bumen. Dan saya menyesal sekali membiarkan suami yang menulis orderan, sungguh menyesal. Karena sewaktu saya bilang, "sate kambing dong Bang, 5 tusuk aja." Kamu tahu jawabannya, "TIDAK". Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..... padahal kan sate kambing Bumen juga enak. Dan saya benar-benar menyesal, kenapa ga saya aja yang nulis? Photobucket - Video and Image Hosting

Jadi jangan salahkan saya, kalo mencari teman untuk menikmati sop sumsum Agus di Barito, atau Seafood 1001 di Kelapa Gading, atau gule otak di Sederhana .. kan ga tiap hari juga lah makan makanan ini. Oh iya, satu lagi makanan favorit saya yang di benci suami, benar-benar di BENCI. hiks... durian, apa kabar mu??
Photobucket - Video and Image Hosting

Thursday, October 05, 2006

THR

Saya yakin, smua orang sudah tau arti THR dan saat ini sedang menunggu THR. Bukan hanya karena saya pribadi lho yang menunggu-nunggu. Sampai kemaren, masih juga beberapa orang menanyakan ke saya, "mba, THR kira-kira kapan masuknya yah?" dan saya akan bilang, "kalo ngikutin peraturan depnaker, THR diterima 2 minggu sebelum hari H. Jadi asumsi gw, kita akan terima sekitar tanggal 9 atau 10." Dan mreka akan senang, "berarti sebelum tanggal 13 kan yah mba?" "Insyaa Allah," sahut saya.

Kemaren saya dapat bocoran dari orang yang bisa dipercaya, "Mel, masa THR dah mo dijalanin hari ini? Kecepatan ga sih? Nanti keburu abis sebelum waktu gajian tiba dong." Hehehehe… serba salah memang, di kasih kecepatan takut cepat habis, di kasih telat, ribut juga. Padahal nih, saya yakin, tuh uang THR ga sampa sehari, maksimal dua hari transit di rekening pribadi. Dan saya yakin juga, sekarang ini, stiap orang sudah punya daftar belanja atau daftar sedekah atau daftar pengeluaran lainnya. Jadi, mau THR cepat maupun tepat waktu, tidak akan jauh berbeda.

Bayar zakat, THR pembantu, baby sitter, kasih orang tua, siapin uang kecil untuk "salam tempel" – note, uang kecil sekarang ga bisa seribu dua ribu lho. Pfuih, anak kecil sekarang dah tau duit banget sih. Minimal mreka mau 5ribu perak. Itu pun kalo yang ga terlalu dekat, kalo keponakan sendiri? Ga mungkin kan ngasih segitu? Belum lagi baju untuk anak-anak dan keponakan. Kalo untuk saya? Well, udah niat ga akan beli baju lebaran, tapi beli Be-Ha boleh kan? Untuk suami? Baju koko abang dah banyak kan? Masih bagus pula, di pake lagi aja yah sayang. Hihihihi…

Untuk Nasta sendiri, sebenarnya dia masih punya beberapa baju yang cukup bagus, jarang di pakai pula. Tapi apa iya, saya bisa setega itu tidak membelikan sekedar 1 buah baju. Bagaimana dengan Nara, well, Nara termasuk jarang sekali saya beli kan baju. Hampir 90% baju pergi dia sekarang ini adalah hadiah waktu kelahiran dia. Hihihi… irit banget kan, eh, kecuali baju rumah lho. Itupun sudah lama sekali saya tidak membelikannya. Kasihan juga sih, liat celana nya dah pada sempit. Sabar yah sayang, nanti ibu beliin lagi.

Trus apalagi yah yang bisa saya pergunakan untuk –menghabiskan- uang THR itu, pastinya untuk hal yang berguna. Ada beberapa hal yang menjadi ritual kami sebenernya dalam menghadapi lebaran, tapi kali ini harus di pending dulu, maaf yah, THR kali ini dari satu sumber soalnya. Insyaa Allah, tahun depan, Allah memberikan kesempatan pada saya dan suami untuk lebih banyak memberi.

Buat yang mendapat THR, smoga bisa dipergunakan dengan baik. Sekedar usul, kalo mau kasih zakat maal, mendingan kasih ke sumber yang benar-benar membutuhkan. Saudara jauh mungkin? Atau tetangga yang kesusahan, bisa tetangga supir kamu, maupun tetangga office boy kantor mungkin? Berapapun jumlahnya, Insyaa Allah sangat berguna buat mreka yang membutuhkan.

Monday, October 02, 2006

Am Healthy but NOT Fit

Statement di atas itu memang menggambarkan kondisi fisik (dan mungkin jiwa) gw beberapa hari terakhir.

Gw Alhamdulillah ga sakit, sehat kok. Tapi ga fit aja. Tau kan kondisi seperti itu? Malas bergerak banyak, mood juga ga stabil (cenderung menurun), linu sendi (hihihi.. dah kaya iklan suatu supplement aja), yah... gitu deh..

Masalah hidup pastilah ada, manusia hidup kan membawa permasalahannya masing-masing. Bagaimana setiap manusia menyikapi hidup atau menyikapi setiap permasalahannya itu lah yang unik. Gw punya masalah, kamu pasti punya masalah juga. Tapi, balik lagi ke cara pandang kita semua dalam menyikapinya yang membuat kita berbeda.

Balik lagi ke masalah sehat. Gw tuh tau banget, kekurangan gw adalah TIDAK DISIPLIN dalam berolahraga. Padahal seandainya gw cukup disiplin, - jalan kaki - aja tiap hari, Insyaa Allah badan gw jadi lebih bugar. Gampang kan? Jalan kaki. Masa gw harus selalu menggunakan alasan "menyusui" terus kalo orang-orang komen soal berat badan yang tidak kunjung berkurang, padahal anak udah 8 bulan.

Nasta aja sampai bolak balik bilang, "ibu gendut" stiap kali dia liat perut gw yang memang aduhai ini, hehehehe....

Puasa bisa bikin badan sehat? Percaya, tapi bisa bikin bugar ga? Bisa sih, asal tetep olahraga selama di bulan puasa ini. Nah.. itu lagi satu masalah. Kalo weekend, sebelum buka, bisa aja ngajak Nara jalan-jalan, tapi itupun cuma 1 blok aja.

Nah.. niat nya sih, sekarang ini, kalo gw lagi bete ma' kerjaan or ma' boss yg emang nyebelin itu, gw akan keliling kantor, naik turun tangga. biar energi terkuras di situ. Hehehehe.... kira-kira bakal terlaksana ga yah?

Apalah mel, usaha dong usaha... umur baru 33, upsss... dah tua juga yah? Kan niat gw, Nasta dan Nara dah ABG, gw masih bisa nemenin mreka. Nemenin shopping, jogging, clubbing, apapun yang mreka kerjakan, Insyaa Allah gw bisa ngikutin.

Yaa... diusahakan deh, lebih sehat dan lebih bugar. Amiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn...

Tuesday, September 26, 2006

Memaknai Sabar

Gw suka sekali baca kolom hikmah di koran Republika, bacaan ringan yang sarat makna. Beberapa hari lalu gw baca kolom ini, dan seperti nya PAS banget. Gw emang lagi belajar lebih sabar.

Karena artikel bagus, sayang banget kalo ga gw share ke temen-temen, smoga temen² yang baca, dapat mengambil hikmahnya. Amin.


Memaknai Sabar
Oleh : Pardan Syafrudin

Dalam firman ini, ada suatu sikap dan perilaku yang istimewa dalam pandangan Allah SWT. Sifat tersebut adalah sabar.

Jaminan Allah SWT terhadap orang yang bersabar adalah akan dicukupkan pahala mereka dalam jumlah yang tak terbilang, sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS Az-Zumar [39]:10).

Syekh Salim Al-Hilali, pensyarah kitab Riyadhush Shalihin karya Imam Nawawi, memaknai sabar dengan suatu sikap yang mampu mengendalikan diri dalam berbuat taat kepada Allah. Dari sini, akan sempurnalah kesabaran seseorang ketika memenuhi tiga unsur. Pertama adalah sabar dalam ketaatan. Dalam menjalani perintah-Nya, diperlukan pengabdian dan perjuangan yang luar biasa. Tuntutan dari sana sini mengharuskan kita istiqamah dan sabar untuk menjalaninya.

Unsur kedua adalah kesabaran dalam menghadapi kemaksiatan. Pendeknya, seorang Muslim dituntut menjauhi dan meninggalkan larangan dan kemaksiatan. Oleh karenanya Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian." (QS Muhamad [47]:31).

Ketiga adalah kesabaran dalam mendapati musibah. Ketetapan dan takdir Allah kepada hambanya tentu berbeda. Termasuk di dalamnya ujian dari Allah dalam kesengsaraan ataupun sesuatu yang ditakutkan serta tidak di inginkan. Ketika kita menghadapi hal tersebut, kita bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT tanpa keluh kesah, karena berprinsip semuanya datang dari Allah, dan Allah akan memberikan kepada hambanya dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Wednesday, September 20, 2006

Lesson for Today

Disaster could be everywhere and anytime

Dua bulan lalu boss gw bilang, akan ada G2 conference. Dan Jakarta jadi salah satu pilihan tempat penyelenggara, "Are U ready for that?" Trus gw jawab, "Siapa takut." Conference kecil gitu, udah biasa lah. Cuma pesen tempat dan arrange ini itu aja kok. Maka mulailah kesibukan kecil, telpon beberapa hotel yang sudah direkomendasikan oleh group perusahaan. Beres, tinggal nunggu feedback dari mreka. Antusias sedikit berkurang, karena ternyata, conference akan diadakan di bulan puasa. OMIGOD. Nongkrong di hotel, tapi lagi puasa. Males banget kan? Ternyata, ada pilihan kota lain, yaitu Bangkok. Dan sambil berdoa juga, smoga mreka memilih Bangkok aja. Hehehehe...
Alhamdulillah, doa gw terkabul. Conference jadi di Bangkok. Pfuih...

Minggu lalu, boss gw bilang, "dari Bangkok gw akan langsung ke Bali, ada management meeting." OK deh boss. Awal minggu ini langsung di ralat lagi, "Ga jadi di Bali, mreka takut BOMB." Sambil di kasih email dari regional mengenai artikel Bomb di Bali. Ya ampunnn.... dalam hati, kalo dah musibah mah dimana aja bisa kejadian bukan? Kok tragedi dijadikan musim sih, headline artikelnya bertulis "Bomb Season". Marah juga gw, heeeeiii... mister, siapa juga yang pengen ada bomb? Kasian juga kan saudara-saudara gw di Bali, mreka hidup dari tourism, kalo ga ada turis mreka susah juga.

Ternyata meeting management nya diadakan di Phuket, tapi boss gw dah bilang, ga ikut. Kan bisa sambil "ngobrol" nanti pas di Bangkok. Alhamdulillah, 'mayan save uang kantor. (walaupun tetep ga jadi naik gaji juga, hiks).

Pagi tadi gw liat berita, kudeta militer sudah turun ke jalan di kota Bangkok. Dalam hati, jadi conference ga nih? Sampai kantor, boss langsung menghampiri cubicle gw dan mengatakan, "conference kemungkinan besar di undur atau bisa jadi di cancel. Karena ada kudeta. Begitu juga dengan management meeting yg di Phuket." Gw bilang aja, tuh kan, mreka ga mau datang ke Indonesia karena takut bencana. Padahal bencana mah bisa dimana aja dan kapan saja.

Kenapa juga mreka pada ga mikir itu? Ada Allah yang mengatur semua Bung. (Eh, mreka pada punya Tuhan ga yah?)


Selalu Bersyukur

Menjelang terima gaji, perasaan gw antara senang dan bingung. Senang lah dapat uang kan, walaupun belum juga di tangan tuh uang, tapi tagihan-tagihan sudah menumpuk. Bingung campur pusing. Alhamdulillah masih punya gaji, Alhamdulillah masih bisa bayar hutang dan tagihan. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, atas semua rejeki yang telah Engkau berikan kepada kami.

Lagi bingung karena ukuran perut ga berubah, dan sudah coba untuk mengurangi -sedikit- iya cuma sedikit, porsi makan. Tapi perasaan masih belum juga berubah. Tiba-tiba kemaren, Yuli dari bagian accounting bilang, "Duh.. enak banget sih mba. Makan banyak tapi tetap ga gendut." Haaaaaaaaaaaaa!!!!! Waduh! Alhamdulillah, masih ada yg bilang gw ga gendut. Well, emang sih kalo dibanding dengan Yuli ini, gw masih lebih kecil. Walaupun sama-sana sudah punya dua orang anak. Alhamdulillah. Hehehe, dan gw jadi punya alasan, untuk makan indomie lagi sore hari. Gw masih dibilang kurus kok.

Lagi liat majalah yang isinya UP CLASS LEVEL, socialite gitu deh. Asal berkomentar, gw bilang, "enak kali yah jadi mreka. Baju nya ber merk terus, pesta tiap hari, kayanya ga kenal kata "kesulitan uang." Lalu AE gw bilang, "ga enak mba. Hidup kaya mreka itu ga enak. Jangan mau. Enakan kaya kita gini, biasa aja. Mreka itu hidup penuh kemunafikan, bla, bla, bla"
Waduh! Dasar manusia, sudah diciptakan sesuai kodratnya, masih juga mikirin kehidupan manusia lain. Plak plak.. back to real life.
Alhamdulillah, gw hidup seperti sekarang ini.

Alhamdulillah, masih bisa berhutang dan bayar hutang, jangan sampe di kejar-kejar debt collector dan di teror kaya orang yang berhutang milyaran rupiah. (Kenapa yah orang yang hutang nya trilyunan itu malah ga di kejar-kejar debt collector?)

Alhamdulillah, sudah menikah dan punya dua orang putri yang membahagiakan dan menyenangkan hati.

Alhamdulillah, masih punya orang tua - lengkap dan mertua yang lengkap pula.
Alhamdulillah, sudah punya rumah sendiri, walaupun masih kredit. Dan sekarang bunga bank nya seperti mencekik leher.
Alhamdulillah, punya mobil sendiri, jadi tidak perlu naik bus atau angkutan umum kalo ke kantor atau jalan-jalan ma' anak-anak.
Alhamdulillah, masih sanggup bayar baby sitter dan PRT untuk membantu mengurus anak-anak dan urusan rumah yang lain.
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan hidup. Smoga hidup gw bisa bermanfaat buat orang lain.
Alhamdulillah, masih diingatkan untuk selalu bersyukur kehadirat Allah SWT.
Alhamdulillah

(ga akan cukup waktu gw untuk selalu mengucapkan semua nikmat dan karunia yang telah dan akan Allah berikan. Smoga gw selalu ingat untuk bersyukur). Amin.

Tuesday, September 12, 2006

Lunasi Hutang

Sebelum gw cerita lebih lanjut, janji yah ga nangis.. hihihii... tapi gw ga yakin gw tidak akan menangis selama menulis cerita ini.

Mama brangkat ke Singapore Senin pagi kemaren. Gw tetep pesen dendeng balado untuk Inong, ngerasa berhutang aja kalo ga dikasihin. Paling tidak, gw akan kasih ke keluarga nya di Jakarta. Sms Neng, ngasih tau mau kasih dendeng balado "pesenan Inong", biar buat Zidan & Syifa aja. Ternyata, Neng sedang di airport, mengantar mas Haris, Zidan & Syifa (plus Ummi dan Nenek Priuk) ke Singapore. Yaaaa... ga sempet ketemu ma' Abang dan Kakak deh. Tapi dah janjian ma' Neng, mau antar ke Buaran.

Pas bedug Maghrib, sampai di depan rumah orang tua Inong. Ketemu Neng yang baru sekali ini ketemu. Sekalian numpang shalat. Saat shalat, gw tak kuasa menahan tangis. "Inong, ini dah gw bawain dendeng balado pesanan lo." (tuh kan.. gw nangis lagi). Sepanjang shalat menangis. Hiks... ntah kenapa, ngerasa diliatin Inong aja. Ahh.. itu cuma perasaan lo aja Mel.

Ngobrol ma' Neng. Seru juga, kami tertawa mengingat hal-hal lucu, tapi dipastikan langsung menangis kalo cerita beralih ke dua permata hati Bunda Inong itu. Menurut Indah, siang hari sebelum Inong koma, mreka (Neng dan Inong) masih asyik ber-sms ria. Kata Neng, Bunda itu bisa tiap 5 menit sms. Hal apapun yang Bunda liat, pasti di sms, "Duh Neng, Bunda ngeliat orang aneh banget deh." "Neng, Bunda barusan ngeliat orang pake cincin di 10 jari nya!" dan lain-lain, hehehe...
Lalu beberapa hari sebelum Inong meninggal, Inong "mewariskan" beberapa resep andalan ke Neng (Jadi buat yg mo pesen-pesen makanan, jangan khawatir, Neng tetep bisa membantu).

Gw juga menyampaikan keinginan para blogger, supaya blog nya ZidanSyifa tetap di apdet, begitu juga blog Dapur Bunda. Kata Neng, "ga sekarang kali yah mba. Nanti kalo udah agak berkurang kesedihannya." Iya Neng, kami ngerti kok.

Hal-hal yang bikin nih mata ga bisa berkompromi (baca: nangis terus) adalah ;
Suatu hari, Zidan tiba-tiba ngomong ke Ummi dan Neng, "Abang mau balik ke jaman dulu, dulu banget. Abang ga mau jaman sekarang. Pokoknya jaman dulu. Jaman masih ada Bunda." Dan dia keukeuh banget dengan keinginan nya itu. Sampai Ummi dan Neng kebingungan mengatasinya. Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....
Atau saat Zidan minta ayahnya untuk mutar film mreka, Zidan berkata, "Abang kangen ma' suara Bunda nih." lalu Syifa berkata, "Kakak kangen mo di cium Bunda." Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa lagi.

Masih banyak yang diceritakan Neng, tapi gw dah ga sanggup lagi. Maaf. (mungkin lupa - kata tepat nya), karena lebih banyak nangisnya daripada denger cerita Neng.

Selebihnya, ngobrolin soal masakan. Well, smoga gw bisa dengan cepat belajar bikin Pavlova. Kue andalan. Atau, "Neng, pesen aja ma' Neng yah?" Hehehehe...

Friday, September 08, 2006

Yoga

Sejak lama keinginan untuk aktif berolahraga tertunda, dan karena gw sudah jatuh cinta dengan Yoga, yang menurut gw, cocok buat gw yang tidak menyukai olahraga High Impact. Selasa kemaren, akhirnya... iya AKHIRNYA ... kesampaian juga ikut kelas Yoga lagi.



Dan wah... benar2 relaks. Smoga akan tetap rutin ber-Yoga-ria.

Monday, September 04, 2006

September 1996 - September 2006

September 1996 - September 2006

Ntah lah apa gw harus merasa bangga atau sedih, hehehehe... yang pasti udah 10 tahun di PT. Rama Perwira aka Grey, iya... iya ... 10 tahun. Alhamdulillah gw masih kerja, masih punya penghasilan dari Grey. :D

Kerja pertama kali di Grey, masih muda banget, baru 23 tahun saat itu. Hehehehe... dah langsung megang bigboss, dan ga pindah-pindah sampai tahun lalu pindah bagian. Tapi bukan berarti gw lepas urusan dengan bigboss ini. Buktinya, sampe hari ini, blio masih "ganggu" gw. Dengan kerjaan printilan nya itu. Ambil hikmah nya, dia masih percaya ma' gw. Hahahahaha...

10 Tahun kerja, dah banyak hal yang gw dapatkan di Grey ini. Yang pasti, gw dapat suami. Hahahahaha... iya suami. Dapetnya di kantor juga. Subhanallah.

Duh.. bingung mo nulis apalagi. Gw berharap smoga Grey menjadi lebih baik. Bigboss nya menjadi lebih pengertian ke karyawan, bisa menghargai karyawan, bisa mengerti karyawan, tidak sombong, menyadari bahwa tanpa karyawan dia bukan lah seorang boss.
(banyak kekurangannya gini, gw kok bisa sampe 10 tahun yaks?) Hehehehehe... bingung juga.

Allah sayang Inong

Allah Sayang Inong

Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un. Jum'at pagi (1 September), perjalanan ke kantor gw dapat sms dari Rina, "Inong udah ga ada Mel." katanya. Ga percaya, karena semalam baca blog nya Hany, belum ada berita yang baru. Dibalasnya, tadi pagi Mel, jam 7 waktu Singapore. Gw langsung sms Luluk, menanyakan kepastian. Dan ternyata memang, Inong sudah tidak ada. Speechless. Air mata sudah menggantung di pelupuk mata.

Sampai kantor, ga ada keinginan lain, selain membuka blog nya Hany. Dan, ya Allah, Engkau Maha Mengetahui yang Terbaik untuk ummatMu. Tak ayal, air mata membanjiri pelupuk mata tanpa bisa dihentikan. Sesenggukan. Menatap layar monitor. Inong meninggal karena serangan jantung. Kenangan tentang Inong pun bermain-main di ingatan. Inong yang baik hati, ceria, yang tak henti menyuruh gw datang ke Singapore, "pokoknya kalo elo dateng ke singapore, lo nginep di tempat gw aja." Inong yang amat sangat menyayangi dan mengagumi kedua anaknya, Zidan & Syifa.

Ga akan ada lagi laporan mengenai polah Zidan dan Syifa yang menggemaskan, tidak ada lagi teman ngobrol (walaupun di Y!M), Nong masih banyak yang ingin gw tanyakan dan omongin ke elo. Masih banyak Nong.

Smoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan untuk mas Haris, Zidan & Syifa. Smoga mereka dilindungi Allah SWT.

Dan meninggalnya Inong ini memberikan hikmah buat gw, dan mungkin buat temen2 lain yang mengenal dan manyayangi Inong. Dan juga -TERNYATA- Inong mungkin sudah memiliki firasat, dari postingan di blog nya berjudul Terima kasih.

Terima kasih Inong sudah menjadi teman dekat, sahabat & saudara.

Thursday, August 31, 2006

Inong

Inong

Iya, Inong. Gw mo cerita dikit tentang Inong. Iya Inong Haris. Bunda nya Zidan dan Syifa yang hari ini berulang tahun.

Kemaren dpt kabar awalnya dari Wulan :
wulan_martani (4:58:27 PM): Kawan2, Inong sekarang ada di ER NUH Buona Vista. Aku nnulisnya sambil gemeter n pengen nangis nih. Mohon doanya supaya segera sadar n sehat kembali. Tadi kira2 45 mnit lalu pingsan di rumah n dibawa pake ambulan. Alhamdulillah ibundanya sedang ada di sini. Cindy di rumah Inong jaga anak2nya.

Masyaa Allah. Gw sibuk cari informasi. sms ke HP inong, ga ada balasan. (berharap mas Haris akan balas). Panik. Berdoa, ya Allah sembuhkanlah Inong.

Tadi pagi, masih dari Wulan:
wulan_martani (10:20:00 AM): Ini kabar terbaru dari Hany di milis Indosing-mums : Kabar dari Haris: dokter pesimis kalo Inong bisa sadar kembali. Sekarang sedang nunggu 2 dokter spesialis otak untuk meriksa Inong. Haris mohon doa kawan2 semua, semoga ada mukjizat untuk Inong. Masyaallah. Wassalaam, sera

Gw lama ninggalin computer tadi, begitu buka... Masyaa Allah! ada berita dari Wulan:
wulan_martani (3:57:27 PM): Inong dah nggak ada Mel

Trus muncul pula YM dari Rina:
ibunda_jasmine (4:59:03 PM): Betul, Haris confirmed kalau Inong MASIH ADA! Walaupun memang sekarang tergantung life supportingnya itu. Dr kasih decision di tangan Haris, apakah mau tunggu 72 jam, atau mau dicabut sekarang. Dan Haris mau tunggu 72 jam, serta mau cari 2nd opinion ke dr lain. Mari kita berdoa untuk yang terbaik bagi Inong dan keluarganya. cheers, Susan

Gw nelpon Luluk. Dan memang benar seperti yang dikatakan Rina.

Ya Allah, Engkau yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Engkau yang Menghidupkan, Engkau jua lah yang Mematikan. Jika hamba boleh memohon, berikan kesempatan kepada Inong. Tapi kukembalikan semuanya kepadaMu ya Allah. Berikan yang Terbaik dariMu untuk Inong dan keluarganya. AMIN.


Nong, sadar Nong. Nyokap gw mo ke Singapore bawa dendeng balado pesanan lo. Nong, masih mau kan?